Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 25: MALAM INI ADALAH BUKAN MALAM ITU.


__ADS_3

Dan betapa bersyukurnya aku, malam ini aku bisa makan di rumah Anka tanpa perlu mengeluarkan uang, lebih-lebih hidangan yang dibuat bibinya sangatlah lezat.


Untuk beberapa obrolan, pembahasan hanya berkutat pada kebakaran perpustakaan sekolah, sampai telingaku panas, mesti mendengar obrolan kekhawatiran mereka terhadap suamiku, memang sih itu hal yang wajar, hanya saja, pikiran tentang cacatnya suamiku kembali berbayang dalam kepalaku, sehingga sulit rasanya mengikuti atau bahkan menerima obrolan itu. Pada dasarnya pasti aku akan kembali bertemu dengan suamiku lagi, namun, untuk saat ini aku ingin menenangkan diriku dulu, siapa tahu dengan berjalannya waktu aku bisa menerima kondisi suamiku, entah butuh waktu berapa banyak untuk siapnya jiwaku, yang jelas aku sedang berusaha.


Dan dipukul 20:00 malam hari, saat paman bibi serta keponakan Anka berkumpul di ruang tengah, aku serta Anka duduk manis di sofa ruang tamu, aku duduk di sofa panjang menghadap Anka yang duduk di sofa tunggal, yang pastinya bermain gim daring favorit kami itulah yang tengah kami perbuat. Roti anggur telah habis disantap oleh kami.


“Anka, apa kau sudah selesai menulis autobiografi?” tanyaku, memastikan sejauh mana Anka menyelesaikan autobiografinya dan tetap, aku menatap layar ponsel.


“Belum sih, aku nggak tau harus berapa ribu kata ... memangnya menulis sampai berapa banyak?” jawab Anka dengan mengajukan pertanyaan dan tetap memandang layar ponsel.


“Ceritakan dari lahir sampai sekarang, kita menulis autobiografi bukan buku harian, tapi singkat aja, seperti autobiografi di perpustakaan waktu itu,” jelasku.


“Oh begitu ... terus, apa kau sudah selesai?” tanya balik Anka.


“Belum.” aku jawab singkat.


Keseruan bermain gim kembali berlanjut, detik demi detik lenyap untuk menghibur diri dengan bermain gim, hingga pada akhirnya, tibalah di mana kami berhenti bermain gim, bukannya apa-apa, kami sudah bosan dan mulai lelah.


Di ruang tengah, ternyata acara Televisi mampu membuat paman bibi serta sepupu laki-laki Anka yang berumur 12 tahun pun nampak terhibur, mereka duduk di atas karpet tanpa merasa jemuk. Berbeda dengan orang tua Anka yang kehidupannya berantakan, keluarga paman Anka, justru sangat harmonis, bahkan menurutku kelakuan pamannya sangat mirip dengan Anka, aku bahkan menduga kalau paman Anka adalah ayah kandungnya, mereka jailnya bukan main, jangankan pada manusia, binatang pun tak lepasnya menjadi kejailan mereka. Seekor cecak, kucing, kerbau sampai kuda, pasti kena juga pekerjaan tangan usil mereka.


Aku pernah makan cecunguk, makan cecak, makan lumpur, makan rumput, aku pernah mandi cat, bajuku pernah terbakar, dan itu semua adalah hasil yang kudapatkan dari kejailan paman Anka, meski sebenarnya masih banyak kejailan lainnya yang kualami, akan tetapi sisanya tak terlalu berarti. Meski kejailan sudah menjadi bagian hidup mereka, keakrabanku pada mereka tetap tak luntur, sama halnya seperti ikatan persahabatanku dengan Anka, tetap harmonis hingga sekarang.


Satu hal yang penting, rumah ini bukanlah rumah peninggalan orang tua Anka, rumah aslinya telah dijual, agar dengan begitu kesan traumatik juga dilenyapkan.


Dan besok aku harus kembali sekolah, apa lagi tadi pesan dari Guru Sukada juga menegaskan bahwa besok semua murid wajib sekolah.


“Anka,” seruku dengan memandang wajahnya.


Maka pandangan Anka tertuju padaku.


“Aku mau pulang dulu, sudah jam sepuluh,” ungkapku.


“Kau mau pulang di antar apa nggak?” tanya Anka.


“Nggak perlu, lagian, aku kan cewek pemberani,” jawabku dengan sok jagoan.


“Ha-ha, dengan kodok saja kau takut, udah aku antar.”


“Loh, kalau nanti aku sudah sampai di rumah, lalu siapa yang mengantarmu?” heranku.


