Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
EPILOG.


__ADS_3

Aku menunggumu diakhir yang bahagia


Kesehatanmu memacu jiwaku demi merawat moralmu


Dan pengorbanan napasku terbuang demi melayanimu


Persembahan jasadku untukmu yang abadi


Kuhargai nyawaku untukku


Dan sekarat ini penghormatanku pada waktu


Dan kesembuhan menjadi cita-cita termulia


Namun rasa sakit yang tak padam mengantar harapan pada kekecewaan


Hingga keputusasaan menjadi hormon penentu arah


Jika mimpi itu tak melayani rakyat


Maka darah dan keringat kita minum bersama


Dia merawat keadilan demi sebatas oportunisme


Tetapi aku tetap menunggumu diakhir yang bahagia


Di kota Artana, di malam hari nan dingin, dalam lingkup kesunyian tengah malam, saat ini, sebuah alasan kuat, Farka rela berdiri sendirian, di sini, tepatnya di jembatan penyeberangan antara desa Entesa, dengan kompleks Hanataba, berdiri di depan langkan jembatan, hanya demi merenungi hari-hari yang telah dilaluinya.


Pola pikir, mental dan tekad, tiga hal itulah yang menjadi pembelajaran hidupnya saat ini, serta penderitaan dan kebahagiaan ikut bersama tiga hal tersebut.


Loze, anak yang berjuang demi meraih mimpinya yang begitu tinggi, telah kalah oleh keadaan yang tidak adil baginya, lalu ketidak-adilan itu menimbulkan kekecewaan, kekecewaan pun menimbulkan pembangkangan, namun, Loze tetap berusaha agar dirinya dikenang, dan dengan mengatakan perbuatannya adalah contoh yang buruk, seolah dia memberi kesan yang indah, meski faktanya, itu tetaplah buruk, dia tetap dikenang salah, dan memang itu tujuannya.


Tozka, dia fobia pada Tuhan, karena doktrin orang tua, bahwa, Tuhan harus ditakuti, bahkan, Tozka terus dicecar bahwa perbuatannya bisa menimbulkan azab dari Tuhan, maka, pola pikir itu pun muncul menjadi ketakutan yang berlebih, dan telah membentuk fobia pada diri Tozka, teofobia adalah yang menjeratnya.


Cludy, dia fobia pada awan, karena saat kecil, dia selalu ditakut-takuti tentang awan yang mengerikan, hingga segumpal awan mampu membunuh manusia, apalagi ketika dia mendengar adanya pesawat terbang yang jatuh karena awan badai, hingga apapun yang namanya awan, dia takut, nefofobia, adalah yang mengekangnya.


Wisty pun fobia pada bunga, karena saat kecil dirinya selalu dimimpikan tentang bunga-bunga yang berubah menjadi monster, antrofobia, adalah yang menjeratnya.


Dan Anka, serta teman-temannya, baik yang mati dengan sukarela, atau pun mati dalam keadaan terpaksa, bahkan, Anka yang mati, demi melawan Loze, dia dan mereka semua, telah jatuh dalam kekecewaan dan harapan, berharap, Loze berubah, namun kecewa, bahwa kenyataannya, mereka pun menderita, tak mampu berbuat banyak.


Rumit! Itulah yang terjadi dalam kehidupan kali ini, tapi tetap, penderitaan, dan kebahagiaan, menjadi bentuk mereka untuk bertahan hidup sejauh ini, dalam harapan, 'baik-baik saja', mereka berusaha tetap kuat.


Untuk Oteda, anak itu, ingin didengar keluhannya, ingin dihargai, dan kala dia menanggung ketidak-adilan serta disikriminasi, dia pun berbelok arah, untuk membalas dengan lembut nan tajam, terhadap seluruh manusia yang dianggapnya memiliki relasi dalam esensi pertemanan, kekecewaan, serta kemarahan, bersatu membentuk hasrat, demi bisa didengar penderitaannya dan dengan alasan agar saling mengenal, dia membawa teman-temannya dalam derita, meski faktanya, kehidupan tetap terasa nisbi.

