
”Rasa takut hanyalah angan-angan terhadap dampak masa depan, ketika berlebihan dan tidak mengamankanmu dari kebinasaan, maka, rasa takut itulah awal kecelakaanmu ...,“ sela Harfa.
”... masa depan, masa lalu, masa kini, kesadaran akan hal itu muncul bersamaan dengan ketakutan, ambisi, hasrat, keinginan, harapan, tapi, saat ketakutan itu hilang, saat harapan itu terkabul, tapi tidak pernah habis keinginanmu itu, dan kembali kepada ketakutanmu, atau dengan kata lain, selama hidup, kau akan terbelenggu oleh keingan-keinganmu yang lain, pertanyaannya hanya dua, apakah kamu diperbudak oleh itu semua? Atau justru, hal tersebut adalah penggerak kedirianmu?“ ungkapnya.
Aku terdiam meresapi pesan penting dari suami tercinta.
“Sungguh Laisa, lingkungan, prinsip-prinsip, kebohongan dan segala sesuatu yang bersifat jahat, adalah termasuk pengaruh terbesar pola pikirmu, tapi kembali, pada watak aslimu, pada cara pandangmu,” cecar suamiku.
”Laisa ... dia yang berhasil mengenal kediriannya, akan penaklukan tentang jutaan nafsu adalah jalan menuju kenikmatan tertinggi, tapi sayang, untuk sampai ke sana, kau akan diganggu oleh jutaan kenikmatan lain di depan mata,“ lanjutnya.
”Aku percaya, istriku sang gadis muda, yang terbentuk oleh penderitaan hari ini, telah belajar tentang cinta dan kebencian, bahwa itu hanyalah alat semata, kau datang ke sini untuk mendapatkan dukungan, benar 'kan?“ imbuhnya memastikan.
”Iya, dan ... aku tenggelam di dalamnya, dilema, bahkan ingin mati,“ keluhku membenarkan.
”Berhentilah berkhayal, kota ini akan penuh oleh bangkai-bangkai yang mati karena angan-angan, kalau kau ingin bunuh diri, jangan di kota ini,“ sindir Harfa.
”Nggak, aku ... hik, benar-benar butuh dukungan,“ sanggahku.
”Kau selalu dapat dukunganku Laisa, tapi itu untuk kesuksesanmu, bukan untuk keputsasaanmu ...,“ tegas Harfa.
”Ya, aku berjuang agar selalu sempurna,“ belaku.
”Kesempurnaan diraih dengan benar, lurus tanpa mau diintervensi atau diinterupsi, kesempurnaan akan kamu dapatkan Laisa, selama kamu mampu mengenal kedirianmu secara benar, tapi ingat, dari jutaan manusia yang sempurna, jarang yang mengenal Tuhan secara tepat, oleh sebab itu, semangat saja, fokus pada hal yang bisa diubah, sadar akan saat ini, orang baik berusaha dengan kebaikannya, orang jahat berusaha dengan kejahatannya. Isteriku, fokuslah pada bidang yang kau tekuni, pelajari pengetahuannya, ingat! Kau akan cemerlang bukan karena berhasil bersaing, kau akan cemerlang, karena kau menguasai bidang tersebut.“ Sebuah wejangan yang begitu mantap dari suamiku, telah digaungkannya hingga membuatku tercerahkan.
Maka aku menyeka air mataku dengan punggung tanganku, perlahan aku mulai tercerahkan, dan mulai kembali kuat.
”Laisa, jika aku tidak ada, apa kamu mau bunuh diri?“ tanya Harfa memastikan.
”Aku memang sudah mati sejak aku gagal menghentikan Loze, aku sudah mati sejak sahabatku mati,“ tukasku dan masih menangis.
”Laisa, bunuhlah sikap burukmu, bunuhlah pikiran kerasmu, bunuh sifat jahatmu, bunuhlah egomu, dan biarkan yang hidup sisi kecemerlanganmu yaitu, kebalikan dari keburukan ...,“ ujar suamiku menggantung kalimatnya. Meskipun mulutnya diperban, ia masih bisa bicara dengan tedas.
__ADS_1
”... Laisa, dunia penuh kebohongan, tetapi, itu ditujukan agar jiwa kita mencapai kematangan kulminasi, atau justru kita malah terbohongi lalu jadi terhina, nah ... saat kamu putus asa, kamu punya kesempatan untuk bangkit ....“
“Sakit hatilah Laisa, kecewalah, jatuhlah, rasakan setiap detik sekarat itu, agar kamu mengenal penderitaan, dan bukan tenggelam di dalamnya, dan dengan pengenalan itu, kamu akan tahu, seperti apa hidupmu, dan seperti apa kehidupan ini, karena yang namanya kemerdekaan, diraih lewat perjuangan,” imbuhnya.
Aku terdiam sengap, dan mulai berkontemplasi.
“Bencilah pada dunia, ambil hanya untuk mengolok-olok dunia, taklukan penderitaanmu, kamu memang manusia biasa, tetapi kamu bisa menentukan kulminasi jiwamu sendiri, Laisa, semuanya tergantung pada dirimu, karena, sekali lagi, kamu yang mengalaminya,” beber suamiku.
Pada akhirnya, kala air mata telah berhenti, kala atelofobiaku telah aku kesampingkan, ya, kesampingkan hanya untuk suamiku seorang, dan kala aku sudah tercerahkan, bibirku mulai mengembangkan senyuman penuh bangga, aku bangga, bahwa, aku masih hidup untuk dapat memilih, dan dibantu oleh orang yang aku cintai.