“Loh, kamulah yang mengantarku,” gurau Anka.


“Eh? Itu mah sama aja berbalik-balik,” sindirku.


“Ya jangan kau tanyakan, aku kan sudah biasa pulang malam.”


“Loh, aku juga sudah biasa pulang malam, sendirian lagi.”


“Loh.”


“Loh lah loh, udah aku pulang sendiri aja, biasanya juga kau biarkan aku pulang sendiri.”


“Tapi kondisi sekarang berbeda, kau tahu kan sekolah tengah terjadi musibah janggal,” cemas Anka.


“Ya, terus kalau aku pulang sendiri kenapa?”


“Ini sudah malam, takut ada penjahat.” Anka waswas.


“Kau sendiri tahu, aku bisa Pencak Silat, waktu itu saja ... yang menolongmu dari preman SMA Pekerti siapa, kalau bukan aku.”


“Waktu itu kan bukan waktu ini,” bela Anka.


“Udah nggak perlu, aku pulang sendiri aja.”


“Jangan dong, aku sebagai laki-laki merasa tidak berguna.”


“Loh? Memangnya sejak kapan kamu laki-laki?” candaku.


“Udah pokoknya, kamu pulang aku antar.”


“Nggak perlu.”


“Sebaiknya kamu iya kan aja, pamanku mulai menatap aneh,” balas Anka.


Sontak aku menolehkan kepalaku ke kanan, dan di sana, dalam jarak dua meter, pria dewasa berumur 33 tahunan, tengah berdiri menatap kami dengan raut muka datar, bahkan untuk itu, dia menggenggam sebungkus keripik kentang sebagai kudapannya. Dan tiba-tiba, paman Anka buru-buru melangkah mendekatiku. Pria berkumis tebal, bertubuh tegap, dan berwajah oriental, seperti itulah sosok paman Anka. Akan tetapi, betapa konyolnya kala dia malah berjongkok di depan meja kaca sambil menatap kami secara bergantian.


“Hayo ... kalian mau ngapain? Mabal lagi ya?” paman Anka mencurigai perbincangan kami.


“Siapa yang mau mabal, kami ...” ucapan Anka dipotong.

__ADS_1


”Ahk masa, ini kalian sedang rapat kan?“ sela paman Anka.


”Udah, daripada mabal jauh-jauh, mending memacul di sawah, bantu-bantu kerbau di sana, lumayan kan kalian jadi mengenal alam,“ sindirnya.


”Eh?“ kedua alisku terangkat, terkejut dengan tawaran nyeleneh paman Anka.


”Bukan begitu ... Laisa kan mau pulang, nah sekolah juga kan sedang terjadi musibah yang janggal, jadi aku mau mengantarnya pulang, soalnya ini juga kan sudah malam.“


Mendadak, sang paman bangkit berdiri sembari mengunyah keripik kentangnya.


”Itu bagus itu, ya, perempuan sepertimu harus diantar,“ katanya dengan lantang.


Perempuan sepertimu? Sangat aneh mendengarnya.


”Iya, tapi, Laisa tidak mau,“ timpal Anka.


”Loh loh? Laisa, sebaiknya kamu mau ... ini kan juga sudah malam, tak baik kamu pulang malam sendirian. Gini aja, kita mah berpikir positif aja ya, sekarang bayangkan, coba kalau kamu pulang sendirian, terus tiba-tiba ada anjing sawah yang tiba-tiba ngejar kamu, kamu lari tapi lalu kamu jatuh, terus kamu digigit sampai mati, nah ... siapa coba yang harus bertanggung jawab, anjingnya? Kan nggak mungkin.“


”Tuh dengar kan, pamanku aja tahu kalau ada anjing sawah.“


Aku sempat tertunduk, agak terganggu dengan adanya serbuk bumbu kekuningan yang menempel di kumis hitam paman Anka, sungguh membuatku malu. Entah kenapa juga aku malu.


”Aku pulang sendiri saja, lagian nanti siapa yang mengantar Anka pulang?“ ujarku.


”Loh ... kamulah!“ balas paman Anka berguyon.


Aku mendengkus mendengar betapa memusingkannya perkara ini.


”Ya, jangan ditanya ... nanti Anka paman yang jemput naik motor,“ ralat paman Anka.


”Tunggu dulu paman, aku mau pinjam motornya untuk mengantar Laisa pulang,“ sanggah Anka.


”Ya kalau begitu caranya, paman saja yang mengantar Laisa.“


”Loh, nggak bisalah, Laisa kan sahabatku, dia tanggung jawabku,“ tolak Anka secara asertif.


