Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 40: SUBLIM SANG KEJORA. (Part 1: Tamat)


__ADS_3

Atelofobiaku telah aku taklukan, hanya dengan fokus serta tekad yang kuat. Dan tepat dipukul 21:01 malam hari nan gelap, langit hitam tanpa bintang, udara dingin membelai kulit senantanku, aku tiba di rumahku, melewati gerbang belakang rumah. Tentu saja aku lewat halaman belakang rumah, agar dengan begini, tak ada jurnalis yang mengadangku. Lalu membuka kunci pintu belakang rumah, dan masuk ke dalam rumah.


Aku sudah menduga, bahwa selain lampu rumah yang telah berpendar terang, Kak Farka serta Kak Fikia, dan bahkan Guru Sukada pun telah berkumpul di sini, mereka duduk di sofa ruang tengah.


Penampilan mereka masih sama seperti sore tadi, kecuali Guru Sukada yang baru kulihat penampilannya hari ini, beliau mengenakan; jaket kulit nuansa hitam yang membalut baju putih polosnya, dengan celana jin panjang. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, dan tak lupa, kacamata berbingkai bulatnya masih bertengger di wajah ovalnya.


Ingin sih rasanya menegur mereka yang sudah seenaknya masuk ke rumahku dan duduk di ruang tengah tanpa masalah, namun semua geram itu sirna, karena aku yakin ini urusan penting, apalagi aku juga punya urusan dengan mereka.


Lebih-lebih Guru Sukada sempat meminta maaf padaku, karena sudah lancang, demi guruku yang baik, tentunya aku memaafkannya.


Kini aku tepat berdiri di depan tiga manusia itu, aku sempat menawarkan mereka kopi tapi dengan alasan sudah malam, mereka menolak. Oleh sebab itu, aku langsung mendeprok di atas karpet di depan mereka, menyisakan jarak dua meteran. Tentunya, kami saling bertatap muka begitu serius.


“Laisa, kamu sudah diakhir,” kata Kak Farka yang membuka pembicaraan. Dia duduk di tengah-tengah.


Aku mengangguk mengiakan. Kemudian dengan tatapan serius pada Guru Sukada aku bertanya, “Guru, apa autobiografi teman-temanku sudah selesai?”


“Semua sudah dikirim oleh Loze ke ponsel bapak, tapi ... hanya kamu yang belum, dan katanya kamu yang akan memberinya nama,” beber Guru Sukada yang duduk di samping kanan Kak Farka.


Aku mengangguk sekaligus meraih ponselku dari saku celana denimku, setelah aku memeriksa ponselku, dengan tujuan untuk memilah tulisan, barulah setelah tulisan terpilih, aku memberikan ponselku pada Guru Sukada, dengan begitu beliau bisa menyalinnya.


Sementara Guru Sukada menyalin tulisanku, aku beralih pandang pada Kak Fikia, dia duduk di samping kiri Kak Farka.


“Kak Fikia, apa kasusku sudah selesai?” usutku.


“Ya, sebenarnya sudah selesai, rekaman kamera pengawas di sekolah sama rekaman panggilan telepon sudah menjadi saksinya, nah, besok siang, kamu ikut ke kantor bareng kakak, cuman untuk ngasih pernyataan saja,” ungkap Kak Fikia.


Aku mengangguk mengiakan.


“Kakak turut berduka ya,” imbuh Kak Fikia, berempati.


Aku kembali mengangguk mengapresiasi kepeduliannya.


“Jadi ... kamu sudah bertemu suamimu?” tanya Kak Farka tiba-tiba.


Sontak aku langsung menatap Kak Farka, seraya berkata, “Iya, aku cuman meminta dukungan darinya, sekaligus menjenguknya.”


“Fobiamu bagaimana?” selidik Kak Farka.


“Ya, aku belum sembuh, aku cuman memberi sugesti pada diriku sendiri, dan sisanya, tekad yang kuat,” balasku.

__ADS_1


Bersamaan dengan anggukkan Kak Farka, Guru Sukada menimpali, “Kamu berhasil mengendalikan dirimu sendiri?”


“Ya, begitulah.” Aku membalas dengan singkat.


“Dan ... semangat hidupmu telah pulih juga ya? Atau kamu punya rencana bunuh diri?” tanya Kak Farka dengan curiga dan penasaran.


“Nggak, aku masih sanggup bertahan kok, ini juga berkat suamiku tercinta, dukungan dari orang terdekat memang sangat bermanfaat,” sanggahku.


“Wah, suami ya ... kayaknya rumah tangga kalian harmonis ya?” timpal Kak Fikia.


“Ya, aku bersyukur karenanya.”


“Oh iya, kapan kalian mau memiliki anak?” Kak Fikia penasaran.


“Hmmm ... nanti, setelah aku tahu bahwa waktunya adalah sekarang,” sahutku.


Kak Fikia termenung, agak bingung dengan pernyataanku, tapi, selang tiga detik, dia mengangguk mengiakan.


Dan di sana, Kak Farka, bersedekap menyilang, menatapku memindai, seraya bertanya, “Kakak ingin tahu, apa sih yang membuatmu percaya pada suamimu? Dan apa yang diperbuatnya sampai kamu berubah secara drastis? Dan apa sih, yang diperbuat Kak Fikia, sampai aku tak bisa membantumu?”


“Hmmmm ....” Aku melenguh beberapa saat dalam memikirkan pertanyaan Kak Farka.


