Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 23: MENYATAKAN CINTA ADALAH KEMAJUAN.


__ADS_3

Malam yang dingin itu berlalu bersama kepergian teman-temanku dipukul 00:00 tepat, seperti halnya Cinderella yang tak punya banyak waktu untuk bersenang-senang, hanya saja dalam kepergian mereka tentunya kegembiraan dan bersenang-senang sudah mereka nikmati.


Dan tidur adalah kegiatanku dalam menghabiskan sisa waktuku, tak ada 'bunga tidur' hanya bayang-bayang hitam yang terpatri dalam penglihatanku.


Hingga sampailah waktu di mana kelopak mataku mulai terbuka tersendat-sendat, badan agak lemas, tangan juga ikut lemas, semalam mungkin aku terlalu lelah, mengingat bukan hanya makan banyak yang kuperbuat, tidur di waktu pukul tiga pagi, itulah alasan mengapa tubuhku terasa kaku, tetapi karenanya, menguap adalah bukti kalau aku masih mengantuk detik ini juga, sehingga tidur lagi adalah hal yang tepat. Benar, aku kembali tidur, tak peduli sekarang jam berapa, tak peduli juga cuaca seperti apa, yang penting hari ini rasa malasku bisa sempurna kunikmati.


Hening dalam damai, di kamarku hanya ada udara hampa dan diriku yang mengisi kesunyian kamar, persetan dengan suamiku yang terbaring ringkih di rumah sakit, fobia-ku telah menuntunku pada perasaan yang benar, yaitu, tetap di rumah ini menjalani hari-hari biasa tanpa beban.


Sungguh disayangkan, kala kedamaian telah meresap jauh ke relung kalbuku, bahkan jiwaku yang sempat lirih menangis telah diam dalam damai, sebuah panggilan telepon memecah kedamaian tidurku, nada dering ponselku menyeruak di kamarku ini, hingga gendang telingaku digedor untuk buru-buru merengkuh ponsel pintarku yang bernuansa biru bonyok.


“Sialan.” sebuah umpatan muncul dari reaksi kegusaranku, tepatnya terganggu.


Tentu saja ponselku telah hidup kembali, percaya atau tidak, setelah makan malam bersama kawan-kawan, di tengah malam, aku mengecas ponselku, dan dalam penantian ponselku itu, menonton film adalah caraku menanti.


Di sebuah bantal bersarung bantal nuansa biru yang selalu digunakan Harfa, ponsel pintarku tergeletak di sana, dan buru-buru kuraih ponselku itu, pukul 12:05 siang hari, adalah hal yang pertama mataku tangkap dari sudut layar ponselku, lantas menerima panggilan masuk dengan ponsel yang kutempelkan di telinga kiri.


“Woy ada apa Anka?” kutanyakan atas alasan apa dia berani-beraninya meneleponku, dan benar, Anka-lah sang peneleponnya.  Masalahnya dia meneleponku saat diriku telah terlelap dalam damai, lalu mengubahnya menjadi kebisingan nada dering ponselku. Ngomong-ngomong, nada dering panggilan ponselku adalah suara cekikikan 'kuntil-anak,' yang pastinya itu bukan suara asli 'kuntil-anak.'


“Aku mau menyatakan cinta pada Ovy!” sebuah jawaban yang malah membuatku geram. Apa lagi itu sangat mendadak.


“Lalu mengapa kau malah meneleponku? Harusnya kau panggil Ovy,” jelas kugaungkan pertanyaan atas geramnya aku, aku geram karena alasan Anka memecahkan kedamaian tidurku, sangat tak masuk akal.


“Aku butuh saksi, dan teman di sini.” lagi-lagi pernyataan nyeleneh yang membuatku semakin geram.


”Butuh saksi? Aneh kali kau, apa nggak sekalian sama paman bibi-mu kau ajak?“ sindirku.


