
”Kakak datang bukan sebagai polisi, kakak datang sebagai seorang teman Kak Farka, kakak datang ingin membantumu ... bukankah hanya perempuan yang memahami perempuan?“ ungkap Kak Fikia.
”Hanya perempuan yang memahami perempuan?“ ulangku.
”Hem.“ Kak Fikia mengangguk mantap.
”Bolehkah kakak tahu, siapa yang pertama kali mengenalmu? Apa orang tuamu?“ tanya Kak Fikia memastikan.
”Bukan, bukan orang tuaku, mereka selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri, bahkan mereka telah bangkrut gara-gara demi mengobati diri mereka sendiri,“ sanggahku.
“Yang pertama kali mengenalku, adalah ... sahabatku, Anka, dia adalah orangnya, dia pula orang yang mengenalku dengan sebaik-baiknya mengenal,” jelasku.
“Boleh nggak, kakak menjadi orang yang kedua mengenalmu, agar ... siapa tahu kakak bisa menjadi temanmu, tapi kalau nggak ... ya, kakak akan ikut putus asa bersamamu,” cetus Kak Fikia yang terlihat berempati.
Ucapannya yang lembut berhasil membuatku terbawa suasana, tepatnya, rela menggubris permintaannya. Tentu saja aku menggubrisnya, Kak Fikia sudah melepas pistol miliknya yang pada dasarnya aku bisa saja sudah mati sejak tadi. Terlepas dari dia sudah mengokangnya atau tidak, kali ini berkat keputus-asaanku, aku percaya.
”Suamiku adalah orang yang kedua mengenalku,“ balasku memperbaiki prasangka Kak Fikia.
Dan bahkan, untuk aku menyebut 'suamiku' pun harus menghela napas terlebih dulu, ini dilakukan agar atelofobiaku tidak mencuat, tetapi syukur, berkat keputus-asaanku, fobia itu terasa tercekat.
”Oh ... maaf kakak enggak tahu,“ sesal Kak Fikia dengan serius.
“Untuk bisa memahami sesuatu harus mengenal, dan untuk mengenalku, jelas kakak akan kesulitan, selain butuh waktu, kakak harus menerima segala apa yang aku lakukan dan berikan,” kataku dengan memandang wajah manis Kak Fikia.
Kak Fikia hanya mengangguk tanpa protes sedikit pun, dia menerima kalimatku.
“Iya, jadi hanya pecinta yang mengenal jatuh cinta, hanya pembenci yang tahu rasanya kebencian,” katanya menguatkan benarnya ucapanku.
Aku terdiam, masih mendeprok dengan santai, menatap Kak Fikia dengan berusaha memindai niatnya. Aku tidak sudi jika Kak Fikia membantuku hanya karena tugasnya, bukan karena ketulusannya. Tapi sayangnya, aku tak tahu ketulusan seorang manusia, maka, aku hanya dapat berprasangka baik.
“Apa kakak bisa menjadi temanmu?” tanya Kak Fikia memastikan.
“Teman?” ulangku.
“Iya, kalau tidak bisa, kakak ingin putus asa bersamamu,” tegas Kak Fikia.
“Aku tidak mau punya teman lagi, sudah cukup melihat orang yang aku sayangi menderita, aku tidak ingin punya teman, karena aku tidak mau siapapun menderita bersamaku,” tolakku.
Kak Fikia hanya mengangguk-angguk, menerima penolakkanku.
__ADS_1
Tapi, aku lantas berkata, “Terimalah penolakkanku, kecewalah, rasakan kegagalan itu, nikmati setiap penderitaannya, karena ... aku sudah mati sejak sahabatku mati.”
Mendengar itu, Kak Fikia mengembangkan senyuman penuh makna.
“Iya ... kakak mengerti, kakak akan menerimanya,” balas Kak Fikia dengan serius.
Suasana masih ramai, jasad teman-temanku telah dibawa oleh pihak para medis, lebih dari itu, wartawan hingga masyarakat nampak berdatangan lebih banyak lagi, itu terlihat di depan gerbang rumahku. Helikopter masih mengawasi di langit dan udara berembus pelan.
“Boleh 'kan, kakak melanjutkan cerita kakak?” tanya Kak Fikia.
Aku mengangguk mengiakan, lagi pula, dia mau cerita atau tidak, perasaanku tetap sama saja.
