Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 36: ANTIMATERI ADALAH AKU. (Part 1)


__ADS_3

Jika kata maaf tak menimbulkan cinta, jika kata maaf tak melahirkan perdamaian, dan bila perang tak mengubah dunia, maka aku hadir untuk memberikan neraka padamu.


Dalam perjalananku menuju rumahku, aku dan teman-teman tertawa, tertawa karena Cludy fobia awan, sehingga dia berlari menunduk dan bergandengan tangan pada Anka, hal lucunya adalah, Anka tidak mau tangannya digenggam oleh Cludy, dan Anka selalu menghindarinya, lebih-lebih, Anka sempat-sempatnya untuk melakukan hobi jailnya. Dan entah bagaimana, bagi kami itu lucu.


Hingga pada akhirnya, kami tiba di rumahku. Kami terus berlari terengah-engah, berlari menuju teras rumahku.


”Haah-haah-haah ....“ kami telah berdiri di depan teras rumahku, berdiri dengan terengah-engah.


“Rupanya memang benar ... ikatan batin itu memang ada, padahal kau adalah anak baru, bahkan kau kerap kali tidak bersekolah,” ujar Loze.


Benar! Loze telah berdiri sendirian sembari menggenggam sepucuk pistol di tangan kanannya, penampilannya kini agak berbeda, dia mengenakan celana panjang sekolahnya, dengan bertelanjang dada, perutnya juga ternyata six pack, tetapi tetap saja dia botak.


Auranya, gestur tubuhnya kini telah berbeda, kini dia berdiri di depan kami dalam jarak 4 meteran, Loze, pria berkulit secokelat buah sawo dengan wajah oval yang tirus, satu-satunya manusia berkepala botak di sekolah Lily Kasih, sang pengidap atazagorafobia, telah menjadi anak muda yang benar-benar berbeda! Dia telah berkembang!


Dan kami telah berdiri berjejer memandang Loze yang berdiri di depan kami dalam jarak 4 meteran, berdiri dalam suasana tegang.


“Haah ... aku datang ... ya! Aku datang Loze!” kataku dengan lantang nan bangga.


“Harusnya aku yang bicara begitu ... ketua kelas.” kata Loze dengan santai.


“Tidak! Kau yang pertama kali datang ke sini.” sahutku dengan lantang.


“Lalu apa yang kau bawa ke sini? Aku punya sepucuk pistol, kau bisa mati dalam sekejap,” sindir Loze dengan mengacungkan pistolnya.


“Nyawaku sendiri,” balasku dengan sungguh-sungguh.


Loze hanya mengangguk tanpa senyuman, dia mengapresiasi keberanianku, yang tentunya, menanggapi perkataanku sangat serius. Selang satu detik, pandangannya terarah pada teman-temanku yang berdiri di sampingku.


“Kenapa kalian ke sini? Kalian punya kesempatan untuk kabur ... tetapi, kalian malah menyia-nyiakan kesempatan tersebut?" tanya Loze menatap satu persatu teman-temanku secara bergantian.


“Apa kau tidak malu sudah membunuh teman-temanmu! haah-haah ...,” sentak Anka masih terengah-engah.


“Hiks hiks ...,” Wisty masih senguk-sengak, mentalnya terpukul.


“Berikan aku jawaban, aku ingin ditanggapi serius!” cetus Loze.


Kami terpegun, masih memandang Loze dengan aneh. Entah mengapa dia seperti ini, tapi aku yakin, dia sudah terbentuk oleh masa lalunya.


“Haah-haah-haah-haah ...,” aku masih terengah-engah berusaha untuk mengatur napasku.

__ADS_1


“KENAPA KAMU SEPERTI INIIII?” teriak Wisty dengan kesal dan penuh tanya.


Angin berembus pelan, suasana di depan beranda rumahku kini terasa serius, terbilang sangat serius, karena apa yang ada di hadapanku, adalah seorang pembunuh dan itu teman sekelasku.


Raut muka Loze nampak serius memandang kami, ia memainkan pistol nuansa hitamnya ke pahanya dengan memukul-mukul secara lembut, lantas dia berkata, “Laki-laki harus selalu menanggung beban hidup paling berat.” bahkan tatapan seriusnya terarah ke depan.