”Sudah buruan datang, masa kamu nggak mau menolong sahabatmu ini?“ balas Anka mendesakku.


Bukannya aku tidak mau menolong, hanya saja, alasannya yang begitu taksa membuatku bingung. Butuh saksi demi menyatakan cinta? Ada-ada saja sahabatku ini.


”Ahk kau ... ya sudah, kirim posisimu, aku siap-siap dulu.“ terpaksa, tidurku harus dijeda, sebab, bagaimana pun, sahabatku sudah menyuarakan permintaan tolongnya, aku tak tega jika harus menolaknya, apa lagi, dia mau 'menembak' seorang cewek dan itu teman sekelasnya lagi.


Aku langsung terduduk di kasur selepas terputusnya panggilan telepon, kusempatkan meregangkan kedua tangan sampai-sampai menguap kembali terjadi. Kemudian kuberanjak menuju kamar mandi, tubuhku yang masih dibalut seragam sekolah terpaksa kali ini harus kuganti, jalan pun terseok-seok karena terlalu malas.


Aku masuk ke dalam kamar mandi, pertama aku bersikat gigi, kedua menyeka wajah, ketiga, mengganti pakaian dengan pakaian 'main', yaitu blus tunik polos warna biru, lengkap dengan setelan celana panjangnya. Tepat, aku tidak mandi, rasa malas yang menjeratku memberiku ruang untuk sebuah rencana bagus selain mandi, yaitu; memasang aroma parfum yang banyak di badanku, dan kini, aku telah duduk di bangku depan meja riasku. Menyemprotkan parfum beraroma bunga melati kesekujur tubuhku, berusaha agar aroma 'hangit' badanku tak bigitu pekat, sesekali aku dekatkan hidungku pada ketiakku, menyenguk sejauh mana aroma parfum ini bekerja, syukurnya, parfum ini bekerja dengan baik, karena bagaimana pun, aku selalu punya cara agar terlihat segar dan wangi.


Setelah botol parfum kukembalikan pada posisinya. Diriku yang malas ini bangkit dari duduk, lantas memulai langkah pertama untuk menyusul Anka.


Menurut pesan yang diterima ponsel pintarku, Anka berada di kafe pinggir jalan, sebuah kafe tempat pertemuan pertamaku dengan Kak Farka.


Karena sepedaku dititipkan pada Wisty, maka jalan kaki adalah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan, lagi pula, jarak kafe dengan rumahku cukup dekat, hanya perlu melintas lewat halaman belakang rumahku, menapaki jalanan lurus kompleks, lalu keluar gapura perumahan, sisanya belok ke kanan menyusuri terotoar jalan, maka tibalah aku di kafe 'pinggir jalan'. Sebuah kafe yang bersebelahan dengan toko baju serta toko swalayan. Kafe dengan nuansa monokrom, warna putih yang mendominasi kafe membuatnya nampak bersih, jendela besar membuat kafe minimalis itu terlihat luas, ditambah teras yang hanya terdapat dua meja kayu dikhususkan bagi pelanggan, menandaskan memang minimalisnya kafe tersebut, akan tetapi, aku lebih setuju jika kafe itu malah terlihat seperti kamar mandi.


Benar saja, Anka telah duduk di kursi kayu yang tersedia di teras kafe, duduk memunggungiku. Tunggu dulu, aku terpaksa berhenti melangkah, karena telah kudapati pula seorang gadis bertubuh sintal tengah berbincang dengan Anka, benar, gadis itu adalah Ovy, dia duduk di kursi depan Anka dalam raut muka serius. Suasana jalan raya serta kafe kebetulan cukup sepi, udara pun mengalun lembut, sebuah suasana yang memang nyaman untuk bisa berkonsentrasi mengungkapkan perasaan cinta.


