Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 37: Autobiografi Laisa. (Part 2)


__ADS_3

”He! Besok aku akan datang lagi!“


Tetap saja aku apatis, dan tetap melangkah menuju rumahku.


Bersamaan dengan waktu berlalu, hari pun berganti, dan benar saja, Anka si anak cecunguk itu telah ada di taman, sedang bermain ayunan, dia bahkan sempat menyapaku. Tapi, apatis dengannya, aku tidak jadi belajar atau bermain ayunan, lantas langsung melangkah pulang ke rumah.


Kemudian hari kembali berganti, dan Anka masih saja menungguku di taman, dan tetap menyapaku, hari berikutnya pun begitu, malah, sudah dua minggu dia selalu datang ke taman kompleks perumahan elite ini, hanya untuk berteman denganku, serta menyapaku.


Dan hari ini, karena aku mulai merasa gusar, aku beranikan diri untuk datang ke taman, lagi-lagi dia ada di sini.


Namun masa bodoh dengannya, aku duduk di ayunan sebelah kirinya, duduk sembari mengambil buku pelajaran, dan mulai membacanya untuk belajar lagi.


Aku membaca di dalam hati, agar dengan begini, Anka tidak melihat kebodohanku, tetapi, secara tidak sengaja, karena memang aku juga lelah, aku mulai membaca dengan mengeluarkan vibrasi suaraku.


Sontak, Anka mendengar kecacatanku.


”Itu dibaca, 'rakyat kota Artana, rakyat yang bahagia'.“ cetusnya.


Aku cuman terdiam. Lalu kembali berusaha membaca lagi.


”Kamu belum bisa baca ya?“ tanya Anka memastikan.


”YA, PERGI SANA! AKU ANAK BODOH!“ sergahku.


”Eh? Jangan gitu dong, aku kan cuman bertanya ...,“


”Lagian, aku nggak berniat mengejek,“ belanya.


“Semua orang hanya akan mendekati orang yang pintar, yang berprestasi. Aku cuman sampah.”


Aku mengeluhkan betapa bodohnya aku, menunjukkan inferioritasku.


“Eh? Jangan menjelekkan pesaingmu kalau kamu berada dalam keterpurukan, belajarlah lebih giat lagi, melebihi pesaingmu, nanti, kamu bisa lebih hebat darinya, atau setidaknya, setara dengannya.”


Anka berusaha memotivasiku.


“Kerja kerasku selalu dikhianati hasil!”


Aku tak setuju dengan perkataan Anka.


“Nggak, nggak ada kerja keras yang dikhianati hasil ... kehidupan tidak membalas kerja keras dengan omong kosong, ya, kecuali kalau kamu mudah menyerah.”


Anka lagi-lagi berusaha memotivasiku.


Aku bergeming, hanya mampu sengap.


”Ayo kita tunjukan! Siapa yang salah ucapannya!“ tantang Anka sembari turun dari ayunan dan langsung menghadapku.


Aku hanya diam, dan terpaksa menerima tantangannya, aku gengsi jika menyerah dari laki-laki jail ini, jadi, aku membaca lagi bukuku, dan kali ini, Anka yang mengajariku. Aku berharap ucapanku salah, karena bagaimana pun, aku benci dan tak suka diejek cacat.


Kendati waktu pada akhirnya menjadi pemisah kami, di hari-hari selanjutnya, Anka datang dan selalu mengajariku untuk membaca, terlebih, dia selalu membuat candaan disaat-saat aku salah mengenali huruf, yang tentunya, hal itu mampu membuatku tertawa. Bonusnya, aku mulai mengenal huruf.


Dan tentu saja, aku juga memperkenalkan namaku padanya, sejak hari itulah, aku mulai akrab dengan Anka. Sampai aku tak menyangka, aku bisa akrab dengan anak laki-laki, lebih dari itu, aku bisa akrab dengan seorang anak manusia.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu pun, ketika sudah sampai pada minggu ke tiga, Anka mulai menyadari keanehanku.


”Kenapa Laisa? Kenapa kamu selalu berkeluh kesah tentang ketidaksempurnaan, padahal, kesalahan itu hal yang wajar?“


Awalnya aku tak mau menceritakan masalahku padanya, namun, karena Anka sudah rela mengajariku dengan sabar, terlebih, aku sudah mulai merasakan adanya ikatan batin. Maka aku ungkapkan unek-unekku.


Aku beberkan semua perlakuan kasar wali kelasku padanya, dan entah mengapa, aku mulai meneteskan air mata, air mata ini mungkin bukti, bahwa mentalku terluka, aku benci dengan menangis, itu terasa lemah buatku, tapi, di hadapan Anka, aku menangis.


