
Suasana yang tegang masih pekat terasa, dan Oteda masih bangga dengan tindakan kriminalnya, entah mungkin jiwa mudanya yang membuat dia berkata-kata aneh hanya demi ingin diakui, diakui sebagai anak yang malang, atau justru, dia memang memiliki gangguan jiwa.
Atau juga, dia hanya ingin mengungkapkan unek-uneknya saja, agar dengan begitu, kami menaruh rasa iba padanya, namun, aku tak sedikit pun merasa berbelas kasihan padanya, justru aku ingin mencekiknya, menendang-nendang perutnya lagi, tentu saja supaya dia paham, bahwa kami pun telah dibuat menderita olehnya.
“Oteda hiks ... kenapa kamu hiks ...” Wisty menangis entah juga terbawa suasana, atau dia memang sedih melihat temannya sendiri melakukan tindakan kriminal.
“Oteda.” Azopa pun sangat tidak menyangka.
“Kenapa kau berbuat seperti ini Oteda?” tanyanya.
“Aku hanya ingin kita bisa saling mengenal satu sama lain, karena dengan penderitaan, kalian bisa mengetahui mengapa aku menangis, dan tenang saja, kalian hanya melihat seorang pembunuh, dan bukan melihat penderitaannya,” balas Oteda dengan santai tetapi mengandung makna yang begitu dalam.
“Kau gila Oteda!” cemooh Stovi.
“Kamu sudah gila!” timpal Perto.
“Dasar gila kau!” sentak Wisty meradang.
“Ya, aku bangga menjadi orang gila, karena dengan begini, kalian bisa bersenang-senang di atas penderitaanku.” Oteda membalas lagi dengan kalimat nyelenehnya.
Sekonyong-konyongnya, Kak Farka berdiri di depan Oteda. Memunggunginya. Berusaha menghentikan adanya tindakan anarkis.
“Oke sudah-sudah! Polisi akan segera datang, jangan ada yang pergi dulu!” ungkap Kak Farka dengan lantang.
Semua orang terdiam, Stovi, Azopa, Perto, Wisty dan aku, berdiri dalam jarak satu meteran menatap Azopa dengan jijik, marah dan keheranan, kami benar-benar tak tahu masa lalu Oteda, kami pun tak tahu bahwa Oteda akan bertindak sejahat ini, seorang yang kami anggap teman, kini telah menyakiti temannya sendiri.
Sangat aneh rasanya dia berbuat jahat hanya agar kami saling mengenal, benar, meski aku pun ingin menghajarnya, tetapi bukan berarti aku jahat, sebab, bagaimana pun, aku hanya berusaha bertindak adil, dan berusaha melindungi orang-orang yang paling berarti buatku. Atau jangan-jangan, Oteda pun melakukan hal yang sama.
Oteda, laki-laki gemuk itu, sepertinya berusaha untuk mendapatkan keadilan, yang memang dunia ini belum pernah ada keadilan, sehingga, kekerasan adalah jalan terbaik demi meraih keadilan, bahkan aku pun berpikir begitu, hanya saja, itu tetap salah.
Hari ini cuaca cerah, udara mengalun lembut, langit begitu biru dengan awan putih yang jarang-jarang, bahkan, rambutku masih berantakan, aku malas merapikannya dan terlalu malas juga untuk mandi. Selama kami menunggu polisi, sirene mobil polisi sebenarnya sudah terdengar di area rumahku, namun kami masih sengap menikmati kesunyian yang berlangsung beberapa detik.
“Sebelum aku mati, dalam penjara, aku ingin bertanya pada Anda Kak Farka,” kata Oteda tiba-tiba dengan memandang telinga Kak Farka.
“Apakah Anda yakin, bahwa masa depan murid-murid bodoh di kelas 12 ini bisa terjamin bahagia?” sebuah pertanyaan aneh dilayangkan oleh Oteda.
”Tentu saja aku yakin mereka bisa meraih kebahagiaan lengkap dengan cita-cita mereka! Ya, aku yakin dengan itu!“ jawab Kak Farka dengan yakin nan tegas.
”Hmmm ... tapi optimistis akan kalah oleh kematian,“ sindir Oteda.
”Tidak! Karena mereka semua telah menuliskan sejarahnya, dan setiap sejarah, akan membentuk mental setiap insan! Lalu sikap optimisme itu akan hidup abadi di generasi selanjutnya!“ bantah Kak Farka penuh percaya diri.
