Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 34: KEMATIAN ADALAH AWAL. (Part 2)


__ADS_3

Di pukul 19:46 malam hari, Azopa datang ke rumahku, dia membeberkan lagi kenyataan pahit yang mau tidak mau kupingku terpaksa mendengarnya. Fakta pertama adalah, Nuita meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit, ada racun yang membunuhnya, semacam bahan kimia, dan hanya keluarga korban yang boleh diberi tahu nama racun tersebut, alasannya agar tidak ada orang-orang yang menyalah gunakan bahan kimia tersebut. Fakta keduanya adalah, Oteda, si anak laki-laki sang pelaku teror, tewas bunuh diri saat dia sedang berada di kantor polisi, bunuh dirinya pun menggunakan bahan kimia. Dan fakta terakhir, aku diminta untuk hadir besok dalam upacara pemakaman kedua rekanku.


Aku cuman bisa mengiakan, dan mungkin datang setelah semua orang sudah pergi, hingga akhirnya, Azopa memberikanku secarik kertas yang bertuliskan alamat makam teman-temannya, kemudian, dia pamit untuk pulang, dan aku kembali sendirian lagi.


Kendati begitu, jiwaku benar-benar terasa terpukul oleh kedua temanku yang tewas dalam hari yang sama, dan aku yakin, Anka pasti menangis. Lebih dari itu, aku kembali teringat saat tanganku sempat memukul Anka hanya gegara aku tak mau dikritik. Bukannya apa-apa, anehnya sekarang, aku malah merasa bersalah. Entah mungkin ini dampak dari insiden kematian yang menyentuh kejiwaanku, atau, aku hanya teringat tindakan kasarku padanya.


Kali ini, dalam hati yang gundah, aku hanya duduk melamun menyaksikan acara TV tanpa keseriusan, justru karena kabar rekan-rekanku yang tewas membuat pikiranku semakin pelik. Aku memang tidak menangis, karena aku masih merasa kalau menangis bukanlah hal yang sempurna, sehingga aku menahannya.


Tetapi, aku mengingat tindakan bodoh Oteda yang malah membuatku tidak mengerti, tidak mengerti pada tujuan sebenarnya Oteda melakukan tindakan kriminal. Apa mungkin dia sudah mencapai tujuannya, yaitu hanya untuk membuat murid-murid kelas 12 merasakan rasa sakit? Atau jangan-jangan Oteda memiliki gangguan mental? Tapi bagiku, Oteda kelainan jiwa.


Waktu berputar menuju malam yang membuatku semakin mengantuk, dalam hati yang sedih aku tertidur di sofa ruang tengah, tak lupa, TV pun aku matikan, dan berharap tidurku kali ini nyenyak.


Dan tak terasa, tibalah waktu harus berputar, mengganti hari ke hari selanjutnya, benar, hari telah berganti menjadi hari Selasa yang cerah, di pukul 14:07 siang hari dengan langit biru yang membentang, lengkap bersama awan-awan putih yang menghiasi siang ini, di kota Artana dengan segudang tindakan kriminalnya yang keseringan, kini aku tengah menggowes sepedaku menuju pemakaman umum di samping kompleks Hanataba, aku hadir ke pemakaman tiga temanku untuk memberi penghormatan terakhir pada mereka.


Saat aku tiba di depan gerbang, aku membawa masuk sepeda ke area pemakaman umum. Pemakaman di sini di rawat sangat baik, rumput tumbuh hijau di sini, bersih serta ditumbuhi banyak pohon nan hijau.


Ini adalah alamat pemakaman Nuita serta Ovy, sedangkan untuk Oteda, agak jauh dari sini, dan aku tak sudi untuk datang ke makamnya. Mana mau aku mendatangi makam seorang pembunuh.


'KRING-KRING-KRING'.


Bel sepeda aku bunyikan saat tiba di makam dua rekanku, aku bahkan tak menyangka, seluruh murid telah hadir di makam ini, atas alasan itu pula, aku tak perlu repot-repot mencari makam dua temanku. Tunggu sebentar, tak hanya temanku yang telah hadir, Guru Sukada pun telah hadir di sini.


Mereka semua mengenakan kemeja warna hitam, sedangkan bawahannya hanya mengenakan setelan kesukaan mereka.


Untuk penampilanku sendiri, cukup sederhana, hanya mengenakan baju polos warna putih dengan celana denim panjang warna biru gelap.


Aku menstandarkan spedaku di atas rerumputan hijau, tepat di depan teman-temanku dalam jarak dua meteran.

__ADS_1


Aku sempat berdiri menatap satu persatu seluruh wajah teman-temanku, dengan tersenyum hingga lesung pipiku melekuk sebagai salam pada teman-temanku.


”Kalian juga baru datang ya?“ tanyaku memastikan.


”Kami menunggumu,“ jawab Anka dengan semringah.


"Eh? Menungguku, itu artinya ...?" heranku.


"Kami sudah hadir, sejak tengah siang dimakamkan, dan ya ... kami menunggumu, hanya untuk menemanimu," jelas Anka.


Aku tak banyak bicara, hanya mengangguk mantap, lantas maju ke depan, dan teman-temanku memberiku ruang untukku bisa melihat batu nisan kedua rekanku.


