
“Makan yang banyak woy! Makan!” seru Anka sambil meraih semangkuk soto ayam.
“He! Do'a dulu dong!” tegur Ovy dengan sifat keibuannya sembari menepuk tangan kiri Anka.
Sontak Anka langsung menaruh kembali soto ayamnya.
“Iya-iya ...,” gerutunya.
“... aku kan mau berdo'a,” belanya.
“Cie-cie ... udah berantem aja padahal belum berumah tangga,” timpal Elpan yang berguyon.
“Apa sih El, nggak jelas.” namun Ovy menanggapinya serius.
Dan beberapa temanku nampak senyum-senyum melihat kejadian yang terasa jenaka itu, tentu saja jenaka, Anka serta Ovy adalah pasangan yang cukup dipertanyakan kedekatannya, disatu sisi, mereka terlihat bagai kekasih, satu sisi lagi, mereka dekat bagai sahabat, kemudian tambahannya, gosip-gosip yang menguatkan persepsi kami tentang adanya benih-benih cinta yang tak biasa di antara mereka berdua, sehingga, untuk dibuat candaan, itu akan memberi nilai artistik tersendiri.
“Hahaha ....” Elpan malah tiba-tiba berdekah.
“... kalian itu serasi tahu,” lanjutnya berguyon.
”Apaan sih Elpan, kita kan cuman teman,“ bela Ovy lagi-lagi menanggapinya dengan serius.
”OOOOOHHHHH TEMAN!“ serentak seluruh teman-temanku menyindir.
__ADS_1
Jelas aku paham maksudnya, bahwa perasaan dan seluruh perbuatan cinta dari Anka pada Ovy, hanya dianggap sebagai solidaritas sebagai teman belaka oleh Ovy. Atau mungkin saja Ovy memendam balasan cinta Anka karena malu. Tetapi yang pasti, berkat ucapan Ovy, Anka langsung berwajah agak cua, ya, aku bisa melihatnya dari pancaran matanya.
Lebih dari itu! Cludy malah berwajah senderut, dia cemburu, cemburu dengan kedekatan Ovy dan Anka, cemburu bahwa dirinya tak seperti Ovy yang bisa sangat dekat dengan Anka.
”Sudah! Kalau makan jangan bercanda!“ kecemburuan Cludy akhirnya mendorongnya untuk buka suara, bahkan kepalanya tertunduk sembari mengaduk-aduk jus anggurnya. Dan hanya itu yang bisa dilakukannya.
Namun suasana sempat hening sejenak, meresapi aksi dari reaksi yang ditunjukkan Cludy, sebelum akhirnya keheningan dipecahkan oleh tawa seluruh teman-temanku. Tentu saja teman-teman tertawa, termasuk aku, bagaimana tidak, kami sudah tahu bahwa sikap yang diperlihatkan Cludy, adalah sikap cemburunya seorang insan yang jatuh hati, bahkan karena itu, suasana jenaka terasa semakin pekat, benar, jenaka hanya bagi sebagian kalangan saja, tidak termasuk bagi para objek.
”Ada yang cemburu ... ada yang cemburu,“ sindir Elpan blak-blakan.
Cludy lalu meneguk jus anggur miliknya, ekspresinya hingga gestur tubuhnya memang memberi isyarat kegeraman, tepatnya cemburu.
”Sudah-sudah jangan begitu!“ Anka berusaha menghentikan suasana yang menyudutkannya.
”He, Tozka! Kau sudah berdo'a pada Tuhan belum?“ sebuah pertanyaan yang meledek dan berusaha mengalihkan topik perbincangan telah disipongang-kan oleh Anka.
Maka jelas sudah, Tozka marah, dia menganggap candaan Anka cukup serius, sedangkan Guru Sukada selalu mengingatkan pada kami, bahwa jangan mempermainkan mental manusia, tetapi yang namanya anak muda, jiwanya selalu ingin diperhatikan. Dan suasana jenaka berhasil dibuat lenyap seketika.
”He! Kau mau aku bacakan puisi ha?!“ Tozka pun memberikan balasan tajam, dan ini adalah ancaman paling menakutkan bagi Anka.
”Eh, aku cuman bercanda kali! Nggak perlu dibawa hati!“ Anka menyanggah dan memang takut.
”Hah, omong kosong, katakan saja kalau kau juga takut,“ tukas Tozka dengan bersedekap menyilangkan tangan.
