
“Pertama, kematangan jiwa tidak dilihat dari usia, dan kedua, ada beberapa teknis yang membuat murid di SMA Lily Kasih dipercaya oleh rakyat untuk menegakkan keadilan, oleh sebab itu, kita tulis sejarah terlebih dulu,” balas Guru Sukada.
“Aduh ... nyeleneh lagi nih, ya udahlah, kita lihat kedepannya aja,” keluhku, tak mau ambil pusing.
“Dan memang kelasmu bukan termasuk generasi yang keberapa pun, kelasmu hanya penguat saja, artinya, guru juga tidak merencanakan akan jadi begini, bapak juga kurang tahu, ini akan ditulis hingga generasi keberapa, bapak sih berharap digenerasi kedua semuanya rampung, kalau pun gagal, kemungkinannya digenerasi ketiga,” papar Guru Sukada.
Aku sengap hanya mengangguk-angguk.
“Oh iya Laisa,” kata Kak Farka yang mengingat sesuatu, dan otomatis aku menatapnya.
“Selama kamu mabal, suamimulah yang telah menyelamatkanmu dari pihak polisi, waktu itu, pagi-pagi polisi datang, nah, suami kamu yang memberikan uang jaminan pada para polisi, selain itu, dia sudah tahu, kalau kalian mabal untuk mengganggu ketertiban umum, tapi, suamimu pura-pura tidak tahu, begitu pula dengan paman dan bibi Anka, mereka pura-pura tidak tahu, hanya agar, kalian bisa menikmati masa muda sepuasnya,” imbuh Kak Farka yang membeberkan fakta yang baru kuketahui.
Jelas, aku terpegun kaget dengan pernyataan tersebut, aku kira, selama aku mabal, suamiku hanya tahu kalau aku bermain di taman, atau nonton bioskop, tapi, dugaanku salah, aku serta Anka, telah benar-benar membuat masalah yang besar, bodoh memang.
“Namun, yang kakak lihat, kepuasan tidak pernah bisa diraih, keinginan itu akan terus ada, ya kan?” sindir Kak Farka.
Aku tertunduk malu, dengan berkata, “Iya,” sebagai pembenaran atas sindiran Kak Farka, karena memang, aku belum puas untuk mengacau di pusat kota.
Meski begitu, hari ini, aku sudah mendapat teguran penting dari hidupku, bahwa aku harus hidup lebih berhati-hati, bagaimana pun, taruhannya adalah orang yang paling berharga menjadi korban.
“Aku ... aku menyesal,” lirihku tertunduk merenung.
“Ya, tidak apa-apa, selama kamu tidak melanggar hukum berkali-kali,” sanggah Kak Farka.
“Tapi ... Kak, apakah kakak sudah mengenal teman-teman kakak?” tanyaku yang mendadak mengganti topik, bukannya apa-apa, aku tak mau terus disalahkan.
Kak Farka sempat menoleh ke kiri pada Kak Fikia, yang memang mereka berdua adalah teman SMA, lalu kembali menatapku, seraya berkata, “Kakak tidak begitu mengenal teman-teman kakak, kita memang cuman teman sepintas, tapi memang mau bagaiamana pun, kita akan berkembang, dan bertemu dengan orang-orang baru, namun, kakak tidak serta merta melupakan teman-teman kakak, artinya, kakak masih menganggap mereka teman.”
Aku mengangguk-angguk mencerna ucapan Kak Farka.
“Tapi asal kamu tahu, yang paling solid dan paling siap menolong adalah Kak Farka ini,” timpal Kak Fikia dengan menepuk pundak Kak Farka demi menguatkan dakwaannya.
Aku melongo menatap Kak Farka penuh tanya.
“Oh pantas, Kak Farka rela menghamburkan uang demi membantuku,” kataku.
“Itu belum seberapa, Kak Farka pernah minum air kencing dengan menelan cacing tanah hanya demi menolong temannya, yang kini sudah jadi istrinya, lebih-lebih Kak Farka sudah bonyok waktu itu,” cerita Kak Fikia penuh antusias.
”Wow, aku apresiasi itu, kakak memang rela berkorban,“ sanjungku dengan bertepuk tangan tiga kali hingga menimbulkan suara, 'prok-prok-prok'.
Konyolnya, Kak Farka hanya diam dengan raut datar, bak tak terlena oleh pujian.
”Ini, bapak sudah mengirimnya,“ kata Guru Sukada sambil menyodorkan ponselku.
Dan kujawat ponselku, sembari berkata, ”Guru, tolong beri nama buku kelas kami dengan judul, Antimateri.“
__ADS_1
”Loh? Beberapa judul buku padahal dari nama bintang, kenapa malah Antimateri?“ heran Guru Sukada sambil menaruh ponselnya ke saku dalam jaket kulitnya.
”Itu amanah dari mendiang Loze,“ balasku dengan serius.
”Oh, tapi tunggu dulu, sebenarnya yang berhak memberi nama, adalah murid yang pertama kali diperintah menulis,“ beber Guru Sukada.
”Ya sudah, tulis saja di sampul belakangnya, 'Bintang Kejora',“ usulku tak mau ambil pusing.
Untungnya tanpa komplain, Guru Sukada mengangguk-angguk, menerima saranku.
”Aku juga ingin kalian mengatakan bahwa, akulah yang telah membunuh teman-temanku,“ ungkapku dengan serius, dan kupandangi satu-satu tiga manusia di depanku.