Jarakku dengan meja Anka tinggal sepuluh meter lagi, tetapi diriku terperangah kaget kala Ovy mengangkat tangan kanannya demi melambaikan tangan untuk menyapaku, ditambah Anka yang memutar setengah badannya hanya untuk ikut melambaikan tangan kanannya, menyapaku. Sial, aku takut mengganggu keintiman mereka berdua, hanya saja, mengingat aku diminta untuk datang kemari, maka terpaksa, dengan rasa canggung, aku langkahkan kakiku menghampiri mereka, bonusnya, aku mengembangkan senyuman simpul dalam setiap langkahku.


... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...


Hingga jarak satu meter adalah posisiku di samping dua rekanku ini, maka secara tedas, kulihat pakaian mereka yang kopel, Anka mengenakan kemeja berlengan pendek bernuansa ungu, begitu pun dengan Ovy yang sama-sama mengenakan kemeja nuansa ungu berlengan pendek, perbedaan di antara setelan mereka hanyalah dari celananya, denim pendek warna hitam adalah yang dipakai Ovy, sedangkan celana pendek berbahan katun adalah yang dikenakan Anka.


Maka kala reseptor-ku menangkap uraian senyum di wajah ke dua rekanku, maka secara efektor kukembangkan senyum lebih lebar lagi, hingga gigi putih rataku ditampakkan dan bonusnya lesung pipiku melekuk.


”Ayo duduk ketua kelas, jangan berdiri aja kayak lupa caranya duduk,“ kata Ovy dalam gurauannya yang menurutku malah agak 'garing' dan menyilakan agar kududuk.


Tentu saja, tanpa banyak omong, aku seketika duduk di kursi kayu di samping mereka, —di meja ini telah disediakan empat kursi kayu bercat putih yang mengelilingi meja— kududuk mengelilingi meja bundar di tengah kami, sampai netraku menangkap dua gelas kopi berwarna hitam yang masih mengebul uapnya ke udara, sepertinya kopi itu baru dipesan mereka. Tapi tunggu, kenapa aku agak geli ya, saat menyadari jenis kopi pesanan mereka identik dan gelas kacanya pun identik, astaga, sebegitukah cinta membuat mereka harus menyamakan apapun, demi sesuatu yang disebut serasi? Bahkan aku dan suamiku tidak begitu-begitu amat.


”Nah ... aku sudah datang,“ kataku dengan memandang wajah Anka.

__ADS_1


Di sana, di wajah Anka, kentara sekali bahwa ia semringah dalam persoalan ini, benar, persoalan pernyataan cintanya yang katanya akan dibeberkan sekarang.


Dan aku harus menjadi saksi?


Lantas, secara lembut, bibir tipis Anka mengembangkan senyuman simpul, netranya tertuju pada gelas kopi punyanya, tapi belum ada satu kata pun yang terdengar oleh kupingku. Mungkin Anka mempersiapkan mentalnya untuk mengungkapkan perasaannya. Akibatnya, aku menoleh pada Ovy, menatapnya dengan kening mengernyit, kupasang muka serius, tepatnya menerka-nerka, apa Ovy sudah tahu alasannya datang kemari?


Ovy menyunggingkan senyuman jengah, respons dari pandanganku yang memindainya. Hingga akhirnya, kernyit keningku lenyap kala mulut Anka membeberkan sebuah fakta yang mencengangkan.


”Tadi, Aku sudah ungkapkan pada Ovy ....“ Anka bicara masih memandang pada gelasnya.


Sontak mataku melebar memandang Anka.


”Iya ketua, dia aneh banget kalau menyatakan cinta.“ tiba-tiba Ovy menimpali dengan raut muka riang.


”O-oke ... jadi ...?“ jelas aku bingung pemaparan mereka masih begitu rancu.


Hingga kudapati, wajah Anka menghadapku, menatapku bersama senyuman simpul yang ditujukan hanya untukku. ”Hem ... kita adalah teman,“ pungkas Anka dengan spesifik.


Jelas keningku kembali mengernyit, bingung dalam meresapi maksud perkataan Anka.


