
Di pagi hari, tepatnya hari Jum'at, pukul 09:02, untungnya cuaca cerah melingkupi hari ini, angin pun mengalun sejuk, formalitas kehidupan bersekolah kembali kujalani, aku serta Anka datang terlambat ke sekolah, kami terlambat karena aku harus mengantar Anka ke rumahnya, selain dia merias diri, kami juga menyempatkan diri untuk sarapan.
Di SMA Lily Kasih seluruh murid telah bersekolah kembali, mulai dari kelas 10 hingga kelas 12. Namun saat aku serta Anka baru saja melewati gerbang sekolah, kudapati murid-murid kelas 12 tengah berkerumun di depan kelas, mereka seperti merundingkan sesuatu. Bonusnya sepeda kebanggaanku telah terparkir di depan kelas.
Maka kala aku serta Anka telah berada di depan teras kelas 12, secara mendadak semua murid-murid memandangku. Apalagi tas gendong mereka yang masih melekat di punggung mereka, dan memunculkan spekulasi tentang adanya perkara janggal yang wajib diselisik.
“Ketua kelas!” seru beberapa murid dengan antusias.
“Eh? Kenapa nggak masuk kelas?” tanyaku keheranan.
Teman-temanku malah memandangku dengan raut muka serius penuh perenungan. Beberapa detik kemudian, salah seorang dari mereka menghampiriku. Dia Azopa, anak paling bijak dan seorang juara kelas selama tiga tahun berturut-turut, berperawakan setinggi Guru Sukada, tas gendongnya pun masih melekat dipunggungnya.
Fakta penting! Bahwa seluruh tas gendong di SMA Lily Kasih memiliki model dan corak yang sama, ini dilakukan agar masalah kasta atau strata dapat disetarakan.
Kami berdiri berhadapan dalam jarak kurang lebih lima jengkal, mata sebulat gerhana bulannya menerawang pada mataku.
“Ayo, ikut denganku!” titahnya dengan berjalan menuju ke lapangan sekolah.
“Eh?” aku masih belum menangkap maksud ini semua.
“Woy! Aku ikut nggak?” tanya Anka memastikan.
“Nggak,” jawab Azopa dengan singkat nan tegas dan terus melangkah ke suatu tempat.
Terpaksa, dalam tanya aku melangkah mengikuti Azopa. Kami terus melangkah menuju suatu tempat yang ternyata adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolah yang terpisah dengan kelas-kelas para murid, bangunan tunggal. Dan rupanya perpustakaan telah diberi garis polisi. Azopa pun mengangkat garis polisi yang menghalangi pintu masuk, sehingga aku berjalan membungkuk untuk masuk ke dalam perpustakaan.
Maka kudapati lemari-lemari buku telah hangus terbakar, hitam menjadi arang, meski lemari buku masih diposisinya, tetapi tak kudapati sebuah buku pun di sana.
“Ayo.” ternyata Azopa masih terus mengajakku kesuatu tempat.
__ADS_1
Tunggu dulu, sepertinya aku tahu dia membawaku ke mana. Benar, kami menuju perpustakaan rahasia. Kini pintu rahasia perpustakaan itu telah terbuka entah sejak kapan, oleh alasan itulah, kami melangkah menuruni tangga, lantas melangkah di lorong yang diterangi lampu kekuningan, dan tibalah kami di ruangan pertama perpustakaan.
Tidak aneh sih, menyadari tempat ini masih wangi bunga melati dan bersih, jelasnya; ruangan ini tidak kebakaran.
“Duduklah di sana,” titah Azopa sampai telunjuk tangan kanannya mesti diarahkan pada kursi goyang di depannya.
Tapi aku malah berdiri di belakang kursi goyang, berdiri memandang dengan tajam pada Azopa. Sedangkan anak yang bijak itu berdiri di depan meja, dan meja itu berada di depan kursi goyang.
“Loh? Ayo duduk!” titah Azopa, lagi.
“Aku tidak suka diperintah oleh siapapun! Enak saja kau memerintahku! Guru saja bukan!” Kusuarakan alasanku berdiri dan memprotes sikap memerintah Azopa.
