
Udara mulai mendingin, tubuhku berasumsi demam, pikiranku kusut putus asa ingin mati, solusi terasa hanya terbentuk untuk jiwaku agar jahat, tapi aku bingung harus menjawab apa pada hidupku, kini sore mulai mendekati malam, entah pukul berapa sekarang, karena saat ini aku apatis dan lelah.
Dalam hati nestapa, senak oleh insiden berdarah, kulangkahkan kaki ke teras rumahku, kemudian mendeprok di pinggir teras, menghadap pada jalan setapak rumahku, dan bersama pikiran yang putus asa, suara sirene mobil polisi telah berdengung di depan gerbang rumahku. Mereka datang diwaktu yang tak tepat, semua teman kelasku, telah meninggal tragis.
Aku diam terpaku, menatap kehadiran polisi dalam apatis, lebih-lebih mereka sampai menodongkan pistol, namun sayang, musuh sudah mati oleh dirinya sendiri.
Aku tertunduk murung, kedua tanganku pun menjenggut rambutku, betapa kalutnya pikiranku, betapa bingungnya aku, aku bergigit dengan menjenggut semakin kencang, meratapi kematian teman-temanku yang tragis, bahkan aku putus asa untuk tetap bertahan hidup.
Seorang gadis bodoh sepertiku, seorang yang selalu ingin mendapatkan apapun itu, seorang gadis yang selalu menuntut kesempurnaan, gadis yang temperamen dalam amarahnya, aku, hari ini merasa lebih bodoh dari sebelumnya, dan benar-benar frustrasi dengan hidupku hari ini.
Bagaimana tidak, semangat serta optimisku telah kalah oleh kata-kata dari Loze, telah kalah pula oleh kenyatan pahit ini, lebih dari itu, satu-satunya sahabatku, Anka, telah berpulang begitu cepat, membuat jiwaku terasa diguncang, lalu membentuk sebuah perasaan frustrasi, putus asa dengan hidupku selanjutnya, karena bagaimana pun, aku gagal membuat Loze berubah, gagal sudah, terlanjur gagal.
“Laisa.” Sebuah panggilan tiba-tiba dari seorang pria yang kukenal, seorang laki-laki yang menyuruhku menulis autobiografi.
Secara pelan dengan gundahnya, aku menengadahkan wajahku pada Kak Farka, sekaligus melepas jenggutanku dari rambutku.
Ternyata, tak hanya Kak Farka yang berdiri di depanku, Kak Fikia pun telah berdiri memandangku serius, mereka berdiri dalam jarak satu meteran. Mereka tampil rapi di hadapanku, Kak Fikia mengenakan blazer hitam yang menutupi kemeja putihnya serta celana formal hitamnya, sedangkan Kak Farka tetap mengenakan jas hitam dengan celana formal warna hitam kebanggaannya.
Selain itu, banyak polisi dengan para medis yang datang, lebih dari itu! Para jurnalis, reporter pun berdatangan, akan tetapi, aku hanya melihat mereka berada di depan gerbang rumahku, tersekat oleh garis polisi, tunggu! Belum sampai di situ saja, sebuah helikopter melayang di udara, itu cukup jauh, tetapi deru baling-balingnya terdengar sampai ke sini, syukurnya tidak bising.
Sepertinya Loze berhasil membuat sejarah, sejarah tentang murid SMA yang membantai satu kelasnya demi memberi contoh buruk yang bukan untuk ditiru. Dan pastinya, peristiwa ini akan dikenang sebagai sejarah tragis kota Artana, bonusnya, menambah mutu tindakan kriminal di kota Artana yang keseringan.
Kedua wajah kakak-kakak di depanku menatapku penuh iba, tak butuh waktu lama, Kak Farka berjongkok di depanku, menyisakan jarak dua jengkal saja untuk Kak Farka dapat memegang lututku.
“Laisa ....” Kak Farka memanggilku dengan lembut.
Kendati begitu, aku malah tertunduk kuyu, kecewa dan putus asa.
“Kamu nggak apa-apa 'kan?” Kak Farka memastikan kondisiku.
“Aku ... aku nggak mau hidup lagi,” lirihku.
Beberapa detik Kak Farka terdiam, ia terkejut dengan pernyataanku. Hingga senyap ini tergantikan oleh kesibukan beberapa polisi, demi mengamankan area sekitar, lengkap dengan mengamankan jenazah temanku ke kantong jenazah. Mereka betindak gesit nan cepat, tapi juga dengan kehati-hatian.