“Aku, saat aku masih anak-anak, kedua orang tuaku bercerai ... lalu teman-temanku sering mengatakan padaku, bahwa, aku akan dilupakan, dilupakan dan terabaikan, ... dari situlah fobiaku muncul ... aku tidak ingin dilupakan, maka, dengan kematian, aku tidak akan dilupakan ... jadi ... hari ini, aku akan membuat sejarah, agar aku tidak dilupakan ...,” imbuh Loze.


“KAMU SUDAH GILA!” bentak Wisty yang cua pada sikap Loze. "Hiks-hiks ...," lalu kembali senguk-sengak.


“Tidak, aku tidak gila ... apa yang akan aku lakukan adalah demi kita semua dan demi generasi selanjutnya ... Oteda pun tidak gila, karena, rasa sakit mengantarnya untuk menemukan tujuan hidupnya.” Loze membela diri.


“Jadi, apa kalian datang ingin menghentikan seseorang yang berjuang demi kepahlawanan?” sindirnya yang masih belum kuketahui berazamnya.


“Kepahlawanan apanya! Orang gila sepertimu adalah penjahat!” sergah Tozka.


“Nah ... kalian langsung mendakwaku, tanpa tahu maksud tujuanku,” sindir Loze.


“Laisa ... apa kau mau dianggap pahlawan?” tanyanya malah beralih padaku.


Maka aku menghela napas, mengatur napasku baik-baik agar tak terengah-engah, kemudian berkata, “Jika kau ingin dianggap pahlawan, aku siap mati, tetapi jika alasanmu tidak masuk diakal, aku akan menghentikanmu, dan kau akan mati sebagai penjahat!”


Tetapi Loze hanya tersenyum miring, seakan mengapresiasi ungkapanku, atau mungkin mengejek. Sesaat setelah matanya tertunduk merenung, ia memandangku begitu intens. Kami juga sempat terdiam sejenak, menikmati keheningan beberapa detik. Lebih-lebih, aku terus menatap serius pada Loze. Hingga selang sepuluh detik kemudian, Loze berkata, “Ketika orang tua tidak mengenal anaknya, ketika orang tua berhasrat pada masa depan anaknya! Ketika manusia-manusia hanya memberikan kebencian pada seorang anak! Anak itu akan memahami sesuatu hal yang berharga ... bahwa cinta dan belas kasihan, terasa tidak berharga, ketika rasa sakit hanya dialami diri sendiri, aku memberi penderitaan pada kalian, agar kalian mematahkan pola pikir burukku itu, dengan cara menunjukkan bahwa cinta dan belas kasihan, itu memang sangat berharga ...,”


“Ya, aku sudah dikecewakan oleh orang tuaku, aku dikecewakan oleh keluargaku, mereka menganggap aku berbeda, mereka membanding-bandingkan aku dengan anak lain, mereka membandingkan aku dengan merendahkan aku, bahkan, saat aku berusaha menuntut keadilan pada keluargaku, mereka malah memarahi aku, dan saat orang-orang yang aku percaya mengkhianatiku, disitulah hatiku terbentuk, jiwaku terbentuk ...,”


”... dan dengan insiden ini, rakyat kota Artana akan memikirkan dan merenungi peristiwa ini. Oleh karena itu, aku menyakiti orang-orang yang tak bersalah, supaya mereka paham, bahwa mengenal diri sendiri, serta mengenal hati manusia, sangatlah penting, dan untuk ini, akan menjadi contoh, bagi manusia yang punya rasa empati untuk dapat menghargai dan menolong pada sesamanya. Aku tidak mau bersaing, aku tidak suka dibanding-bandingkan, sebab itu hanyalah tanda bukti mereka tidak mengenal jiwaku ...,“ lanjutnya.


”Jadi ... apa kalian ingin membantuku, membantu untuk membuka hati dan pikiran rakyat kota Artana?“ tanyanya dengan mengajak.


Tetapi kami hanya terdiam, merenungi perkataan Loze yang terdengar membingungkan.


”Ucapanmu tidak masuk diakal! Perbuatanmu tidak logis!“ sentak Cludy.


”Kamu hanya belum memahami kata-kata dan tujuanku, kamu belum mengenal aku. Jadi berhentilah mengejek dan mulailah berpikir,“ sanggah Loze.


”Kenapa kau tidak menyebarkan cinta kasih pada semuanya? Saling membunuh pun bukan jalan yang terbaik,“ sindirku dengan tatapan serius.


