Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 28: KEBENARAN ADALAH PEMECAH BELAH. (Part 1)


__ADS_3

Meskipun ucapan Kak Farka begitu lantang menyemangatiku, aku tidak mungkin kembali ke sekolah nyeleneh itu. Aku sudah terlanjur sakit hati, dan sakit hati itu kini telah membentuk kebencian.


“Kakak tahu aku pergi dari sekolah?” usutku.


“Iya, tadi kakak dari sekolahmu, lalu masuk ke sini lewat pintu garasi,” jawab Kak Farka.


Aku terdiam masih bersedekap menyilang tangan, suasana kembali hening, lalu aku menoleh ke kiri pada jendela kaca besar rumahku, cuaca sepertinya cerah.


“Ayo Laisa, kita sekolah,” ajak Kak Farka hingga berjengkit dari duduk.


“Ahk terlalu malas, untuk apa sekolah, kalau ujungnya mencari uang,” ketusku tanpa bertatap muka.


“Aku ingin merdeka, dan aku sekarang sudah merdeka,” imbuhku dengan penekanan di setiap kata.


“Kamu harus bisa membedakan mana kebebasan dan mana kemerdekaan, kalau kau ingin meraih kemerdekaan, sudah selayaknya kau lanjutkan sekolahmu, dan nanti, kau akan menemukan apa yang dimaksud dengan kemerdekaan itu,” tegur Kak Farka.


“Omong kosong.”


“Jadi, apa kau sudah menyelesaikan autobiografimu?” Kak Farka memastikan, yang memang aku tadi sempat melupakannya.


“Belum,” ungkapku dengan memandang wajah Kak Farka dalam raut muka datar.


“Ya sudah, ayo kita tengok suamimu,” Kak Farka menganjurkan.


Untuk ajakan yang satu ini aku lebih benci ketimbang ajakannya ke sekolah, jelas benci, karena aku akan kembali teringat pada ketidaksempurnaan hidupku.


Aku menunduk, menghela napas, berusaha menenangkan diriku, sialan memang, ajakan Kak Farka membuatku harus dipusingkan lagi oleh atelofobiaku.


“Oke kalau tidak mau ... tapi sebutkan apa yang kamu mau sekarang?” Kak Farka menyelisik dan ujarannya terkesan memaksaku bahwa aku harus selalu di dekatnya.


Aku mendekus dan berdecak kesal.

__ADS_1


“Kak, bisa tolong nggak? Hari ini aku ingin sendiri, jadi kakak pulanglah, urus saja butik kakak, supaya dengan begitu kapitalis bisa lebih berkembang lagi,” tuturku dengan menyindirnya dan berharap dia tersindir.


“Hehehe ....” Kak Farka sempat tertawa.


“... kau mendakwaku sebagai kapitalis hanya gegara aku memiliki butik? Hehehe ...,” Kak Farka agak tergelitik dengan dakwaanku sampai terkekeh berkacak pinggang.


“Persetan! Aku muak dengan seluruh formalitas dunia!” aku kesal dan cua dengan hidupku hari ini, sehingga ucapanku memang agak ngelantur, tapi aku bangga bisa meluapkannya.


“Ya sudah, kakak pulang,” kata Kak Farka dengan senyuman penuh makna.


Lantas ia berpaling pergi, berjalan menuju dapur, dan mataku hanya terpusat pada kaus kaki hitam yang membungkus kakinya. Dan aku kembali sendirian lagi, Kak Farka sudah pergi, dia pergi lewat pintu dapur.


“Menyusahkan,” umpatku sambil bersandar ke sofa.


“Hidup kok repot amat.”


Maka hari Jum'at ini aku menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, mulai dari mengunjungi kolam ikan di belakang rumah, patut aku syukuri bahwa tak ada ikan yang mati, tak lupa aku menyiram bunga-bunga di kebun, lantas berkaraoke sendirian, sesudahnya aku nonton film secara daring dan itu ilegal, lalu saat malam tiba, aku makan malam sembari menonton acara televisi favoritku, hingga tak terasa aku tidur di sofa ruang tengah, terlalu malas untuk tidur di kamar.


'TULALIT-TULALIT-TULALIT'.


Itu suara bel rumahku, akibatnya aku mulai beranjak dari sofa, melangkah menuju pintu depan rumah. Maka saat pintu telah aku dedah, nampaklah seorang pria yang sekonyong-konyongnya langsuk masuk ke dalam rumah dengan gelagat marah.