Selesai aku bicara, Anka termenung sejenak, lalu berkata, “Kau sempurna Laisa! Ya! Kau sempurna, karena kau selalu belajar dan terus belajar!”


Aku cuman manggut-manggut, dan kembali melanjutkan belajarku.


Hingga tiga hari setelah kuceritakan masalahku pada Anka. Tak disangka, dia hadir di sekolahku, bahkan dia pindah ke sekolahku tanpa memberi tahuku.


Jelas saat istirahat siang, disaat semua makan siang di kelasnya masing-masing, aku mulai menanyakan alasannya pindah sekolah.


“Kenapa kamu pindah?”


“Nggak apa-apa, aku ingin tahu aja, seperti apa ketidak-adilan yang kamu rasakan, aku cuman ingin merasakannya aja.” jawabannya singkat dan meyakinkan.


Dan bodohnya, saat aku tengah mendapat pelajaran tambahan untuk membaca, Anka datang ke kelasku, seraya berkata, “Maaf Pak, saya juga nggak bisa baca, paman saya, juga sudah buat surat keterangannya kan?”


Anehnya, wali kelasku mengangguk mengiakan, sehingga Anka pun menjadi satu-satunya temanku di sini.


Kami pun membaca bersama, lebih anehnya, saat ada Anka, kegalakan wali kelasku nampak tidak diperlihatkan, entah mungkin karena dia malu, atau memang sudah lelah memarahiku.


Meski begitu, setelah pulang sekolah, saat aku dan Anka di taman, aku menanyakan kejanggalan tentangnya yang tak bisa membaca, padahal dia sudah bisa membaca.


”Kenapa begitu?“


”Loh, kau itu bagaimana sih, namanya juga teman, masa sih nggak boleh saling merasakan penderitaan?“ jawab Anka dengan santai.


”Haah aneh.“ kemudian aku cuman manggut-manggut, dan kembali belajar pada Anka.


Akhirnya, waktu pun berlalu, tiba di saat dua bulan lebih aku belajar bersama Anka, dan hal yang paling mengejutkannya adalah, seluruh usahaku terbayarkan! Aku sudah bisa baca. Benar, berkat Anka, sekarang aku berhasil membaca.


”Hebat! Hebat! Kamu sekarang sudah bisa baca.“ Anka menyanjungku dengan bertepuk tangan mengapresiasi kerja kerasku.


”Ya! Senang juga rasanya!“ balasku begitu semringah.


”Lihatkan! Kerja keras, tak pernah mengkhianati hasil! Jadi aku menang, nah, karena aku menang ... ya ... aku menang,“ kata Anka.


Dan saat itu, aku telah benar-benar percaya pada Anka, membuat kami semakin akrab, dia juga menceritakan alasannya datang ke kompleks perumahaan elite ini, katanya, dia hanya ingin mencari teman perempuan yang berani dengan kecoa, dan hanya aku yang berani.


Hingga beberapa bulan kemudian, aku terus belajar bersama wali kelasku, tentu saja ini hanyalah kepura-puraan, karena bagaimana pun, aku dan Anka akan membuatnya terkejut.


Sampai datang hari, di mana seminggu lagi adalah ujian kelulusan.


“Kamu nggak akan mungkin mengikuti ujian nasional, karena kamu nggak bisa baca.”


Wali kelasku bersikap pesimis terhadapku.


Sontak aku membuka halaman buku pelajaran pada akhir bab, sebuah bab yang berisi langsung cerita panjang, langkah terakhir untuk bisa dinyatakan lulus dalam membaca.

__ADS_1


Lalu kubaca dengan lantang dan keras, “Saat hujan mengguyur kota Artana, seeorang gadis yatim piatu berlari menuju seberang jalan, ya, dia berlari dalam guyuran hujan hanya demi mengantarkan sebotol parfum milik seorang pria tua. Dia tahu pria tua itu pasti akan membutuhkannya. Sebuah parfum yang sempat tertinggal di kursi taman. Untung baginya pria tua itu berada di seberang jalan. Gadis itu berlari, dengan memanggil sang pria tua, "Hei Pak tua! Pak tua!" tapi seruannya tak mampu terjangkau oleh telinga pria tua itu, hingga langkahnya, serta seluruh kebaikannya, terhenti, kala sebuah bus tiba-tiba menabrak gadis kecil yatim piatu itu.”


Aku cukup membaca setengah dari bagian cerita, sebab Anka yang melanjutkan ceritanya, lalu berakhir sempurna.