”Eh?“ secara serentak ketiga manusia di depanku terkejut.
”Fitnah aku, sebagai pembantai kelas 12, cecar aku dengan tuduhan jahat, tapi, tolong, siapapun murid yang telah membaca autobiografiku suruh datang ke rumahku ini, aku ingin melihat murid itu, murid yang beranggapan baik padaku, aku hanya ingin melihat seperti apa watak asli pahlawannya,“ tuturku.
”Tapi ...,“ ucapan Guru Sukada dijeda.
”Tenang saja, fitnah itu hanya untuk murid-murid generasi kedua, tidak termasuk dunia luar,“ selaku dengan santai.
Namun mereka terdiam dalam perenungan nan dalam, beberapa detik kemudian, Guru Sukada berkata, ”Kalau memang begitu, kamu harus siap menanggung risiko terburuknya, apapun itu risikonya.“
Tak bicara, aku hanya mengangguk dengan mantap dan semua orang sengap menerima permintaanku.
”Ya sudah, sekarang sudah malam juga, bapak harus pulang,“ kata Guru Sukada sembari bangkit dari duduk.
”Kakak juga harus pulang,“ sambung Kak Farka.
”Kakak juga, besok siang kakak jemput,“ sahut Kak Fikia dengan menatapku dalam senyum.
Maka aku pun berjengkit, sekaligus mengantar mereka menuju pintu depan rumah, sesaat setelah mereka mengenakan alas kakinya masing-masing, kami sempat saling berpamitan, pertama aku mencium penuh hormat pada tangan kanan Guru Sukada.
”Ingat, kalau masih butuh apa-apa, kamu bisa panggil bapak,“ pesan Guru Sukada.
”Iya siap!“ balasku dengan antusias.
”Semangat selalu!“ tambah Guru Sukada dengan mengangkat kepalan tangan ke dekat kupingnya, memberi kesan semangat.
Aku mengangguk mantap, lalu Guru Sukada melangkah pergi terlebih dulu.
Tapi tiba-tiba, Kak Fikia malah memelukku erat, seraya berujar, ”Sebagai seorang wanita, aku bangga padamu, Laisa!“
Sebenarnya aku tidak tahu apa yang dapat dibanggakan dari gadis bodoh sepertiku, tapi, aku cukup 'wow' saja dengan itu.
Selepas sanjungannya itu, Kak Fikia melepaskan pelukkannya, dengan memegang kedua bahuku erat, menatapku intens dan aku bisa tahu, bahwa tinggiku setara dengan hidungnya.
__ADS_1
”Sampai jumpa lagi,“ kata Kak Fikia sembari melepas genggamannya pada bahuku, kemudian berjalan pergi.
Terakhir Kak Farka, dia berdiri di depanku menyisakan jarak satu jengkal, jika dia mau, dia bisa menyentuhku. Dan benar saja, tangan kanannya memegang bahu kananku, sedangkan aku hanya mampu mendongak demi memandang wajah berkarismatiknya.
”Hehehehe ....“ Kak Farka malah cengengesan tidak jelas. Tapi, faktanya adalah, ini kali keduanya aku melihat Kak Farka tertawa.
”... mari berjuang bersama-sama, kehidupan baru saja dimulai, jangan berputus asa ... ketika kita masih bisa membuat asa,“ tutur Kak Farka.
Aku terdiam sejenak, namun mengangguk pelan setelahnya. Dan Kak Farka melepaskan tangannya dari pundakku, ia melangkah mundur seraya berkata, ”Assalamu'alaikum.“
”Wa'alaikumsalam,“ balasku.
Lantas Kak Farka berbalik badan, dan melangkah pergi. Hanya saja, selang beberapa detik, aku teringat sesuatu.
”TUNGGU KAK!“ seruku meminta penangguhan.
Sontak Kak Farka kembali berbalik badan dengan memandangku, namun secara pelan ia melangkah mundur. Dia berada tiga meteran dariku.
”... apakah sejarahku sempurna?“ tanyaku penasaran.
”Kita lihat nanti digenerasi kedua,“ jawab Kak Farka tanpa menjawab dengan pasti pertanyaanku.
Karena aku tak mau ambil pusing, aku hanya mengangguk-angguk, dan Kak Farka melambaikan tangan kanan padaku, lantas kembali berbalik badan, berjalan bersama Guru Sukada serta Kak Fikia. Selain mereka melangkah menuju gerbang rumahku, mereka pun tentunya melangkah pergi, menuju kesibukannya yang lain.
Akhirnya, kututup pintu, dan kembali ke dalam rumah untuk beristirahat.
Aku bersyukur, bahwa aku, memiliki orang-orang yang selalu mendukungku, tak peduli aku nakal, aku selalu mendapatkan keselamatan.
Di mataku kebencian dan cinta adalah kematian
Kekalahan dan lantunan Do'a membentuk kepasrahan
Perang dan perdamaian selalu diperebutkan
Namun seribu yang hilang satu yang bersenang-senang
Membayangkan perdamaian dalam untaian do'a
Meredakan kekecewaan dalam harapan
Jiwaku yang luka kini menanggung kesedihan
Seakan syahdu do'amu mengundang mala petaka
Aku ingin sembuh saat merenggut keabadian
__ADS_1
Laisa, biar aku bercerita tentang dia yang merenggut waktu
Waktu dalam kenyataan yang melahirkan harapan