“Laisa! Kau keterlaluan!” kata Anka dengan lantang.


Anka berdiri berkacak pinggang memandangku, seragam sekolah lengkap dengan tas gendongnya menjadi penampilannya kini, setelah aku tutup kembali pintu, aku melangkah dengan santai pada sofa tunggal ruang tamu, duduk di sini dengan memandang Anka acuh tak acuh.


“Apa kau tahu, kemarin Ovy jatuh pingsan, dan dibawa ke rumah sakit, apa kau tahu Ovy diracun? Bahkan sampai polisi berjaga di rumah sakit,” Anka membeberkan fakta yang cukup membuatku agak terkejut, bahwa teror itu telah berjalan baik, tapi keterkejutanku hanya sedikit, karena bagaimana pun aku sudah tahu itu akan terjadi.


“Jadi sudah dilaporkan ke polisi?” tanyaku dengan santai.


“Sudah! Tadi pagi seluruh murid dari kelas sepuluh sampai kelas sebelas diperiksa, sekarang kelas dua belas juga diperiksa, dan kemungkinan hasilnya nihil, polisi harus mendalami kasus ini,” jawab Anka dengan raut muka serius.

__ADS_1


“Oh baguslah, aku kira si Azopa itu ingin menyentuh kejiwaannya ....”


“Hahahahaha ... menyentuh kejiwaannya ... bodoh banget, hahahahaha ...,” cemoohku dengan terdekah dan menyandarkan punggungku pada sofa.


“Kenapa kau bicara begitu? Apa kau tahu kenapa aku tidak membicarakan terorku padamu?” tanya Anka memastikan.


Iya juga, aku baru tersadar bahwa Anka merahasiakan terornya dariku, sontak aku langsung memandang Anka dengan serius, bagaimana pun sahabatku sendiri telah menutupi sesuatu yang penting dariku, dia mungkin saja bersengkongkol dengan murid-murid lainnya.


“Nah, kenapa kau menyembunyikannya?” aku mulai menyelisik.


“Ya, karena agar tidak ada ketakutan,” ujar Anka blak-blakan namun masih rancu.


Aku mengernyit kening, terperangah kaget dan tak mengerti.


“Maksudnya bagaimana?” maka berkat kebingunganku sebuah pertanyaan untuk menyelidik mencuat.


Anka menghela napasnya, ia lantas beranjak menuju sofa tunggal di depanku, duduk di sana menatapku serius, sehingga meja kaca berbentuk oval di tengah kami menjadi pemisah kedekatan kami.


“Saat kita pertama kali masuk sekolah, saat teror itu juga muncul di HP-ku, aku tidak boleh membicarakannya pada keluargaku, tidak pula padamu, polisi pun tidak boleh, sebab menurut Azopa, teror tersebut bukanlah masalah besar, dan takutnya bila kita kabarkan pada para guru atau murid-murid lainnya akan menjadi paranoid,” ungkap Anka.


“Ha? Sungguh bodoh sekali Azopa, padahal aku selalu menganggapnya anak yang paling bijak di sekolah, tapi, tetap saja dia anak muda yang dungu,” aku menyindir sikap Azopa yang menurutku sangat sok.


“Masalahnya Azopa mengira teror ini hanyalah main-main semata, karena banyak teror ancaman yang akhirnya hanya angin lalu, kalau pun dilaporkan takutnya orang-orang menjadi paranoid, kau paham nggak sih? Masalah ini dulu tidak sefrontal sekarang, dulu memang ada yang mengancam kematian, tapi tidak ada yang mati, Azopa menutupinya dengan maksud mengabaikan sang pelaku, seolah-olah kita tidak peduli, dan berharap sang pelaku capek sendiri,” jelas Anka.


”Ahk omong kosong, sekarang aku yakin dia menyesal,“ umpatku dengan menyeringai jahat.


”Alasan itulah yang membuatnya berani menyimpulkan bahwa teror bisa saja main-main dan Azopa juga tidak tahu bahwa kau akan diteror lewat suamimu,“ sanggah Anka.


Dan sedari tadi tatapannya padaku begitu intens, seolah memberi isyarat bahwa pembicaraan ini amat serius, pun wajib kugugu, hanya saja aku tetap santai.


”Sekarang Azopa menghadapi omong kosongnya sendiri,“ tukasku.

__ADS_1


Anka manggut-manggut meresapi sikap serta umpatanku.


__ADS_2