
Ketika air mata dan penderitaan hanya dipahami diri sendiri
Maka bagi mereka yang menertawakan adalah alasan bagi kami untuk menciptakan perang
Di pukul 15:40 siang hari nan cerah, dengan udara yang sejuk dan hatiku yang mulai tenang, ketenanganku ini bukan lain karena, tak ada siapapun yang berusaha menghalangiku pindah sekolah, terlebih aku aku tidak akan sekolah di SMA nyeleneh itu.
Aku telah tiba di rumahku yang mewah, sepeda telah aku taruh di garasi, meski hatiku mulai tentram, tetapi pikiranku kini bingung, aku masih belum tahu harus bersekolah di mana.
Dalam kebingunganku itu, aku duduk santai di sofa ruang tengah, menyalakan televisi tanpa fokus menonton acaranya, kendati aku duduk santai, pikiran bingungku tiba-tiba menemukan secercah harapan, bahwa SMA Pekerti, adalah satu-satunya SMA yang dekat dengan rumahku dan pikiranku merujuk untuk bersekolah saja di sana.
Hanya saja, aku masih ragu sekolah di SMA Pekerti itu, SMA suamiku dulu. Keraguanku terletak karena SMA Pekerti itu adalah rival dari SMA Lily Kasih, takutnya ada teman-temanku yang membenciku karena sekolah di sana. Maka pikiranku kembali berkutat menimbang-nimbang keputusan apa yang layak diambil.
Hingga akhirnya, setelah aku berpikir, sekaligus menikmati sisa waktu dengan berleha-leha, besok aku putuskan akan pindah sekolah ke SMA Pekerti. Ya! Itu pertimbangan terakhirku.
Hari pun pada akhirnya berganti, kini adalah hari Rabu, cuaca pagi hari sangat cerah, berkat alasan itulah, aku Laisa, akan mencoba mengetahui rasanya sekolah di SMA Pekerti. Sekarang tepat pukul 09:10, waktu di mana seluruh murid istirahat dari jam pelajaran.
Dan saat ini juga, aku telah berdiri di dalam area sekolah, sebelumnya aku sudah meminta izin pada satpam sekolah untuk diperbolehkan masuk ke sini, alasannya sih mau pindah sekolah ke sekolah ini. Di sinilah aku, di sekolah, SMA Pekerti, sekolah yang katanya dikerubungi oleh manusia-manusia 'gaul' dan sekolah yang paling favorit di kota Artana, ruang kelas sangat banyak di sini, gedung sekolah memiliki tiga lantai. Kini aku mendapati beberapa murid yang berlari-lari seperti kucing-kucingan, sedangkan murid-murid lainnya hanya lalu lalang. Area sekolah yang luas membuatku bingung mengetahui ruang guru di sebelah mana.
Aku sudah melangkah di teras sekolah, hari ini aku berpenampilan seadanya, baju nuansa hitam dengan celana denim biru panjang, bonusnya aku pakai sandal jepit. Selama aku melangkah sendirian di teras ini, aku pandangi beberapa kelas yang sempat aku lalui, tak terkecuali tingkah laku murid-murid di sini. Tak ayal, selain sama-sama saja di sekolahku dulu, murid-murid juga hanya terlihat biasa-biasa saja, tak ada yang spesial.
Sebenarnya ini adalah kali pertamanya aku menginjakkan kaki di SMA Pekerti, sehingga aku agak bingung mengetahui ruangan-ruangan apa saja yang ada di sini.
Namun langkahku terhenti kala mata biruku tak sengaja menangkap sesosok cowok yang tengah berdiri sendirian, memandangi bunga-bunga yang tertanam di depan teras. Laki-laki itu berdiri dengan tangan kanan terselip ke saku celana panjang sekolahnya.
Entah kenapa batinku mendadak ingin sekali mendekatinya, maka berkat dorongan aneh ini, aku berjalan mendekati cowok sang penatap bunga itu.
Dan tepat saat aku telah berdiri di samping kanan cowok ini, dia mulai menoleh padaku, aku tidak tahu persis wajahnya bagaimana, karena aku masih memandang ke depan pada lapangan upacara. Sebagai seorang wanita, rasa gengsi untuk memulai bicara pada laki-laki yang baru ditemui membuatku sengap.
Cowok ini tak bicara, dia malah kembali menunduk memandang bunga-bunga, sedangkan mataku sesekali mengerling demi bisa melihat wajahnya, hanya sekilas dan itu pun dari samping aku melihatnya. Aneh juga sih rasanya, menyadari diriku yang sekarang sangat penasaran dengan wajah seorang cowok, padahal biasanya perasaan aneh seperti ini tak pernah aku alami.
Mungkin saja wajah cowok ini banyak dihinggapi lalat, atau hidungnya banyak mengeluarkan ingus, atau jangan-jangan cowok ini sebenarnya cewek, atau parahnya lagi wajah cowok ini malah berlumut. Aku penasaran, dan seiring berjalannya waktu, rasa penasaran ini semakin tumbuh menggerogoti jiwaku.
__ADS_1
Aku masih gengsi untuk bicara, bahkan baru aku sadari, jantungku berdegup kencang kala berdiri di sampingnya.
Aku tidak bisa diam saja, rasa penasaranku telah berkantaran, maka aku menelan salivaku demi menguatkan mentalku, namun seluruh niatku untuk bicara buyar seketika, karena cowok ini yang pertama bicara.
“Lagi menunggu teman ya?” tanya sang cowok penatap bunga.
