
Pesan grup SMA Lily Kasih lewat media jejaring sosial, telah aku jawab seluruh pertanyaan mereka, bukan itu saja, mereka rupanya sudah tahu bahwa suamiku menjadi korban kebakaran perpustakaan, banyak di antara mereka yang mendo'akan agar suamiku baik-baik saja, tak terkecuali para guru, tapi satu-satunya pesan yang tidak aku baca adalah, pesan kepala sekolah, ya tentunya, pesan dari kepala sekolah terlalu panjang untuk aku baca, beliau malah seperti mengirim naskah pidato.
Aku bahkan baru tersadar bahwa dalam grup pesan daring di ponselku ini, ternyata sebuah potret perpustakaan yang terbakar telah dipajang di grup daring ini, Wisty adalah orang yang memotretnya, entah kapan dia memotretnya, namun yang pasti, potret langsung dibanjiri oleh komentar-komentar tentang kekhawatiran warganet, tepatnya murid-murid SMA Lily Kasih yang menjadi galau karena tak ada lagi tempat pacaran, tak ada lagi tempat nonton film 'itu' bahkan murid-murid berkeluh kesah bahwa tak ada lagi yang bisa dibaca, karena buku telah terbakar semua, tapi aku ragu dengan alasan yang terakhir itu, hanya sedikit yang suka membaca.
Namun, saat ini juga, aku langsung menuliskan curahan hatiku mengenai keanehan kebakaran perpustakaan, yaitu terbakar saat suamiku ada di dalamnya, ditambah pesan yang dikiranya dariku meminta untuk dijemput, baru 30 detik tulisanku terpajang, komentar-komentar sudah bermunculan, banyak di antara komentar yang berasumsi bahwa memang ada yang ingin mencelakai suamiku, sementara sisanya beranggapan bahwa itu hanyalah kebetulan semata, tapi kenyataannya tak ada satu pun komentar yang memberi solusi.
Maka untuk melenyapkan kejenuhanku, aku melanjutkan gim daring favoritku, yang tentunya aku bermain gim bersama Anka secara daring.
Menyadari pula bahwa aku telah berhenti menangis, sampai kurasakan pipiku terasa kesat nan kaku, mungkin akibat air mataku tadi, ya, air mata yang berhenti tapi bukan kesedihanku yang hilang, hatiku tetap senak karena kenyataan pahit tepat terasa pekat.
Saat waktu tak lelah bekerja, aku asyik menunggu bersama gim yang membuatku terlena cukup lama, cukup membuatku marah-marah karena daya baterai ponselku habis sudah.
“Bedebah sialan!”
Bersamaan dengan umpatanku, tiba-tiba seorang pria karismatik datang menghampiriku. Dan kala netra biruku terarah tepat pada wajahnya, Kak Farka adalah orangnya.
“Tenang, kakak akan membantumu ... lagi,” ungkap Kak Farka dengan senyuman damai dan syukurnya dia membawa tas gendongku yang sempat tertinggal di sekolah.
Kak Farka berdiri di depanku dalam jarak satu meteran, penampilannya tetap rapi dengan setelan formal layaknya seorang bos sebuah perusahaan besar, membuatku memasukkan ponselku ke saku kanan rokku, aku menatap netra hitam Kak Farka dengan hatiku yang malah semakin senak, lalu tertunduk mengusahakan menerima kenyataan pahit ini.
Sesaat kemudian, Kak Farka duduk di samping kananku, hingga kami sengap dalam senyap, memakan waktu beberapa detik sebelum akhirnya Kak Farka bicara. Tapi karena itu Kak Farka memberikan tas gendongku padaku, aku menerimanya tanpa ucapan 'terima kasih.'
“Si pelaku, akan disidang seminggu lagi, lalu dipenjara. Dan itu pasti.”
“Butuh berapa uang untuk memasukkannya ke penjara?” aku menyelisik masih tertunduk sambil membuka tas gendong bernuansa abu dan hitam untuk mengambil pengecas ponsel.
“Nggak perlu ditanya, intinya itu bisa membeli rumah,” kata Kak Farka merahasiakan nominal uangnya.
“Siapa nama bedebah sialan itu?” tanyaku masih merogoh-rogoh tas gendongku.
“Kakak lupa namanya, tapi yang terpenting dosanya selalu kita ingat,” jawab Kak Farka dengan sarkastis.
Aku hanya mengangguk-angguk setuju. Hingga senyap kembali terjadi, membuatku menegakkan badan, lantas kumenoleh menatap wajah Kak Farka dalam jarak tiga jengkal.
