Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 35: PERANG ADALAH HARAPAN. (Part 2)


__ADS_3

Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, namun yang pasti, ada keadaan buruk sampai-sampai Cludy menangis. Hati dan pikiranku kini kembali bimbang, tentang adanya kejadian aneh di sekolahku. Entah solusi apa yang terbaik agar aku bisa sekolah dengan tenang, atau setidaknya, masalah di SMA Lily Kasih cepat berakhir.


Solusiku melarikan diri dari masalah hidup, telah gagal, karena bagaimana pun aku pasti akan terlibat dengan masalah ini, sehingga tak ada solusi terbaik kecuali, menyelesaikan semua masalah ini.


Aku terus berlari secepat aku bisa berlari, melewati beberapa rumah warga, menyeberang jalan raya, dan terus berlari hingga aku sampai di depan gerbang SMA Lily Kasih. Aku sempat berhenti sejenak untuk mengatur napas baik-baik.


”Haah-haah-haah-haah ....“ aku terengah-engah berkat berlari tadi tanpa berhenti.


Tapi tak lama aku mengatur napas, aku berlari kembali masuk ke dalam sekolah. Suasana saat ini sangat sepi, murid-murid tampaknya telah pulang, entah juga bagaimana benarnya, aku sudah tidak sekolah, jadi tak tahu pengumumannya seperti apa.


Aku berlari menuju gedung olah raga, sebuah gedung yang berdiri di depan lapangan upacara, gedung yang terpisah dengan ruang kelas, gedung yang biasanya digunakan oleh perlombaan.


Aku berlari hingga telah melawati pintu depan gedung olah raga, dan telah berdiri di dalam gedung dalam napas yang terengah-engah. Tepat di depan mataku, aku melihat 4 murid SMA Lily Kasih yang berdiri masih mengenakan seragam sekolah, mereka yaitu, Tozka, Cludy, Wisty, serta Anka. Pelan tapi pasti, aku melangkah semakin dekat pada mereka.


”Ketua kelas,“ kata Tozka dengan berbalik badan memandangku.


”Laisa,“ lirih Anka dengan memandangku.


Sedangkan Cludy serta Wisty, mereka berdua saling merangkul dalam isak tangis.


Dan aku telah berdiri di tengah-tengah mereka, berdiri dengan mata berbuntang. Karena tepat di depan kami, di tengah lapangan futsal, Anterta, Stovi, Elpan, Sentia, Kily, Oqde, Azopa, Vume, serta Perto, telah terbaring kaku, pucat kesi, dengan mulut berbusa, karena mereka telah tak bernyawa.


Pantas saja, Cludy dan Wisty menangis sedu sedan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, lebih-lebih keningku langsung mengernyit bingung menatap jasad teman-temanku, mereka telah pergi begitu cepat.


Oleh alasan itulah, aku melangkah ke samping Azopa, berlutut dengan dua lutut di samping tubuhnya, aku berusaha memeriksa denyut nadinya. Namun sayang, baik denyut nadi di tangan maupun di leher, telah berhenti berdetak.


Azopa, seorang anak yang pintar, seorang anak yang selalu juara kelas, manusia ketujuh yang iri padaku. Kepintarannya, sama sekali merasa tak berguna saat aku menjabat sebagai ketua kelas kelas 12. Dan aku Laisa, yang menjadi bagian dari kelas kelas 12, tak sudi membiarkan teman-temanku mati sia-sia.


”Haah-haah ...,“


Jemari tangan kananku menjambak rambutku karena tidak menyangka, tak menyangka pada kematian mendadak, malah, aku sempat tertunduk beberapa detik dalam renungan kesedihan. Aku sudah memahami penderitaan yang dimaksud Oteda, ya! Kehilangan seseorang yang berharga adalah penderitaan, aku, benar-benar paham.


”Hiks, hiks, hiks ...,“ Wisty dan Cludy masih terisak-isak.


Mereka berdua pasti merasa sangat kehilangan, atau pun ketakutan, karena bagaimana pun, ikatan batin itu, memang ada, dan kini, ikatan itu nampak putus oleh kematian. Entahlah jelasnya seperti apa, aku hanya mulai merasakan rasa sakit.


