
“Laisa, kenapa kamu bingung mencari pelakunya? Kenapa tidak kamu suruh semua temanmu menginap di rumahmu, lalu kamu pantau mereka, kamu bisa pantau lewat kamera pengawas.” tiba-tiba sebuah ucapan yang mengandung ide cemerlang muncul dari mulut Kak Farka.
“Eh, iya juga, kenapa baru kepikiran.” Sontak aku langsung menoleh pada Kak Farka.
“Tapi, masa sih polisi nggak bisa menangani masalah ini, bukannya polisi sudah tahu 'kan masalah ini, apa lagi sudah masuk berita di TV, dan harusnya aku juga diwawancara 'kan?” heranku.
Kak Farka tertawa kecil, lalu berkata, “Makanya sekolah, biar tahu apa yang terjadi di sana.”
Seketika aku senderut mendengar sindirannya.
“Hari ini, seluruh murid dipantau oleh pihak kepolisian, selama 24 jam polisi akan memantau murid-murid SMA Lily Kasih,” ungkap Kak Farka membeberkan fakta yang baru kuketahui.
“Loh, apa aku nggak diikut sertakan?” selidikku.
“Tentu saja kamu ikut, itu sebabnya kakak datang,” jawab Kak Farka.
“Tunggu, 'kan kakak bukan polisi?”
“Ya bukan, kakak bekerja sama dengan pihak polisi sebagai penanggung jawabmu, semua murid juga begitu, sederhananya ada orang-orang yang dijadikan mata-mata dadakan, atau tepatnya kalian dipantau oleh para detektif,” sanggah Kak Farka.
“Oooooh polisi yang menyamar,” jelasku.
“Ya, kurang lebih begitu, karena kalau polisinya tampil secara langsung, sang pelaku sulit untuk ditangkap.”
“Berarti, kemarin, ada mata-mata dong pas teman-temanku datang?” usutku.
“Oh, teman-temanmu datang kemari? Hmmm ... intinya sih, semua diawasi, jadi, teman-temanmu ya, dipantau juga.”
“Eh, tapi apa murid-murid tahu masalah ini?” aku menyelisik dengan serius.
“Nggak, baru kamu saja.”
Aku manggut-manggut meresapi penuturan Kak Farka.
“Oh iya, kakak lupa,” Kak Farka mengingat sesuatu.
Spontan mataku langsung tertuju pada Kak Farka.
“Tadi 'kan ponselmu terdapat pesan teror di salah satu aplikasi, nah, layar ponselmu itu kakak berikan pada pihak polisi untuk dicari tahu sidik jarinya, dan tak disangka, ada hasil mengejutkan yang didapat,” beber Kak Farka.
Mendengar kalimat tersebut sontak membuatku memusatkan perhatian pada mulut Kak Farka, terkesiap mendengar fakta yang mungkin terucap, bahkan untuk ini aku menelan salivaku.
“Pelakunya ... Oteda,” pungkas Kak Farka.
Mataku seketika terbeliak, terperangah beberapa saat mendengar ucapannya. Tak disangka, begitu cepatnya sang pelaku terkuak, kalau sudah begini, maka aku bisa berbuat sesukaku.
“Ha? Ma-maksudnya, pelaku teror itu, Oteda? Si anak gemuk itu?” usutku.
“Itu sebabnya kakak minta kamu pantau di rumahmu ini, kita cari tahu.” Kak Farka hanya memberi anjuran.
”Tapi, hebat banget kakak bisa sampai berpikir ke situ, aku saja masa bodoh dengan sidik jari,“ sanjungku.
”Hahaha ... justru kakak mengira kamu pelakunya, sebab pesan teror itu kan tertulis di aplikasi untuk menulis, tapi setelah dibaca dengan saksama justru kamulah yang diteror, nah untuk memastikannya kakak bawa ke polisi dan hasilnya, sidik jari Oteda ada di layar HP-mu,“ bantah Kak Farka.
__ADS_1
”Wah nggak menyangka, masalah ini akan selesai dengan cepat,“ kataku dengan menyeringai jahat.
Aku senang mengetahui fakta tersebut, dan lebih senang kala tahu bahwa Oteda akan menjadi bahan keroyokanku bersama teman-teman.
”Jangan menjustifikasi langsung! Terkadang apa yang nampak di depan mata hanya kebohongan belaka, menurut teman kakak yang bekerja dikepolisian, bahwa sang pelaku bisa saja membuat 'kambing hitam' demi melindungi dirinya, tapi hipotesis kedua, menunjukkan sang pelaku melakukan kesalahan, yang artinya, pelaku ini amatir dalam bertindak jahat.“ Kak Farka memberi keterangan penting.
”Ahk bacot! Aku hajar saja semua murid, nanti juga dia mengaku,“ sindirku.
”Kalau bukan di antara mereka bagaimana?“
”Hmmmm ... apa nggak ada gitu polisi yang bisa menghipnosis teman-teman untuk bicara jujur?“ tanyaku penasaran.
