Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 37: Autobiografi Laisa. (Part 1)


__ADS_3

Aku adalah Laisa Andriani Vati. Dipanggil Laisa. Lahir di kota Artana, 20 Juni 2001. Lahir sebagai anak satu-satunya dari dari keluarga kaya raya.


Mamaku adalah pengusaha restoran, papaku adalah seniman, penulis, dan pelukis.


Sejak aku lahir, aku selalu dimanja oleh orang tuaku, apapun yang aku minta, secepatnya akan terkabul. Mereka sangat menyayangi aku, benar-benar sangat menyayangiku.


Dan kala aku duduk dibangku kelas 5 SD, saat aku bersekolah di sekolah dasar di kompleks perumahan elite, dekat tempat tinggalku berada, aku adalah anak yang selalu dijauhi teman-temanku, selain aku nakal, aku pun bodoh.


Saat itu, saat aku tengah duduk di kursi ruang Guru, mamaku dipanggil ke sekolah dan menghadap wali kelasku.


“Ibu, anak ibu masih belum bisa membaca, dan Laisa, masih suka mencuri makanan di kantor Guru, dia masih nakal.”


Wali kelasku ibu Elli, membeberkan fakta kenakalanku, yang terkesan menyudutkan mamaku.


”Ibu! Ibu seharusnya berpikir! Laisa itu masih anak-anak! Jadi wajar dong kalau dia nakal!“


Ibuku selalu membelaku meski aku telah berbuat salah.


”Memangnya berapa sih kerugiannya? Ha? Butuh uang berapa?“


Ibuku malah memarahi wali kelasku.


Bukannya apa-apa, aku bisa naik kelas pun, karena belas kasihan wali kelasku. Dan saat itu, dengan ngototnya ibuku, membelaku, dengan alasan, aku bisa berubah, maka mau tak mau, ibu Guru Elli terpaksa mengalah, kembali memaafkan kelakuan nakalku. Kelakuan nakalku yang entah keberapa kali.


Sejak masuk sekolah SD, aku sudah dicap anak nakal, anak yang tak bisa diam, anak yang selalu menjajah teman-temanku, sampai-sampai, aku tidak pernah fokus pada pelajaran, terlebih, nilaiku selalu dibawah standar.


Faktanya, aku bisa masuk ke sekolah ini karena ibuku menyogok. Tadinya aku mau dimasukkan ke sekolah elite di kota Artana, hanya saja, sekolah tersebut tak bisa disogok.


Dan tentunya, karena kebodohanku, serta kenakalanku, beberapa teman-temanku juga sering mengejekku, bahwa aku tak akan punya masa depan sebagus orang tuaku, aku bahkan tak punya teman di sini.


Dan saat aku sekolah, aku selalu mendapat jam pelajaran tambahan, ya, hanya untuk membaca, aku memang belum bisa membaca. Tetapi, selalu saja aku bingung dengan huruf-huruf.


”Dam hina kina mas,“ aku membaca sebuah cerita dengan kemampuanku yang sulit membaca.


”Laisa, itu dibaca ... 'dan kata ikan mas'. Ayo dong Laisa, kamu itu bisa, cuman malas aja.“ wali kelasku berusaha menyemangatiku.


”Ya udah Bu, aku mau pulang, nggak ada gunanya juga kan baca,“ kataku yang memang waktunya juga sudah habis.


”Aduuuuh, ya udah, kamu pulang, tapi ingat, jangan main, langsung pulang ya.“


Tapi aku bersikap apatis dengan itu, aku mengenakan tasku, melangkah menuju pintu, lalu berbalik badan, dan langsung meledek wali kelasku.

__ADS_1


”Dadah ibu guru bodoh ...,“ aku bahkan mengejek wali kelasku dengan memelet.


Kemudian berlari pergi tanpa beban. Kendati demikian, wali kelasku ibu Elli, selalu sabar menangani sikap kurang ajarku, entah sudah berapa kali aku mengejek wali kelasku, dan hebatnya, dia selalu saja tersenyum tenang menanggapiku.


