
Pukul 19:01 malam hari, aku telah tiba di rumah sakit, tempat suamiku dirawat. Aku bahkan masih berpenampilan sama seperti pagi tadi, baju nuansa hitam dengan celana denim panjang.
Sebelum aku sampai di sini, aku harus berjuang melewati adangan dari berbagai wartawan, aku tidak menjawab pertanyaan mereka, hanya terus berkata 'tidak tahu' dan terus berjalan menuju jalan raya, lalu naik taksi hingga tibalah aku di sini.
Suasana rumah sakit ini cukup ramai, para manusia masih memenuhi lobi, aroma di sini pun tetap wangi, entah wangi apa. Aku melangkah menuju meja resepsionis, dan setelah meminta izin, aku diperbolehkan menemui suamiku.
Tanpa berlama lagi, aku masuk ke dalam kamar 'ICU', dihadapkan oleh aroma obat, serta rungan luasnya masih dengan peralatan medis yang cukup lengkap dan dua ranjang pasien yang letaknya berdampingan masih tetap di tempatnya, namun fokus mataku tertuju tepat di ranjang pasien di depanku, seorang manusia berbalut perban yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, kecuali dua netranya, tengah terbaring kaku di sana, suamiku masih terbaring tak berdaya.
Kulangkahkan kakiku perlahan mendekatinya, bersamaan dengan itu, atelofobiaku mulai menyeruak dalam diriku, napasku pun mulai terasa berat, sulit rasanya melihat kenyataan pahit dalam hidupku, apalagi aku yang selalu menuntut kesempurnaan.
“Haah, Harfa ...,” lirihku begitu pilu, berharap dia tak semenderita aku.
Aku memang terlalu egois, ketika ingin dimengerti, justru di depankulah orang yang harusnya aku mengerti, harusnya Harfa yang aku beri semangat hidup, benar, Harfa pasti sangat menderita dengan kondisinya, dia tak punya siapa-siapa lagi, ya kecuali paman bibinya, namun, akulah orang yang tedekat padanya, dan seharusnya, akulah yang selalu ada untuknya.
Mataku entah mengapa tiba-tiba mulai berkaca-kaca, napasku terasa sesak, dan aku bergigit tak menyangka. Kini dalam jarak sejengkal saja, suamiku bisa jelas kupandangi. Aku berdiri di samping kirinya.
Harfa yang tadinya terpejam, kini perlahan kelopak matanya terdedah, di sana, netra hitamnya, bergerak menuju ke arahku, netra hitam itu nampak berbinar padaku. Mungkin, jika mulutnya tak diperban, aku bisa melihat senyumnya.
Kendati demikian, aku mulai cemas, atelofobiaku mulai menyeruak, hanya saja, tekad mantapku, niat kokohku, telah bulat untuk mengalahkan diriku sendiri.
Dalam gundahnya hatiku, dalam getirnya pikiranku, kupandangi mata suamiku.
“Ma-maaf ... aku ...,” kataku tertunduk penuh penyesalan. Jelas aku menyesal, karena bagaimana pun, aku telah meninggalkan suamiku bagai isteri durhaka.
“Nggak perlu minta maaf, jangan kira aku tidak mengenalmu ....” Suamiku membalas dengan santai.
Aku menarik napas dan mengembuskan napas kuat-kuat, mencengkram jemari mengepalku kuat-kuat, berjuang untuk tetap tenang dan santai.
“Coba tanamkan dalam kepalamu, bahwa fobiamu itu justru membuatmu tidak sempurna,” usul Harfa.
Aku menggeleng seraya berkata, “Enggak bisa, sudah pernah kucoba.” Bahkan dalam menuturkan alasan pun, gigiku bergigit, seluruh urat-uratku menegang.
“Tenang ... tenang, Laisa. Kamu boleh pergi, kalau memang kamu nggak bisa, kamu boleh pergi ...,” ujar Harfa dengan pasrah.
“ENGGAK!” sentakku menolak.
“A-aku ... aku datang ke sini karena inisiatifku, aku, aku datang ke sini, karena ... tinggal kamu yang tersisa,” imbuhku tertunduk memjamkan mata.
”Sisa ya? Kalau begitu, apa kalau aku berubah jadi buruk rupa, kau mau tetap menemaniku di sini? Atau kalau aku nggak punya tangan, kamu mau datang lagi ke sini? Atau ... kalau aku tidak sempurna apa kamu masih mau menerimaku?“ tanya Harfa dengan serius.
__ADS_1
Aku menarik napas panjang, membuka mataku lebar-lebar, berusaha setenang mungkin, bagaimana pun, aku harus bisa mengalahkan diriku sendiri.
Semua baik-baik saja.
Semua baik-baik saja.
Semua baik-baik saja.
Aku berusaha menghinosis diriku sendiri, dan ini lumayan berhasil.
”Kalau suamiku berubah, apa itu masih suamiku?“ tanyaku memastikan sambil menatap mata hitam suamiku lekat-lekat.
”Ya, kalau aku tak punya tangan, kalau tubuhku tidak sempurna, itu tetap aku, ya, karena aku Harfa, suamimu yang kamu banggakan sebagai seorang laki-laki sempurna,“ jawab Harfa.
”Ya, kalau begitu, aku mau menemanimu,“ balasku.
”Oke ... anggap saja aku sempurna, karena ... aku suamimu,“ papar Harfa.