“Asal kamu tahu, ketika teman kakak berkata, 'para penjahat itu hanyalah pengganggu masyarakat, jadi kematian lebih cocok untuk mereka', tapi, atasan kakak malah berkata, 'mereka memang sampah, tapi jika sampah tersebut berhasil kita daur ulang, maka hasilnya bisa jauh lebih bermanfaat, begitu pula dengan para penjahat, kalau mereka dibina dengan benar, keuntungannya mampu membuat kota Artana jauh lebih baik dari sebelumnya'. Nah ... kakak hanya ingin bertanya, kenapa kamu berada di sini?”
Sontak, ucapan yang mengandung pertanyaan itu, berhasil menyentuh pikiran kalutku, pada dasarnya, aku sedang kebingungan, terguncang dengan insiden ini. Maka kala reseptorku menerima rangsangan dari pertanyaan yang mengguncang pikiran kalutku, secara efektor, aku teringat ucapan Loze yang sempat terlupakan oleh kalutnya pikiranku.
”Kalian tidak memahami pembicaraanku, belas kasihan sudah tak dihargai di kota yang menyedihkan ini, hanya dengan kekerasan manusia baru mau mendengar ....“
”Cita-cita ha ...? Aku pun punya cita-cita ... dan ya, cita-citaku adalah ... menghancurkan cita-cita kalian, lalu ... melahirkan cita-cita yang baru ... suatu cita-cita yang akan melahirkan keadilan, jika tak ada yang mampu menciptakan keadilan, aku akan hidup kembali untuk menghancurkan cita-cita itu ....“
”Tak ada yang jahat saat kita bicara cita-cita ....“
”Aku tidak ingin mengubah dunia, dunia tetap penuh kebohongan, tak ada gunanya hidup bahagia ... untuk apa hidup bahagia, saat teman seperjuangan kita mati oleh jiwanya yang tak dikenali, untuk apa hidup bahagia ... kalau nyatanya ... kebahagiaan kita ... adalah kesengsaraan bagi sebagian yang lain.“
”Satu hal lagi, agar sang pahlawan itu muncul, kita harus menjadi penjahatnya, karena dengan kejahatan kepahlawanan akan muncul, jadi biar aku saja yang menanggungnya ....”
Seluruh kalimatnya kini mulai terbayang-bayang dalam kepalaku, masalahnya, aku berputus asa karena aku gagal mengajak Loze untuk mengetahui apa itu merdeka, terlebih, kematian yang disuguhkan olehnya terasa seperti solusi dari beratnya hidup yang aku jalani, bahkan setiap untaian kata-kata yang terlontar dari mulutnya, pun berhasil menyentuh jiwaku yang sedang kebingungan tentang kehidupan, mungkin memang benar, bahwa anak muda sepertiku, sedang mencari jati dirinya. Kendati begitu, kehilangan sahabat yang dicintai, sangat-sangat menyakitkan, apalagi, sahabatku sudah kuanggap bagaikan saudara kandungku sendiri. Bingung, kini jiwaku kebingungan, solusi apa yang harusnya aku dapatkan, tak mungkin aku harus menjadi antisosial.
“Asal kamu tahu, Loze sudah menelepon Kak Farka lebih dulu, Loze mengatakan, bahwa dia akan melenyapkan beberapa temannya, kecuali seorang gadis, ya, karena gadis itu adalah seorang wanita yang berharga, Loze percaya, gadis itu dengan autobiografinya, mampu mengukir sejarah sempurna, membentuk mental generasi selanjutnya menjadi lebih baik, jadi penjahat yang lebih jahat, atau menjadi pahlawan yang lebih hebat, gadis yang bukan gadis biasa, jika dia jahat, maka dialah gadisnya, atau jika dia baik, dia pula gadis itu ... kakak yakin, kamulah gadis berharga itu,” beber Kak Fikia.
Maka, berkat fakta kedua itu, berhasil kembali menyentuh jiwaku, aku rasa Loze memang benar percaya padaku, sebab, dia menyisakan aku untuk hidup. Hanya saja, aku benar-benar kebingungan.
“Apa kamu sudi membiarkan teman-temanmu mati sia-sia?” sindir Kak Fikia berusaha memotivasiku.
”Kenapa kamu di sini? Tolong jawab,“ lanjutnya bersungguh-sungguh.
Aku menatap tajam mata Kak Fikia, karena bagaimana pun, selain dari tempat ini rumahku, tadinya aku juga ingin menunjukkan pada Loze untuk dapat terbebas dari masalah, untuk dapat berdiri di atas keputus-asaan, lalu mampu merdeka bersama-sama, ya! Tadinya aku ingin menunjukkan jalan kemerdekaan padanya, tapi bodohnya, aku yang malah tenggelam dalam keputus-asaan, malah terhasut oleh insiden ini, malah tenggelam dalam nestapa ini, aku harusnya tetap menjadi seorang gadis yang ambisius.
