
“Nih coba kamu baca bagian ini,” jari telunjuk Anka menggeser layar ponsel dan menunjukkan pesan yang membuatku tercengang.
Pesannya sebagai berikut: “Azopa, ini sudah waktunya aku muncul, dunia juga harus tahu, bahwa bullying memang harus dihentikan, dan untuk mengawalinya, mari, kita lihat Wisty yang dikorbankan.”
Pesan itu diterima tiga hari sebelum pelecehan Wisty terjadi, yang artinya sang pelaku telah merencanakan ini semua.
Pesan keduanya sebagai berikut: “Lihat Azopa, Wisty dilecehkan? Tidak panaskah kamu? Atau apa nanti harus aku tunjukkan tentang suami Laisa yang menjadi korban selanjutnya?”
Pesan itu diterima tepat ditanggal dan hari ketika Wisty dilecehkan! Lebih dari itu, ada ancaman ketiga yang diterima Azopa.
Pesannya sebagai berikut: “Lihat Azopa, suami Laisa sudah menjadi korban, dan sepertinya, Ovy yang akan menjadi korban selanjutnya.”
Itu adalah pesan terakhir yang diterima, dan menurut keterangan waktu yang tertera, hari Jum'at inilah Azopa mendapat teror, tepat pukul 06:00 pagi tadi.
“Aku sempat berkirim pesan pada sang pelaku, menanyakan identitasnya, sekaligus menanyakan tujuannya, dan setelah menghabiskan waktu yang panjang, yang berhasil aku terima hanyalah tujuan dia melakukannya, yaitu, dia melakukannya demi pembalasan dendam, karena dulu sahabat SMP-nya tewas di-bully, dan semua yang kita alami adalah perbuatan yang dialami oleh teman sang pelaku, alasannya sederhana, dia ingin kita merasakan rasa sakit seperti temannya,” ungkap Azopa sembari mengambil kembali ponselnya dari tanganku.
Mendengar pengakuannya, jelas membuat benakku menunculkan banyak pertanyaan.
“Tunggu dulu tunggu dulu,” aku mencoba berpikir mencari inti perbincangan ini.
Kini aku serta Azopa berdiri berhadapan dengan menyisakan jarak kurang lebih tiga jengkal.
“Pertanyaannya, siapa yang melakukan ini semua? Dan kenapa ini malah semakin rumit?” keluhku.
Azopa terdiam merenung.
“AARRGGGGGHHHHHHH ....” tiba-tiba aku berteriak dengan berjalan ke tengah ruangan sampai-sampai suaraku agak bergema, tambahannya aku menjambak rambutku dengan kedua tanganku.
Aku melakukannya demi meluapkan seluruh emosiku yang tertekan oleh masalah yang terasa semakin besar, tentu saja jiwaku meronta, enggan menerima masalah sepelik ini.
“Ketua, kau harus membantuku untuk menangkap pelakunya,” pinta Azopa dengan serius.
Maka aku turunkan tanganku dari rambut kremku, berdiri memunggungi Azopa, dengan harapan Azopa paham, bahwa aku tidak menyukai ini.
“PELAKUNYA SIAPA? KENAPA KITA TIDAK MINTA BANTUAN POLISI? KENAPA JUGA KAU MALAH BARU MEMBERI TAHUKU SEKARANG?” sergahku, benci dengan rahasia penting yang malah baru dibeberkan sekarang.
“Di antara murid-murid SMA ini, ya, pelakunya salah satu di antara murid. Aku tidak mungkin menelepon polisi, aku ingin membuat pelaku itu tersadar dengan cara kita menyentuh kejiwaannya, menyadarkannya dengan rasa empati, dan maaf, aku baru bicara sekarang, karena, teror ini baru frontal sekarang."
Sebuah pengakuan yang justru membuat gejolak emosi amarahku berkantaran, tentu saja aku marah, selain pengakuannya yang menurutku terlambat, itu artinya, sebagai ketua kelas aku tidak dihargai.
”Nggak! Aku nggak mau terlibat dalam masalah ini ...,“ pungkasku tanpa perundingan lebih lanjut.
”Apa? Tapi ketua kelas,“ sela Azopa dengan menghampiriku.
__ADS_1
Aku lalu melangkah menuju lorong, berniat untuk pergi.
