Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 30: KONSPIRASI ADALAH KEBODOHAN. (Part 1)


__ADS_3

Hari mulai mendung, tetapi aktivitasku untuk berleha-leha tidak akan surut.


Aku duduk di sofa ruang tengah, kartu SIM ponselku aku cabut, lalu kubuang ke depan, maka dengan begini ponsel pintarku tak akan menerima pesan maupun panggilan telepon. Hari ini aku mau melanjutkan autobiografiku. Dan aku anggap ini sebagai berleha-leha.


Setelah ponsel menyala, siap untuk digunakan, aku mulai menulis kembali autobiografiku, melanjutkan tulisan sisa hidup yang belum selesai ditulis.


Suasana rumahku sangat senyap, agak dingin dan bisa dikatakan mencekam, luasnya rumahku dan ruangan-ruangan yang jarang aku singgahi membuat aura mistis mulai merebak, hanya saja, mengingat kala orang tuaku masih hidup, rasa mencekam saat seperti ini juga pernah kurasakan, jadi aku tak begitu takut, terlebih, katanya saat aku masih kanak-kanak aku pernah mengobrol dengan makhluk astral di rumah ini, entah makhluknya seperti apa, aku masih kecil jadi tak begitu mengingatnya.


Tapi ngomong-ngomong tentang makhluk gaib di rumahku, aku pernah beberapa kali didatangi oleh kuntil-anak merah di kamarku, pertama kali didatanginya saat aku masih SMP, kejadian itu seperti mimpi namun itu juga terlalu nyata jika harus disebut mimpi, kuntil-anak itu cekikikan sambil terbang di sudut kamar, pintu lemari dan pintu kamar mandi tertutup lalu terbuka berkali-kali secara cepat, itu terjadi kala si kuntil-anak melayang di udara sembari cekikikan, dalam mimpi itu aku cuman terdiam tak mampu bergerak, tapi ada pesan penting yang aku tangkap darinya, bahwa rumah ini, seluruh lingkungan rumah ini, dialah penguasanya, bahkan karena takut, aku sempat berzikir, tetapi hebatnya kuntil-anak itu justru tetap melayang di udara tanpa merasakan dampak apapun, parahnya lagi, dia malah melotot menatapku, dia terbang menghampiriku, pintu-pintu seketika tertutup tanpa ada lagi yang terbuka, dan dalam lantunan zikirku, kuntil-anak itu malah tetap cekikikan, hingga kami pun saling bertatap muka menyisakan jarak sejengkal saja, wajah pucatnya masih tedas kuingat, kemudian di depanku dia mengatakan bahwa limunya lebih tinggi ketimbang zikirku, sontak batinku terasa berat serta lidahku kelu.


Aku juga baru teringat pesan ayahku bahwa untuk melawan makhluk gaib harus dengan ilmu gaib lagi, dan setelah kejadian itu, sang kuntil-anak merah sering mengunjungi kamarku, dia tidak mengganggu, hanya menjaga teritorialnya, kata ayahku, makhluk gaib seperti itu terkadang ada beberapa yang suka mengintip manusia yang sedang bercinta, lebih-lebih bila mereka jail, tak ayal mereka akan meludahi manusia yang tengah asyik bercinta tersebut, bahkan bisa lebih dari itu, dan sejak saat itulah, disaat malam pertama dengan suamiku, aku banyak melantunkan do'a, yang tentunya suamiku juga ikut berdo'a, bukannya apa-apa, sungguh tidak lucu jika malam pertamaku harus ditonton oleh kuntil-anak itu, apa lagi sampai dia cekikikan dengan senangnya, sungguh tak berhumor.


Untung bagiku, aku adalah wanita yang cuek, sehingga mengenai hal mistis atau hal apapun itu, terkadang bisa melaluinya tanpa beban, kecuali atelofobiaku.


Aku masih menulis, membiarkan suara-suara benda jatuh tertangkap telingaku, yang mudah-mudahan saja hal mistis tersebut tertangkap pula oleh kamera pengawas.


Hingga tak terasa hujan telah turun, hujan kali ini cukup deras cukup membuatku mengantuk, namun bila sampai aku tertidur, apa lagi adanya aura supranatural yang kental terasa, membuatku enggan untuk terlelap, aku bukan takut dengan si kuntil-anak merah, hanya saja, aku sedang berusaha merampungkan autobiografiku, jadi tak mungkin aku tertidur.