”Iya.“ Aku menjawab dengan singkat sembari mengangguk.
Hingga kami sengap, tetapi mata kami saling bertemu pandang, begitu intensnya kami saling bersirobok, membuat keheningan meliputi kami, tak ada yang bicara, kami betah untuk menatap mesra. Tapi, aku tak tersenyum, hanya menatap mata suamiku penuh cinta dan penuh iba. Bersamaan dengan itu, lambat laun, jiwaku mulai tenang, jemari-jemariku berhenti mengepal, semuanya mulai terasa rileks.
”Oh iya ... ngomong-ngomong, rambut kamu berantakan,“ ucap Harfa memberi tahu.
”Eh?“ Aku terkejut dengan pernyataan Harfa.
Namun buru-buru aku menyiah rambutku, merapikannya dengan menyisir rambutku oleh jemariku.
”Kamu dari mana?“ tanya suamiku.
Sontak aku kembali teringat akan tujuanku, hingga teringat pula tentang adanya kematian yang tragis.
”Aku tidak pernah melihatmu begitu murung ... kecuali hari ini, apa, kamu kerepotan gara-gara aku?“ Suamiku khawatir dan menyalahkan dirinya sendiri.
”Nggak ...,“ bantahku dengan sendu.
”Aku, aku putus asa ... aku gagal untuk membuat Loze berubah, lalu ... Anka, meninggal, semua teman-temanku dihabisi oleh Loze,“ lanjutku dengan senak dan berat untuk berucap.
Suamiku terdiam sejenak, dia menatap mataku, memindai untuk menyelisik kebenaran ucapanku.
__ADS_1
”Sahabatmu?“ periksanya.
Aku mengangguk-angguk begitu pilu.
”Menangis saja Laisa, jangan kamu pendam, asal jangan berlebihan ... kamu boleh takut, tapi demi kebaikan dan tidak berlebihan,“ pinta Harfa dengan lembut. Dan sepertinya dia percaya ucapanku.
Maka tersentuhlah pikiran dan hatiku, tersentuh oleh kata-kata serta nada suaranya. Aku membuang napas begitu berat, hingga mataku, mulai penuh dengan air mata, basah, lalu mengalirkan air mata rasa sakit, mengalir melimbur pipiku.
”Haah ... haah ....“ Aku bahkan merasa berat untuk bernapas.
”Putus asa, gara-gara gagal menghentikan Loze?“ tanya Harfa memastikan.
”Hiks ... iya ... aku, malah terhasut oleh kata-katanya, aku memikirkan dakwaan bahwa aku anak bodoh, aku jadi takut dengan masa depanku, aku merasa tidak berguna, aku ingin mati ...,“ ungkapku blak-blakan dan mulai senguk-sengak, bahkan beberapa kali sempat menelan liurku.
“Dunia penuh kebohongan ya Laisa? Ketika sebuah kenyataan tidak sesuai dengan keinginan, dunia sudah sering menipu, ketika cinta kasih dan kerja keras selalu tak dibayar dengan setimpal, dan dengan kekerasan, semua orang baru mau mendengarkan, begitu 'kan Laisa?” balas suamiku dengan menyimpulkan apa yang kurasa.
Aku mengangguk membenarkan, dan mataku tertunduk pilu pada seprai kasur.
“Laisa, sebenarnya sih semua ada dipola pikir kamu sendiri, ketika dunia memberimu kebohongan, apakah dengan serta merta, kamu percaya dengan itu, atau kamu menolak itu, usaha kita memang terkadang dikhianati hasil, terkadang mimpi harus usai karena kita terbangun, tapi dari itu, kamu harus menaklukan dirimu sendiri, karena, kamulah yang mengalaminya, ingat, terbentuk oleh sejarah, atau membentuk sejarah,” papar Harfa.
“Terbentuk oleh sejarah, atau membentuk sejarah?” ulangku dengan perenungan yang dalam.
“Ya, tunduk pada dunia, atau kau yang menundukkan dunia,” suamiku kembali berusaha memotivasiku.
Aku terpegun, merenungi dan mencerna baik-baik kalimat suamiku.
“Matikan lampu, kalau ada siang terang benderang menerangi rumah kita,” kata suamiku berkias.
“Aku tidak mengerti kiasanmu,” keluhku.
“Jangan berlebihan memakai lampu, nanti tagihannya melonjak,” jelas Harfa.
“Ooh ... jadi aku nggak boleh berlebihan, gitu?” Aku memastikan.
“Ya, segala sesuatu yang berlebihan, dan tak kenal yang dituju, nantinya malah melahirkan kekecewaan, barulah muncul keputus-asaan, tidak kenal lagi apa yang kamu tuju, 'kan kamu jadinya kebingungan 'kan?” jelas Harfa.
“I-iya sih, aku memang bingung,” ucapku.
“Nah ... jangan berlebihan, itu aja kok mudah, selama kamu bersyukur, selama itu pula, kerja kerasmu adalah hasil yang baik, kalau masalah hasil yang diinginkan ... kayaknya itu terlalu berbahaya, bukannya apa-apa, aku pernah dengar, ada seorang manusia yang berdo'a agar seluruh manusia masuk neraka, nah coba, kalau semua keinginan dan harapan itu mudah terjadi, kita semua pasti sudah ada di neraka ...,” beber suamiku.
__ADS_1
”Tapi ...,“ ucapanku tersendat.