”Kalau begitu, setelah nanti aku mati, akan aku pastikan, sejarah mereka kuubah, lalu diantara keturunan mereka ada yang saling berbantah-bantahan tentang sejarah, lalu kupastikan, mereka saling membenci dan merasa diri paling benar,“ sanggah Oteda dengan santai.
__ADS_1
Karena emosiku masih meradang, aku tak bisa membiarkan Oteda hanya dipenjara belaka, bahkan aku tak terima dari setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya, dan aku harus menyiksanya sebelum polisi tiba, sebab bagaimana pun suamiku sudah cacat karena dia.
”AAAAARRRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHHH ...!“ aku berteriak maju ke depan sambil melayangkan pukulan dan tendangan pada Oteda.
”Laisa! Berhenti! Berhenti!“ Kak Farka malah mengadangku.
Dia malah melindungi sang pelaku teror. 'Buak buak bhuk pok bhuak' bertubi-tubi aku lancarkan pukulan dan tendangan ke arah Oteda. Entah berhasil atau tidak, namun yang jelas, dia hanya bergeming.
”Mati kau Oteda! Mati kau! Mati keparat!“ aku mengumpat dan menyumpahi Oteda, karena sekali lagi, suamiku telah dibuat cacat olehnya.
”Kenapa kalian diam saja!“ Kak Farka kewalahan menanganiku, dan menyiratkan permintaan bantuannya pada teman-temanku.
Namun teman-temanku semua bergeming enggan membantu Kak Farka. Teman-temanku tahu, bahwa Oteda memang layak dikasari. Kak Farka mengadangku dengan mendorongku berusaha menjauhkan aku dari Oteda.
'Buak' 'bhuak' aku terus berusaha memukul Oteda, aku malah masih tak tahu, apakah pukulanku berhasil atau tidak mengenainya, karena dalam kondisi mengamuk seperti ini aku tidak memedulikan lingkungan sekitarku.
Tiba-tiba ... 'DOOOR' itu adalah suara letupan senjata api.
”DIAM DI TEMPAT!“ suara serak yang membentak itu berasal dari seorang anggota polisi.
Sontak seluruh teman-temanku terdiam di tempat, walaupun memang sedari tadi terdiam, bahkan kurasa ada yang sampai tiarap segala, ya, Wisty satu-satunya murid yang tiarap.
Tapi aku tidak, aku tak peduli pada senjata api sekali pun, aku harus bisa menghajar si Oteda.
”JANGAN BERGERAK!“ bentak seorang anggota polisi sambil mengacungkan sepucuk pistol ke udara.
Aku tahu mereka polisi dikarenakan seragam hitam yang mereka pakai lengkap dengan logo di saku dada mereka. Dan mereka berjalan mendekat penuh kehati-hatian, sekiranya terdapat sepuluh polisi yang turun tangan.
”MINGGIR DIA HARUS AKU HUKUM!“ sentakku bersikeras.
”Aku tidak peduli dengan rasa empati! Aku tidak peduli pada kemanusiaan! Karena yang salah tak layak dibela!“ lanjutku meronta-ronta.
”Kau juga salah!“ sentak Kak Farka.
”AAAAARRRRGGGGHHHHH ...!“ teriakku.
Sekonyong-konyongnya, seorang polisi malah memborgol kedua tanganku.
”DIAM! JANGAN MELAWAN!“ sentak polisi berkumis tersebut.
Maka mau tidak mau, aku langsung berlutut dengan dua lutut ke rerumputan, dan kedua tanganku diborgol di depan badan. Aku gagal untuk menghukum Oteda dengan tanganku sendiri. Aku telah dibuat tak berdaya, oleh borgol, dan harus aku akui, aku tidak mungkin bertindak sembrono disaat-saat seperti ini. Jadi jelas sudah, aku bergeming tak dapat melawan.
Napasku telah tersengal-sengal, aku bergigit geram, mataku terfokus tajam pada Oteda, dia berdiri di depanku dalam jarak dua meteran, terlebih, dia pun ikut diborgol oleh seorang polwan. Selain aku menatap Oteda begitu marah, aku menatapnya tak menyangka, karena, sejauh aku mengenalnya, dia memang agak aneh, jarang sekali bicara, jarang bergaul, sangat jarang bercanda atau bertegur sapa, dan mungkin, inilah yang ia niatkan, membuat kami menderita, demi bisa memahami rasa sakit teman-temannya. Entah seperti apa teman-temanya yang dulu hingga membentuk Oteda seperti sekarang.