”Iya ketua ....“ Ovy bicara, maju untuk menjelaskan.


Maka pandangan bingungku beralih padanya.


”... kami tetap menjadi teman saja, karena, aku sudah punya pacar,“ jelasnya dengan raut muka ceria.


Gila, aku kaget mendengar pengakuan Ovy. Itu artinya, cinta Anka ditolak, dan masih sempat-sempatnya mereka duduk manja dengan tersenyum manis di sini, padahal, menurut pengalaman mataku, yang pernah kulihat di dalam film, biasanya, kala telah terjadi pengakuan cinta, dan pengharapan itu ditolak, maka sikap canggung akan otomatis terjadi, bahkan ke dua objek bisa langsung pergi menghindar. Tetapi, apa yang tersaji di depanku, tidak seperti di film, atau tepatnya, kenyataan kadang berbanding terbalik dengan film.


”Tunggu-tunggu-tunggu-tunggu, tunggu dulu.“ aku berusaha menelisik.


Ovy hanya mengangguk mengiakan.


”Siapa pacar kamu?“ usutku serius.


”Dia Elpan.“


”ELPAN?“ ulangku begitu tak mengira dengan pengakuan Ovy.


Lagi-lagi Ovy mengangguk membenarkan.


”Njir ...,“ umpatku.


Lalu kutegakkan badan dalam renungan yang dalam, tentu saja aku merenung, mengingat-ingat kembali tentang kebersamaan Ovy dan Anka yang begitu akrab, sampai-sampai aku mengira mereka akan menjadi sepasang kekasih yang mesra, berpikir lagi bahwa, seluruh 'kode' yang diberikan Anka hanyalah dianggap tindakan keakraban dari seorang teman belaka, dan kejadian ini malah menimbulkan banyak pertanyaan dalam kepalaku.


”Tunggu dulu ... sejak kapan kamu pacaran dengan anak itu?“ usutku.


”Hari Minggu yang lalu,“ balas Ovy serius.


”Terus kenapa tak ada berita sama sekali?“ kembali kumengusut.


”Nggak apa-apa, anak-anak yang lainnya juga belum pada tahu,“ jawab Ovy dengan santai.


Ya, memang belum tahu, tetapi justru hal ini menjadi masalah kejiwaan dalam diri Anka, bahkan bisa menjadi bahan pikirannya, dan jika saja Ovy memberi tahunya lebih dulu padaku, ada kemungkin aku bisa memberi tahu pada Anka, sehingga Anka tak perlu menelan kenyataan pahit secara mendadak begini, dia sahabatku, dan aku sebagai sahabatnya, tak sudi melihatnya dikecewakan oleh orang yang dicintainya.


Tetapi apalah dayaku, yang hanya sebatas teman bagi dua insan di depanku ini, aku tak mungkin memarahi Ovy, karena sangat aneh sekali jika aku memarahinya hanya gegara dia tak memberi tahu pacaran dengan Elpan, lebih-lebih, kebingungan kini malah melanda pikiranku.


”Terus sekarang kamu ngapain pakai baju yang sama dengan Anka? Ngapain kamu datang kemari? Ngapain pesan kopi yang sama dengan Anka?“ berkat kebingunganku pertanyaan yang mengganjal pun lepas dari mulutku.

__ADS_1


Aku heran dengan Ovy, padahal belakangan ini, mereka terlihat begitu akrab, namun aku tidak berani menanyakan mengapa dia begitu akrab dengan Anka, karena jawabannya pasti adalah soal pertemanan, benar-benar aneh, sampai-sampai aku berperasangka buruk, bahwa Ovy hanya mempermainkan perasaan Anka semata, masa sih Ovy yang memiliki jiwa keibuan tak paham kode-kode cinta dari seorang pria. Apa harus hanya karena dia tak paham 'bahasa cinta' aku mesti melenyapkan persepsiku tentang jiwa keibuannya?