Ternyata, makam Nuita serta makam Ovy dibuat berdampingan, di depan batu nisan mereka telah tergeletak dua tangkai bunga mawar merah, sebagai ucapan selamat tinggal. Dan aku langsung berdeku di hadapan dua makam temanku itu, memberi jarak dua meteran. Sebenarnya aku tidak tahu harus bicara apa, aku juga tidak tahu harus berdo'a bagaimana. Mereka pergi terlalu cepat.


Satu fakta yang aku tahu dari fobia kedua temanku ini, Ovy sang pengidap noverkafobia, fobianya bermula saat dirinya duduk dibangku kelas 8 SMP, sang ayah menikah lagi dengan seorang wanita, yang kini menjadi ibu tirinya, karena mau bagaimana pun, ibu kandungnya tewas oleh penyakit kanker saat Ovy masih balita. Meski sang ibu tiri sangat baik, tetapi, karena Ovy melihat serta mendengar banyak asumsi jahat dari masyarakat tentang ibu tiri itu galak, dan kejam, dari situlah fobianya muncul, dia terlalu berlebihan dalam menangkap berita tentang kejamnya ibu tiri, padahal tidak semuanya begitu.


Intinya sih, fobia mereka akibat pikiran berlebihan, sama sepertiku, lalu muncul menjadi penyakit.


Namun yang jelas, dalam hati aku berkata, ”Semoga kalian tidak bertemu Oteda.“


Selepas itu, aku berdiri kembali, memutar tubuh ke belakang, dan memandang lagi teman-temanku yang berdiri sangat dekat denganku. Lebih-lebih mereka menatapku begitu sendu, apalagi Wisty yang kulihat wajahnya seperti baru menangis, ditambah tisu yang sedari tadi ia pakai untuk mengelap hidungnya.


Hanya saja mataku langsung terarah pada sahabatku yaitu Anka. Dia berdiri di samping kiri Azopa.


”Anka ... aku minta maaf sudah memukulmu waktu itu,“ sesalku dan benar-benar menyesal telah melukai sahabat kecilku.


”Ahhhk, nggak perlu diambil pusing, nanti juga kamu mukul aku lagi, hahahaha ...,“ balas Anka dengan santai dan malah berkelakar, bahkan sampai tertawa.

__ADS_1


”Eh, bukannya begitu, waktu itu 'kan kamu pasti marah dong sama perlakuan anarkisku?“ paparku.


”Iya marah, tapi he, aku sudah tahu sikapmu yang galak itu ...,“


”Tapi sih, aku apresiasi permintaan maafmu ini, karena tumben-tumben kamu minta maaf,“ lanjut Anka dengan bersedekap menyilang tangan dan pandangannya begitu serius padaku.


”Ya ... aku juga ingin minta maaf pada teman-temanku, karena sudah kasar pada kalian,“ ungkapku dengan menatap satu persatu teman-temanku.


Tak ada yang bicara, mereka semua tersenyum tenang, kecuali Anterta serta Stovi, lalu teman-temanku mengangguk-angguk. Sepertinya, dari raut, serta gestur tubuh mereka semuanya, memaafkanku, tak terkecuali Stovi, ya, dia tak tersenyum, namun dia mengangguk-angguk seperti yang lainnya.


Dan karena aku merasa teman-temanku sudah memaafkanku, maka aku mulai melangkah menuju sepedaku. Aku melangkah dengan santai menuju sepedaku, berniat untuk pulang ke rumahku, teman-temanku terdiam hanya memandangiku melangkah.


Dalam langkahku, aku mengembuskan napas kuat-kuat, berharap, kehidupanku kedepannya akan baik-baik saja, dan nanti, aku pasti akan menemukan sekolah yang lebih baik ketimbang SMA Lily Kasih. Ya, aku percaya itu!


Namun kala angin mengalun pelan, menjamah kulit senantanku begitu lembut, tiba-tiba saja, langkah kakiku harus berhenti, berhenti di depan sepedaku yang tinggal berjarak satu meteran lagi.


”Hei Laisa!“


Panggilan itu dari Azopa, karena itu pula aku memutar tubuh ke belakang, seketika, kudapati wajah-wajah teman-temanku tampak begitu semringah, tak terkecuali Stovi, tapi Anterta tetap saja datar tak peduli.


”Kami masih menganggapmu sebagai ketua kelas kami! Jadi Laisa ... kami selalu siap menerimamu kembali,“ kata Azopa dengan lantang.


Tak ada tanggapan berarti dariku, hanya senyuman simpul serta anggukkan mantap yang dapat kulakukan. Namun aku sangat berterima kasih pada seluruh murid kelas 12 itu, karena mereka tak menghalangiku untuk pindah sekolah.


Dan karena tak ada lagi yang bicara, pun waktuku telah habis, membuatku kembali berbalik badan, dan melangkah menuju sepedaku. Hingga akhirnya, aku melambaikan tangan kananku pada teman-temanku, tak terkecuali pada Guru Sukada, berpamitan pada mereka kemudian pergi, untuk kembali pulang.


'KRING-KRING'.

__ADS_1


__ADS_2