”Oh begitu ...,“ sahut Guru Sukada menyadari adanya hal penting.


Dan hal tersebut membuatku menatap penuh tanya padanya.


”... kamu anak yang butuh perhatian lebih, dari orang yang kamu sayangi, kamu mencari ketulusan, meski bapak pernah memberi saran, kamu lebih mau mendengar orang yang kamu percayai,“ duga Guru Sukada.


”Ya, mungkin begitu, tapi aku lebih setuju, kalau aku ingin ditolong oleh orang yang memahamiku, bukannya apa-apa, aku itu anak manja dan selalu dimanja, jadi kalau ada sesuatu yang tidak aku dapatkan, aku bisa mengamuk,“ ralatku.


Guru Sukada sengap dengan mengangguk-angguk mengiakan. Aku pun beralih pandang pada Kak Farka.


”Nah, kalau Kak Farka, apa yang kakak lakukan kalau isteri kakak salah? Apa memarahinya? Atau memberi arahan sepertiku?“ tanyaku penasaran dan mengganti objek topikalitas.


”Ya, sama seperti suamimu, walaupun kadang kakak membentaknya,“ jawab Kak Farka dengan singkat tanpa keterangan lengkap.


”Oh iya, kakak menikahnya kapan?“ cecarku masih penasaran.


”Aku menikah muda, setelah lulus SMA,“ sahut Kak Farka dengan raut muka santai.

__ADS_1


Aku diam mencerna baik-baik penjelasan singkat Kak Farka. Lantas memandang Kak Fikia, seraya bertanya, “Lalu bagaimana dengan Kak Fikia, apa kakak punya seseorang yang spesial?”


“Orang tua kakak, tidak menyarankan jatuh cinta, atau mencintai, katanya itu hanya menimbulkan kesusahan, lalu memunculkan kebencian,” jawab Kak Fikia dengan serius.


”Terus fakta di lapangannya bagaimana?“ usutku.


”Kakak jatuh cinta ... hahaha ....“ Kak Fikia membeberkan Faktanya, dan malah menertawai kekonyolannya.


Dan dengan mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah, dia berujar, ”Tapi sudah-sudah ....“


”... kakak sekarang lebih fokus pada karier kakak, pokoknya pacar kakak sekarang dicuekin, yang penting dia tahu, satu tahun lagi kakak sudah siap dinikahi,“ lanjutnya dengan bersedekap menyilang tangan.


'Prok-prok-prok-prok', aku bertepuk tangan reaksi dari gestur tubuhku yang mendukungnya atau tepatnya memberi selamat, seraya berkata, ”Selamat, selamat untuk nanti nikahnya.“


Kak Fikia hanya sengap, namun tersenyum agak jengah. Dan aku menundukkan pandangan dalam kontemplasi.


”Selain itu, aku hanya ingin mengatakan bahwa, setelah aku tenggelam dalam penderitaan, membuat pikiranku malah gelap, seharusnya, aku mengenal penderitaan bukan untuk tenggelam di dalamnya,“ ungkapku masih menundukkan pandangan.


“Aku rasa, kita memang harus tenggelam di dalam penderitaan, hanya agar kita bisa mengenal penderitaan, tetapi bukan untuk terlarut di dalamnya,” celetuk Kak Farka.


Sontak, aku langsung menatap Kak Farka begitu tercengang, dan meresapi kalimatnya baik-baik.


“Hmmm ... iya, iya-iya,” ucapku dengan mengangguk-angguk menyetujui persepsi Kak Farka.


Beberapa saat, kami pun sengap dalam hening, aku menunggu Guru Sukada dengan ponselku. Mungkin autobiografiku hanya ditulis satu atau dua bab saja, sebab aku baru menulis kira-kira tiga bab, dengan jumlah 5600-an kata.


Keheningan buyar kala aku bertanya pada Guru Sukada, “Guru, apa pelaku pembelokkan autobiografi SMA Lily Kasih itu si Oteda? Terus apa benar buku yang dibelokkan dibakar?”


“Iya, Oteda pelakunya, dia mengaku sebelum bunuh diri ...,” jawab Guru Sukada menggantung kalimatnya dengan menunduk sambil memeriksa ponsel pintarnya.


“... dan, buku yang dibelokkan memang dibakar, agar tak ada hal buruk yang terjadi, tapi nantinya, digenerasi kedua, kami akan menuntut agar murid-murid menulis dengan jujur tanpa harus ditambah imajinasi,” lanjut Guru Sukada seraya memandangku dengan yakin.


“Loh ...? Generasi kedua? Terus aku generasi keberapa? Memangnya, sampai generasi keberapa autobiografi ditulis?” usutku.


“Begini ... menurut perhitungan dugaan, dari seorang murid, generasi kedua ini akan memimpin kota Artana, dengan kata lain, akan ada kerusuhan di kota kita karena adanya beberapa masalah yang sensitif lalu meledak menjadi keributan, singkatnya, kota ini akan dipimpin oleh anak-anak dari kalangan SMA,” beber Guru Sukada dengan lugas.


“APA?! Tunggu guru!” selaku karena kaget dan penasaran dengan pernyataan Guru Sukada.


“Bagaimana bisa anak SMA yang sedang belajar memimpin kota Artana yang menyedihkan ini? Ke mana mereka yang dewasa?” heranku.

__ADS_1


__ADS_2