
”Laisa, apa kamu mau membantu bapak, soalnya buku autobiografi beberapa telah diubah entah oleh siapa, nah, rencananya buku-buku itu akan ditaruh sementara di ruangan yang luas, tapi kalau ditaruh di sekolah berarti sama saja bohong, takutnya sang pelaku kembali berhasil membelokkan buku autobiografi, dan karena rumah bapak tak punya ruang yang luas, dan murid-murid pun begitu, sehingga kesempatan untuk menaruh buku-buku tersebut kini bergantung padamu ... tujuannya sih agar buku-buku itu ditaruh pada tempat yang aman agar sang pelaku tidak dapat lagi mengubahnya,“ beber Guru Sukada dengan membungkuk memandangku dalam pandangan menginding.
”Lalu bagaimana dengan keselamatanku?“ tanyaku menyindir, bukan aku takut pada sang pelaku, aku memang bisa saja melumpuhkan sang pelaku dengan jurus Silat-ku, namun aku enggan untuk memberi tempat, karena takutnya malah mengganggu bermalas-malasanku.
”Bapak akan minta polisi untuk berjaga di rumahmu, atau kalau kamu mau, istri Farka menemanimu di sini,“ Guru Sukada menawarkan bantuannya yang memang bagiku itu tetaplah omong kosong.
”Maaf Pak, saya tidak mau nyawa saya terancam.“ aku bersikukuh menolak dengan memandang Guru Sukada yang duduk di depan kiriku.
Guru Sukada masih duduk agak membungkuk dengan kedua siku tangannya bertumpu di atas pahanya, pandangannya menunduk merenung, hal ini mengakibatkan keheningan melingkupi suasana. Aku hanya diam, dan berharap Guru Sukada segera pergi, karena bagaimana pun aku ingin berleha-leha.
”Laisa, apa bapak boleh tahu alasan kamu kemarin nggak sekolah?“ tanya Guru Sukada memastikan.
”Aku mau pindah sekolah,“ jawabku dengan memandang wajah oval Guru Sukada.
”Hem, kalau memang itu jalan yang terbaik, tidak apa-apa, nah ... kalau kamu butuh bantuan untuk mencari sekolah, bapak bisa bantu,“ ujar Guru Sukada menawarkan kembali bantuannya.
”Tidak perlu guru, guru sudah cukup membantu saya,“ sanggahku menolak segala apapun bentuk bantuan Guru Sukada.
Lantas Guru Sukada duduk tegap, bahkan untuk ini pandangannya ke depan seperti menerawang pada dirinya sendiri, tepatnya, menerawang pada alam pikirannya sendiri.
”Laisa, bapak pernah bertanya padamu mengapa gelar ketua kelas yang kamu sandang tak mampu membuat mereka menaati perintahmu atau tentang, gelar ketua kelas yang diberikan Azopa hanya kesenangan semata, dan tentang penyebab teman-temanmu mau membaca buku, tambahannya tentang mengapa mereka tidak mau mengikuti perintahmu untuk menulis autobiografi?” papar Guru Sukada.
Aku hanya sengap mendengar dengan saksama hal penting yang akan diucapkan Guru Sukada, pandanganku pun serius padanya.
“Inti semua dari jawaban itu cuman satu ... yaitu ... kepercayaan,” jelas Guru Sukada.
Jelas keningku mengernyit bingung, otakku tiba-tiba berpikir lebih giat lagi demi memaknai kata 'kepercayaan' yang dilontarkan Guru Sukada.
“Ucapan bapak masih rancu,” keluhku.
“Karena percaya dan karena tidak percaya ... itu saja,” tegas Guru Sukada seefisien mungkin dan pandangannya masih jauh ke depan.
Tapi lagi-lagi aku masih bingung, otakku kembali harus bekerja keras lagi kali ini.
“Hem,” setelah beberapa detik berpikir, aku mengangguk mantap, karena alam pikiranku telah menemukan ilham.
__ADS_1
“Teman-teman percaya pada bapak, itu sebabnya mereka rela membaca buku meski sudah jam pulang sekolah, Azopa percaya pada saya maka dia berikan gelar ketua kelasnya pada saya, dan ... teman-teman menolak saya karena tidak percaya pada saya?” kataku memastikan.
“Kurang tepat, ingat, percaya dan tidak percaya, coba kamu pikirkan lebih jauh lagi,” pinta Guru Sukada hingga menatapku.
Terpaksa rasa malas dalam otakku harus rehat sejenak demi kinerja otak lebih baik lagi, aku berusaha memikirkan matang-matang maksud ini semua, mau bagaimana lagi, pertanyaan itu sempat menghantuiku, sehingga berpikir dalam-dalam saat ini juga adalah hal yang tepat. Entah berapa detik aku merenung, yang jelas aku sudah menemukan titik terangnya.
“Guru, apa Azopa yang menginginkan gelar ketua kelasnya dilepas?” aku mulai menyelidiki karena aku mulai curiga pada Azopa.
“Tidak, bapak yang meminta gelar tersebut dilepas dan diberikan padamu,” sanggah Guru Sukada.
