Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 29: KEPINTARAN ADALAH KEJAHATAN. (Part 1)


__ADS_3

Bersama rasa gusarku, kubangkitkan tubuh malasku dari duduk, ketimbang memikirkan masalah yang tak karuan lebih baik aku masak mie untuk mengisi energi tubuh malasku.


Hari ini aku tak ingin ke mana pun, hatiku sedang ingin tenang di sini, lebih memilih untuk berleha-leha kembali di rumah, menenangkan diriku dari segala bentuk tekanan masalah, itulah tujuanku.


Dan saat memasak mie aku hanya bernyanyi dengan lagu yang terputar di lemari pendingin, sebuah lagu dari Alvvays yang berjudul Archie Marry Me, namun karena aku tak terlalu fasih berbahasa Inggris, melenguh membuat nada yang selaras dengan musik adalah perbuatan yang dapat kulakukan. Hanya dalam waktu lima belas menit mie sudah bisa kusantap, kunikmati citra rasa mie bawang di meja makan, duduk manis hanya memikirkan kegiatan selanjutnya.


Ya, setelah makan aku lebih memilih bermalas-malasan di karpet ruang tengah dengan menonton acara televisi, kumendeprok sembari mengemil kudapan sebungkus keripik singkong, menikmati acara berita penuh antusias, jelas aku antusias, teror di SMA Lily Kasih menjadi topik beritanya, menurut penuturan pembawa berita, kasus teror di SMA Lily Kasih adalah kasus rumit yang melibatkan anak-anak SMA, dan pelakunya sendiri kabarnya murid SMA Lily Kasih sendiri, hanya saja, tak ada wartawan pun yang diizinkan untuk mewawancarai murid-murid SMA Lily Kasih, entah kenapa tidak boleh wawancara, yang jelas, topik berita kembali berganti, cukup cepat terganti untuk kasus serumit itu, tetapi berbarengan dengan itu, karena juga topik berita selanjutnya tak terlalu kusukai, aku pun mengganti saluran TV, mengganti dengan acara komedi, namun sayang, kala aku mulai terpaku pada layar kaca, selama acara berlangsung, komedinya 'garing' malah lebih menjurus pada ejek-ejekan fisik.


“Berengsek semua acara TV, masa iya hiburan isinya gibah semua,” gumamku sembari mengganti saluran TV dengan 'remote.'


Satu fakta penting mengenai acara televisi, yaitu kepala sekolah SMA Lily Kasih pernah masuk TV gegara Kepala Sekolah Chisna dinobatkan sebagai kepala sekolah tertua di dunia oleh Guinness World Records, media asing sampai media dalam negeri pernah meliputnya, terlebih lagi, kepala sekolah SMA Lily Kasih pernah diminta untuk dipensiunkan oleh menteri kependidikan, karena usianya yang terlalu renta, hanya saja, ada beberapa hal yang tidak aku mengerti, hingga akhirnya kepala sekolah tetap diperbolehkan menjabat sebagai kepala sekolah SMA Lily Kasih, dan kabarnya, kepala sekolah akan berhenti dari dunia pendidikan setelah kelulusan murid-murid kelas 12 tahun ajaran sekarang, 2018-2019.


Tapi syukur bagiku masih ada acara TV yang cukup asyik untuk ditonton, benar, acara membahas sejarah kemerdekaan Indonesia, yaitu lahirnya sumpah pemuda setelah diselenggarakannya Kongres Pemuda di tanggal 27-28 Oktober 1928, namun yang membuatku asyik adalah sang sejarawan yang berdiskusi dengan seorang pemuda, mungkin kurang tepat jika aku sebut sebagai pemuda karena dia seorang gadis, dan sang narasumber tersebut penampilannya pun urak-urakan, rambutnya hijau seperti daun pisang,  jaketnya bolong-bolong seperti digigit tikus, mukanya kucel, di bibir bawahnya terdapat cincin yang ditindik, jadi sebut saja dia 'pemudi kacau balau,' tapi tunggu dulu, setelah beberapa menit aku ikuti pembahasan ini, yang tak aku sangka adalah, pemudi kacau balau tersebut telah menjual lukisan hasil tangannya sendiri ke seluruh dunia, bahkan sudah masuk ke galeri di London Inggris. Selain acara membahas keutamaan sumpah pemuda, acara pun membahas peran penting pemuda di zaman ini, paling hanya membahas para pemuda yang berprestasi, dan seperti dugaanku, para pemuda yang hobinya berbuat onar hanya dianggap sampah. Hingga sampailah acara disegmen terakhir, sang sejarawan pun diminta untuk mengucapkan salam atau pesannya.


