
Aku buru-buru menuju pintu depan rumahku, lantas mendedahnya penuh emosi. Dan mataku langsung terfokus pada apa yang tersaji di depanku. Bersyukur! Itu yang pertama aku lakukan, sebab, teman-temanku, benar-benar telah datang ke rumahku, terlebih mereka masih mengenakan seragam sekolahnya, lengkap dengan tas gendongnya.
“Hai Laisa.” Beberapa teman wanitaku menyapaku.
Namun aku tak menanggapi, karena mataku tengah bergerak liar mencari Oteda, dan tepat! Anak gemuk itu berada di belakang.
Sontak aku langsung menyelinap diantara kerumunan teman-temanku, melangkah terburu-buru.
“AWAS AWAS AWAS!” sentakku dengan mendorong bahu teman-temanku agar memberiku jalan.
“Eh Laisa?”
“Waduh Laisa kenapa nih?”
Teman-temanku mulai cemas terhadap sikapku yang mendadak kembali berubah ganas. Dan saat sudah dekat dengan Oteda, seketika aku arahkan kaki kananku pada perut Oteda, membuat gaya dorong sekuat tenaga.
Dan 'bhuak' Oteda langsung terhunjam ke jalan setapak rumahku. Akibat aksi brutalku, serentak seluruh teman-temanku seketika mengerubungiku, Cludy, Sentia, Kily, dan Vume, memegang tangan serta bahuku.
Oteda hanya terbaring di atas jalan setapak yang berlapis tanah, raut mukanya datar bagai tak merasakan apapun. Namun kini, suasana langsung berubah tegang secara mendadak.
“Tenang dong Laisa!”
“Kenapa ini?”
“Kenapa kau kasar Laisa?”
“Tenang dong!”
Teman-temanku tidak terima perlakuan kasarku.
“DIA ADALAH PELAKU TERORNYA!” bentakku dengan menarik kedua tanganku dari genggaman Cludy dan Vume, tapi gagal.
Kala Fakta tersebut didengar oleh teman-temanku, semua hanya menampilkan reaksi tanya, sengap masih ragu.
“Wah jangan gegabah begitu dong Laisa.” Loze tak percaya.
“Iya, nggak bisa begitu.” Perto menimpali.
“Harus ada buktinya.”
“Lepaskan aku!” hardikku berusaha melepaskan diri dari cengkraman Cludy, Sentia, Kily, dan Vume.
Dan tiba-tiba, tanpa ragu, tanpa takut, Oteda menceletuk, “Jadi aku sudah ketahuan ya.”
“DENGAR ITU!” sentakku berusaha menegaskan sebuah kebenaran yang diucapkan Oteda.
“Mana ada maling mengaku.” Stovi masih tak percaya.
Sedangkan teman-temanku masih bergeming menimbang-nimbang kebenaran di depannya.
Mendadak Oteda mulai berusaha membangkitkan tubuh gemuknya sambil berkata, “Tidak apa-apa teman-teman, aku memang pelaku terornya.”
Jelas sudah cengkraman dari Cludy, Sentia, Kily, dan Vume, seketika terlepas, hingga beberapa temanku mulai menatap serius pada Oteda. Dan kini dalam jarak satu meteran, Oteda telah berdiri menatap kami, terlebih raut mukanya begitu datar, sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.
__ADS_1
Aku pun sebenarnya kaget dengan pengakuan Oteda yang blak-blakan itu, karena memang, biasanya pelaku kriminal mana ada sih yang mengaku, apalagi tindakan kriminal Oteda sangatlah kejam. Kecuali dia punya gangguan psikis, atau memang dia tak sengaja melakukannya.
Tak lama kemudian, Azopa pun melangkah maju berdiri di sampingku, lalu berkata, “He Oteda, kau jangan main-main.”
“Aku tidak main-main, aku menikmati permainan,” balas Oteda dengan santai.
“Eh?” Teman-temanku terkejut dengan ucapan Oteda yang terus terang.
“Oteda, apa benar kau pelaku terornya?” tanya Azopa memastikan.
“Iya, aku yang melukai Ovy, aku membayar si Ken untuk berbuat cabul pada si Wisty, aku menggunakan peledak di perpustakaan, akulah dalang di balik teror ini,” jawab Oteda blak-blakan bahkan ia terlihat bangga telah melakukannya.
Maka jelas sudah, semua temanku mau tidak mau harus menerima kebenaran pahit itu dengan kuyu, meski sebenarnya mereka pasti juga marah, Oteda yang dipandang baik-baik, tetapi kenyataannya dia tak baik, jelas, Oteda telah membuat kami semua kecewa. Namun, saat gejolak amarahku telah meluap, kala aku hendak maju untuk menghajar Oteda, secara mendadak, Nuita tiba-tiba ambruk ke tanah, lebih dari itu, dia sampai kejang-kejang!