Hingga secara perlahan, aku bangkit berdiri bersama perasaan aneh ini, aku tidak tahu seperti apa bentuk perasaannya, tapi yang jelas, aku sakit hati dan ketakutan.


”Siapa yang berani melakukannya?“ tanyaku dengan menunduk memandang wajah Azopa dan berdiri menyamping pada empat temanku yang masih hidup.


”Dia Loze! Ya! Dia Loze!“ jawab Tozka dengan lantang.


Maka aku beralih menoleh ke kanan memandang Tozka sangat serius, seraya bertanya, ”Kenapa? Bagaimana caranya?“


”Setelah pulang sekolah tadi, kami diminta untuk datang ke sini, lalu dengan alasan adanya ulang tahun pacarnya, dia memberi kami sepotong kue, kami semua menyantap kue itu sampai habis, tapi tiba-tiba mereka semua kejang-kejang lalu tewas,“ tutur Anka.


”Kalian juga memakan kuenya?“


”Ya, kami juga makan, tapi, kami tidak terjadi apa-apa, nah, setelah itu, saat kami mau menangkap Loze, dia menodongkan pistol ke arah kami, lalu pergi dengan alasan akan membunuhmu,“ jelas Tozka.


Aku mengangguk-angguk, kemudian bertanya, “Bagaimana dengan polisi?”


“Kami tidak boleh menelepon polisi sebelum jam empat sore.” jawab Tozka.

__ADS_1


Maka aku balikan badan menghadap teman-temanku.


“Bodoh! Siapa yang bicara begitu?” sentakku.


“Loze,” jawab Anka.


“Karena jika kami sudah menelepon polisi, katanya, dia akan menghabisimu,” sambung Tozka.


“Bodoh! Bodoh kalian!” umpatku.


“KAMI BERUSAHA MELINDUNGIMU LAISA! KAMI KEBINGUNGAN! KAMI TIDAK TAHU AKAN TERJADI SEPERTI INI DAN TAK MAU BERTINDAK GEGABAH!” Anka membentakku.


“Kami tidak tahu harus berbuat apa, di satu sisi kami takut kau yang menjadi korban, di satu sisi kami tidak tahu menangani masalah seperti ini,” sambung Tozka.


”Kalian harus percaya kepada polisi, hanya mereka yang bisa diandalkan, karena mereka sudah sangat profesional, lagipula, Loze mana tahu kalian menelepon polisi,“ balasku.


”Ya kami sudah memikirkan itu, dan katanya polisi akan segera tiba,“ sanggah Anka.


”Lalu di mana Guru Sukada?“ tanyaku.


”Guru Sukada sedang di kantor polisi, untuk memberi keterangan tentang kematian Ovy, Nuita, dan Oteda, dia pergi setelah jam pulang sekolah,“ jawab Anka.


Aku sempat tertunduk merenung, setelah aku menghela napas dan dengan punggung tanganku aku mengelap peluh di jidatku. Aku mulai mempersiapkan diri, bersiap untuk menghadapi kematian.


”Apa kalian tahu ke mana Loze?“ tanyaku memastikan.


”Kami tidak tahu, sebab katanya dia mencarimu,“ jawab Tozka seadanya.


”Kalau begitu ... aku akan pulang,“ ungkapku sembari melangkah untuk keluar gedung.


Kala aku melangkah pergi, disaat aku berjalan di samping kiri Anka, tiba-tiba saja, tangan kiriku dipegang oleh Anka, hingga langkahku terhenti dan langsung menoleh memandangnya.


”Kau mau ke mana? Loze membawa pistol, dia bisa membunuhmu!“ Anka memberiku peringatan hingga kami saling memandang dengan serius.


”Aku tidak mau lari dari masalah ini, akan aku hadapi kematianku sendiri,“ balasku dengan lugas nan yakin.


”Kau jangan gila! Berhentilah bertindak gegabah!“ sentak Anka.


”Aku harus tahu apa yang diinginkan penjahat itu secara langsung,“ kataku.


”Apapun alasan dari seorang penjahat dia tetaplah penjahat!“ tukas Anka.


”Ya, tapi atas alasan apa dia berbuat jahat, itulah yang harus aku cari tahu,“ kukuhku.