Konyolnya, dia malah mengembangkan senyuman simpul, pandangannya pun sempat ditundukkan.
“Maaf, kalau aku terlalu lancang, sebab, apa yang akan aku utarakan sangat penting,” sesal Azopa dengan menatapku serius tapi matanya memancarkan penyesalan.
Dan aku hanya diam bersedekap menyilangkan tangan, berdiri memasang muka bongak, aku menerima permintaan maafnya, namun tidak akan duduk.
“Ya udah, cepat bicara, jangan basa-basi!” selaku dengan ketus.
Azopa mengangguk-angguk.
“Begini ... Guru Sukada sedang diintrogasi oleh pihak kepolisian,” ungkap Azopa dan aku tak terlalu tertarik dengan itu.
“Ya, itu sih wajar, kan beliau yang ada di perpustakaan ini ... langsung aja keintinya, jangan bertele-tele,” tukasku.
“Oke!” Azopa menyanggupinya.
Ia sempat menghela napasnya, mulai dari tatapan mata hingga gestur tubuhnya menyiratkan keseriusan penuh, sepertinya, ada pembicaraan penting yang membutuhkan kesiapan mental.
“Kejanggalan kebakaran perpustakaan ini juga dirasakan oleh teman-teman lainnya,” papar Azopa.
__ADS_1
”Ya ... lalu?“
”Maksudnya adalah, bukan hanya kamu yang mendapat musibah aneh ini, malah saat kejadian itu, Anka, Cludy, Nuita, Tozka, Ovy serta Loze, juga mendapat sebuah kejadian aneh, mereka mendapat pesan teror di HP mereka, pesan teror itu adalah mengenai fobia mereka, tepatnya, mereka ditakut-takuti sesuai fobia mereka,“ jelas Azopa.
Pernyataan Azopa kali ini, berhasil membuatku memasang muka serius, hingga keningku mengernyit.
”Tu-tunggu dulu, maksudmu ada orang yang tidak menyukai kita? Atau itu hanya keisengan semata?“ selidikku.
Kenapa juga Anka tidak bicara kalau ada yang menerornya?
Dan setelah kupikirkan pernyataan Azopa, aku lebih setuju jika Anka-lah yang melakukan keisengannya, dan kali ini dia lebih frontal lagi.
”Bukan iseng, jelas bukan iseng!“
“Ahk masa? Mungkin saja si Anka jail lagi, level keisengannya naik kayaknya, dia kan selalu iseng,” balasku tak percaya.
“Nggak, Anka sendiri sudah menjelaskan bahwa dia tidak pernah melakukan itu, bahkan dia juga diteror, nomor ponsel sang pengirimnya pun selalu berganti-ganti,” sanggah Azopa seyakin mungkin.
“Ya itu mah si Anka.” aku bersikukuh mendakwa Anka.
“Bukan! Kalian masuk ke sekolah ini saat kelas 11, sedangkan teror ini sudah muncul sejak kami bersekolah di SMA ini,” bantah Azopa.
“Aneh banget? Kan fobia kita didiagnosis waktu kelas 11, terus kamu ngomong kalian diteror sejak masuk sekolah? Logikanya di mana?”
“Maksudnya begini, saat kami baru bergabung di SMA ini, teror awalnya adalah akan mencelakai kami, lalu saat mereka atau kita sudah didiagnosis sebuah fobia, teror itu juga menambahkan dengan menakuti fobia kita masing-masing,” jelas Azopa.
Aku terdiam merenung, berpikir maksud dari ini semua. Akan tetapi pikiranku tak menemukan titik terang masalah ini, dan malah menimbulkan banyak pertanyaan.
“Ini lihat terornya,” pinta Azopa dengan menyodorkan ponsel pintarnya.
Maka tanpa ragu, aku melangkah mendekatinya, lantas mengambil ponselnya. Dan benar saja, saat kutilik layar ponsel, beberapa 'tangkapan layar' ponsel dari teman-temanku telah menerima pesan teror. Pesan-pesan ini kebanyakan ancaman, yang paling mengerikannya adalah ancaman kematian, kira-kira ada ratusan lebih teror yang diterima.
__ADS_1