__ADS_1
“Laisa ... kamu adalah gadis berharga bagi kami, kamu harus tetap hidup untuk dirimu yang berharga.” Kak Farka berusaha memotivasiku.
”Aku, aku cuman anak bodoh ... untuk apa rakyat membaca autobiografi anak nakal dan bodoh, banyak kok anak yang berprestasi di luar sana, kenapa juga harus anak bodoh sepertiku?“ keluhku.
”Prestasi? Bodoh? Apa kami pernah memintamu untuk berprestasi di sekolah? Apa kami pernah memintamu untuk menjadi anak pintar?“ tanya Kak Farka memastikan.
Aku cuman mampu sengap menikmati putus asaku.
”Jadi penjahat yang lebih jahat atau menjadi pahlawan yang lebih hebat, kamu mau menulis autobiografi atau pun tidak, itu tidak masalah, kamu mau menjadi penjahat pun, itu tidak masalah, tapi Laisa, kalau kamu berputus asa, kamu lebih hina dari seorang penjahat, karena ... seorang pencuri pun tak menyerah demi meraih apa yang ingin dicapainya, dia tetap berusaha demi bisa mendapatkan barang curiannya ... tapi, seorang yang berputus asa, apa layak dianggap manusia? Bahkan dianggap penjahat saja tidak cocok,“ ujar Kak Farka berusaha menyemangatiku.
”Orang tuaku sudah tiada! Sekarang sahabat baikku sudah tiada! Kehidupan semakin ke depan semakin berat! Kenyataan pahit tetaplah pahit! Ini sangat menyakitkan!“ sergahku dengan menatap marah Kak Farka. Marah karena Kak Farka tak memahami penderitaanku.
Kak Farka hanya termenung.
”Dakwaan itu, semuanya mendakwaku anak bodoh, cacat, tidak punya masa depan cerah, aku tidak sanggup Kak, kehidupan terasa berat ....“ Aku berkeluh kesah dengan tertunduk putus asa.
Kak Farka serta Kak Fikia hanya sengap, mencerna baik-baik kata-kataku.
“Balas dendam dengan prestasi? Tidak Kak, itu hanya akan memunculkan iri dengki bagi sebagian yang lain, dan cita-citaku terlalu jauh dan aneh untuk dicapai ....”
“... sahabatku telah pergi, maka motivasiku pun hilang, saat aku berusaha menghentikan Loze, justru akulah yang malah terhasutnya, aku gagal ... aku lebih bodoh dari seekor kancil,” lanjutku masih tertunduk putus asa.
Kak Farka terdiam, merenung, yang seakan-akan mencari argumen kuat demi membuatku termotivasi.
“Kamu butuh uang? Kakak bisa bantu, atau kau butuh yang lain? Kakak siap membantu.” Kak Farka kembali berusaha membuatku bangkit.
“Menyerah adalah cara terbaik untuk menyelamatkan diri dari beratnya ujian hidup, aku ingin menyerah,” balasku dengan mengangkat wajahku memandang wajah Kak Farka dengan serius.
Beberapa detik pandangan kami saling bersirobok, lalu Kak Farka bangkit dari jongkok. Ia meraih ponselnya dari saku jas dalamnya dengan berjalan ke sisi tempat yang agak sepi, tentu saja mencari tempat sepi, dia menelepon seseorang.
Akan hal itu, aku merasakan pilu yang begitu dalam, aku meratapi kegagalanku, selalu saja, usahaku dikhianati hasil.
“Hei Laisa ...,” seru Kak Fikia dengan semringah.
__ADS_1
Sontak aku agak menengadah memandangnya penuh tanya dan malas.
“... kamu tahu kan kakak datang ke sini karena adanya kejahatan? Kamu juga tahu bahwa kakak polisi, ya, kamu tahu karena penampilan dan adanya insiden, tapi apa kamu tahu kenapa kamu masih hidup? Apa kamu penjahatnya? Atau justru kamu hanya korban? Atau jangan-jangan kamu hanya tak sengaja lewat lalu duduk di sini?” Sebuah pertanyaan dari Kak Fikia yang justru terkesan menyalahkanku.
“AKU BUKAN PELAKUNYA!” sentakku merasa tak terima.
