
'KRING-KRING'.
Kala tiba di rumah, aku sandarkan sepedaku ke dinding garasi, lalu masuk ke dalam rumah, kakiku terus melangkah hingga sampailah aku di ruang tengah, maka tas gendong aku taruh di sofa panjang, bersamaku yang ikut duduk di samping tasku.
“AAARRRRGGGGGHHHHHH ...!” aku berteriak meluapkan lagi gejolak emosiku yang tertekan, dan memang kata Guru Sukada teriak saat mental dalam tekanan bisa merileksasi sedikit ketegangan pikiran.
Aku menyerah untuk sekolah di SMA Lily Kasih itu, beban hidup di sekolah tersebut adalah penyebabnya, beban hidup yang terlalu berat dan masalah yang bagiku sangat tidak masuk di akal. Mengingat aku tidak suka dikekang, tidak suka di perintah, tak mau ada intervensi, tak mau ada interupsi, tak mau ada interdiksi. Apapun itu, aku harus selalu mendapatkan yang sempurna.
Dan untuk cita-citaku menjadi seorang wasit sepak bola, masih tetap aku tuju, tak akan pudar hanya gegara masalah bodoh hari ini.
Aku duduk bersandar di sofa, menatap ke depan pada kekosongan, alam pikirku kini tengah berkutat pada kenyataan hidup yang kini aku terima, pertama, seluruh pradugaku terhadap bahagia sudah aku capai, itu salah besar, kedua, suamiku tidak akan sempurna lagi, dan yang paling menyakitkannya adalah atelofobia-ku menyeruak kembali, benar, aku mulai memikirkan bahwa hidupku terasa menjadi tidak sempurna lagi.
“Errrrggggghhhhh ....” aku bergigit hingga rahangku mengeras dan tanganku mengepal jemari begitu erat.
Sialan, benar-benar gemas rasanya menyadari bahwa hidupku sekarang sudah tidak sempurna.
Segala bentuk ketidaksempurnaan tidak bisa ditoleran, dunia menuntut kesempurnaan, manusia-manusia menyukai kesempurnaan, seluruh makhluk akan bahagia bila sempurna, segala yang cacat akan diludahi, segala yang tidak sempurna akan dijauhi, segala yang tidak sempurna akan dihina dan caci maki, segalanya harus sempurna, benar-benar harus sempurna! Karena ketidaksempurnaan adalah dosa!
“AAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGGGHHHH ... BERENGSEK! PIKIRAN BERENGSEK!” aku meronta-ronta hingga jemariku menjambak rambutku.
“Eeeeeerrrrgggghhhh ...” aku membungkuk mencengkram muka lutut kuat-kuat, cukup kuat hingga kukuku membuat rasa sakit pada lututku.
“Ketidaksempurnaan tidak dapat ditoleran.”
“Ketidaksempurnaan tidak dapat ditoleran.”
Kalimat itu terus membayangi alam pikirku, selalu dan selalu menghantuiku, seolah ketidaksempurnaan adalah dosa besar.
Aku selalu berpikir, tentang ketidaksempurnaan yang membuat orang saling membenci, fisik manusia bila tidak sempurna pasti akan selalu dipandang hina, akal budi manusia bila tidak sempurna pasti selalu membuatnya gelisah, kinerja manusia bila tidak sempurna pasti selalu menjadi bahan ejekkan, dan seluruh hasil yang tidak sempurna pasti selalu dijauhi oleh manusia, lebih dari itu, manusia akan membenci ketidaksempurnaan, dan bagiku ketidaksempurnaan adalah bahan olok-olokan yang begitu artistik bagi sang pelaku.
“AAARGH!” teriakku dengan satu kali tarikan napas.
Lantas aku duduk bersandar kembali di sofa, tak lupa jemariku menyiah rambutku secara kasar, salivaku kutelan agak berat, napasku naik turun tak beraturan, tanganku kembali bergetar seperti tremor, gigiku bergigit erat, dan bola mataku terarah ke depan pada kehampaan.
Perlahan namun pasti, aku berusaha tenang, aku harus tenang, mengingat kembali pesan Guru Sukada, bahwa semua beban emosi harus dihadapi dengan ketenangan jiwa, dan pikiran positif, ini memang tidak terlalu berhasil, karena sikap masa bodohku justru yang lebih dominan untuk membuatku menjadi lebih santai.
Masalah hidup, dan masalah hidup, itulah faktor kuat pikiran ketidaksempurnaan menyeruak dalam pikiranku. Benar, aku yakin dengan itu.
Memang aku membandel untuk tidak berobat ke psikiater, aku bahkan tidak pernah meminum obat anti depresan yang pernah diberikan psikiater.
Malas juga untuk berkegiatan hari ini, perasaanku sedang buruk, akibatnya, tidur di sofa ini adalah cara terindah demi memenuhi hasrat berleha-lehaku.
Aku berbaring ke samping kanan di sofa ini, menumpukan kepalaku pada lengan kursi, bersedekap menyilang tangan, dan menikmati keheningan yang melingkupi suasana rumah ini, mataku terpejam, maka sampailah aku ke dalam situasi tidur.
Gelap, tentram dan hampa, tiga hal itu yang kualami dalam tidurku, meresapinya tanpa memedulikan putaran waktu, terlelap begitu dalam, hingga diriku merasa hilang, lenyap tak menyadari apapun.
