
“Kenapa ya Anka jadi aneh gitu, padahal di sekolah juga dia paling ceria.” Cludy menerka-nerka.
“Tadi siang, Anka ditolak cintanya sama Ovy.” maka aku kuak kebenaran yang masih menjadi hipotesisku.
“Eh? Ditolak?” ulang Cludy.
Cludy mendadak menunduk merenung, sengap, entah apa yang dipikirannya, aku sih berpikir dia senang, tentu saja senang, karena dengan begitu, kesempatan untuk mendapatkan hati Anka cukup besar, ya, meskipun belum tentu juga Anka rela menerima Cludy.
“Oh iya, paman bibinya pasti ke sawah ya?” tanyaku memastikan. Memang biasanya sore begini paman bibi Anka akan selalu mengawasi persawahan, itu adalah usaha keluarganya.
“Nggak tahu, dari tadi juga nggak ada siapa-siapa,” jawab Cludy.
Maka kukembali memandang pintu kamar Anka. Dan tiba-tiba saja tanpa ada sein apapun, pintu bercat putih itu berdecit terdedah.
“Anka!” seru Cludy dengan penuh syukur.
Benar, tepat di depan kami, di ambang pintu yang terdedah sempurna, anak tengil nan jail, sahabat kecilku, pengidap metrofobia, Anka telah berdiri di sana memandang kami dengan tatapannya yang semringah. Tunggu sebentar, dia bahkan tersenyum ke arah kami.
“Ayo masuklah ...,” kata Anka tiba-tiba, bahkan raut mukanya ceria.
“... kamarku sudah dirapikan,” lanjutnya kembali ke dalam kamar.
Aku serta Cludy sempat saling menoleh demi menatap satu sama lain, layaknya orang dungu yang bertanya-tanya apa itu dungu.
Tanpa ada kata lagi, Cludy buru-buru masuk ke dalam kamar Anka diikuti olehku dari belakang. Ruangan 4X4 meter ini didominasi warna cokelat dan hitam, kasur, meja belajar, serta lemari pakaian adalah perabot kamar yang paling mencolok di sini, sisanya, adalah seni gambar yang terlukis di puluhan kertas yang tertempel di dinding. Itu hanya gambaran-gambaran aneh yang tak aku mengerti. Bonusnya adalah aroma tinta yang begitu menyeruak di kamar ini.
Kami telah benar-benar berada dalam kamar Anka, berdiri penuh keheranan menatap Anka. Apa lagi mataku yang memindai kedua tangan Anka, takut-takut kalau Anka memang benar-benar menyayat nadinya dengan gunting. Syukurnya aku tak melihat luka sedikit pun di tangannya, entah mungkin memang tak terlihat, namun yang jelas, aku hanya tetap berdiri penuh pengawasan memindai fiil Anka.
“Woy! Begitu amat melihatku,” sindir Anka dengan berkacak pinggang berdiri di dekat meja belajarnya.
Satu fakta penting! Meja belajar Anka digunakan untuk menuangkan hobinya, yaitu menggambar, jadi bukan digunakan untuk baca buku pelajaran sekolah, bukan pula untuk belajar.
“Ya jelas kami begini! Kamu tadi mau bunuh diri kan?” tanya Cludy dengan waswas.
“Hmmmm ....” Anka malah melenguh seperti sapi.
“Jawab jujur Anka!” timpalku demi mengetahui kebenarannya.
“Iya.” Anka berkata singkat.
“Kenapa kamu malah bertindak bodoh! Kamu masih punya hidup yang panjang!” rasa gundah Cludy pun akhirnya diluapkan menjadi kata-kata.
“Dengar dulu ...,” sela Anka dengan serius dan tatapan sipitnya terarah padaku.
“... aku memang tadinya ingin bunuh diri, tapi, saat memikirkan kembali bodohnya orang tuaku, aku jadi nggak minat lagi untuk bunuh diri,” papar Anka.
“Pasti karena cinta bodoh, kamu ingin bunuh diri kan?” tanya Cludy memastikan.
“Ya! Cinta buta! Ya namanya juga anak muda ... tapi tenang, aku sadar diri, lagian cewek kan banyak ....”
“... ya nggak Cludy,” pungkas Anka dengan mengedipkan mata kanannya hanya untuk Cludy.
__ADS_1
“Eh?” Cludy kaget melihat gelagat aneh dari Anka.
“Sudah buruan pakai baju! Aku gerah lihatnya!” keluh Cludy.
“Hahaha ... ya-ya aku paham, aku paham,” balas Anka dengan melenggang ke samping kirinya menuju lemari baju.
Anka tersenyum hingga gigi kekuningannya nampak kentara, dan memang dia bertelanjang dada, selebihnya celana pendek berbahan katun adalah yang masih dikenakannya.
“Oh iya, roti anggurnya mana Cludy?” tanya Anka sembari mengenakan baju polos nuansa hitam.
“Di ruang tamu,” Jawab Cludy dengan santai.
Selepas Anka berpakaian, dia menatap kearah Cludy begitu intens.
“Hampir setiap hari kamu membawakan roti kesukaanku, tapi, aku baru sadar kalau aku tidak pernah minta dibawakan roti,” ungkap Anka dengan kelakar yang 'garing'.
Aku hanya diam memandang drama basi yang probabilitasnya terlaksana.
“Aku cuman mengasihanimu, ingat, aku kasihan karena nggak ada yang mau ngasih kamu roti kesukaanmu.” Cludy membela gengsinya dengan fabrikasi, enggan terkuak perasaan cintanya pada Anka. Tepatnya ingin Anka menyadarinya.