Berkat kerasnya suaraku, beberapa polisi seketika memandangku, tapi itu hanya pandangan kaget, bukan pandangan peringatan.
“Tenang, kakak tidak menuduhmu, justru ... kakak ingin membantumu dalam hidup, kamu pasti memandang hidup secara perfeksionisme, itu nggak masalah ... tapi asal kamu tahu, kota Artana ini sedang kebingungan, mirip loh sama kamu, ketika satu kaum menuntut keadilan, maka satu kaum lainnya pun menuntut keadilan, kamu merasa hidup tidak adil, lalu kecewa pada hidup, kebingungan entah harus bagaimana ...,” ujaran Kak Fikia aku potong.
“Tidak ada seseorang manusia yang bisa memahami dan merasakan penderitaan orang lain, itu hanyalah empati, lalu muncul sebagai prasangka, terbentuklah melalui kata-kata atau pertolongan yang terkesan memahami, kakak tidak akan mengenal sebuah penderitaan orang lain, sebelum kakak mengalami hal yang sama seperti orang lain! Ingat, benar-benar sama! Benar-benar sama, sampai kakak mengira bahwa kakak adalah dirinya,” selaku.
“Iya, teman kakak, Fihan, juga pernah berkata, 'harus mati untuk mengetahui benarnya sakaratul maut, karena siapa yang benar-benar mengenal kebenaran, maka dialah kebenaran itu.“ Kak Fikia menegaskan benarnya argumenku.
”Jiwa manusia, mental manusia, perasaan manusia, itu berbeda-beda, jadi jangan berani mengatakan kalau kakak memahamiku, terlalu basi ketika kakak bilang memahamiku, dan terlalu bodoh jika mengatakan mental manusia sama saja,“ sindirku.
“Iya, kakak paham,” ucap Kak Fikia yang terkesan sok paham.
“Sungguh, kakak bukan paham, tetapi berprasangka, lalu prasangka itu memunculkan asumsi, karena seseorang yang paham tak banyak bicara, dia akan bertindak sesuai apa yang memang harusnya dia lakukan, tetapi hanya yang paham yang bisa mengenali tindakannya,” tegasku membantah Kak Fikia.
”Jadi bagaimana agar kakak bisa memahamimu?“ tanya Kak Fikia penasaran.
”Untuk apa kakak memahamiku? Kakak seorang polisi, kakak hanya melakukan tugas, hanya melakukan formalitas dunia,“ ketusku.
Tapi tiba-tiba, Kak Fikia melangkah mendekat, ia melepaskan lencananya dari saku depan blazernya, lebih dari itu, Kak Fikia mengambil sepucuk pistol dari saku dalam blazernya, kemudian, dia mendeprok di depanku dalam jarak dua jengkal, menaruh lencana serta pistol nuansa hitamnya didepanku, seraya berkata, ”Ambil pistol itu, ambil lencana identitas kakak, sita olehmu, dan kalau kamu mau, bunuh diri saja sekarang.“ Malah pandangannya begitu tajam penuh keyakinan padaku.
Jelas tanpa banyak bicara, aku mengambil lencana identitas kepolisian miliknya, belum sampai di situ saja, aku lempar lencana identitasnya ke samping kiriku, kulempar jauh-jauh dan mungkin mendarat di rerumputan, lalu aku raih pistol itu, dan kutemelkan moncong pistol pada pelipisku, bahkan dalam hal ini, raut mukaku begitu datar, aku siap bunuh diri.
Namun, di sana, Kak Fikia hanya terdiam, tatapan matanya nampak berbinar sekaligus penuh harap, bibir merah lipstiknya masih betah tersenyum damai padaku. Kami saling bersirobok beberapa detik, kendati nyatanya, aku tak melihat tanda-tanda adanya penolakan akan apa yang hendak kulakukan.
Yang ada dalam kepalaku hanya mati, hanya mati, lalu mati, aku sudah bosan hidup, jadi lebih baik mati.
Akan tetapi, Kak Fikia benar-benar pasrah, dia seperti membebaskanku untuk mati, aneh rasanya merasakan pengalaman baru ini, akibatnya, kini, aku menaruh kembali pistol miliknya, aku melihat keseriusan dalam tatapan mata Kak Fikia, ya, anggap saja aku sudah mati.
__ADS_1