Maka aku bangkit berdiri, diikuti pula oleh Kak Fikia, yang berdiri menatapku serius.
__ADS_1
”Aku hanya kebingungan, terjebak dalam dilemaku sendiri, yang salah terlihat benar, yang benar terlihat salah, ya, aku hanya kebingungan, mentalku terluka, dan harus aku sembuhkan,“ ungkapku mulai tercerahkan.
Tentu saja aku tercerahkan, kalau masih punya waktu untuk hidup, kenapa aku tidak memanfaatkannya, dunia ini luas, dan lagi pula, nanti juga aku mati sendiri.
Lantas aku melangkah maju ke depan, berniat untuk pergi, aku akan berusaha melawan atelofobiaku. Hingga kulihat dari sudut mata kiriku, Kak Farka mulai menghampiri Kak Fikia, dia telah selesai menelepon, entah menelepon siapa, dan mereka membiarkan aku melangkah pergi.
Aku, hanya merasa gagal untuk menolong temanku, itulah yang membuatku putus asa, ditambah kata-kata Loze yang berhasil menghasutku, dan hasutannya memang kurasakan dalam hidup, lalu takut menghadapi masa depan! Benar! Aku hanya terlarut dalam insiden ini, karena kematian pun belum tentu jawabannya, apalagi, nanti juga pasti aku akan mati, aku terlalu bodoh untuk mengambil kesimpulan yang terlihat bagai solusi, gegabah dalam menentukan keputusan. Labil. Akan hal ini, insiden yang kualami hari ini, memberiku pelajaran hidup yang berharga, yaitu, aku bisa merasakan kehilangan yang paling besar, merasakan kegagalan yang begitu menyakitkan, hanya untuk, menguji, sejauh mana jiwaku berkembang. Dan hari ini pula, aku belajar untuk menjadi seorang askesistisme, atau tepatnya, menjadi seorang asketisme.
Namun seorang polisi, pria berbadan tegap mengadangku, dengan berkata, ”Anda tidak boleh pergi ke mana-mana, kasus belum selesai.“
Dalam jarak tiga jengkal aku mendongak untuk melihat wajahnya, yang kutatap dengan tajam, pria berwajah tegas, yang menatapku penuh kecaman. Namun, tiba-tiba saja, dari belakang punggungku, suara Kak Fikia, telah membuat polisi di depanku beralih pandangan pada Kak Fikia.
”Biarkan dia pergi! Dia tidak bersalah!“ ungkap Kak Fikia dengan lantang dan mantap.
”Tidak, tidak ada saksinya.“ Dengan suara berat, polisi di depanku menolak tak percaya.
”Aku bisa pastikan, anak itu bukan pelakunya! Kalau benar dia pelakunya, aku siap dipecat dengan tidak hormat, aku bertaruh akan pekerjaanku sendiri!“ balas Kak Fikia penuh percaya diri.
Tapi sang polisi terpegun, merenungi kata-kata Kak Fikia, hingga entah berapa detik dia termenung, lantas polisi berkata, ”Oke, kalau gadis ini macam-macam, kau dan gadis ini dapat hukuman yang setimpal.“
Tak ada tanggapan berarti dari Kak Fikia. Maka aku lanjutkan melangkah menuju depan gerbang, yang memang telah dikerubungi oleh manusia-manusia penasaran. Penasaran akan kejadian bersejarah mengerikan ini. Parahnya, akan aku hadapi mereka.
Lebih dari itu, seluruh polisi di sini mulai menatapku penuh waspada dan keheranan. Tapi, apatis dengan itu, hari ini, detik ini juga, aku, akan melawan atelofobiaku. Benar, aku akan mengunjungi suamiku, dan kuharap di sana, aku mendapatkan alasan lebih kuat lagi untuk aku tetap bertahan hidup.
Peperangan itu tak menghadirkan kemerdekaan namun malah melahirkan penderitaan baru
Perang itu menuntut keadilan namun malah membentuk dendam kesumat
Hai gadis kecil kedamaian tak akan terbentuk karena masih merasa memiliki
Hai gadis kecil berhala-berhala itu adalah egoisme
Hai gadis kecil Tuhan itu bukan hukum, bukan kamu bukan siapapun
Hai gadis kecil bangkitlah Tuhan bukan milik siapapun dan bukan alasan untuk berperang
Muncullah hai gadis kecil orang-orang dewasa tak dapat diharapkan
Sebab perang tak tak serta merta membentuk keadilan
__ADS_1