”Kalian tidak memahami pembicaraanku, belas kasihan sudah tak dihargai di kota yang menyedihkan ini, hanya dengan kekerasan manusia baru mau mendengar ...,“ ujar Loze.

__ADS_1


”Uang, kenikmatan dan surga, atau mungkin Tuhan, itu adalah tujuan esensial dari setiap manusia, di mana pun kau bersekolah, baik sekolah elite atau pun sekolah pada umumnya, tetap saja jika itu rasa sakit, kau akan menjauhinya, jadi tujuanku ... adalah ingin memberi contoh bagi mereka yang telah terlena dalam kenikmatan, agar dengan merasakan penderitaan, mereka bisa memahami dan berbagi kebahagiaan demi membentuk kesempurnaan,“ imbuhnya.


“Loze, tidak ada yang salah jika kita menghindari rasa sakit, itu adalah hal yang wajar,” protesku.


“Aku ingin, jika satu kelas menderita, maka semuanya menderita, kecuali kau punya cara absolut untuk membuat kehidupan kita bahagia, selamanya,” ucap Loze dengan santai.


“Perbuatanmu salah bodoh! Jangan mencari pembenaran dari kejahatanmu!” bentak Tozka meradang kesal.


“KALAU BEGITU TUNJUKAN PADAKU! BAHWA KOTA INI BISA HIDUP DAMAI DAN CINTA KASIH BISA DIHARGAI ...!” balas Loze dengan berteriak menantang.


Kami sengap, memandang Loze penuh waspada.


“Hidup tidak semudah bacot kalian! Formalitas dunia selalu menunjuk adanya si miskin dan si kaya! Yang berprestasi mulia, dan yang sedang meminta sebungkus nasi adalah hina ... tunjukkan padaku kalau ucapan kalian adalah semudah perbuatan!” tantang Loze.


“CEPAT TUNJUKAN BEDEBAH!” hardiknya.


“AAAAARRGGGHHHHHHH ...,” Tozka berteriak dengan berlari penuh amarah pada Loze.


'DOOOR', itu adalah letupan senjata api, benar, senjata api pistol milik Loze.


Tapi syukur, tembakannya ke tanah, tak mengenai Tozka, kendati begitu, Tozka seketika bergeming kaget, terlebih dia langsung mendeprok di rerumputan. Terdiam bagai sudah kehilangan nyawa.


“Tidak seperti itu Loze, semua tergantung personal manusianya masing-masing, lihatlah! Kita tidak bisa menilai sesuatu dari satu sudut pandang kita saja, tapi kitalah yang bodoh! Sebab perspektif manusia berbeda-beda!” sanggahku.


“Tapi ... rasa sakit tetaplah rasa sakit, siapapun yang tenggelam dalam penderitaan, dia akan menangis juga,” sangkal Loze.


“Kau hanya perlu menikmati hidup! Kau tak perlu terlena dengan penderitaanmu! Hidup akan terus mengalir bila kau santai dalam menyikapi kehidupan!” sela Anka.


“Sudah banyak orang bodoh yang mengatakan seperti itu! Tetapi yang mereka tampakan hanyalah keegoisan! Selalu ingin menang sendiri! Hanya sebatas omong kosong belaka, dan tidak mau memahami arti dibalik kejahatan, oleh sebab itu, apapun alasannya, kejahatan tetaplah terbentuk, sebab, seseorang selalu memiliki keinginan," kritik Loze.


”Apa kau tahu, definisi perasaan manusia berbeda-beda? Apa kau tahu, bahwa orang-orang jahat lebih diinginkan untuk dilenyapkan saja?“ sindirnya.


”APAPUN ALASAN KEJAHATANNYA! TETAPLAH TIDAK BOLEH DILAKUKAN!“ sentak Anka meradang kesal.


”Ya! Itulah maksudku! Kita hanyalah calon para penjahat, para penjahat hanya akan dibenci, lalu dihinakan! Dan dengan kematian inilah, kota ini hanya akan dihuni oleh manusia-manusia yang baik! Tak ada tempat bagi orang-orang jahat!“


”AKU NGGAK MAU MATI! AKU BUKAN PENJAHAT!“ sentak Wisty memprotes.


”Aku ... aku masih ingin bertahan hidup ... karena aku masih ingin membanggakan orang tuaku! Aku hiks ... ingin melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi ... AKU MASIH PUNYA CITA-CITA!“ keluh Wisty dengan lantang.

__ADS_1


__ADS_2