__ADS_1


Bagi mereka yang tak bisa menyelamatkan diri dari penderitaan, maka terlarut lalu mati adalah penghargaannya.


Tapi, bagi mereka yang bisa menemukan jalan keluar, maka kebijaksanaan dan pengenalan adalah imbalannya, lengkap bersama pelajaran-pelajaran lainnya yang tak bisa diungkapkan namun bisa dirasakan.


Kini di mata Farka, kenyaataannya adalah, di dalam cinta hanya ada penderitaan, di dalam benci hanya ada penderitaan, dan patut disadari, kebahagiaan hanya ada pada mereka yang saling sayang menyanyangi, dan tentunya bersyukur dalam setiap kerja keras.


Dalam kegelapan di jembatan merah ini, hanya Farka manusia yang memandang sungai nan gelap, sungai itu berada di bawah jembatan, dan mengalir begitu tenang. Syukur baginya pencahayan remang-remang berpendar dari lampu rumah warga di sekitar, itu memberinya pandangan ke sekitar.


Keputusasaan, terkadang hanya bisa ditangguhkan oleh mereka yang mendapat dukungan moril begitu kuat, atau bagi mereka yang punya cara sendiri untuk mengalahkannya. Tetapi cukup disayangkan, berputus asa kadang membelenggu pikiran setiap insan, dan menjerumuskan pada dosa.


Kesalahan bisa diperbaiki, bahkan mampu dimaafkan, tetapi dosa tidak bisa, itu akan melekat dan membentuk jalan menuju kesengsaraan batin, begitulah pikirnya.


Udara sempat mengalun lembut, tak dingin, hanya saja, cukup membuat Farka bersedekap menyilang tangan, jas hitamnya menjadi satu-satunya pelindung dari cengkraman suhu dingin malam ini.


Keputusasaan nan menyedihkan, pernah dialaminya, bahkan hingga menghasut pikirannya untuk menemui ajal, dan sempat menggelapkan hatinya, tapi, Farka tahu, semua itu, tanda untuk dilawan, melawan putus asa dalam kepedihan hidup, lantas tetap bertahan hanya untuk cita-cita.


Kemudian, tangannya mencengkram langkan jembatan bersama eratnya cengkraman, netra gelapnya, berpusat pada langit hitam tanpa bintang di kaki langit, pikirannya berkelumit pada ilham kehidupan yang baru didapatkan, benar! Sekali lagi, Farka baru menyadarinya, cinta dan kebencian tak pernah mengobati keputusasaan, itu hanya menutupinya sementara, membentuk ilusi 'baik-baik saja' padahal masih butuh dicerahkan.


Berbarengan dengan kesadarannya itu, alam pikir Farka menulusuk pada beberapa waktu yang lalu, tentang beberapa pendapat masyarakat kota Artana, tentang beberapa orang yang bunuh diri.


“Kota ini, hidup dalam keputusasaan, jadi tak heran banyak anak mudanya yang bunuh diri, tak ada solusinya,” pendapat dari seorang pria pedagang baju.


“Bunuh diri, adalah jalan tengah menuju penyelesaian masalah, dan itu tepat-tepat saja, tetapi faktanya, itu pula menjadi masalah,” pendapat seorang pengangguran.


Dan dari berbagai macam pendapat yang dikemukakan masyarakat, lebih menjurus pada apatis, atau katakanlah, masyarakat lebih cenderung tak mau peduli pada kesehatan mental. Jelas, bunuh diri dikaitkan dengan mental, bagaimana tidak, banyaknya kasus bunuh diri di kota Artana, berkaitan dengan masalah mental yang terganggu, masalah hidup yang menjadi beban moril, itulah alasannya. Kesehatan mental bukanlah sesuatu hal yang buruk, kesehatan mental pada dasarnya layaknya kesehatan tubuh, kadang bisa demam, kadang begitu energik, begitu pun dengan kesehatan mental, kadang merasa begitu sedih, kadang begitu senang dan kadang seimbang, atau bahkan hampa.