SD-ku berada di dekat rumahku. SD Nusaelite. Tetapi, aku tak langsung pulang, aku selalu bermain di taman di perumahan kompleks rumahku. Aku bukan datang untuk bermain, melainkan untuk mengganggu anak-anak di sana.


Saat aku sedang melihat tiga anak-anak perempuan bermain ayunan, terlebih mereka sampai tertawa riang gembira.


Hingga aku datang, untuk melenyapkan kegembiraan mereka, dan dengan mengambil segenggam pasir dari area taman ini, lalu, aku melempar pasir ini pada anak-anak itu, sambil berkata, ”Ayo pergilah anak-anak bodoh, pergilah ....“


Maka jelas, tiga anak-anak perempuan itu berhenti bermain ayunan, dan mengucek-ucek mata mereka, lengkap dengan merintih kesakitan.


”Hahahaha ... anak cengeng! Nangis! Ayo pulang ke mamamu! Pulanglah!“ ledekku dengan tertawa bangga.


Dengan menangis tiga anak perempuan itu berlari pergi terisak tangis, satu di antaranya, sempat menghardikku, tetapi akhirnya pulang juga.


Dan suasana taman pun menjadi sepi, namun syukur, aku bisa menguasai seluruh taman bermain ini, lebih-lebih, aku langsung menggunakan ayunan yang sempat tiga anak perempuan itu gunakan. Ayunan dengan dua kursi.


Aku, duduk di kursi ayunan sambil mengayun-ayunkan kaki dan mulai bermain ayunan. Aku memang tidak punya teman, semua anak selalu aku jadikan musuh, ya, apatis dengan mereka, aku bisa bahagia dengan caraku sendiri.


Hampir setiap hari, aku selalu mengusir anak-anak yang bermain di taman ini, tapi, hari demi hari yang kulalui di taman ini, terasa jemuk saat anak-anak tak pernah ada lagi di sini, semua terasa hilang entah ke mana, hingga rasa sepi selalu aku rasakan.


Hingga suatu hari, aku mendengar kabar bahwa wali kelasku, ibu Elli, telah keluar sekolah, dan tak tahu beliau pergi ke mana.


Hal tersebut membuat wali kelas di kelasku diganti, tepat oleh seorang guru baru, pria tegas, dan sangat tak adil terhadapku. Barnama Bambang. Pak Bambang.


Maka jelas sudah. Kala dirinya tahu bahwa aku anak nakal yang tak bisa membaca. Habis-habisan dia mengejekku. Dia mengatakan aku tidak sempurna.


”Baca yang benar! Murid-murid bapak di sini semuanya sempurna! Nggak ada yang cacat kayak kamu.“


Wali kelasku kali ini selalu dan selalu mendiskriminasiku. Tentu saja aku marah, namun untuk kali ini, aku memendamnya. Dan bahkan seluruh kalimat hardiknya, menjadi beban dalam pikiranku.


Hanya aku di kelasku yang selalu mendapatkan perlakuan kasar, hanya aku yang selalu mendapatkan sikap diskriminasi, ketika semua murid dibimbing dengan lembut penuh perhatian. Aku selalu dibimbing dengan kasar dan tidak adil.


Aku dibentak, aku juga selalu dimarahi, entah apapun itu, aku akan selalu diledeknya tidak sempurna.


Setiap kali aku mendapat jam pelajaran tambahan, demi belajar membaca. Berbagai macam kalimat yang menyakitkan hatiku selalu digaungkannya.


”Dunia menuntut kesempurnaan, Laisa, manusia-manusia menyukai kesempurnaan!“


”Seluruh makhluk akan bahagia bila sempurna!“

__ADS_1


”Segala yang cacat akan diludahi, segala yang tidak sempurna akan dijauhi!“


”Segala yang tidak sempurna akan dihina dan caci maki, segalanya harus sempurna, benar-benar harus sempurna! Karena ketidaksempurnaan adalah dosa!“


Terus dan terus, sampai setiap harinya digaungkannya kalimat itu, seolah-olah mendoktrinku, menanamkan sugesti, memberikanku sebuah kenyataan yang lama-kelamaan menjadi kenyataan pahit, lalu berkembang menjadi penyakit mental, membuat prinsip tersebut terbayang-bayang selalu dalam kepalaku.