__ADS_1
Tentunya, Anka duduk di antara Cludy serta Ovy, sedangkan Elpan di samping kiriku, dan di samping kiri Elpan adalah Tozka. Kami sebenarnya tengah menyantap hidangan masing-masing, hanya saja, hampir semua temanku mengobrol meski sedang makan. Dan aku, lagi mengunyah daging ayam bakar pesananku sembari memandang wajah teman-temanku.
Aku sebenarnya bisa saja mengobrol bersama Wisty, yang duduk di samping kananku, hanya saja, terbesit pikiran konyol tentang perintah dari suamiku, bahwa selama makan alangkah baiknya jangan bicara. Jadi bukan berarti aku mengikuti adat kesopanan budaya dunia! Aku bungkam karena aku mengikuti wejangan suamiku, dan aku mengikuti wejangan suamiku karena aku mencintai suamiku, hingga akhirnya aku menjauhi suamiku karena dia sudah pasti cacat, maka bukan berarti aku tidak cinta lagi, aku masih cinta, tapi penyakit atelofobia-ku mengharuskanku menjauh dari suamiku.
Terlepas dari itu semua, lalu pikiranku yang kalut, sungguh sangat menyayangkan, Anterta serta Stovi tidak bisa turut hadir di sini, padahal, seluruh wajah pada hari ini, nampak berseri-seri, walaupun dasarnya hari ini terjadi bencana, namun kecerian sekaligus kegembiran tak ragu untuk nampak kentara.
Aneh rasanya kalau ada teman sekelas yang tak hadir, apalagi teman itu bisa membawa suasana yang berbeda, memang sih dua manusia yang tak hadir adalah manusia yang agak nakal dan cendala, namun tetap saja hati tidak sreg. Maka jelas sudah, kutaruh garpu di piring, lantas merisik saku rokku, meraih ponselku, kemudian mengirim pesan pada Anterta serta Stovi.
Tunggu dulu! Sialan, aku lupa untuk mengecas ponselku, ponselku pun masih mati.
”Wisty, cepat kirim pesan ke Stovi sama Anterta untuk datang ke sini makan-makan.“ sebuah perintah yang aku gaungkan sangat serius.
”Eh?“ Wisty terkejut sampai rela menaruh gelas berisi kopinya.
”Tapi ...,“ katanya yang bicaranya menggantung dengan tangan kanan menggaruk bahunya.
Aneh, Wisty malah gugup dengan perintahku, padahalkan tinggal kirim pesan saja apa susahnya. Tunggu sebentar! Teman-temanku malah menatapku. Dan salah satu dari temanku yang berada di depanku bicara.
”Ketua kelas, Stovi dan Anterta tidak mau ikut, katanya mereka sudah makan.“ Azopa-lah yang menyuarakan alasan dua temanku yang tak hadir.
Maka, karena aku tak mau memaksa, dan lagi pula, niatku hanya karena sebatas solidaritas semata, jadi mengundang mereka bukan karena kasihan, aku anggukan kepala mengiakan pesan penting Azopa, lalu memasukkan ponsel pada tas gendongku, iya, tas gendongku sedari tadi kugeletakkan di lantai di belakangku, aku terlalu malas untuk menaruhnya di kamar.
Hingga akhirnya, tak ada lagi yang merespons kejadian tadi. Sampai kudapati Sentia dan Kily yang tengah menyempatkan diri untuk memotret hidangan mereka hanya untuk dipamerkan pada jejaring sosial media mereka. Lebih-lebih aku baru tersadar, kalau sedari tadi, santapan mereka masih utuh tak tersentuh.
__ADS_1
Pada akhirnya juga, malam ini, aku beserta teman-temanku menyantap makan malam bersama-sama, menikmati sisa waktu demi kebersamaan, atau mungkin hanya karena rasa empati terhadap musibahku saja mereka rela bersama-sama menemaniku. Bukannya apa-apa, sebab bagiku, justru yang layak diberikan dukungan moril adalah Wisty, dia gadis yang mentalnya terserang, hingga kehormatannya harus ternodai sedikit, ya sedikit, tapi itu berbekas untuk selamanya.
Satu hal yang wajib aku syukuri, bahwa tak ada siapapun yang menanyakan kondisi suamiku, karena bagaimana pun, aku merasa terganggu jika harus membicarakan kondisi Harfa, sungguh membuatku gundah, apa lagi sedari tadi, setiap kali mengingat kondisi suamiku, atelofobiaku memuncak kembali, dan akan redup kala teman-temanku sudah bicara atau bercanda.