Senyuman dengan lesung pipiku, kutujukan hanya demi suamiku tercinta, dalam hal ini, aku tatap matanya lekat-lekat. Harfa, dia benar-benar mengenal aku, tapi, sayang, belum cukup aku mengenalnya. Oleh sebab itu, aku akan kuat, membuat kekuatan sendiri, agar, diriku bisa berkulminasi sempurna.
“Sepertinya, dengan kejadian ini, jiwa dan pikiranmu sudah berkembang,” sanjung suamiku yang sepertinya tersenyum dalam balutan perbannya.
“Ya, kali ini, berkatmu, aku tak sudi tunduk oleh putus asaku, tak sudi aku menjadi babu dari hasratku sendiri, aku, akan mensyukuri hidup, mungkin takdir mewarisi perasaan ini, tapi, aku mulai berpikir, bahwa memang aku harus berusaha untuk tetap fokus, dan tak terpengaruh oleh intervensi apapun,” ungkapku telah terilhami.
Namun bersamaan dengan itu, pikiran nyeleneh pun terbesit.
”Oh iya, kamu kalau pipis sama buang air besar bagaimana, 'kan kamu diperban?“ tanyaku penasaran dan otomatis mengganti topik pembicaraan.
”Ya, kalau begitu kenapa nggak pulang ke rumah?“ heranku.
”Loh, jauhlah, masa kalau mau boker harus pulang dulu ke rumah,“ balas Harfa.
”Eh, maksudnya kenapa nggak dirawat di rumah aja?“ jelasku.
”Lebih baik berjauhan, biar nanti kita bisa memunculkan rindu,“ kelakar Harfa.
”Ahk, basi,“ ketusku.
”HAHAHAHAHA ...,“ Harfa malah tertawa.
__ADS_1
”Apa kamu mau aku bacain puisi?“ usul Harfa.
”Puisi apaan, puisimu nyeleneh dan menakutkan,“ sindirku.
”Oh, ya udah.“
Selepas itu, keheningan kembali terjadi, aku masih berdiri dengan hatiku yang mulai tumbuh kembali, berkembang untuk menjadi gadis yang lebih kuat, pelan tapi pasti, jiwaku yang lemah mulai aku bangkitkan kembali, benar, tadi, aku sempat 'mati' tapi kini, aku 'hidup kembali', ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan, namun yang pasti, aku memang bodoh, aku memang lemah, aku memang putus asa, tapi, setidaknya itu tadi, aku dibentuk sejarah, tapi aku juga membentuk sejarah. Mengganti yang mati dengan yang hidup, berubah menuju kesadaran absolut, Inilah jiwa yang berevolusi.
Maka aku menghela napasku, mempersiapkan diri pada kehidupan yang lebih berat, bersiap untuk menabrakkan diri pada masalah, kalau pun sanggup, aku akan menyelesaikan masalah itu. Solusinya, hanyalah pengenalan. Lantas, dengan penuh syukur, aku berkata,
”Aku mau pulang, terima kasih sudah mau memberiku pengenalan hidup.“
”Hmmm ... ya boleh, tapi, jangan lupa untuk terus lebih kuat.“ Suamiku mengizinkan dan menyemangatiku.
Maka aku mengangguk, lalu membungkuk mendekat sangat dekat, pada kening suamiku, hingga aku mencium kening suamiku penuh cinta, dengan harapan, Harfa cepat pulih. Kemudian aku kembali berdiri tegap, ditambah tersenyum senang.
”Laisa, kalau ada apa-apa, lapor saja pada guru BK-mu, Guru Sukada sangat baik,“ anjur Harfa yang seolah-olah sudah mengenal Guru Sukada, yang memang Guru Sukada sangat baik.
”Kamu, belum tahu ya, aku mau pindah sekolah?“ dugaku.
”Sudah, Farka memberi tahuku, aku cuman memberikanmu opsi kedua, kalau kamu tidak punya orang untuk meminta bantuan, bahkan waktu itu saja, Pak Sukada, memang memintaku untuk bisa mengandalkannya,“ beber Harfa.
“Hmmm ... hanya perempuan yang memahami perempuan, tapi ... ya, boleh juga.” Aku menerima usulannya.
Lantas, aku lagi-lagi menarik napas panjang, lalu membuang napas bersama energi negatif yang mulai redup, karena, aku telah 'lahir kembali'.
“Harfa suamiku, aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu, itu sebabnya, aku tidak pernah berkorban apapun padamu! Sekali lagi! Aku mencintaimu! Itu sebabnya, aku tidak pernah merasa berkorban untukmu! Karena itu, aku sangat mencintaimu!” kataku pada Harfa, penuh keyakinan, lantang nan dinamis.
“Ya, aku tahu, itu sebabnya pula, kamu berani datang kemari, mengalahkan diri sendiri, dan aku bersyukur untuk itu,” balas Harfa.
Dan bersama kekuatan mental yang baru, kuputar badan ke belakang, sekaligus melangkah menuju pintu keluar, aku akan pergi untuk menghadapi warisan dari takdir, yaitu kenyataan hidup, aku memang menyerah, karena hanya sabar yang bisa kini aku lakukan.
__ADS_1
Aku akan melanjutkan hidup, tak ada alasan benar untuk bunuh diri, toh, kematian akan indah, saat aku telah mencapai kesempurnaan diri.
Di luar sana, masih banyak manusia yang butuh dukungan hidup, masih ada manusia yang sendirian, maka, hari ini, detik ini, aku akan menjadi temannya, meski harus masuk ke dalam penderitaannya, aku akan mengenalnya, mengenal, agar mereka yang kesepian, memiliki harapan dan membentuk kebahagiaannya.