“Nuita kenapa?” cemas Wisty.
“Nuita!” Beberapa temanku panik.
“Woy ini Nuita kenapa?” Cludy panik.
Berkat kejadian itulah, suasana kini berubah jauh lebih tegang, teman-temanku menjadi panik tak karuan. Nuita kejang-kejang hingga mulutnya mengeluarkan busa warna putih.
“Bawa ke rumah sakit!” pinta Azopa.
Dan kala aku menatap Oteda, raut mukanya tetap datar, hingga dia berkata, “Tersenyumlah Laisa, agar kau menjadi pahlawannya.” Bahkan untuk ini raut mukanya masih datar, tak menyiratkan emosi apapun.
Sontak berkat sindirannya tersebut, gejolak amarahku, memberiku dorongan kuat, maka aku mulai maju untuk melancarkan pukulan, berniat meluapkan emosi amarahku padanya.
'Drap-drap-drap-drap'.
“APA YANG KAU LAKUKAN OTEDA!” bentakku, berusaha mengetahui maksud perbuatan Oteda.
“Ketika kata-kata tidak bisa mengubah kenyataan, apakah dengan kekerasan kamu meluapkan ketidakberdayaanmu?” sindir Oteda dengan intonasi datar dan mata kirinya agak membiru bonyok.
“Berengsek kau!” balasku.
Dan kemurkaanku berhasil mendorong jiwaku untuk menginjak perut Oteda, 'buak' aku menginjak perut Oteda dengan telapak kakiku.
Suara-suara manusia-manusia yang panik sampai tak aku pedulikan. Udara serta suasana damai di pekarangan rumahku pun tak aku pedulikan. Tak hanya sekali aku menginjak perut Oteda, tetapi kali ini berkali-kali aku menginjaknya penuh emosi.
'Buak buak buak buak buak'.
“Ayo bunuh aku! Agar dunia dihuni oleh para pembunuh!” kata Oteda dengan lantang.
”Berengsek!“ umpatku.
”Laisa cukup!“ sentak Kak Farka dengan melangkah mendekatiku.
”Kekerasan tak akan mengubah takdir!“ imbuhnya memberiku peringatan.
”INI HUKUM!“ bentakku dan terus menginjak perut Oteda.
”UHUK UHUK UHUK ....“ Oteda terbatuk-batuk.
__ADS_1
”Teman-temanku terluka gara-gara anak muda gila ini!“ lanjutku membentak.
”Tak ada hukum yang menggunakan hawa nafsu! Balas dendam adalah kejahatan!“ sentak Kak Farka sambil menarik tangan kananku dengan kasar dan membuatku menjauh dari Oteda, terlebih aku terpaksa berhenti menginjak perutnya.
”TIDAK! KAKAK TIDAK MENGERTI! BAHWA TEMAN-TEMANKU TELAH TERLUKA! BAHKAN SUAMIKU TELAH TERLUKA! AKU AKAN MENGHUKUMNYA DENGAN TANGANKU SENDIRI!“ Aku bersikukuh.
Hingga Kak Farka dan aku menatap tajam saling bersirobok.
“hahahaha ... lucu sekali.” Namun pandangan kami beralih seketika pada asal tawa seorang Oteda.
Laki-laki gemuk itu tertawa dengan berusaha bangkit dari terbaring, aneh, dia tertawa akan perdebatanku.
“Uhuk-uhuk-uhuk.” Oteda terbatuk-batuk saat berusaha bangkit, lebih dari itu, saat dia berdeku, mendadak dia muntah, tapi wajib dia syukuri, karena itu bukan muntah darah, hanya muntah air, dan untungnya hanya air bening yang dimuntahkan, sehingga tidak mengotori pekarangan rumahku.
“Aku sudah belajar dari sejarah, bahwa agama, ideologi atau bahkan cita-cita termulia sekalipun, manusia tidak akan pernah bersatu,” ujarnya.
Aku dan Kak Farka terdiam memandang Oteda yang perlahan bangkit dengan tangan kanan memegang perutnya. Kami menatapnya begitu intens.
“Kalian hanya akan menumpahkan darah dan saling membenci, itu sebabnya, aku memilih menjadi orang gila dan belajar untuk menikmati rasa sakit sebelum mati,” lanjutnya dengan menatapku acuh tak acuh.