”Loh, Anka yang menyuruhku memakai baju ini, Anka juga yang membelikan baju ini, kopi juga dia yang pesan, jadi aku sangat berterima kasih pada Anka sudah mau memberikanku kopi dan baju, nah ... aku datang karena diundangnya,“ beber Ovy terus terang.


”Tapi, nanti malam aku ada acara kok sama Elpan,“ imbuh Ovy.


Aku menghela napas, sepertinya rencana Anka untuk dapat menjalin kasih dengan Ovy, mesti pupus sekarang juga.


Dan kudapati raut muka Anka masih semringah, bahkan senyuman tersungging di wajah mulusnya. Tapi tunggu dulu, ternyata begitu, kini sebuah ilham muncul dalam alam pikirku, dan malah baru sekarang aku menyadarinya, bahwa bila Anka tersenyum tanpa mata memicing, itu berarti; senyumannya hanya sebatas basa-basi semata. Sedangkan senyuman dengan mata memicing adalah respons dari semringahnya hati. Benar, seluruh kesimpulan itu terlihat dari gestur tubuhnya, dan dari cara dia memandang.


Tetapi kini, bola matanya yang sering menyerong ke kanan bawah, dan alis dalamnya yang agak naik ke atas, itu menyimpulkan sein kesedihan, berteman sedari kecil dengannya, membuat ikatan batinku yang kuat juga ikut menandaskan bahwa Anka memang sedih.


Anka telah menutupi rasa cuanya dengan ekspresi semringah yang dibuat-buat, tepatnya membuat gestur tubuh kepalsuan. Namun aku hanya diam saja, takut kalau terkaanku salah.


”Terus kita ngapain di sini?“ tanyaku yang berniat untuk pulang, lagi pula hari libur ini aku ingin tidur di kasurku lagi, menikmati suasana damai demi mengenyampingkan masalah hidup.


”Kau terlambat sih, tadi kan aku sudah mengirim pesan jangan datang terlambat,“ papar Anka.


”Kayaknya nggak deh, kamu yang kecepatan,“ sanggahku.


”Hahahaha ... lagi-lagi alasan konyol itu ...,“ balas Anka dengan berdekah.


Memang harus kuakui, alasanku selalu datang terlambat, baik terlambat ke sekolah atau terlambat berbagai acara, kalau tidak mengeluh bahwa aku sedang menolong orang lain, jurus kedua alasanku ya, menuduh mereka-mereka yang datang terlalu cepat.


Namun aku kagum pada sikap Anka yang masih sanggup tertawa lepas di depan orang yang menolak cintanya.


“Oh iya, jadi lupa, ketua mau pesan apa?” tawar Ovy.


“Nggak ahk malas, aku mau ngopi di rumah aja, kopi di warung lebih murah soalnya.” aku menolak dengan santai.


“Tapi aku yang bayar kok.”


“Nggak perlu, sebenarnya aku nggak mau kopi, maunya tidur.”


Lantas Ovy mengangguk menerima baik-baik penolakkanku.


“Ya sudah, teruskanlah perbincangannya ...,” tuturku menggantung kalimatku seraya bangkit dari duduk.


“... aku mau lanjut tidur dulu di rumah,” lanjutku dengan memandang dua rekanku secara bergantian.


Dan betapa bersyukurnya aku, saat mereka mengizinkanku untuk pulang, aku pamit, benar-benar kembali pulang tanpa ada yang mencegat, tanpa banyak bicara.


Berikanlah nyawamu padaku


Atau aku ganti dengan kutukan


Ya jiwaku merintih kehausan


Maka berikanlah napasmu


     Aku ingin kau berdarah untukku


      Aku ingin kau gila bersamaku


      Aku ingin kau menyenguk aroma tulangku


      Ya cepatlah dekap aku agar sembuh dari sekaratku

__ADS_1


__ADS_2