Tapi wali kelasku tidak percaya, seraya berkata, “Ha? Kamu pasti menghafalnya.”


Tapi dengan lantang dan menunjuk-nunjuk wajahnya, demi menguatkan argumenku. Aku menyentak, ”Aku akan lulus dari sekolah ini! Ya! Dan aku pastikan! Ini bukan karena bapak!“


Tak perlu berlama-lama lagi, aku langsung pergi untuk pulang, pergi bersama Anka penuh kebanggaan.


Lebih dari itu, ketika malam tiba, saat orang tuaku sedang berkumpul, aku langsung menunjukkan keberhasilanku pada mereka, maka, mereka pun senang, bangga serta terharu melihat keberhasilanku.


”Laisa, lihatkan, kamu bisa, jam tambahan itu memang berguna.“ mamaku menyuarakan kegembiraannya.


”Gurumu memang sabar, wali kelas keduamu itu memang sudah berkompeten.“ papaku juga menyuarakan kebanggaannya.


Namun demi melindungi citra baik guru-guru di sekolahku, aku berkata, “Iya, wali kelasku yang kedua memang lebih sabar dan paham.”


Dan lebih-lebih, ada hal yang mereka masih tidak ketahui, bahwa Anka adalah orang yang sebenarnya telah mengajari aku. Dan tak penting juga memberi tahu mereka.


Di hari ujian tiba, setelah aku banyak membaca buku pelajaran, berkat membaca pula, banyak ilmu yang melekat pada kepalaku, hingga banyak soal ujian yang benar-benar bisa aku jawab.


Dan akhirnya, seminggu setelah ujian berlangsung, aku dinyatakan lulus dari SD, dengan nilai yang cukup baik, cukup membuat mamaku loncat-loncat kegirangan.


Mamaku memiliki sifat yang sama sepertiku.


Tapi, di hari itu juga, aku dapat izin dari mamaku untuk bermain bersama Anka di taman, ini hanya sekadar bermain ayunan untuk merayakan kelulusan sekaligus membicarakan SMP nanti.


Akan tetapi, secara bersamaan, wali kelasku tiba-tiba datang, wajahnya murung, terlihat begitu menyesal. Akibatnya, aku langsung beranjak dari kursi ayunan sembari mendekati wali kelasku.


Dengan wajah kuyunya, serta senyuman bangganya, ditambah pancaran matanya yang penuh penyesalan, wali kelasku berkata, “Maafkan bapak Laisa, bapak minta maaf sudah terlalu diskriminasi padamu.”


Namun, aku menatapnya tajam, mendekus geram, mengepal tinjuan yang terasa ingin memukulnya, aku terlanjur kecewa, terlanjur murka, dia seorang guru, yang sama sekali tak memberi esensi dari citra guru itu sendiri. Kecuali jika dia dijadikan guru untuk mengajari cara 'menghardik seorang anak perempuan yang tak tahu apa-apa'.


Jelas, dengan cua, aku berteriak meluapkan kekesalanku, “AAAAAARRRGGGGHHHHH ...!”


Selang tiga detik, selesai aku berteriak, tiba-tiba, tangan Anka menggenggam tangan kiriku, dengan berkata, “Ayo kita rayakan kelulusan kita.” dia berusaha membawaku pergi dari Pak Bambang. Dia berusaha untuk membuat hari ini penuh keceriaan.


Akhirnya, aku berlari pergi meninggalkan guruku di taman dalam penyesalan.


Dan untuk ini, aku langsung membuang kekecewaanku, membuangnya karena, aku sedang berlari bersama Anka, dan tak pantas aku malah meluapkan padanya. Ketika kami berhenti, kami melihat-lihat ke sekeliling kompleks, berdiri di pinggir jalan, dengan napas terengah-engah.


“Pestanya bagaimana ya ...?” Anka berpikir untuk menemukan ide.


Selama Anka mencari ide dalam kepalanya, aku berkontemplasi, mulai mensyukuri bahwa ternyata, memiliki teman itu, menyenangkan. Anka, hanya anak laki-laki ini yang membuatku selalu merasa sempurna.


“Aneh rasanya ... sekarang aku merasa sempurna hanya gara-gara aku punya teman.” Aku ungkapkan perasaanku dengan raut merenung.


Anka tersenyum, lalu berkata, “Untuk merayakannya, ayo kita bunyikan semua bel rumah di kompleks perumahan ini!”


Lalu dengan senangnya, aku berlari bersama Anka, berlari untuk bersenang-senang.


Insiden, peristiwa, atau sejarah, itulah yang membentuk seorang manusia sepertiku.

__ADS_1


__ADS_2