Hanya saja perlu digaris bawahi, ada beberapa hal, mengenai kesehatan mental, yang sudah merujuk pada gangguan mental, dan segala diagnosis gangguan mental, hanya dapat didiagnosis oleh psikolog, atau pun psikiater, sehingga tak layak menjustifikasi langsung pada diri sendiri, contoh kecil, atelofobia pada Laisa, fobia yang dimiliki Laisa, adalah berkat diagnosis seorang psikiater.


Tetapi kini masalahnya, masyarakat kota Artana, masih memiliki stigma, bahwa, pergi ke psikolog atau pun ke psikiater, beranggapan gila, meski kenyataannya sama sekali tidak.


Bahkan ada satu pertanyaan, atau katakanlah, pernyataan yang membuat Farka agak jengkel dengan beberapa masyarakat kota Artana, begini, “Mengapa kita harus pergi ke psikolog kalau kita bisa pergi ke pemuka Agama? Toh di dalam Agama sudah dijelaskan tentang berbuat baik yang menghasilkan kebaikan.”


Pendapat tersebut tidaklah tepat, atau bahkan bisa saja itu jauh lebih baik, tetapi yang membuat Farka jengkel adalah, membandingkan sesuatu dengan merendahkan sesuatu yang lain, tepatnya terlalu tendensius atau diskriminasi. Padahal, rakyat bisa memilih keduanya, tanpa perlu membandingkan dengan meremehkan bandingan yang lain.


Contoh saja, Guru Sukada, selain beliau psikolog, beliau juga seorang guru Agama di sekolah maupun di lingkungan rumahnya, tak hanya ilmu psikologis yang beliau ambil, tetapi, ilmu Agama pun, ia pelajari. Dan menurut penuturan Guru Sukada, rakyat kota Artana terlalu mudah menjustifikasi, atau tepatnya, berperasangka buruk, sehingga kecurigaan terhadap beberapa hal langsung menyimpulkan bahwa itu buruk, padahal, untuk menyimpulkan sebuah masalah baik dan buruknya perlu riset yang lebih dalam, sederhananya, dicari akar permasalahannya. Lebih-lebih, terkadang baik dan buruk masih terlihat nisbi. Bahkan, ada yang beranggapan, segala sesuatunya, tergantung cara pandang sang individu.


Karena bagi Sukada sendiri, membandingkan psikolog dengan guru Agama, sangat tidak etis, seperti membandingkan, ilmu sains dan ilmu Agama, atau sederhananya, membandingkan laki-laki atau pun perempuan, jelas hal tersebut menjadi kontradiktif, dan menimbulkan diskriminasi sosial.


Kalau bermanfaat dua-duanya kenapa tidak diambil dua-duanya, dicintai atau mencintai, makan, atau minum, jelas kedua-duanya pasti dibutuhkan, tetapi, tidak untuk membandingkan dengan pemujaan berlebihan, atau secara garis besar, rakyat berhak memilih yang sekiranya pantas bagi jiwanya, dan tak perlu merendahkan yang lain, toh ujungnya, bagi kesejahteraan bersama.


Hanya saja, tetap, semua kembali pada pola pikir rakyat kota Artana masing-masing, lengkap, bersama kepercayaan yang dianutnya.


Perlu digaris bawahi juga, bagi Farka sendiri, ketika dua hal bisa bermanfaat besar bagi kehidupan, dan tak bertentangan dengan hukum Agama atau pun hukum negara, maka mutlak, tak bisa dibandingkan satu sama lain, atau katakanlah, perannya berbeda, tugasnya pun berbeda, maka, gunakan sesuai kebutuhan yang diperlukan, namun, jika dibandingkan, pastinya akan sangat meresahkan masyarakat.