”Nah, makanya sekolah, saat Ovy menjadi korban, semua murid ditanyai lewat alam bawah sadarnya, atau alam pra sadar, dan hasilnya nihil,“ sanggah Kak Farka.
”Ya udah, kalau kata-kata tak bisa membuat pelaku bicara, maka biar kepalan tangan ini yang membuatnya bicara,“ tuturku sambil mengangkat kepalan tinjuan ke depan mukakku, memberi isyarat, tentang akan adanya kekerasan.
”Kak! Aku pinjam HP-nya, hari ini masalah akan selesai,“ lanjutku sambil mengulurkan tangan kanan ke depan.
”Kita panggil dulu polisi, kamu nggak bisa bertindak gegabah seperti itu,“ kata Kak Farka meragukan tindakanku.
”Bacot! Cepat mana HP-nya!“ desakku memaksa.
Setelah mendekus pasrah, mau tidak mau, Kak Farka akhirnya memberikan ponselnya, tadinya aku mau menggunakan ponselku saja untuk menghubungi teman-temanku, berhubung kartu SIM HP-ku sudah tidak ada, maka meminjam ponsel Kak Farka adalah cara terbaik.
Aku mengirim pesan secara daring pada seluruh murid kelas 12, meminta mereka untuk bergegas ke rumahku, dan karena hari ini, hari Senin, kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung, sehingga kemungkinannya mereka datang setelah pulang sekolah.
Dan setelah selesai pesan dikirim, ponsel kuberikan kembali pada Kak Farka.
”Laisa, jangan sampai kamu menyesal.“ Kak Farka mengingatkan sembari memasukan ponselnya ke saku dalam jasnya.
Kali ini, rasa stresku akan segera terbayarkan, jemari-jemariku akan segera mendapatkan kepuasan untuk meluapkan emosiku, teror ini segera aku akhiri, ya, akan aku akhiri!
Aku sudah tidak sabar ingin menatap wajah Oteda yang akan aku buat bonyok, bahkan saat membayangkannya saja aku sudah bisa tersenyum bangga.
”Laisa, kalau kamu bertindak anarkis kakak tidak akan segan-segan bertindak kasar padamu,“ ancam Kak Farka.
Namun masa bodoh dengan ucapannya itu, aku tahu laki-laki seperti dia tak mungkin berani memukul seorang wanita. Sebab, rasa stresku sebentar lagi akan terbayarkan, aku bahkan tak menyangka, bahwa masalah ini akan berakhir dengan cepat, padahal semalam, aku benar-benar kebingungan, pikiranku kalut tak karuan, namun sekali lagi, bahwa, hari ini, masalah akan selesai dengan cepat.
Namun untuk menunggu kedatangan teman-temanku, aku sempatkan untuk bermain gim offline di ponselku, hanya bermain gim sepak bola, sedangkan Kak Farka, hanya terdiam berkontemplasi, entah apa yang dipikirkannya, mungkin makanan, karena aku juga tiba-tiba lapar, ditambah, aku belum menawarkan hidangan apapun pada Kak Farka.
Jadi kutaruh ponsel di sofa, dan sembari menunggu kedatangan teman-temanku, aku memasak mie instan di dapur, sekalian menawarkan segelas kopi pada Kak Farka, namun sayang, dia malah menolak dengan alasan masih kenyang, tawaran makan pun jelas juga ditolaknya, sehingga di ruang makan, aku hanya makan sendirian.
Rasanya aneh melihat Kak Farka hanya duduk dengan stagnan di atas karpet tanpa pegal sedikit pun, sampai-sampai, dia menjadi pemandanganku saat aku tengah bersantap.
Berkat itulah, pertanyaan-pertanyaan muncul dalam alam pikiranku. Tentang, seperti apa masa sekolah Kak Farka, seperti apa keluarganya, atau, seperti apa istrinya. Sangat aneh rasanya, kalau dekat dengan seseorang tapi tidak pernah tahu asal usulnya, tepatnya keluarganya, karena sangat tidak lucu kalau ternyata Kak Farka adalah makhluk dari dunia lain yang menyamar menjadi manusia, tapi aku yakin, Kak Farka adalah manusia.
Lalu setelah menghabiskan waktu setengah jam untuk makan, aku kembali ke sofaku, dan melihat Kak Farka masih betah duduk tegap di atas karpet, hebatnya dia tidak pegal sama sekali, bahkan, raut mukanya saja masih serius.
"Woy Kak, mikirin apa?" tanyaku memastikan, takut-takut kakak Farka malah kerasukan.
Lantas aku duduk kembali di sofa menghadap Kak Farka.
"Kakak mau kamu tidak berbuat anarkis," pinta Kak Farka dengan pandangan menginding.
__ADS_1
"Kakak lapar? Masak aja mie, kalau mau makan yang enak, beli sendiri." dan aku malah membalas perkataan Kak Farka dengan topik lain.
