Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 22: SOLIDARITAS ADALAH KEUTAMAAN. (part1)


__ADS_3

 


Kemudian aku menghela napasku, berusaha mengembalikan gairah semangat hidup yang sempat terabaikan. Aku telah menarik kesimpulan tentang berazam Guru Sukada, bahwa beliau memang benar tengah melakukan penelitian sekaligus membantu murid-muridnya.


Sehingga, tanpa peduli pada suamiku, tanpa mengucapkan kalimat perpisahan, aku bangkit dari duduk, lalu melanggang untuk pulang.


“Laisa tunggu dulu!”


Ya, itu seruan Kak Farka, pastinya aku tidak diperbolehkan pulang. Tetapi aku tidak peduli, aku telah suntuk menghadapi banyak masalah hari ini, dan berniat istirahat di rumah.


Hingga tak ada yang mencegahku, entah raut muka Guru Sukada serta Kak Farka bagaimana, karena yang jelas, irisku tertuju pada pintu kaca rumah sakit. Kaki tak jenuhnya aku langkahkan demi dapat keluar dari tempat pengobatan ini, berjalan acuh tak acuh melewati lobi, tak peduli pada beberapa insan yang masih berada di sini, air mata sudah lenyap, tetapi senak tetap terasa, sulit melenyapkan bayang-bayang kondisi suamiku, meski kulitnya masih terbalut perban, aku sudah mengambil kesimpulan tentang kulit suamiku yang tak sempurna lagi, dan itu hanya praduga saja, karena memang hal tersebut juga aksiomatis.


Tetapi tunggu! Baru saja satu meter lagi pintu aku dedah, pintu telah terdedah oleh seorang anak laki-laki seusiaku, yang bukan lain adalah Anka sahabatku, lebih-lebih sebuah senyuman simpul mengurai saat netranya memandangku.


“Anka?” jelas aku terkejut dengan kehadirannya yang malam-malam begini.


Lebih dari itu! Saat aku seketika menghentikan langkahku, secara berbarengan, teman-teman sekelasku pun datang dari belakang Anka, mereka ikut hadir. Penampilan mereka menggunakan pakaian sehari-hari. Sungguh di luar ekspektasiku.


“Ketua kelas.” Wisty menyapaku tanpa beban, dia tersenyum simpul seolah masalah besarnya yang lalu tak pernah ada.


“Laisa ...,” seru Anka sembari mendepang seolah-olah dia memberi isyarat bahwa dia berhasil membawa murid-murid kelas 12 untuk hadir hanya menemuiku.


Hanya saja, kala murid-murid telah mengerubungiku bagaikan pencuri kotak amal, aku sama sekali tak melihat Anterta serta Stovi, sepertinya mereka tidak ikut.


Dan Anka adalah murid yang berdiri paling dekat denganku, tiga jengkal adalah jarak dia untuk bisa merangkulku kalau dia berani.


“Kenapa ... ka ...,” perkataanku tersekat.


“Kami datang untuk menemanimu!” sela Anka begitu antusias.

__ADS_1


“Ini sudah malam, besok kita sekolah.” cemasku.


“Tidak apa-apa sayang, bukankah malam membuat kita semakin bergairah,” balas Elpan yang berdiri di samping kiriku.


“Besok libur ketua kelas, Guru Sukada yang memberi tahu,” timpal Ovy membeberkan pemberitahuan yang baru kuketahui.


“Iya ketua, besok libur!” sahut Cludy.


“Iya, asyik besok libur!” sambung Nuita.


Beberapa murid lainnya mulai membenarkan perkataan Ovy, tetapi aku masih agak kurang suka dengan kehadiran mereka, bukannya apa-apa, itu artinya musibah suamiku telah membuat orang-orang jadi ikut kerepotan, dan aku paling malas membuat orang kerepotan.


Maka dengan masa bodoh, aku berusaha melenggang pergi.


“Tunggu dulu!” Anka langsung mengadang di depanku sampai-sampai langkahku harus terhenti.


Kami saling bersirobok berhadapan dalam jarak dua jengkal. Raut muka Anka begitu serius memandangku, dan aku hanya sanggup memasang raut muka datar.


“Kenapa harus malam begini? Besok kan bisa siang-siang, libur lagi, nah ... sekarang kalian mau menemaniku? Kalian mau tidur di mana?” ujarku selantang mungkin demi didengar oleh seluruh temanku dengan harapan pikiran mereka terilhami.


Dan menyadari betapa risihnya saat mataku menangkap bahwa keberadaan kami di posisi depan pintu ini malah menghalangi jalan.


“Bukan begitu ... kami nanti dipukul dua belas malam akan pulang, sekarang masih pukul sembilan malam, nah, kita makan malam bareng ... aku yakin ketua belum makan kan?” Azopa menjelaskan, dari penampilannya hanya dia satu-satunya manusia yang mengenakan sweter nuansa biru, dan dia berdiri tepat di belakang bahu kiri Anka.


“Aku kantuk, capek dan mau bermalas-malasan di rumah,” ketusku.


