
“Pegangin ketua! Pegangin ih!” Nuita panik.
“Cepat pegang ketua!”
“Pegang tangannya woy!”
“Peganging tangannya be*o!”
Beberapa anak berusaha memegang tanganku, secara impulsif mereka berhasil memegang kedua tanganku, maka karenanya aku diam tak mau lagi melawan, aku bisa saja melawan, hanya saja, takutnya mereka malah pulang, dan aku malah tak bisa memarahi mereka hingga puas. Di sinilah aku akan memulai rencana kedua.
“Berengsek kalian semua!” sentakku.
“Uhuk! Huk huk huk!” Azopa masih mendeprok sembari memegang tenggorokannya.
“Uhuk uhuk!” Stovi pun ikut terbatuk, karena secara tidak sengaja aku berhasil memukul tenggorokannya, dan aku senang melihatnya.
Tak hanya Stovi yang terpapar hantaman tanganku, Wisty Sentia, Kily, Oqde, Cludy, dan Vume, ikut pula merasakan sakitnya hantaman tangan dan kakiku. Mereka memegang bagian tubuh mereka yang sakit, Wisty mengusap-usap pipinya, Sentia mengelus-elus pundaknya, Kily memegang perutnya, hingga sisanya memegang bahu mereka.
“Lepaskan aku berengsek!” sergahku dengan menarik-narik tanganku dari cengkraman Tozka, Loze, Azopa, serta Perto.
“Kami datang baik-baik ketua kelas, jadi ... tolong tenang,” desak Loze.
“LEPASKAN AKU!” teriakku.
“Oke tenang sayang tenang, kami datang dalam damai kok,” Elpan berdiri di depanku berusaha menenangkan aku.
Namun secara kuat-kuat dengan sedikit putaran di tanganku aku berhasil menarik tanganku, melepaskannya dari cengkraman teman-teman laki-lakiku. Dan buru-buru aku melangkah menuju sofa tunggal ruang tamu.
“Ketua kelas,” beberapa temanku mulai kembali takut.
“Sudah diam! Diam!” aku menyergah berusaha membuat mereka tahu bahwa aku sudah tidak brutal lagi.
Lantas tanpa merasa bersalah aku duduk di sofa tunggal dekat jendela. Napasku naik turun secara impulsif, aku marah, dan cua pada teman-temanku, mataku masih tertuju tajam pada Azopa yang betah mendeprok memegang lehernya, dia aku tatap penuh dendam.
__ADS_1
Meski sebenarnya aku bisa saja mengamuk lebih brutal dari ini, bahkan untuk menghentikan amukanku tidak cukup hanya murid-murid kelas 12 saja untuk menghentikanku. Seperti dua bulan setelah bergabung masuk SMA Lily Kasih, aku mengamuk hingga memecahkan jendela kaca kelas, seingatku, pertama kalinya mengamuk di SMA Lily Kasih adalah saat aku pertama kalinya juga menjabat sebagai ketua kelas, teman-temanku tidak ada yang pernah mau mendengarkan aku saat membacakan pengumuman penting. Dan sejak amukanku itulah, mereka baru merelakan dirinya untuk mendengarkan perintahku, walaupun tidak semua menuruti perintah, paling tidak mereka tidak mengganggu hidupku. Padahal perintahku adalah demi kebaikan semuanya, seperti tidak boleh buang sampah sembarangan, jangan merokok di dalam kelas, dan masih banyak perintah-perintah kebaikan yang justru ditentang oleh teman-temanku, ya, memang aku menuntut kesempurnaan, dan memang wajib sempurna!
Dan kini, dengan napas tersengal-sengal, jantung pun berdegup cepat, pikiran serta jiwaku telah dilingkupi amarah, mataku tetap tajam terfokus pada Azopa.
Seluruh temanku masih berdiri di ruang tamu, memandangku dengan canggung, bahkan takut, kecuali Anterta yang dengan santainya duduk di sofa panjang, hanya dia yang duduk, itu tak masalah buatku, dia memang anaknya aneh.
Ada satu fakta penting yang sangat aku hormati darinya! Yaitu, dia anak yang menerima hukuman, aku pernah memergokinya menyiksa seekor kucing, dan saat itu pula dia rela aku siksa kembali seperti perlakuannya terhadap kucing, dari situlah apapun yang dilakukannya bila dia melanggar hukum, dia rela dihukum kembali, sportifitas! Itulah yang aku junjung tinggi darinya.
Belum ada satu pun yang bicara, semua murung dan suasana dingin terasa panas buatku yang tengah marah.
Marah karena teman-temanku menutupi masalah teror, marah pula karena mereka lebih percaya pada si keparat Azopa.