“Ahk masa ... paman bibi aku suka kok ngasih ... hmmm, atau mungkin kamu punya tujuan lain?” Anka memasang raut muka konyol berusaha menggoda Cludy.
“Udah ahk aku mau pulang.” Cludy pun dengan jengah melenggang pergi.
Tetapi buru-buru Anka meraih ponselnya dari atas meja, kemudian berlari mengadang Cludy. Aku bahkan agak memutar tubuh ke arah kanan demi melihat drama selanjutnya. Mereka berdiri berhadapan.
“Apa sih Anka?” heran Cludy dengan bersedekap menyilang. Meski aku hanya bisa melihat punggung Cludy dan rambut putihnya, tetapi kemungkinannya Cludy tengah memalingkan muka.
“Cepat ngomong aku mau pulang,” ketus Cludy sok 'jual mahal.'
“Aku mau menyatakan perasaanku.” sebuah kalimat tegas yang digaungkan oleh Anka sampai membuatku mengernyitkan kening.
“Ha?” bahkan Cludy kaget karenanya.
Tapi tunggu! Di sana, di wajah Anka telah tersungging senyuman lebar yang aku tahu bahwa itu adalah tanda isengnya.
“Coba deh lihat awan ini!” benar saja dugaanku, Anka kembali pada kejailannya, dia menyodorkan ponsel pintarnya sambil memperlihatkan seonggok awan yang terpatri di layar ponsel.
“DASAR DEGIL KAU!” teriak Cludy hingga tangan kirinya menepis ponsel kepunyaan Anka dan ponsel seketika terpelanting ke lantai.
Mataku sampai berbuntang melihat kejadian yang tak kukira itu. Lebih-lebih Cludy melenggang pergi begitu saja.
“Eh aduh!” umpat Anka dengan buru-buru mengambil kembali ponselnya dari lantai.
“Huuuft ... syukur-syukur, HP-ku untung HP berkualitas,” ujarnya dengan mengelus ponsel pintarnya. Memang ponselnya terlihat baik-baik saja.
Aku hanya sengap belum mengutarakan komentar.
“Eh, kok nggak bisa nyala ya?” cukup disayangkan ponsel Anka mati setelah terbanting di lantai.
“Eh-eh kok nggak mau nyala?” Anka mulai panik pada ponselnya yang enggan hidup kembali.
__ADS_1
“Makanya, kalau jail lihat kondisi,” tegurku dengan berjalan menuju meja belajar kepunyaan Anka.
Lantas, setelah kuputar kursi kayu, aku duduk di kursi meja belajarnya, memandang Anka dengan santai. Kini hanya aku dan Anka yang berada di kamar ini.
“Ahk bedebah! HP-ku mati!” keluh Anka dengan melenggang menuju kasur lalu duduk di tepi kasur dalam raut muka meratap, dan ia melempar HP-nya ke tengah kasur hingga tergeletak begitu saja.
“Sialan si Cludy, marah nggak kira-kira.”
“Habisnya, kau sendiri malah memancing dia.” aku menimpali membeberkan letak kekeliruan Anka.
“Ahk dia juga aneh sih, masa fobia sama awan, kayak nggak ada bahan lain aja.”
“Ahk kau, kita pun sama saja, sama-sama aneh.”
Maka, keheningan tiba-tiba merebak di sini, aku duduk memandang Anka, sedangkan Anka duduk menunduk meratapi ponselnya yang malang.
“He Anka,” seruku tak mau tenggelam dalam suasana hening penuh sesal.
Secara refleks Anka menoleh padaku.
“Kamu tau kan, kalau Cludy suka sama kamu?”
“Ya, tapi sayang ... dia salah orang, aku masih suka sama Ovy ...,” ungkap Anka blak-blakan.
“... memang sih, wanita banyak, tapi kan, gadis seperti Ovy cuman satu,” imbuhnya membela perasaannya.
“Omong kosong, laki-laki kata-katanya doang yang manis, tapi kenyataannya, memberi yang pahit,” tukasku.
Tiba-tiba bantal bersarung bantal nuansa biru melayang ke arah wajahku, dan karena kecepatan lemparan bantal mengalahkan reseptorku, maka bantal mengenai tepat pada wajahku, sampai-sampai menimbulkan suara 'bhuak'.
“Sialan kau,” umpatku dengan memegang bantal.
“Ha-ha, ucapanmu basi!” sindir Anka dengan raut muka konyol.
Jelas aku lempar kembali bantal ke arah Anka, tapi sial, dia cukup cekatan untuk menangkap bantalnya. Dan berkat kegagalanku, senderut adalah raut mukaku kini.
“Haah ... harusnya kau jangan menahan bantalnya, biar kita impas.”
Anka hanya menaruh kembali bantal ke posisinya, lalu bangkit berdiri.
“Aku lapar nih, kita makan yuk,” ajak Anka.
“Tunggu dulu! Aku ingin bertanya serius!” sanggahku.
“Tanya? Tanya apa memangnya?” heran Anka menatapku serius.
“Bibi-mu masak apa? Aku juga lapar belum makan,” jawabku.
”Eh? Aku kira ....“
”... ya ayo, kita makan, kalau nggak salah bibi masak cecunguk panggang sama lalat oseng,“ kelakar Anka, lalu melenggang pergi. Meski aku tidak tertawa, tetapi Anka berhasil membuat bibirku mengembangkan senyuman senang, betapa senangnya menyadari bahwa dia memang selalu ceria.
__ADS_1
Dan dengan senyuman semringahku, aku buru-buru mengikuti Anka, dan berharap, bibinya memasak apa yang aku suka dan bukan memasak seperti yang dicandakan Anka.