“Ooooh ternyata benar, lalu ....” aku mulai menangkap maksud ini semua.
“Saat bapak memintanya untuk melepaskan gelarnya, dia menolak dengan alasan tak percaya padamu, dia menganggapmu terlalu bodoh untuk menjadi ketua kelas, bapak sengaja menunjukkan rapor sekolahmu dulu pada Azopa, bapak ingin menguji akhlak murid bapak yang pintar ini, tapi sayang, dia malah berkata dengan kata-kata bijaknya, kalimat yang menunjukkan keangkuhannya, bahwa seorang pemimpin yang bodoh hanya akan membawa rakyat pada kesengsaraan, padahal bapak tahu bahwa itu hanya senjata keangkuhannya, dia berkata juga bahwa teman-temannya pasti hanya akan percaya padanya ....”
“... sebenarnya, bapak pernah mengajaknya untuk menulis autobiografi, tapi dia menolak dengan alasan, belum layak untuk menulis ....”
Aku mengangguk-angguk paham.
“... Laisa, hanya kamu yang memiliki solidaritas tinggi, Azopa memiliki keegoisan tinggi, seolah kepintarannya membawa keselamatan, tapi lihatlah sekarang, teman-temannya celaka bahkan bapak pun baru tahu kalau kalian diteror, mungkin jika saja Azopa bicara lebih awal, kasus ini tidak akan serumit ini,” beber Guru Sukada.
”Jadi, bapak ingin aku melakukan apa?“ tanyaku terkesiap dengan apapun perintahnya.
Sekonyong-konyongnya Guru Sukada bangkit dari duduk, berdiri tegap hendak pergi.
”Laisa, bukan seberapa banyak ilmu yang kamu punya, tapi seberapa mulia akhlak sang pemilik ilmu itu, kalau akhlaknya buruk, ilmunya menjadi sihir semata, tapi, kalau akhlaknya mulia ilmu sebesar padi pun bisa menumbuhkan padi-padi lain, bapak ingin, kamu memaafkan teman-temanmu, itu saja,“ pungkas Guru Sukada dengan berkias.
Aku menunduk sejenak, berkontemplasi, apa mungkin aku bisa memaafkan si keparat itu?
Seluruh persepsiku tentang bijaknya Azopa mulai luntur, atau aku akan menyebutnya terganti oleh persepsi yang baru, bahwa si Azopa adalah murid yang congkak dengan ilmunya, sebab orang yang bijak tak mungkin seperti itu.
”Guru mau pulang dulu ya, takut hujan, jemuran belum diangkat lagi,“ ungkap Guru Sukada dengan menoleh ke kiri pada jendela kaca ruang tamu, menyelisik cuaca yang kini menjadi mendung.
“Guru!” seruku dengan lantang agar beliau tahu aku memanggilnya.
Secara refleks Guru Sukada menoleh padaku.
__ADS_1
“TERIMA KASIH SUDAH PERCAYA PADAKU!” kataku dengan serius menatap wajah oval Guru Sukada.
Guru Sukada hanya tersenyum simpul tanpa kata, lalu mengangguk mantap, sebagai tanda menerima ucapan syukurku.
“Oh iya guru, maaf, aku lupa menyajikan kopi,” sesalku dengan tersenyum canggung hingga gigiku kentara.
“Oh nggak apa-apa, bapak sudah ngeteh di rumah,” Guru Sukada memaklumi.
Aku mengangguk-angguk kemudian bangkit berdiri, mengantar Guru Sukada menuju pintu.
Aku bersyukur memiliki seorang guru seperti beliau, beliau bahkan tidak memaksaku untuk kembali sekolah ke SMA Lily Kasih, terlebih, dia sempat meminta maaf padaku, padahal bagiku Guru Sukada belum pernah melakukan kesalahan apapun padaku.
“Assalamu'alaikum,” Guru Sukada pamit.
Beliau pergi dari rumahku, dan selama langkahnya dari pintu menuju gerbang, aku menatap kepergiannya penuh syukur.
Entah seperti apa saat beliau masih remaja, atau, akan dikemanakan buku autobiografi bila bukan di rumahku, hanya saja, aku tak mau mengambil pusing pertanyaan itu, cukup menjadi pertanyaan angin lalu belaka, maka aku bisa hidup tenang.
Hingga sampailah di mana ketika Guru Sukada telah lenyap dari pandanganku, beliau pergi entah ke mana, namun dalam hal ini, aku langsung menutup pintu rumah, bersiap untuk kembali berleha-leha.
Dalam komitmen pernikahan yang menyedihkan kuterkesiap dalam mimpi buruk ...
Tapi dalam mimpimu aku bahkan tak ada ...
Tapi dalam mimpimu aku bahkan hanya pengusik ...
Jika boleh aku antisosial aku beralasan karena mimpimu ...
Bahkan dalam mimpi burukku kau adalah sosialita ...
Maka bolehkanlah aku menikahi mimpi burukmu ...
Dan biar malam ini kita tidur untuk dalam mimpi yang sama ...
Tapi sejak malam ini tak pernah ada lagi mimpi ...
__ADS_1