Sontak, aku langsung menoleh ke kiri untuk menatap wajah cowok ini, dan tak disangka cowok penatap bunga ini juga menoleh padaku, sepontan kutelan salivaku, karena kini kami saling bersirobok, beberapa detik, kami terlelap dalam tatapan penuh tanya, namun ada senyuman dari bibir tebalnya yang mengembang untukku, sebelum akhirnya cowok ini kembali berpaling muka.
Hanya laki-laki biasa, aku hanya setinggi alisnya, namun, jantungku telah berpacu karenanya, bahkan sekujur tubuhku dilanda kegugupan. Aneh rasanya menyadari perasaanku yang sekarang.
“Aku mau pindah sekolah ke sini,” kataku.
“Oh, memangnya asal sekolahmu di mana?” tanya cowok penatap bunga.
“SMA Lily Kasih,” jawabku singkat.
“Ah, sekolah yang terfavorit, sekaligus sekolah dengan murid-muridnya yang aneh,” balas cowok penatap bunga dengan santai.
”Kalau nggak salah, kemarin baru saja ada kasus teror kan, yang udah merenggut nyawa dua murid? Terus pelakunya sendiri bunuh diri,“ usutnya.
”Iya.“ aku hanya menjawab dengan singkat.
”Kamu tahu kenapa si pelaku melakukan teror?“ tanya sang penatap bunga penasaran.
”Aku juga bingung sih, katanya dia ingin kami merasakan rasa sakit yang sama, agar kami saling mengenal, tapi ... ahk bingung, tujuannya nggak jelas.“ aku menjawab seadanya dan masih menatap ke depan pada lapangan upacara.
”Hmmm ... ya, mungkin dia punya kelainan, atau ... ingin kita memahami arti dari penderitaan,“ sangka penatap bunga.
Aku cuman manggut-manggut, tak terlalu berkeinginan untuk membicarakan kasus teror itu.
”Oh iya, gue turut berduka, soal temanmu yang jadi korban ...,“ papar cowok sang penatap bunga dengan menoleh padaku.
__ADS_1
”Kehilangan teman yang berharga pasti menyakitkan, apalagi ... teman itu sudah lama di sekitar kita,“ imbuhnya.
Namun, tiba-tiba entah mengapa, pikiranku malah tersentuh oleh kata-katanya. Perasaan unik yang hanya muncul kala kata-kata terasa memberikan jawaban yang selama ini aku cari. Benar, kata-katanya yang menurutku begitu bermakna terutama dalam hidupku yang sekarang. Ada sesuatu yang muncul jauh dalam batinku, jauh menuju hatiku, perasaan aneh ini terasa mengalir pada seluruh darahku lalu menyentuh pikiranku secara serentak.
”Kehilangan teman yang berharga pasti menyakitkan, apalagi ... teman itu sudah lama di sekitar kita.“
Itulah yang kini terbayang-bayang dalam kepalaku, entah mengapa jiwaku tersentuh oleh kalimatnya, bahkan biasanya aku selalu masa bodoh dengan kehidupanku. Hanya saja, kali ini, detik ini, perasaan unik ini, telah memberiku suatu kesadaran tentang jiwaku, tepatnya, empatiku tergerak. Aku telah tersentuh hanya oleh kata-kata, dan kata-kata itu pun dari orang yang tak aku kenal.
Dan kali ini, perasaan yang unik ini, perlahan berubah menjadi secercah ilham, aku berpikir dengan teman-temanku di kelas 12 SMA Lily Kasih, aku mulai berpikir apakah mereka ingin aku pindah sekolah atau tidak, benar, aku rasa ikatan batin pada teman-temanku kini mulai terjalin, suatu yang pernah temanku sebut, sebagai bagian dari kelas 12.
Angin pun berembus kencang, memberikan perasaan unikku semakin tedas, suasana pun terasa sejuk, benar-benar terasa aneh.
Tanpa berlama-lama lagi, tanpa banyak bicara, aku langsung berpaling pergi untuk menemui teman-temanku, aku hanya ingin mengatakan pada mereka, bahwa aku telah memercayai kata maaf yang sempat mereka ujarkan.
”Selamat tinggal! Semoga lo mendapatkan apa yang lo cari!“
Aku tak menggubris kata-katanya itu, aku terus melangkah untuk bertemu dengan teman-temanku, solidaritas! Dan saling percaya, Itu yang akan aku tunjukan terakhir kali pada mereka.
Kini, aku telah berada di luar SMA Pekerti, berdiri di seberang sekolah, tepat di pinggir jalan beraspal.
Untung bagiku, saat tadi siang, aku telah membeli kartu SIM ponsel pintarku, sehingga aku bisa menelepon teman-temanku. Pertama, aku berusaha menelepon Azopa, aku ingin tahu dia sekarang berada di mana. Aku tempelkan ponsel ke kuping kananku, berusaha mendengar suara Azopa dari ponsel.
Tapi tunggu! Saat panggilan telepon telah diangkat, seorang gadis yang malah menjawabnya.
”Halo! Azopa halo! Ini aku Laisa!“ seruku.
”Hnnnng hiks, ke-ketua kelas ... cepat, hiks, datang kemari,“ jawab Cludy dari ponsel bahkan berbicara dengan menangis sedu sedan.
”ADA APA CLUDY? KEMARI ITU KE MANA?“ desakku menjadi panik.
”Ke aula olah raga ... hiks,“ isak Cludy dari panggilan telepon.
__ADS_1
Maka aku mematikan panggilan telepon, berlari menuju SMA Lily Kasih sambil memasukkan ponsel ke saku celanaku.