“Kak, apa kakak punya pengecas HP?” tanyaku memastikan, sialan memang, aku lupa membawa pengecas dan membiarkan tas tergeletak di lantai dengan ritsleting yang terbuka.
Mata Kak Farka mengerling kaget padaku, lebih-lebih karena pertanyaanku kedua alisnya terangkat, tiga detik kemudian jemari tangan kanan Kak Farka merisik saku dada jasnya.
“Bersihkan dulu wajahmu,” kata Kak Farka sambil menyodorkan sebungkus tisu.
“Loh ...?” aku terheran tapi tersadar, bahwa mungkin wajahku memang kacau bekas air mataku, jadi kuambil beberapa tisu tersebut lalu menyeka wajahku.
Tapi tunggu dulu! Kurang ajar! Kenapa harum tisu ini seperti harum parfum favorit suamiku, bunga mawar!
Maka dengan cua dan jiwa yang kembali senak, kulempar tisu ke depan, dan membiarkan tisu-tisu itu menjadi tanda bahwa buang sampah sembarangan baru saja aku lakukan, namun bagiku itu adalah tanda kemarahanku.
Belum berhenti! Aku langsung menumpukan kepalan tanganku di pahaku yang membentuk tinjuan kemurkaan.
“KENAPA KAKAK PAKAI PARFUM BUNGA MAWAR?” aku menyentak hingga seluruh manusia-manusia yang hadir di lobi memandang kearahku.
Meski parfum Kak Farka kini bukanlah wangi bunga mawar, tetapi tisu itu masih berbekas parfum yang sempat Kak Farka pernah pakai.
“Kenapa marah?” tanya Kak Farka.
“Itu wangi suamiku, dan aku tak suka kakak menggunakannya!” sergahku dengan tertunduk menahan luapan amarah.
“Ha? Apa kamu marah juga bila seorang kakek harum bunga mawar?” sindir Kak Farka.
“AKU HANYA MARAH PADA KAKAK! BUKAN PADA KAKEK-KAKEK!” aku kembali menyergah dengan cua pada perkataan Kak Farka yang tak mengerti.
Tiga detik tak ada tanggapan dari Kak Farka, dia sengap seperti merenung, hingga entah berapa detik terlewati, akhirnya Kak Farka mengungkapkan alasannya.
“Istri kakak yang menyuruh menggunakan parfum bunga mawar, tapi ... kakak ganti setelah kamu tak suka, eh, ternyata sisa wangi mawar masih menempel di tisu ....”
Berbarengan dengan sengapnya aku, Kak Farka memungut tisu bekas wajahku dari lantai lalu memasukkannya ke saku celananya.
__ADS_1
Terlepas dari itu, aku merenungi pengakuan Kak Farka, disatu sisi aku masih membawa rasa geram dengan kejadian waktu itu, namun di sisi lainnya aku memahami pengakuan Kak Farka, bahwa dia hanya ingin menyenangkan istrinya, apalagi aku cukup tersentuh dengan pengakuannya yang mengganti wangi parfumnya karena aku tak suka. Dan aku anggap itu adalah fakta.
“Kakak juga tahu, bahwa ada kejanggalan dalam kebakaran perpustakaan, jadi kayaknya, kita butuh polisi untuk menyelisik masalah ini,” kata Kak Farka menyarankan sambil menyodorkan pengecas ponsel.
Sebelum kujawat pengecas itu, aku tutup ritsleting tas gendongku, lalu mengenakan tasku, dan barulah kuambil pengecas tersebut sembari celingak-celinguk mencari stopkontak.
Tapi sialnya, belum sempat stopkontak ditemukan, bahkan belum sempat topik pembicaraan Kak Farka aku respons, mendadak, pintu berlabel ICU terbuka. Seorang pria dewasa berjas putih yang terduga doktor, keluar dari ruangan tersebut.
“Eh, dokter!” seruku sembari bangkit dari duduk.
Doktor tersebut seketika menghadap padaku, beliau ternyata cukup tinggi, sekitar tinggi Kak Farka, bahkan terlihat tua, mungkin usianya sudah setengah abad, hanya saja Kak Farka masih lebih tampan ketimbang doktor ini.
“Bagaimana dokter?” tanyaku mengusut dengan cemas.
“Adik beruntung, bapak adik nyawanya masih bisa kita selamatkan,” jawab doktor dengan santai.
Sialan, si doktor menganggapku adalah anak dari suamiku, mungkin karena seragam sekolah yang melekat ditubuhku ini menjadikannya berani menganggapku adalah anak Harfa.