__ADS_1


Meski faktanya, ada beberapa hal yang tetap dibandingkan demi kajian atau riset, tetapi sekali lagi, kembali kepada kepercayaannya masing-masing atau perspektifnya masing-masing.


Kesehatan mental sangat penting, terutama anak muda yang rentan stres, bila mental sudah terganggu, kendali emosi bisa mengarahkan pada hal buruk, ambil contoh saja, Laisa yang emosinya berubah-ubah, bayangkan, jika keluarganya apatis terhadap mental, misalkan menjustifikasi bahwa mental Laisa lemah atau pun mental Laisa kuat, hingga dituduh kurang iman, jelas, hal tersebut malah mampu menimbulkan tekanan stres yang lebih besar, hingga berujung bunuh diri. Oleh sebab itu, pengenalan itu sangat penting, karena bagaimana pun, ada beberapa manusia yang menjadi lebih kuat hanya karena penderitaan, dan tak ayal, ada pula manusia yang malah depresi karena penderitaan, akan hal itu, karakter mental tentu berperan penting bagi kehidupan sang individu, hingga kehidupan bermasyarakat.


Seperti kata Fihan, “Bukan dengan kata-kata orang mengerti, tetapi dengan akal orang mengerti, dan bukan dengan perbuatan orang memahami, tetapi dengan pengenalan orang akan memahami.”


Maka, pada hari ini, detik ini juga, Farka, sang pria muda, seorang sosiawan, kini telah paham dengan kehidupan yang dilaluinya, pemahaman itu muncul berkat adanya pengenalan, segala pengenalan terbentuk dalam perasaan dan akalnya.


Benar, insiden, peristiwa, dan sejarah, jiwanya terbentuk akan hal itu, pola pikirnya menjadi penguat kebenaran hidupnya, ilmu pengetahuan, bukti tentang pengenalannya.


Walau saat ini, kota Artana ini kebingungan, dan tak ada sosok panutan yang mampu untuk meredakan kegelisahan rakyat, sehingga, penting bagi Farka untuk tetap berhati-hati menjalani hidup, dan tidak untuk mengganggu ketertiban umum. Dia akan menikmati hidup dengan sikap yang tenang, dia hanya peduli pada hal yang wajib dipedulikan, dan apatis pada situasi yang wajib diapatiskan. Mengubah derita menjadi kekuatan, kekuatan untuk membunuh, atau kekuatan, untuk memahami hidup.


Menanangani moralitas setiap individu, tentu itu adalah hak individu masing-masing, sebagai seorang sosiawan, Farka hanya mampu, membantu masyarakat yang layak dibantu, maka oleh sebab itu. Sejarah yang ditulis autobiografi SMA bersifat netral. Jadi penjahat yang lebih jahat, atau jadi pahlawan yang lebih hebat. Namun, segala sesuatunya bernaung pada hukum Agama dan hukum negara.


Selama uang menjadi tujuan sukses selama itulah jiwa terus meronta


Selama kebahagiaan menjadi cita-cita selama itulah jiwa dipecut


Selama Surga dan Neraka dituju selama itulah jiwa dahaga


Hai Laisa, hidup menuntun pada kematian dan kematian menuntun pada kesadaran


Hai Laisa, di dalam cinta hanya ada kebencian mengapa kamu mencintai


Hai Laisa, di dalam kebencian ada setan, mengapa kamu membenci


Hai, Laisa, fanalah bersamaku


Kita nikmati suguhan yang ditetapkan Allah tanpa mementingkan ego


Hai, Laisa, kenalilah suguhan yang ditetapkan Allah agar tahu pulangmu


Sungguh Laisa, sungguh, aku tak mencintamu


Aku hanya melakukan kasih sayang


TAMAT.


⚠PERINGATAN! ⚠


SETIAP PERBUATAN DALAM NOVEL, TIDAK UNTUK DITIRU!


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2