
Aku menyodorkan kedua tanganku yang diborgol pada wanita muda ini, maka dia membuka borgol dan membawa borgol tersebut bersamanya, bahkan aku menggenggam tangan kanannya untuk membuat gaya tarik agar aku bangkit dari berlutut.
“Kamu pasti Laisa,” kata wanita muda ini masih menjabat tangan kananku.
Aku menatapnya hingga membuat kami saling bersirobok. Namun aku enggan menanggapi ucapannya, dan langsung melepaskan tanganku darinya, lalu berpaling pergi menuju rumahku.
Aku lelah serta terlalu malas untuk bicara pada manusia asing. Tak lupa, sembari melangkah menuju teras rumah, aku menyeka peluh yang membasahi wajahku dengan punggung tanganku, tetapi, aku malah duduk berselonjor di teras ubin rumahku, dengan kedua tangan bertumpu ke lantai, bukannya apa-apa, aku takut kalau pekarangan rumahku malah rusak oleh manusia-manusia yang hadir, jadi duduk di sini dan mengawasi mereka adalah hal yang tepat agar aku bisa menghajar siapapun yang terlihat merusak.
Suasana kini mulai lengang, sebab pelaku pun telah digiring menuju kantor polisi. Dan berkat aku duduk santai di sini, tubuhku mulai merasakan kelelahan, hingga aku merelakan untuk berbaring di lantai yang kurasa lantai ini kotor, persetan dengan kotor, aku lelah dan ingin berbaring, maka aku berbaring dengan kedua telapak tangan sebagai bantalan kepalaku. Mataku menatap langit-langit atap teras, sampai-sampai alam pikiranku malah memikirkan perkataan Oteda:
”Jika gelar ketua kelas itu berharga bagimu Laisa, jika kau ingin dihormati Laisa, maka, menyelamlah pada penderitaan yang sama seperti murid-murid yang lain, agar kau tahu, bahwa setiap manusia juga ingin dimanusiakan.“
Apa aku salah terlalu memikirkan diriku sendiri? Aku memang menuntut kesempurnaan, aku juga menganggap diriku sempurna, aku memang selalu dan selalu ingin memanjakan diriku sendiri, dan tak pernah belajar dari pengalaman, lebih-lebih apapun itu kasusnya aku pasti selalu bertindak anarkis.
Kesempurnaan, apa benar aku sudah meraihnya? Atelofobiaku pun tak mungkin sembuh, karena penyakitku sudah merambah pada sistem kerja tubuhku, yang membentuk hormon-horomonku menjadi tidak stabil. Sial memang, aku tidak bisa menghentikan penyakitku, karena bagaimana pun, aku pasti akan selalu menuntut kesempurnaan.
Insiden ini sepertinya menyentuh kejiwaanku, benar, Oteda berhasil menyentuh kejiwaanku, dia bahkan telah menyentuh pikiranku, dan hari ini, detik ini juga, semua peristiwa telah tercatat menjadi sejarah, oleh karenanya aku secara tidak sadar, terbentuk pula oleh sejarah. Oteda, menang, dia pahlawannya, sedangkan aku, aku pun tidak tahu, karena, aku tidak mau dianggap penjahat, jadi, aku putuskan, aku adalah korban dari kejahatan sejarah.
”Laisa,“ panggil seorang pria.
Secara refleks aku bangkitkan tubuhku dari berbaring, maka kudapati Stovi, Azopa, Perto, serta Wisty, telah berdiri di depanku, menatapku begitu sendu, apalagi Wisty masih menangis senguk-sengak dalam air mata yang melimbur pipinya. Aku masih duduk berselonjor, menatap wajah Azopa penuh tanya.
__ADS_1
”Ada kabar buruk, tentang Ovy ... Ovy ... telah meninggal dunia,“ ungkap Azopa dengan mengangkat ponsel pintarnya, isyarat bahwa informasi itu didapat lewat ponselnya.
Sontak, aku langsung bergigit geram, mendekus marah pada diriku sendiri yang tak bisa menghentikan musibah ini, marah pula pada Oteda yang terlalu jahat hingga harus membunuh temannya sendiri, aku bahkan langsung tertunduk merenung mendengarnya, entah emosi apa yang harus aku ungkapkan kini, pikiranku sedang kalut, jiwaku pun langsung terasa terpukul, kali ini emosiku campur aduk tak karuan.
”Kami juga mau pamit pulang,“ ujar Azopa berpamitan.
”Hem,“ aku cuman menganggukkan kepala tanda mengizinkan.
Teman-temanku pun mulai melangkah pergi meninggalkan aku sendirian. Namun tunggu dulu, Wisty masih berdiri menghadapku.
”Sudah nggak usah cium tangan segala, aku bukan ibumu, pulanglah ...,“ pintaku dengan memandang malas ke depan pada rerumputan.