”Kau bodoh, orang gila tidak memiliki alasan logis! Semuanya demi nafsu semata!“ cetus Anka.


“Tidak!” bantahku.


“Aku telah salah menilai teman-temanku, aku telah menganggap enteng seluruh masalah hidup, sampai-sampai aku baru tersadar, bahwa, teman-temanku tidak gila, yang sedang kita hadapi adalah seorang remaja yang ingin merasakan kemerdekaan, dia ingin diakui ...,” lanjutku sangat serius.


Kini aku dan Anka saling memandang hingga bersirobok, memandang penuh kesungguhan.


“Apa kau pernah bertanya pada seorang penjahat tentang kemerdekaan? Atau kau bertanya pada bibimu tentang kemerdekaan? Kemerdekaan bukanlah sekadar kebebasan! Karena sesuatu yang diraih oleh darah, adalah sesuatu yang harus dilindungi! Dan segala sesuatu yang dilindungi adalah akan cepat pudar!” kataku dengan lantang.

__ADS_1


”Saat Kak Farka mengatakan aku harus tetap sekolah agar tahu kemerdekaan, aku mengolok-oloknya! Ketika dia bicara tentang mental manusia! Aku mengolok-oloknya! Aku mengolok-oloknya, karena aku tidak mengenal apa yang baru aku dengar! Sekarang! Ya, sekarang aku akan menjemput kemerdekaanku sendiri!“ imbuhku dengan tegas.


Anka terdiam dalam renungan yang konstan.


”Lepaskan tanganku Anka, kata-kata tidak akan mengubah takdir, hari ini ... aku akan bertindak,“ pintaku dengan lugas.


Secara perlahan Anka mulai melepaskan tanganku dan memandangku dalam perenungan lalu aku mulai berlari menuju pintu.


Tak ada yang berusaha menghalangiku, tetapi baru saja saru meter aku berlari, tiba-tiba sebuah panggilan dari Anka membuatku harus berhenti, aku memang harus berhenti, karena, ini penting bagi mereka.


”Aku ikut!“ kata Anka.


”Aku juga ikut!“ sambung Tozka.


”Aku ikut!“ Cludy tak mau tertinggal.


”Aku, aku nggak tahu harus berbuat apa ... tapi aku juga ikut.“ Wisty pun enggan terlewat.


Maka aku berbalik badan menghadap teman-temanku.


”Kenapa?“ tanyaku serius.


”Jika satu mati, maka semua mati!“ jawab Anka dengan lantang dan mantap.


Dan teman-temanku mengangguk menyetujui ujaran Anka.


”Kalian bodoh!“ sindirku.


”Lebih baik bodoh, ketimbang pintar namun malah menimbulkan perang!“ balas Wisty.


”Ayo!“ tanpa banyak umpatan lagi, akhirnya aku berlari pergi menuju rumahku bersama kawan-kawanku.


Benar, kali ini aku akan menemui Loze, seorang penjahat seperti dia tak bisa dibiarkan hidup bebas, bisa-bisa dia akan menambah korban.


Aku bahkan tak menyangka akan jadi serumit ini, aku tak mengira jika masalah belum selesai, dan kali ini, detik ini juga, aku akan menghentikan pertumbuhan para penjahat di masa depan, aku, telah berubah, sejarah, kematian, terabaikan, kebencian, cinta, serta fobia, membentuk aku yang sekarang.


Jangan heran jika aku berubah, karena air laut tak selamanya tenang, dan tenang saja, air tetaplah air, karena jiwaku telah berkembang, ini bukan perubahan, ini perkembangan!


Kuhentikan waktu dalam masa yang tak tertulis


Tak ada kebencian karena kematian adalah do'a


Kepahalawanan hanyalah simbol kelemahan


Karena aku berlindung dalam gelap hatinya sang gadis


Hai gadis kecil bangitlah bangkitlah dan lenyapkan neraka sekarang juga


Rasa sakit itu tak dimengerti oleh Tuhan


Rasa sakit ini hanya para pendosa yang memahami


Kabarkan pada Tuhan kami berperang demi rasa sakit

__ADS_1


__ADS_2