”Sudah nggak apa-apa, biar paman aja, kamu di sini jaga istri paman, takut ada yang nyulik,“ guyon paman Anka.


”Nggak perlu paman, biar aku aja.“


”Eh kan, kamu mah eyel.“


”Eh? Jelas pamanmu ini harus ikut campurlah, orang sekolahmu kena musibah, suami Laisa aja kena musibah, dan musibahnya sangat janggal, takut-takut kalau ada penculik di jalan, gimana hayo kalau Laisa dicekik sampai mati, kau mau bertanggung jawab?“


”Mana ada seperti itu, lagian sama aja diantar oleh aku atau paman, jadi paman nggak perlu ikut campur.“


”Loh, kalau memang sama aja, biarlah pamanmu ini membantu.“


”Nggak pokoknya nggak.“ Anka menolak bantuan pamannya sampai-sampai harus bangkit berdiri.


”Dengar ini dengar, Laisa harus didampingi oleh orang dewasa, anak-anak sepertimu lebih baik diam di rumah.“


“Kenapa sih paman ngotot banget!”


”Udah begini aja, tadi Laisa datang ke sini sama siapa?“


”Aku datang sendiri,“ jawabku berharap adu argumen bodoh ini segera berakhir.


”Ooooh ya kalau begitu kau pulanglah sendiri, biasanya juga pulang sendiri,“ balas paman Anka.


Lantas tanpa ada masalah, dia pergi ke ruang tengah dan mendeprok dengan menyandarkan punggungnya ke dinding, tak lupa kudapan sebungkus keripik kentangnya terus menjadi santapannya. Paman Anka memang benar-benar aneh, sangat tidak jelas banget berazamnya tadi apa. 


”Ayo Laisa, kita berangkat, sebelum pagi datang.“ sambil memasukkan ponsel pintarnya ke saku celananya Anka melangkah menuju pintu.


”Kan aku sudah bilang, aku pulangnya sendiri aja,“ paparku dengan raut datar memandang Anka.


”Ahk sudahlah, jangan menolak bantuan seorang teman, kecuali kalau temanmu memang seorang bedebah.“


”Oke iya-iya.“ akhirnya aku menyerah.


Kubangkitkan tubuhku dari duduk yang nyaman, lantas bersalaman pada paman, bibi dan keponakan Anka untuk pamit.


”Bi, paman, aku pulang dulu,“ seruku dari ambang pintu.


”Ya hati-hati, kalau ada anjing sawah jangan lari,“ balas paman Anka dan karena beliau berada di ruang tengah sehingga hanya suaranyalah yang tertangkap oleh panca indraku.


”Dadah Kak bule ...,“ kata keponakan Anka yang berdiri menghadapku sembari melambaikan kedua tangannya.


Dia anak laki-laki botak, dengan lendir bening yang mengalir dari hidung ke bibirnya, lendir itu sudah ada di sana entah sejak kapan, namun yang jelas, bocah ingusan itu selalu menjilatnya, keponakan Anka juga sangat jail, tetapi jailnya agak mesum, dan tentunya sebutan 'bule' adalah panggilanku yang selalu digaungkannya.

__ADS_1


Pintu rumah Anka kututup rapat, dan setelah sandal jepit kepunyaanku melekat di kakiku, aku mulai melangkah mengikuti Anka yang telah jalan lebih dulu. Ponselku tetap aku pegang, tak ada alasan kuat untuk itu, aku memang ingin memegangnya saja.


”Anka, kita nggak naik motor?“ tanyaku sembari menoleh ke arah kanan pada motor milik paman Anka yang terparkir di halaman rumahnya.


”Nggak ahk, malas, nanti malah kayak yang sudah-sudah, kamu kan tahu motor itu selalu mogok di tengah jalan,“ jawab Anka berdiri berkacak pinggang menungguku.


”Kenapa nggak dibetulin?“ heranku memandang wajah Anka dan kala aku telah berada di sampingnya dia pun melanjutkan langkahnya bersamaku.


”Loh, sepeda motor itu memang udah rusak, percuma saja.“


Aneh mendengarnya, padahal di dalam rumah, tadi Anka terlihat ngotot ingin meminjam sepeda motor pamannya, dan karena aku tak mau ambil pusing, aku hanya manggut-manggut saja tanpa komentar apapun. Langit benar-benar gelap tanpa kilau gugusan bintang, udara pun mengalun begitu dingin, suasana kompleks Hanataba sangat sepi. Dalam perjalananku bersama sahabatku ini, kebun binatang di kota Artana adalah topik yang menjadi obrolan kami, yang tentunya tempat itu menjadi destinasi rencana mabal kami selanjutnya.