Dan sebenarnya aku bisa saja menghajar mereka satu-satu, apa lagi aku tahu titik-titik lemah tubuh manusia, bukannya apa-apa, saat SMP aku pernah dikeroyok oleh dua puluh anak-anak anggota geng, namun berkat ilmu Pencak Silatku, ditambah tubuhku yang ringan, aku bisa menghajar seluruh anggota geng itu, meski aku pun terluka, tapi sejak saat itulah, dikalangan anak SMP aku dikenal sebagai seorang preman. Mengingat kondisi sekarang berbeda, maka tingkatkan amukanku agak aku atur, yang artinya, ada kemungkinan aku siap membuat semuanya terluka, tak terkecuali sahabatku.
“Bangun kau Azopa!” bentakku.
Azopa menatapku dengan raut muka serius.
“DIAM!” sergahku dengan memelototi Cludy, aku menolak segala bentuk argumen kecuali aku perintahkan.
Maka Cludy langsung menundukkan pandangannya, dia gentar, lebih dari itu, teman-temanku seketika menundukan pandangannya.
Dan Azopa telah berdiri dengan leher yang ia pegang.
“Uhuk uhuk ....”
Sedangkan Anka sahabatku berdiri di samping kiriku, tak ada tanggapan berarti darinya, hanya satu hal yang pasti, bahwa dia juga sama berengseknya dengan yang lainnya.
“Jadi, mengapa kalian di sini?” tanyaku dengan tetap memandang Azopa tajam.
Anak sok bijak itu berdiri dua meteran dariku, dan teman-temanku berdiri berkerumun layaknya para pendemo. Aku belum menawarkan air atau cemilan, mungkin juga tidak akan.
“Ketu ...,” ucapan Azopa aku potong.
__ADS_1
“JANGAN SEBUT AKU KETUA KELAS!” sentakku.
“Uhuk!” Azopa terbatuk masih memegangi lehernya.
“Hiks ... hiks hiks ....” tiba-tiba sebuah suara senguk-sengak seorang gadis berhasil membuat keningku mengernyit pun pandangan langsung beralih pada asal suara.
Wisty, si gadis berambut hitam sebahu yang membingkai dengan manis wajah bulatnya, tengah menggaruk bahunya karena kikuk, dan nyatanya sang pengidap antrofobia ini, adalah satu-satunya wanita yang terisak menangis, lebih dari itu, hanya dia manusia yang menangis.
Tapi masa bodoh dengan Wisty, dia sebenarnya gadis yang sama brutalnya denganku hanya saja dia cengeng dan terlihat pengecut, ditambah fobianya harus dipancing agar kebrutalannya menyeruak.
“Kami ... uhuk ... kami mau meminta maaf padamu ...,” kata Azopa membeberkan maksud kedatangannya, suaranya terdengar serak malah dia masih mengusap-usap lehernya.
Maka karena alasan itulah, aku menatap Azopa dengan menyeringai jahat. Benar dugaanku, Azopa memang melakukan persengkongkolan di sini.
“Ka-kami ...,” ucapan Azopa kupotong.
“He keparat! Jangan sebut kata 'kami' mereka punya salah karena hasutanmu!” aku membentak Azopa kembali, entah harus bagaimana agar semuanya mengerti, haruskah aku berteriak hingga suaraku habis? Sungguh tak lucu.
Maka dengan geramnya, aku bangkit dari sofa, melangkah marah pada Azopa, bahkan tatapan tajamku tetap melekat padanya. Teman-teman agak gentar kala melihatku maju mendekati Azopa.
“HE KEPARAT! MIKIR KAU! AKU TAHU KAU MENGHASUT MURID-MURID AGAR MEREKA PERCAYA PADA KAU KAN?!” sentakku lagi dan kali ini aku telah berdiri di depannya dalam jarak dua jengkal.
“Aku minta maaf secara pribadi,” sesal Azopa dengan memandangku menginding.
Maka berkat tatapan ini, kami saling bersirobok, beberapa detik kami saling bersirobok, hingga matanya yang nampak berkaca-kaca dapat aku tangkap pesan tersiratnya. Bahwa fakta yang aku tangkap dari pancaran mata hitamnya, dia telah menyiratkan penyesalan mendalam, ya benar! Aku bisa tahu dan sangat tahu, bahwa si Azopa anak congkak dengan ilmunya telah mengalami penyesalan terdalam.
Mungkin saja di kamarnya dia menangis dan menjenggut rambutnya dengan penyesalan yang dalam, karena bagaimana pun dia sudah menghasut teman-temannya untuk tidak percaya padaku, dan kuharap begitu.
“NGOMONG!” aku mendesak Azopa untuk mengungkapkan unek-uneknya atau bila perlu dia beberkan semua rahasia kelas 12 yang selama ini tak boleh aku ketahui.
Azopa menunduk masih dengan memegang lehernya yang sepertinya masih sakit.
Aku tetap berdiri memandang Azopa dengan geram, aku tahu bahwa ada konspirasi yang dilakukannya, dan bila si berengsek Azopa tidak mengungkapkannya, akan aku pastikan laki-laki tinggi ini pulangnya pasti kubuat babak belur.
__ADS_1