“Eh? Aku ini istri sahnya!” aku menegaskan statusku dengan Harfa yang telah salah duga oleh doktor.
”Oh ... maaf Dik, eh Bu ....“ doktor dengan label di jasnya yang tertulis 'Entuy' meminta maaf padaku dengan sikap kikuk karena salah mengira.
Tapi cukup aneh menyadari nama sang doktor yaitu Entuy.
“Panggil saja aku Laisa, ingat! Laisa!” tegasku sembari menunjuk diriku sendiri tetapi kesannya seperti memamerkan pengecas ponsel.
“Iya ... Laisa,” kata doktor menguji lidahnya untuk menyebut namaku.
“Jadi, Doktor Entuy ... apa boleh aku menengok SUAMIKU?” tanyaku dengan penekanan di kata 'suamiku'.
“Eh, nama saya bukan Entuy ... oh pasti gara-gara tanda pengenal ini ya ...?” sanggah doktor sembari menunjuk label nama di dada jasnya.
Aku mengernyitkan kening terheran-heran.
“Nama saya Arkasa, Doktor Arkasa. Dan jas ini punya teman saya,” ungkap Doktor Arkasa.
“Asal jangan ketahuan, itu saja kok mudah,” balas Doktor Arkasa dengan tersenyum bangga.
Eh? Doktor kok indisipliner begitu?
“Ya sudah ... saya boleh menengokkan?” tanyaku meminta izin sekali lagi.
“Nanti dulu, suami Anda mau dipindahkan,” sanggah Doktor Arkasa.
“Dipindahkan ke mana?” heranku.
“Ke kuburan ...,” jawab Doktor Arkasa yang malah berkelakar.
“Eh? Yang benar doktor?” aku menanggapi jawaban Doktor Arkasa begitu serius.
“Hehehe ... nggak saya cuman bercanda.”
Sungguh menyebalkan disaat-saat kritis seperti ini sang doktor malah asyiknya bercanda.
“JANGAN KURANG AJAR ANDA!” jelas aku menyentaknya dengan marah, karena bagaimana pun musibah suamiku tidak boleh dibuat candaan.
Maka berkat sentakkanku, orang-orang kembali memandang kearahku, lebih dari itu, Kak Farka langsung berdiri di samping kananku dan tangan kirinya memegang pundak kananku demi membuatku lebih tenang.
“Ma-maaf, maaf ... tapi Anda sudah boleh masuk ke dalam,” balas Doktor Arkasa dengan gelagapan dan raut mukanya berubah kecut lalu pergi dengan canggung.
Dengan napas yang naik turun secara impulsif karena marah, aku lalu masuk ke dalam ruang ICU, hingga kudapati tiga orang yang kuduga anggota medis tengah merapikan ruangan yang luas ini.
Kala aku serta Kak Farka telah berada dalam ruangan, tiga anggota medis tersebut langsung bergegas keluar ruangan dengan membiarkan pintu terdedah. Tapi seorang pria dari mereka sempat berkata 'jangan menyentuh barang apapun, tolong taruh tas gendongnya diluar dan dimohon untuk tetap steril.' Kenyataannya, aku tak peduli, aku tak suka diperintah dan tak ada yang boleh memerintahku!
Sedetik kemudian, aku kembalikan pengecas ponsel pada Kak Farka sambil berkata:
__ADS_1
“Kak tolong turunkan tangan kakak dari pundakku.”
Maka Kak Farka menurunkan tangan kirinya yang sedari tadi memegang pundakku.
“Eh, maaf, kakak lupa.” Kak Farka pun menggulung kabel pengecas miliknya lantas memasukkannya ke saku bagian dalam jasnya.
Rungan ini! Ya, ruangan yang luas hingga menurut perkiraanku bisa dibuat tiga kamar. Tetapi di sini hanya ada dua ranjang pasien yang letaknya berdampingan, dengan peralatan medis yang cukup lengkap dan tepat di ranjang pasien di depanku, seorang manusia berbalut perban yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, kecuali dua netranya, tengah terbaring kaku di sana, suamiku Harfa terbaring tak berdaya.
Kulangkahkan kakiku perlahan mendekatinya, bersamaan dengan itu, mataku entah mengapa tiba-tiba mulai berkaca-kaca, napasku pun terasa sesak, dan aku bergigit tak menyangka. Kini dalam jarak sejengkal saja, suamiku bisa jelas kupandangi.
Napasku terasa berat, kutelan salivaku berusaha tegar, dan memandang lekat-lekat pada wajah suamiku yang terbalut perban.