”Apakah dengan cinta kita bersatu? Atau dengan agama kita bersatu? Atau karena ikatan pertemanan kita bersatu? Tapi ujungnya, kebencian, rasa iri dengki, dan kita tetaplah ingin menjadi pemenang.“ Sekali lagi Oteda malah bicara melantur. Aku malah tak tahu apa maksud tujuannya bicara begitu.
”Kau itu bicara apa sih?“ ejekku.
”TEMANKU TEWAS! YA! TEMAN-TEMANKU TEWAS KARENA DIA BERBEDA DARI KITA SEMUA!“ teriak Oteda menyuarakan alasan sakit hatinya.
Bersamaan dengan itu angin berembus agak kencang, seolah alam sekitar memahami maksud ucapan Oteda, atau tepatnya, alam pun mendengar, sedangkan aku mengernyit kening, memandangnya dengan serius. Aku bingung.
”Lalu apa masalahnya dengan kami?“ Aku menyentaknya, karena bagaimana pun aku bingung.
”Karena kalian adalah manusia yang sama-sama haus akan kemenangan, maka aku hadir untuk membuat kalian memahami rasanya kekalahan dan terhinakan,“ balas Oteda dengan lugas nan mantap.
”Dan dengan penderitaan ini, kalian akan memahami, bahwa, kalian bersatu ... karena kalian membenci hal yang sama,“ lanjutnya.
”Errrgggghh ...,“ aku mengerang gemas ingin meninju wajah Oteda. Dan aku berusaha untuk maju menghajarnya.
Tapi sayang tangan kananku digenggam erat oleh tangan kiri Kak Farka, membuatku tidak bisa meninju wajah Oteda, lebih-lebih berkat kekuatan tangan kiri Kak Farka aku sampai harus tertarik ke belakang, dijauhkan dari Oteda.
”Lepaskan aku!“ Aku menyentak Kak Farka, bahkan untuk ini aku sampai menatap wajahnya.
Namun Kak Farka tak menanggapi, raut muka seriusnya hanya terpampang pada Oteda.
”Kau terlalu menganggap serius kehidupan ini, dibawa santai pun kehidupan tetap berjalan,“ kata Kak Farka.
Tetapi, Oteda menyeringai jahat mendengar ujaran Kak Farka, lantas berkata dengan santainya, ”Oh begitu, aku terlalu serius ya ... lalu ... apakah jika aku menghina agamamu, apa kau berani bicara seperti itu?“
Sontak aku bergeming mendengarnya, ranah ini sudah sangat serius, bahkan Kak Farka pun terdiam.
”Saat aku pun masih anak-anak, ibuku berkata untuk tetap santai menghadapi kehidupan, tapi sayang ... saat aku melihat rasa sakit dan kematian, apakah aku harus tertawa menganggap semuanya biasa saja? Ketika segolongan orang menginjak-injak golongan yang lebih kecil, apakah itu harus dianggap santai? Dan ketika rasa sakit ini hanya dialami oleh seorang diri, apa kalian yakin bisa saling memahami? Kalian semua harus masuk ke dalam neraka, agar kalian tahu, bahwa hidup tak semudah bacot kalian ...,“ papar Oteda.
”... insiden, peristiwa, sejarah, jiwaku kini terbentuk karena sejarah, aku tak punya agama, karena aku adalah penganut paham deisme, dan jika kalian ingin membunuhku, aku sudah siap, tapi tolong pastikan, bahwa dunia ini bisa damai, dan bila tidak, aku akan terus hidup dalam setiap jiwa yang memiliki cinta, lalu kuubah menjadi kebencian,“ imbuh Oteda dengan raut muka datar masih memegang perut agak membungkuk.
Aku serta Kak Farka bergeming, tak tahu harus bicara apa, hanya saja, emosi amarahku semakin berkantaran.
__ADS_1
Kemudian mata hitam Oteda terfokus tajam padaku, lantas berkata, ”Jika gelar ketua kelas itu berharga bagimu Laisa, jika kau ingin dihormati Laisa, maka, menyelamlah pada penderitaan yang sama seperti murid-murid yang lain, agar kau tahu, bahwa setiap manusia juga ingin dimanusiakan.“
Aku hanya terdiam, tak terlalu menanggapi perkataan Oteda begitu serius, karena siapa yang mau mendengar ocehan orang gila? Dan aku, hanya menikmati napasku yang tersengal-sengal, aku juga masih bergigit marah, dan kulihat beberapa temanku mulai membawa Nuita pergi dari rumahku, kemungkinannya mereka akan membawa Nuita ke rumah sakit, namun, sisa murid kelas 12 masih berada di sini, kami mengerubungi Oteda karena dia memang seorang pelaku kriminal.