Hingga sampailah kami di depan gerbang SMA Lily Kasih, kami berhenti sejenak untuk menatap sekolah kami ini. Tapi tunggu dulu!


”GUK GUK GUK!“


Itu suara seekor anjing. Dan kala kami menoleh pada tempat parkir sekolah, seekor anjing berwarna krem menggonggong ke arah kami, terlebih, kami baru menyadari bahwa ada seekor anjing di sana, parahnya lagi, anjing itu berlari kearah kami!


”Bedebah! Itu anjing sawah!“


Sontak secara refleks aku serta Anka tergerak untuk langsung berlari.


”Guk Guk Guk!“ sialanya anjing itu malah mengejar kami.


”Wah ngejar wamjir! Ngejar!“ Anka panik dan aku pun panik.


Kami berlari secepat mungkin, berlari kalang kabut, berlari tanpa mementingkan lingkungan sekitar kami, yang pasti, diri kami harus selamat dari gigitannya.


'Drap-drap-drap-drap'.


Dan saat seperti inilah, aku bisa melihat kecepatan lari Anka secara eksklusif, dia memang urusan lari lebih cepat, seperti waktu di mal, hanya saja kali ini dua kali lebih cepat.


Hingga saat aku menengok ke arah belakang, kulihat anjing itu mulai menjauh. Berhenti dengan lidah memelet, lalu memutar arah, berjalan kembali pulang.


”Haah-haah ... anjingnya udah nggak ngejar,“ kataku sambil berlari pelan berusaha menghentikan lariku.


Anka pun berhenti berlari, dibarengi olehku yang berhenti berlari pula di depan Anka, kami berdiri agak membungkuk, berusaha mengatur napas lelah kami.


”Haah-haah-haah ... nggak nyangka, ada anjing sawah,“ keluh Anka sambil berkacak pinggang dan napasnya terengah-engah.


”Lihat ini,“ pintaku dengan mengangkat kedua tangan, menunjukkan pada Anka bahwa tanganku bergetar dan untungnya ponselku masih kupegang erat.


”Waduh, sampai gemetar begitu,“ komentar Anka tak menyangka.


Lalu saat itu juga, tatapan kami saling bersirobok, dan seketika, tawa pun pecah.


”Hahahaha ...,“ kami menertawakan betapa anehnya kejadian tadi.


Tak disangka, kami juga telah berdiri di depan jalan raya yang dilintasi kendaraan-kendaraan beroda. Dan sambil melanjutkan perjalanan pulangku, dikejar anjing menjadi topik hangat perbincangan kami, hanya sekadar menceritakan perasaan kami saat dikejar, sisanya menertawakan kejadian tersebut. 


Anjing itu memang terkadang berkeliaran saat menuju tengah malam, tetapi yang membuat kami syok adalah dikejar dan digonggonginya.


Saat kami sudah sampai di rumahku, alih-alih untuk pulang, karena takut dikejar anjing lagi, Anka akhirnya menginap di rumahku.


Tentu saja dia tidur di sofa ruang tamu, meski sebenarnya rumahku dilengkapi kamar tamu, dia tetap saja bersikeras untuk tidur di sofa, ketakutan terhadap kuntil-anak adalah penyebabnya, bukannya apa-apa, rumah besarku ini memang menjadi tempat bagi makhluk dari alam lain, dan Anka pernah bermimpi dicekik oleh kuntil-anak saat dirinya pernah tidur di kamar tamu itu, memang sih hanya mimpi, tetapi terlalu nyata jika harus disebut mimpi, tepatnya 'ketindihan.' Dan ngomong-ngomong kuntil-anaknya adalah kuntil-anak merah.


Sedangkan aku tidur di kamarku, hingga sisa malam pun kami lalui hanya untuk tidur.


Saat mimpi memperkosaku ...


Aku membayangkan bunga matahari ....


Saat nyawa pergi dari tubuhku ....


Aku membayangkan bunga mawar ...


Karena tak ada manusia yang dapat dipercaya Laisa....


Hanya kematian yang tak pernah berdusta ...


Dan kematian itu tidak datang padaku Laisa ...


Justru kematian itulah yang mengundangku ...


Hidup pernah berbohong padaku Laisa ...


Saat aku meminta selembar uang ...


Hidup memberiku kematian ...

__ADS_1


Karena hidup selalu menipuku Laisa ....


__ADS_2