Aku tidak berani meledek guru yang satu ini, bukan karena dia galak, tetapi karena, guruku selalu mengancamku, apalagi, dia punya kekuatan fisik yang kurasa lebih kuat dariku.


Lalu waktu berputar, dan ketika aku dinaikkan ke kelas 6 SD, seluruh kecaman, dan kalimat yang menakut-nakuti dari wali kelasku itu, hingga kini masih selalu terbayang dalam kepalaku, hingga rasanya, telah menjadi pola pikirku. Dan bahkan, aku masih tak bisa membaca.


Kendati demikian, aku tidak pernah membicarakan masalah ini pada orang tuaku, bukannya apa-apa, guruku selalu mengancamku. Bahwa jika aku bicara pada orang tuaku tentang kasarnya wali kelasku, itu berarti aku memang anak cacat. Jadi jelas, karena aku tidak suka dihina, maka sampai detik ini, aku pendam semuanya sendirian.


Orang-orang tidak akan pernah memahami perasaanku, kecuali, mereka berada diposisiku, sebab, hanya manusia yang pernah merasakan sakit hati, yang akan mengenal apa itu sakit hati.


Di sore harinya, saat aku telah pulang sekolah, aku tengah duduk sendirian di ayunan, aku membaca buku pelajaran, dengan tujuan, belajar untuk dapat membaca.


Bahkan saat aku belajar pun, bayang-bayang ujaran wali kelasku selalu ada dalam alam pikiranku.


"Segalanya harus sempurna!"


"Segalanya harus sempurna!"


Kala aku menggenggam buku pelajaran, tanganku selalu bergetar, karena bagaimana pun, aku selalu merasa takut dengan tidak sempurna. Dan saat kata-kata pada buku aku baca, aku mulai ketakutan dan bahkan terasa berat untuk membacanya, aku takut, sangat takut pada kegagalan, karena itu tak sempurna.


Bermenit-menit lamanya aku bergetar kesulitan untuk membaca. Jika aku minta bantuan ibuku, dia pasti akan sibuk mengurus bisnisnya, dan jika aku meminta bantuan ayahku, ayahku pasti sibuk bepergian keluar kota untuk melakukan hobinya. Uang, dan uang, itu yang pasti selalu aku dapatkan, sampai di bawah kasurku, aku punya satu koper penuh yang berisi uang.


Tapi tiba-tiba, kala aku masih gemas karena sulit untuk membaca, tiba-tiba, seekor kecoa hinggap di atas buku bacaanku. Aku tidak takut, tetapi, sedetik setelah itu, seseorang anak laki-laki menakut-nakutiku dengan kecoa yang ada di atas bukuku ini, ya, mungkin karena dia melakukan kejailan.


”Awas ada cecunguk!“ teriak anak laki-laki itu.


Namun karena usaha jailnya gagal, dia mulai menghampiriku, lalu mengambil kecoa miliknya.


”Aneh, biasanya anak perempuan takut sama kecoa?“ heran anak sipit ini.


Sampai-sampai dia memiringkan kepalanya ke kanan hanya demi menatap wajahku.


”Kamu hebat! Kamu anak perempuan pertama yang berani sama kecoa!“ sanjungnya.


”Kenalkan! Aku Anka, kau aku angkat sebagai teman perempuan pertamaku!“ lanjutnya memperkenalkan diri sampai mengulurkan tangan kanannya.


Tapi, aku tidak menggubrisnya, aku justru terusik oleh kehadirannya, sontak, aku lalu beranjak dan berpaling untuk pergi pulang.

__ADS_1


__ADS_2