Maka berkat ujaranku itu, kebungkaman pun terjadi, tak ada yang berani bicara lagi. Akibatnya, aku kembali melangkahkan kaki menuju keluar rumah sakit, menyelinap di antara teman-temanku, meninggalkan seluruh orang yang telah rela membuang waktunya demi menemaniku, tak ada yang mengadangku lagi.


“Tunggu Laisa!” tetapi suara sahabatku Anka membuatku menghentikan kakiku saat ini juga.

__ADS_1


Padahal aku sudah berdiri di luar rumah sakit, mungkin sekitar satu meteran sisa jarakku dari pintu.


“Kita makan bareng dulu, baru pulang,” pinta Anka dengan lantang, karena aku memunggungi teman-temanku sehingga aku tak tahu persis raut muka mereka seperti apa.


“Tenang saja! Kami akan mentraktir kamu makan, sekarang pilihlah kamu mau makan di mana,” lanjut Anka terdengar begitu meyakinkan.


Sontak aku langsung mengerjapkan mata dengan memutar badan ke arah teman-temanku. Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan traktiran mereka, justru yang membuatku interesan adalah boleh memilih lokasi makannya. Maka raut mukaku berseri-seri, jiwaku terlonjak senang, sedihku terasa lupa, namun, tak ada senyuman di wajahku.


Maka kudapati seluruh teman-temanku telah berdiri di mulut pintu, menutup setiap celah untuk dapat masuk ke dalam rumah sakit, dan aku agak risih melihatnya.


“Kalau begitu, aku mau makan di rumahku! Dan kita pesan makanan secara daring saja,” jelas kulayangkan ide cemerlang nan simpel. Meski pada dasarnya, aku ingin sekalian langsung berada di rumah, sehingga tak perlu repot-repot aku pulang pergi hanya untuk makan.


“Waduh, itu sih sama aja kayak kita numpang makan di rumahmu,” sindir Anka yang berdiri paling depan layaknya ketua geng yang hendak berperang.


“Udah nggak apa-apalah yang penting kita makan ...,” sahut Nuita.


“Iya, ayo,” sambung Cludy.


“Kalau kalian tidak mau ya sudah.” maka kuputar kembali badanku melangkah ke depan menuju jalan raya.


Bersamaan dengan langkahku, kedua kupingku mendengar jelas perundingan teman-temanku tentang permintaanku. Kecuali Wisty yang langsung berlari ke sampingku, dia melangkah bersamaku dengan menggaruk bahunya karena kikuk. Tak lama kemudian, Nuita menyusul, lalu Ovy menyusul, hingga akhirnya, semua murid sepakat untuk makan di rumahku. Betapa senang bahwa mereka semua tetap ceria untuk makan di rumahku, tak ada yang mengkritik atau komplain, apa lagi, aku tidak perlu bayar untuk membeli makanan.


Diperjalanan pulang, kami menumpang bus kota, sekaligus membeli santapan malam secara daring, yang pastinya aku disuruh memilih makanan apa yang mau aku makan, tidak muluk-muluk, aku hanya memesan ayam bakar sambal hijau, serta es krim ubi ungu, sedangkan untuk minumannya, paling hanya kopi saset di rumahku.


Niatku diawal sebenarnya memang ingin pulang sendiri dan mengistirahatkan badan, lalu bermalas-malasan, musibah yang dialami suamiku menambah rasa lelahku semakin kuat, akan tetapi, ketika aku mendapat traktiran dan boleh memilih makanan yang aku mau, maka rasa lelah harus reda sejenak, mengalah demi rasa lapar yang bergejolak mendadak.


Di dalam bus kota, aku serta teman-temanku bermain gim daring yang sama secara berbarengan, ada sih dua anak yang tidak suka bermain gim, yaitu Azopa dengan Vume, mereka berdua sepertinya membaca buku secara daring, itu bisa dilihat dari mulut mereka yang komat-kamit, lengkap dengan mata yang fokus pada ponsel masing-masing. Bonusnya aku melihat Anka dan Ovy yang bermain gim begitu mesra, duduk tertawa saling bercanda, lengkap dengan Cludy yang terlihat cemburu, tatapannya yang terpasang pada mereka sangat tajam dan agak mengerikan menurutku.


Butuh waktu dua puluh menit sebelum akhirnya kami tiba di rumahku. Pintu depan rumah telah aku dedah, sekaligus lampu-lampu di rumahku kunyalakan. Teman-temanku pun dengan antusiasnya masuk ke dalam rumahku, banyak di antara mereka menyanjung mewahnya rumahku, padahal sih, mereka sudah pernah berkunjung ke sini sebelumnya.

__ADS_1


Hidangan pesanan kami pun telah tiba, datang semenit setelah kami sampai, seluruh hidangan disajikan di ruang tengah, yang syukurnya seluruh teman-temanku mendapat ruang duduk yang enak, kami duduk bersebelahan mengerubungi hidangan yang tersaji di tengah-tengah kami, pastinya, semua telah siap disantap.


__ADS_2