”... aku mau pindah sekolah saja.“ aku memberengut.
Namun tiba-tiba tangan kananku ditarik oleh tangan Azopa, akibatnya aku berhenti melangkah bahkan sampai memutar badan ke arah Azopa.
”Dengar dulu ketua kelas!“ sentak Azopa.
Maka kini aku berdiri di depan lorong, berdiri menatap Azopa dengan kesal, kesal bahwa nyatanya, sekolahku kini malah membawa mala petaka, ditambah Azopa baru memberi tahu teror ini. Kami berhadapan dalam jarak tiga jengkal hingga pandangan kami harus saling bersirobok.
”Kenapa sampai sekarang ketua tidak paham juga?“ sindir Azopa yang masih tak aku pahami arah pertanyaannya.
”PAHAM APA HA? SELAMA AKU SEKOLAH DI SEKOLAH BODOH INI, KEJADIAN DEMI KEJADIAN DI LUAR LOGIKA MALAH MERENGGUT KEHIDUPANKU!“ aku menyentak Azopa suatu tanda bahwa jiwaku benar-benar tertekan.
”BAHKAN KALIAN SEMUA SELALU MEMBANTAH PERINTAHKU! TAK ADA YANG MAU MENURUTI PERINTAHKU! SELAMA BERADA DI SEKOLAH INI AKU MERASA TIDAK DIHARGAI!“ aku keluarkan seluruh unek-unekku pada Azopa.
”Ta-tak ada yang menghargaiku sebagai ketua kelas,“ dan berkat kalimatku itu, hatiku mulai terenyuh, cukup ironi menyadari kehidupanku kini terasa memiliki banyak masalah.
Aku tertunduk meresapi betapa ironinya kehidupanku kini. Dan dalam nestapaku, keheningan beberapa detik melingkupi kami.
”Kami menghargai gelar ketua kelas yang Anda sandang, ya, kami benar-benar menghormati Anda sebagai ketua kelas kami, tapi yang menjadi masalahnya adalah, ketua itu egois, ketua menuntut kesempurnaan, bila ada satu saja anak yang berkomentar tentang keputusan Anda, Anda akan menganggap kami tidak menghargai Anda, seharusnya Anda berpikir, bahwa di dunia ini tidak semua bisa sepaham dengan Anda, perdebatan kecil itu wajar ketua, jangan anggap itu sebagai pembangkangan. Sekali lagi aku tegaskan, ketua itu menuntut kesempurnaan,“ bela Azopa.
“Ya sudah, terserah, aku mau pindah sekolah, kau saja yang jadi ketua kelasnya, aku lebih baik sekolah di rumah saja,” tukasku lalu berpaling pergi.
Aku melangkah di lorong, dan kali ini Azopa tak lagi menghalangiku, sepertinya dia menyerah dengan sikapku.
Hingga sampailah aku di luar perpustakaan, dan terus melangkah menuju gerbang sekolah, aku akan langsung pulang, tak sudi lagi bersekolah, malas dan tak berguna juga. Namun teman-temanku telah berkerumun di depan kelas, seluruh mata kini tertuju padaku.
Napasku naik turun secara impulsif, luapan dari geramnya pengakuan aneh Azopa, aku benar-benar tidak habis pikir, betapa bodoh dan gilanya sekolahku ini, dan kuharap tak ada sekolah senyeleneh ini di dunia mana pun, cukup sekolah ini saja yang gila.
“Eh, ketua kelas,” Wisty menyambutku dengan senyuman semringah dan dia berdiri di samping sepedaku.
“Minggir orang gila!” sentakku dengan mendorong bahu kanan Wisty.
Sontak selain Wisty yang menyingkir dengan terdorong, teman-temanku langsung memasang muka serius.
“Eh, ketua kenapa?” heran Nuita.
“Ketua kamu kenapa?” sahut beberapa gadis lainnya.
Aku menunggangi sepedaku, aku memang memasang muka kesal, dan rasanya ingin sekali membakar sekolah ini. Ya, sekolah aneh tanpa adanya OSIS, atau jadwal piket, lebih-lebih adanya guru yang aneh, yang malah menyuruh membuat autobiografi, alih-alih sebagai perpisahan sekolah, malah berdalih sebagai penelitiannya, insentif bodohnya adalah, teman-temanku yang gila semua.