Pesan sang sejarawan hanya seputar jangan melupakan sejarah, akan tetapi, pesan yang dituturkan sang pemudi kacau balau itu mampu membuatku bergeming.

__ADS_1


Begini bunyinya: “Sukseslah seperti sang idola, tapi bila gagal, sebaiknya mati saja, karena sang idola tidak gagal seperti kita.”


”Gila ... aku nggak ngerti maksudnya apa,“ gumamku.


Aku bahkan tak menyangka, acara TV tersebut memakan waktu satu jam, dan acara kembali berlanjut dengan tema historiografi linguistik, mengingat aku hanya 'wow' saja pada acara tersebut, tak ada interesan sedikit pun untuk memelototinya, maka, kegiatan bersenang-senang aku lanjutkan pada memandangi ikan-ikan di kolam, selang sejam, aku menyiram bunga, sekaligus menanam bunga dengan bunga yang baru, lebih-lebih bunga yang telah lama tumbuh di sini, aku ganti, aku ganti dengan ubi ungu, aku suka ubi ungu, jadi aku tanam ubi ungu. Butuh waktu hingga matahari hilang dari pandangan, tergantikan oleh hari yang berujung gelap, sebelum akhirnya berkebunku terpaksa terselesaikan.


Kini pukul 18:47 malam hari, dan berkat kotornya badanku sehabis berkebun, maka mandi adalah perbuatan yang tepat demi membersihkan badan. Setelah mandi, rutinitasku hari ini diakhiri dengan menyaksikan film di ruang bioskop, ya, meskipun tidur tengah malam lebih layak disebut rutinitasku yang terakhir, kendati demikian, semua berakhir begitu cepat.


Maka hari Minggu menjadi waktu yang tersisa untukku bisa memanfaatkan sisa napas yang kupunya, Minggu diliburnya seluruh formalitas dunia kecuali bagi mereka yang punya kepentingan khusus.


'Ceklek ngiiiieeeek' itulah suara yang dihasilkan kala pintu rumahku kudedah.


”Assalamualaikum ....“ sebuah salam yang digemakan oleh seorang pria berkacamata.


Guru Sukada datang ke rumahku dengan pakaian rapi, kemeja lengan pendek nuansa biru dengan celana hitam panjang formal, bonusnya beliau wangi, malah wajah culunnya tetap kentara.

__ADS_1


”Ayo masuklah guru,“ aku mempersilakan.


Selepas sepatu pantofel Guru Sukada dilepas kecuali kaus kaki nuansa putihnya, ia masuk ke dalam rumahku, ini kesekian kalinya Guru Sukada datang ke rumahku. Lantas, beliau duduk di sofa panjang yang menghadap ruang tengah, sedangkan aku duduk di kursi tunggal yang kemarin diduduki Anka.


Blus tunik polos warna biru, lengkap dengan setelan celana panjang nuansa hitam adalah penampilanku hari ini, kemarin pun setelah mandi aku berpakaian begini, tidur pun begini, dan selalu rambutku yang berwarna krem tergerai hingga ke punggung.


”Wah sehat selalu kamu ya.“ Guru Sukada mensyukuri keadaanku sampai matanya memandangku.


”Ya mungkin,“ balasku dengan malas aku malas jika Guru Sukada harus menyuruhku kembali ke SMA Lily Kasih, ya, itu dugaanku pada alasan beliau datang kemari.


Secara tiba-tiba, seluruh gestur tubuhnya berubah seketika, matanya tertuju intens padaku, raut mukanya pun menyiratkan penyesalan. Ada hal serius yang ingin ia sampaikan, kendati begitu, aku tetap santai.


”Laisa, bapak mau minta maaf, maaf sudah membuatmu terlibat teror ini, maaf juga, kalau bapak tidak menjadi guru yang pantas untukmu,“ tutur Guru Sukada blak-blakan dengan bersungguh-sungguh.


Tetapi aku sengap, duduk tegap acuh tak acuh, ini adalah kali pertamanya Guru Sukada meminta maaf, dan aku pasti memaafkannya, karena bagaimana pun, satu-satunya guru yang memahamiku hanya Guru Sukada.

__ADS_1


__ADS_2