Tak ada tanggapan apapun dari Kak Farka, dia hanya diam dengan termenung, tatapannya pun tertunduk ke bawah.
"Kak, keluarga kakak tinggal di mana?" berkat rasa penasaranku, sebuah pertanyaan pun muncul, dan paling tidak, selama menunggu kedatangan teman-temanku, aku punya informasi baru dari Kak Farka.
"Keluarga Kakak berada di pusat kota." Kak Farka menjawab dengan eksplisit.
"Apa keluarga kakak tahu, kakak punya pekerjaan sampingan yang aneh? Maaf ya jangan sakit hati, soalnya, pekerjaan kakak yang penyemangat sosial masyarakat itu, apa mereka sudah tahu?" cecarku.
Namun sebelum Kak Farka menjawab, aku sempat tertawa mengejek pekerjaannya.
"HAHAHAHAHAHA ...."
"Penyemangat sosial masyarakat, hahahaha ... ada-ada aja ya manusia, aneh banget gila, aneh."
Dan entah mengapa semakin dipikirkan, semakin terasa lucu, maka jelas aku berdekah-dekah di sofa.
"BWAHA-HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA ...."
Tawaku yang berdekah-dekah ini hingga memenuhi rumah. Aku benar-benar tidak habis pikir, ternyata semakin hari, manusia semakin aneh.
"Maaf ya Kak, awalnya aku mengira itu adalah pekerjaan orang gila yang berkumpul demi menguasai dunia, lalu mereka membuat suatu perkumpulan yang disebut penyemangat sosial huahahahahahaha ... gila benar-benar gila," ejekku hingga tersandar ke sofa.
Tapi semua ejekan dan tawaku reda, karena aku sudah puas menertawakan betapa nyelenehnya seorang Kak Farka. Mungkin sepuluh menit aku tertawa sampai-sampai perutku terasa sakit.
Dan uniknya, kala aku kembali duduk tegak, di sana, di depanku, Kak Farka hanya tersenyum tipis, memandangku dengan santai. Yang mungkin saja dia malu untuk menertawakan betapa gilanya dia.
Hingga aku pun teringat akan sesuatu, maka pertanyaanku yang tadi langsung teralihkan, lantas aku tanyakan pada Kak Farka, ”Oh iya Kak, kalau kutukan kematian menulis autobiografi itu memang ada, kenapa kita harus menulis autobiografi? Bukankah kalau untuk berjaga-jaga, lebih baik kita tidak perlu menulis?“
Kak Farka mendekus, ia sempat menunduk merenung, beberapa detik, lantas, ia kembali memandangku, memandangku dengan serius.
”Pertama, kebutuhan penelitian Guru Sukada diprioritaskan, memang kakak juga sempat berpikir begitu, karena siapa yang percaya dengan kutukan di zaman sekarang? Dan kedua, manfaat proyek autobiografi SMA ini lebih besar ketimbang tidak menulis sama sekali, ketiga, tidak ada paksaan dalam menulis, dan yang terakhir, saat kau mati, kau meninggalkan karya, yang mudah-mudahan kematian kita nanti tidak sia-sia belaka.“
Aku mengangguk-angguk berusaha memahami perkataan Kak Farka.
”Oh iya Kak, apakah istri kakak lebih cantik dari aku?“ tanyaku dengan memiringkan kepala kekanan dan tersenyum manis.
”Pertanyaan apa itu?“ ketus Kak Farka tanpa menjawab pertanyaanku.
”HAHAHAHAHAHAHA ...,“ maka aku tertawa karena bagiku ini terasa lucu, apalagi melihat raut muka Kak Farka yang terlihat aneh.
”He, kenapa kamu ketawa?“ heran Kak Farka.
Sembari bersedekap menyilang tangan, kuganti tawaku menjadi senyuman, menatap ke depan pada kekosongan.
”Kenapa sikapmu malah aneh begitu?“ selidik Kak Farka.
”Loh, sang pelaku sudah diketahui, tentunya aku senang, sangat-sangat senang, apalagi, sebelum dia di penjara aku akan menghajarnya lebih dulu,“ ungkapku dengan semeringah. Dan emosiku yang riang gembira ini memang terasa tak terkendali, kegembiraan yang membuncah ini membuat gestur tubuhku memang terlihat aneh, bagaimana tidak, masalah besar hidupku yang hampir membuatku gila mendadak, sekarang telah menemui jalan keluarnya, dan karena itu, aku wajib mengekspresikan kegembiraanku, tepatnya, selebrasi, karena aku yang akan menjadi pahlawannya, dan memang rasanya hal ini seperti sebuah kemenangan.
”Tidak Laisa! Pe ...,“ perkataan Kak Farka tersekat oleh bel rumahku.
'TULALIT-TULALIT-TULALIT'.
__ADS_1
”Nah! Itu kayaknya mereka!“ seruku dengan antusias dan rasa gemas ingin meninju wajah si Oteda bergejolak semakin berkantaran.