“Aku nggak tahu harus berbuat apa, tapi ketua kenapa menyebutku orang gila?” tanya Wisty dengan polos sembari menggaruk bahunya dan ia nampaknya sakit hati.
__ADS_1
Wisty berdiri di samping kiriku dan raut mukanya seketika kuyu, maka kuarahkan setengah tubuhku padanya.
“He! Jadi cewek itu jangan cengeng!” aku menyentak Wisty hingga kening dia mengernyit.
Lalu aku menatap satu persatu teman-temanku, dan dalam kesal aku berkata:
“He! Kalian semua di sini itu dididik untuk jadi orang gila! Sekolah kita ini adalah sekolah untuk membentuk orang gila!”
Maka jelas sudah, seluruh teman-temanku tersindir.
“Maksud lo apa ha?” tanya Stovi yang berdiri di teras sekolah.
“Kenapa ketua kelas?”
“Ya kenapa sih?”
“Kenapa?”
Hingga seluruh teman-temanku mulai bertanya-tanya. Mereka sepertinya tidak menyangka dengan fiilku yang sekarang.
Tapi masa bodoh dengan itu, aku akan mulai menggoes sepedaku, tapi baru saja kaki menapaki pedal sepeda, seorang anak bermata sipit mengadangku dengan tangan mendepang, Anka berdiri tepat di depanku hingga satu jengkal adalah sisa jarak ban depan sepeda dengan kaki Anka.
“Tunggu dulu, kau itu kenapa?” tanya Anka menyelidik.
“AKU MUAK DENGAN SEMUA INI! TEMAN-TEMAN KITA SEMUA ITU GILA! SEKOLAH INI JUGA GILA! AKU SUDAH MUAK!” bentakku sekeras mungkin, bila perlu dunia menyadari lantangnya suaraku ini, lebih dari itu, dunia harus tahu, bahwa dari jutaan sekolah di alam ini, ada sekolah yang murid-muridnya dan gurunya gila semua, ya SMA Lily Kasih.
Kedua tangan Anka kembali diturunkan, dia termenung.
“Ketua kelas,” beberapa temanku mulai menyayangkan sikap lancangku.
“Aku nggak tahu harus berbuat apa.” Wisty tertunduk merenung dan wajahnya kuyu.
Teman-temanku memang tidak pernah menghargaiku sebagai ketua kelas, itu semua telah terbukti hari ini, bahwa untuk masalah teror sepenting ini saja harus ditutupi, dan aku curiga, mungkin saja mereka masih menyembunyikan sesuatu dariku.
Namun, aku tak mau menambah beban pikiranku, sehingga, tanpa banyak basa-basi aku goes pedal sepedaku, melintas di samping kanan Anka, melintas meninggalkan teman-temanku. Tak ada yang berusaha mencegatku, mereka telah pasrah dengan sikap lancangku, bagaimana pun, aku memang tidak suka jika diperintah-perintah tidak jelas. Hari ini, aku benar-benar akan merdeka, kutatap gerbang sekolah yang terbuka, namun sebelum itu, aku mendengar Anka mengomel pada Azopa, bahkan teman-temanku terdengar ikut berkeluh kesah pada Azopa.
“Azopa, apa yang tadi kalian bicarakan?”
“Ya Azopa, tadi kalian bicara apa?”
Mereka ternyata tidak tahu topik pembicaraanku dengan Azopa. Hanya saja, berkat jarakku yang semakin menjauh dari mereka, ucapan mereka pun menjadi saru. Dan bonusnya aku ludahi gerbang sekolah, tanda betapa jijiknya aku bersekolah di sini, mungkin bisa saja aku malah fobia bersekolah.
“Semoga lekas hancur sekolah ini!” umpatku menyumpahi.
__ADS_1
'KRING-KRING'.
Akhirnya aku pun pergi dari sekolah, menggoes menuju rumahku, sekarang aku tak perlu lagi menghadapi masalah yang begitu rumit, bebas sepenuhnya. Satu hal yang penting, dua mobil polisi sempat terparkir di parkiran sekolah. Mungkin kasus ini akan semakin memanas, namun persetan dengan itu, karena hari ini juga, aku sudah merdeka.