Apa mungkin, wajahnya tetap tampan? Pikiranku menjadi kalut memikirkannya.
Hidungku mulai berlendir, pipiku kembali dilimbur air mata, lalu tertunduk meresapi senaknya dada yang tak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Maka dengan keadaan suamiku ini, mutlak sudah, Harfa cacat, tidak lagi sempurna.
Otomatis, sebuah penyakit jiwaku kembali menyeruak memagut pikiranku, mengakibatkan jemariku mengepal kuat-kuat, gigiku bergigit, rahangku mengeras, mataku terpejam, atelofobia-ku meliputi diriku.
“Laisa ....”
Suara itu! Panggilan dari suamiku! Suamiku mulai tersadar, maka secara refleks kelopak mataku terdedah, dan kudapati mata hitam legam suamiku telah terpusat pada wajahku, membuat kami saling bersirobok, aku bahkan mengernyitkan kening memandang suamiku.
“Liasa ... kamu ... nggak ... usah menangis.” lebih-lebih mulut suamiku yang tertutup perban masih sempat-sempatnya untuk bicara, walau ia ringkih tetapi kata-katanya masih tedas terdengar oleh telingaku.
Hanya saja entah mengapa dalam kepalaku, diriku sendiri seperti membisikkan sebuah kalimat bahwa:
“Suamiku sudah tidak sempurna.”
“Suamiku sudah tidak sempurna.”
“Suamiku sudah tidak sempurna.”
Kalimat itu bahkan tak berhenti, terus membayang-bayangi alam pikiranku. Jadi, aku mematung menatap tak suka dengan suamiku, atau tepatnya, takut.
“Maaf ... aku malah merepotkanmu ...,” lirih suamiku yang malah meminta maaf.
Tapi sayangnya tak ada tanggapan berarti dariku, sampai-sampai ingin sekali aku bercermin untuk memandang sejenak ekspresi wajahku, karena aku pun tak tahu seperti apa raut mukaku saat fobia-ku telah menyerang.
“Tapi ... bagaimana caranya menutup pintu bawah tanah perpustakaan rahasia saat kita ada di dalamnya?” pertanyaan yang agak berkelar itu digaungkannya demi membuatku tersenyum, ya, suamiku berusaha menghiburku meski faktanya aku tak tersenyum.
“Maaf, Anda tahu perpustakaan rahasia itu?” Kak Farka tiba-tiba menyelisik.
Eh? Benarnya juga, suamiku menuturkan pengakuan, dan pengakuan itu mengenai perpustakaan rahasia yang belum pernah kuberi tahu.
“Ya, saat kebakaran itu terjadi, saya diminta untuk berlindung di perpustakaan itu oleh Guru Sukada, tetapi saya sempat terbakar lalu berhasil menyelamatkan diri ke ruang bawah tanah, terguling di tangga sambil berusaha memadamkan api ditubuh saya,” papar suamiku menjelaskan se-eksplisit mungkin.
“Wah ... tapi hebat juga Anda bisa bertahan padahal sepertinya sudah seratus persen tubuh Anda terbakar,” sanjung Kak Farka yang terkesan bersyukur.
“Tidak juga, mata saya buram, dada terasa sakit ... dan saya rasa, kehendak Allah-lah yang menguatkan saya.” Harfa mengungkapkan persepsinya.
Selang beberapa detik, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Maaf, untuk pihak keluarga dimohon mengisi administrasi terlebih dulu,” pinta seorang wanita yang entah wajah dan penampilannya seperti apa, sebab aku masih tertunduk memandang seperai ranjang berwarna putih.
“Biar kakak yang urus,” kata kakak Farka lalu pamit pergi.
Dan akhirnya, yang tinggal di ruangan ini hanya aku serta suamiku, mungkin umumnya keluarga korban sepertiku harusnya menanyai kabar sang korban, tapi nyatanya itu tidak berlaku untukku.
“Harfa di mana HP kamu?”
Meski dadaku terasa senak atau air mata masih mengalir, intonasi suaraku tidak berubah sama sekali, tentu saja, karena sekali lagi, menangis bukanlah hal yang sempurna buatku.
“Harusnya ada di saku celanaku ... tapi ng ....”
Aku langsung buru-buru berpaling pergi keluar ruangan, tak mampu menerima kondisi suamiku, ya, suaranya memang tedas terdengar, tapi kecacatannya pun terasa begitu pekat, dan akan hal itu, berat bagiku untuk bersamanya.
__ADS_1
“Suamiku sudah tidak sempurna.”