Tentunya, aku menulis autobiografi karena aku ingin dikenal, benar, hanya sebatas mengenalkan diriku yang memiliki kesempurnaan dan masyarakat akan mengenal siapa aku sebenarnya, itu saja, hanya itu.


Hingga sampailah ketika aku harus menyalakan lampu ruang tengah, hari mulai malam, udara juga dingin, aku juga mulai lapar.


Kali ini aku akan makan terlebih dulu, baru kembali menulis, di meja makan, aku telah menaruh semangkuk mie kuah, dan kusantap tanpa segan, suara rintikan hujan mulai berkurang, hujan mulai reda.

__ADS_1


Butuh waktu tujuh menit untuk menyantap habis mie kuah rasa bawang ini, kurang kenyang sih, namun mau bagaimana lagi, rasa malas untuk memasak membuatku harus menanggung ini semua.


Sekarang adalah pukul 19:01 malam, aku kembali duduk sendirian menulis autobiografiku, tapi aku terkaget kala bel rumahku berbunyi.


'TULALIT-TULALIT-TULALIT'.


Terpaksa aku menaruh ponsel di sudut sofa, kemudian melangkah menuju pintu depan, aku bertanya-tanya, siapa yang malam-malam begini disaat cuaca dingin datang ke rumahku, maka buru-buru aku dedah pintu secara perlahan, dan dalam hitungan detik pintu telah terdedah sempurna.


“Azopa?” panggilku keheranan.


Benar, dia adalah Azopa, namun tunggu dulu, tak hanya Azopa yang datang kemari, di belakangnya murid-murid kelas 12 hadir pula di rumahku.


Aku terdiam beberapa saat memandang wajah Azopa yang nampak pandangannya menunduk malu.


Di antara mereka ada yang tersenyum canggung padaku, mereka adalah Wisty, Nuita, Anka serta Tozka.


“Ayo masuk,” karena tak ada yang bicara aku mempersilakan mereka masuk.


Tentu saja niatku merelakan mereka masuk ke dalam rumahku adalah untuk memarahi mereka, dan rasanya gemas sekali ingin menonjok wajah Azopa, terlebih ingin rasanya kuntil-anak merah di rumahku mencekik sampai mati si anak congkak ini.


Sebelum semuanya masuk ke dalam rumah, semua alas kaki sempat dilepas di teras, dengan begitu aku tidak perlu menampar pipi mereka gegara tak melepas alas kaki.


Aku menutup pintu dan menyiapkan mentalku untuk mengamuk.

__ADS_1


“Wah ketua kelas, rumahmu tetap rapi ya,” sanjung Nuita entah raut wajahnya seperti apa karena aku masih menghadap pintu memunggungi mereka semua.


“Harum rumahnya sangat khas.”


“Hangat lagi."


Lantas aku memutar badan menghadap mereka, mereka tengah berkerumun di ruang tamu, anak pertama yang mataku tangkap adalah Azopa, sontak mataku melotot memandangnya.


'Drap-darap-drap'.


Aku berlari ke arah Azopa, jemari tangan kananku telah mengepal membentuk tinjuan dan dalam hitungan detik kepalan tinjuan tangan kananku seketika mengenai tenggorokannya.


'Pok' itu adalah suara yang dihasilkan berkat tinjuanku yang mengenai tenggorokan Azopa, terlebih Azopa langsung terhunjam ke lantai dengan terbatuk-batuk memegangi sakit tenggorokannya, ia mengeliat-geliat seperti ikan laut yang tak sengaja ke darat.


“UHUK! KHUK! KHKHUK KHHUK ....” sampai Azopa bersusah payah memegang tenggorokannya demi menahan rasa sakit.


Mendadak teman-temanku mulai panik. Belum sampai disitu saja aku juga mulai melayangkan pukulan dan tendangan pada teman-temanku yang lainnya, tak peduli mereka sakit, tak peduli ruang tamu berantakan, yang pasti, mereka harus merasakan pahitnya sakit hati.


“BERENGSEK KALIAN SEMUA! KEPARAT!” aku berteriak dengan meninju membabi buta kesegala murid-murid.


“Ketua ngamuk! Ketua ngamuk!” beberapa murid panik.


“AAAAAAAARRGGGHHHHHH ....” aku berteriak meluapkan segala emosiku pada seluruh teman-teman berengsekku.

__ADS_1


'BUAK' 'POK' 'BUK' aku memukul mereka begitu keras hingga menimbulkan suara, lebih dari itu! Aku bahkan berkata kasar, seluruh ucapan kotor aku lontarkan demi bisa meluapkan emosiku.


__ADS_2