__ADS_1
”HAAAAH ...,“ aku mendekus geram.
Padahal gara-gara si Oteda itulah aku dan teman-temanku saling bertengkar, ya, aku menyalahkannya, karena dia memang pantas untuk disalahkan.
”Haah-haah-haah-haah ...,“ aku masih terengah-engah sebuah dampak melelahkan dari emosi yang berselimut amarah, bahkan badanku sudah terasa berkeringat, keningku pun telah basah oleh peluhku sendiri.
Tapi tunggu, sedari tadi aku di sini, aku sama sekali tak melihat Anka, apa mungkin dia di rumah, atau jangan-jangan dia menengok Ovy.
Namun yang pasti, aku berusaha menenangkan jiwaku, mengatur napasku, berusaha mendapatkan udara agar tubuhku tetap kuat bertahan, malah aku sempatkan kepalaku untuk menengadah pada langit biru, siapa tahu saja aku bisa tenang, karena harus diakui marah itu melelahkan.
Aku terus menatap langit biru beberapa detik, memandang awan-awan putih yang bertengger begitu damai, seakan dunia tak pernah terjadi masalah, udara yang hangat ini pun mengantar pikiranku pada jiwa yang perlahan menjadi lebih tenang. Aku hanya berharap, aku bisa hidup berleha-leha sepuasnya, lalu memiliki anak yang lucu, dan suamiku yang kembali tampan dan gagah, sial memang, berkat ketidakberdayaanku aku malah berkhayal yang aneh-aneh, sampai rasa pegal di leherku, membuatku menolehkan wajah pada lingkungan sekitar. Memandang apa yang terjadi selanjutnya.
Maka kudapati Kak Farka, telah berdiri agak jauh, tengah berunding dengan dua polisi berjas, yang kurasa mereka adalah reserse. Satu pria, satu lagi wanita muda.
Untuk teman-temanku, mereka berdiri tanpa diborgol, kini mereka hanya berdiri bersama polisi yang sepertinya menanyai kondisi mereka dan syukurnya, Wisty telah berdiri pula, tetapi, dia masih saja menangis.
Lantas, seorang polwan membawa Oteda menuju mobil polisi di depan gerbang rumahku.
”Laisa! Ingat! Kau kalah bertaruh! Sekarang akulah pahlawannya!“ teriak Oteda dengan tatapannya yang serius padaku, dan pergi seolah tak merasa bersalah.
Setelah mendengar kalimat tersebut, aku tertunduk, kembali bergigit gemas. Rasanya belum puas aku menghajar Oteda, sikapnya yang gila membuat emosi amarahku kembali bergejolak, aku tidak habis pikir, bahwa dari jutaan manusia di bumi ini, aku harus hidup dengan orang gila seperti dia. Aku bahkan kini ragu, apakah pukulanku tadi padanya berhasil membuat dia berpikir, tentang aku yang tak terima tindakan kriminalnya. Tetapi pikiran bodohku itu buyar kala mendengar pernyataan seorang wanita.
”Sampai kiamat pun dunia tidak akan pernah damai, tetapi ada kemungkinan dunia bisa merdeka, dan untuk itu, kita buat sejarah demi generasi selanjutnya!"
Dan berkat kalimat itu, secara refleks aku mendongakkan wajahku, memandang siapa yang tadi bicara. Ternyata, dia seorang wanita muda yang sempat berbincang dengan Kak Farka, seorang wanita bermata gelap nan bulat, dengan rambut hitam panjang yang dikucir ke belakang, terlebih, di wajah berbentuk 'love-nya' telah tersungging sebuah senyuman manis dari bibir merah nan seksinya. Senyuman hanya untuk aku.
Wanita berblazer ini mengulurkan tangan kirinya padaku, dia hendak membuka borgol di tanganku.
Dalam kepalaku yang dingin kutemukan neraka
Wajahmu membentuk paranoid dalam do'aku
Hingga surga lenyap dan kuharap kau abadi di neraka
Lalu mengapa kau tidak mengenal aku
Dalam jiwaku yang dikecewakan oleh suatu ikatan
Sikap lembutmu adalah pemerkosaan
Sampai rasa sakit adalah zat adiktif
Lalu aku temukan cita-cita adalah kematian
__ADS_1