Benar-benar tidak habis pikir, kehidupanku akan menjadi rumit seperti ini. Setelah beberapa detik teman-temanku pergi, Kak Farka serta seorang wanita muda yang tadi melepaskan borgolku, melangkah menghampiriku, mereka berdua nampak akrab sekali, entah mungkin wanita itulah yang disebut Kak Farka tentang teman polisinya. Namun aku memasang raut muka cuek, karena aku yakin, wanita berpenampilan formal itu akan mewawancaraiku.
Setelah mereka berdiri di depanku agak dekat, Kak Farka berkata, ”Kenalkan, ini Fikia dia teman SMA kakak, dan masih berteman sampai sekarang.“ dan tangan kanannya memegang bahu kanan wanita yang bernama Fikia tersebut, dia seorang wanita dengan stelan blazer hitam serta celana formal hitamnya.
”Hai, saya Fikia,“ sambung Kak Fikia yang berdiri di samping kanan Kak Farka.
Wanita itu mengulurkan tangan kanannya padaku, berniat bersalaman sebagai suatu tanda saling menghormati dalam perkenalan, lebih-lebih bibir merah lipstiknya mengembangkan senyuman padaku, itu pula adalah tanda keramahan atau sambutan hangat padaku, tapi persetan dengan basa-basi itu, aku hanya diam, mataku pun langsung terfokus pada mata hitam Kak Farka.
”Kak, kenapa kakak memilihku untuk menulis autobiografi?“ tiba-tiba aku bertanya pada Kak Farka, tanpa menyambut uluran tangan Kak Fikia.
__ADS_1
Kedua alis Kak Farka terangkat, dan dari sudut mataku, kulihat Kak Fikia menurunkan tangan kanannya kembali.
Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya Kak Farka bicara, ”Karena ... kamu menuntut kesempurnaan, dan kami memang mencari sejarah yang sempurna, dan dengan kamu menuntut kesempurnaan pasti kamu berjuang untuk meraihnya.“
Aku mengangguk-angguk mencerna maksud perkataan Kak Farka, yang memang ada benarnya juga. Selepas itu, aku bangkit berdiri, berniat untuk istirahat di dalam rumah, atau bila perlu aku mandi.
”Maaf Kak Fikia, aku capek, nanti saja wawancaranya,“ ungkapku dengan menatap wajah manis Kak Fikia. Bahkan aku sudah mengambil kesimpulan bahwa Kak Fikia, ingin mewawancaraiku, meski faktanya dia belum mengungkapkan kedatangannya sama sekali.
”Dan Kak Farka, sekarang aku ingin sendiri, maaf ya,“ lanjutku sembari menatap wajah Kak Farka.
Kak Farka hanya mengangguk dalam raut muka merenung, ia juga sempat menoleh ke kanan pada Kak Fikia, maka tanpa berlama-lama lagi, aku pun berbalik badan, lantas melangkah menuju ke dalam rumah.
Sisa waktu hari ini, aku habiskan demi membersihkan badan, apalagi aku baru tersadar bahwa aku sedang menstruasi, sehingga mandi selama satu jam baru saja aku lakukan, ya, mandi haid. Dan waktu berputar, sore telah berganti malam, udara terasa dingin, sisa waktuku sekarang aku habiskan untuk makan malam di ruang makan sendirian, kemudian duduk di sofa merenungi kejadian tadi siang. Selama aku duduk, aku juga menyalakan televisi, dengan niat agar adanya yang menemani kesendirianku, aku bahkan tak terlalu fokus menyaksikan acara TV, tentu saja tidak, alam pikiranku masih melayang-layang pada kalimat si Oteda keparat itu.
Memangnya apa yang terjadi pada teman-temannya, sampai Oteda bertindak jahat, insiden apa yang membentuk pola pikirnya, atau sejarah apa yang membentuk jiwanya, aku bahkan kebingungan memahami setiap kata-kata yang terucap dari anak gila itu.
Lebih-lebih aku pun tak habis pikir dengan diriku sendiri, bahwa sekarang setelah merasakan peliknya kehidupan, setelah temanku mengalami kematian, aku baru memahami diriku sendiri, kalau aku memang egois, ingin selalu menjadi yang diprioritaskan, tak mau dikritik, hingga rasa empatiku tersaput oleh amarahku sendiri.
Namun yang pasti, aku gagal menjadi pahlawannya, masalahnya, cukup gila jika aku harus tersenyum saat Nuita sedang kesakitan, seolah-olah aku bahagia di atas penderitaan orang lain, ditambah, sangat tidak logis jika aku harus tersenyum hanya demi dianggap pahlawan, yang justru akulah yang nanti dianggap penjahatnya. Bodoh memang, aku malah memikirkan masalah itu, sudah jelas si Oteda yang salah, dan seharusnya aku tidak perlu menyalahkan diriku sendiri.
Aku terus tenggelam dalam perasaan dan emosiku sendiri, terus berusaha menggambarkan apa yang terasa, dan apa yang terjadi, kini, aku mulai merenungi kehidupanku yang sekarang, merenunginya lebih dalam lagi.
__ADS_1