Seluruh ketidaksadaran ini lantas berubah pada perasaan di mana detak jantung adalah hal pertama yang kurasa, sedangkan embusan napas menjadi pertanda aku tetap hidup, hingga sampailah pada kelopak mataku yang sempat membuka, mata biruku mengintip tanpa sengaja pada lingkungan sekitar, maka secara buram siluet seorang manusia yang duduk bersila di atas karpet, berhasil mata biruku tangkap, namun berkat alam sadar yang masih terikat pada diriku yang tertidur, mengakibatkan ketidakpedulian pada siluet itu, sempat menjadi angin lalu semata, sebelum akhirnya, kelopak mataku terbuka agak berat, tetapi berkat mengerjap beberapa kali, kelopak mataku terdedah sempurna, siluet itu berhasil beralih menjadi sesosok pria muda nan berkarismatik.
“Kak Farka,” ucapku menyebutkan nama manusia yang tengah duduk bersila di depanku.
Jiwaku masih agak rambang, hanya saja, berkat kehadiran Kak Farka yang tiba-tiba layaknya perampok ulung, membuat diriku langsung bangkit untuk duduk, tentu saja aku agak kesal menyadari kehadiran Kak Farka yang seenaknya saja masuk ke rumah orang tanpa permisi.
Aku sempat menguap, dan menggaruk punggungku karena gatal, lantas kedua mataku kuseka dengan lengan baju kemeja sekolahku, maka pandangan buramku lenyap seketika, selanjutnya duduk bersandar di sofa, tetapi mataku tertuju pada langit-langit rumahku.
“Sangat tidak sopan ya.” aku menyindir sikap lancang Kak Farka dengan lantang.
Penampilan Kak Farka tetap rapi dengan setelan formal, rambutnya pun masih klimis, dan wangi khas parfumnya merasuk ke hidungku.
“Pertama, kakak minta maaf karena sudah lancang, kedua, sebagai bentuk permintaan maafnya, kakak akan membantu apapun yang kamu minta hari ini,” ungkap Kak Farka.
__ADS_1
“Ya, enyahlah dari hidupku sekarang juga,” ketusku dengan bersedekap menyilang.
“Laisa, Guru Sukada berpesan padaku, bahwa kamu harus didampingi, kesehatan mentalmu harus diawasi,” kata Kak Farka.
“OMONG KOSONG!” sentakku sampai aku harus duduk tegap dan memelototi Kak Farka.
Setelah kuhina perkataan Kak Farka, aku duduk tegap dengan mendilak dan tangan masih bersedekap menyilang.
“Kakak pernah bertanya, apa tujuanmu bersekolah, apa mimpimu, dan sekarang, kakak ingin bertanya lagi, apakah autobiografimu sudah rampung?” tanya Kak Farka dengan santai.
Aku mendekus pasrah, orang ini tidak mungkin pergi kalau aku tidak menjawab pertanyaannya, maka aku arahkan wajahku pada wajah Kak Farka, menatapnya dengan raut muka tak peduli.
“Kalau aku sudah merampungkannya apa kakak mau pergi?” tanyaku serius.
“Kenapa aku harus pergi? Apa kamu tidak mau bergabung dengan kakak?” balas Kak Farka.
“Ha? Bergabung dengan orang yang halusinasinya tinggi? Mana mau aku bergabung dengan orang gila seperti kakak,” tukasku dengan menatapnya intens agar dia tahu aku sudah muak dengan semuanya.
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
“HE ANAK MUDA!” tiba-tiba Kak Farka menyentakku dan raut mukanya begitu serius.
Alisku pun sempat terangkat ke atas, karena aku memang kaget.
“APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN JIKA SEJARAH AGAMAMU DIBELOKKAN? APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN JIKA SEJARAH NEGARAMU DIBELOKKAN? DAN APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN JIKA SEJARAH ASLI DUNIA DIMANIPULASI OLEH PARA PENJAHAT?” suara lantang Kak Farka begitu tegas dan mantap bahkan jiwaku sampai tergetar karenanya, hanya saja, persepsiku yang menganggap Kak Farka sudah gila, menciptakan gengsi untuk ikut bergabung dengan Kak Farka, entah bergabung untuk apa.
“Kamu tahu kenapa konteks autobiografi SMA adalah sejarah? Dan dengan seenaknya kamu mengolok-olok kakak orang gila,” sindir Kak Farka.
“Sekarang coba kamu pikirkan, jika sejarah telah dibelokkan, umat beragama pun bisa terpecah belah, contoh kecil saja, jika rakyat kota Artana ini membelokkan sejarah wali kotanya, apa yang akan terjadi? Selain wali kota kita difitnah oleh sejarah palsu, rakyat pun pasti akan terpecah belah, satu sisi memihak sejarah yang 'A' satu sisi memihak sejarah yang 'B' dan kedua kelompok merasa dirinya yang paling benar ...”
”... teman Kak Farka sangat suka membaca kisah para pahlawan negara, dan saat kakak bertanya 'kenapa membaca kisah para pahlawan negara sampai diulang-ulang?' Dan dengan santainya, teman kakak yang bernama Fihan berkata 'agar aku tak melupakan sejarah penting para pahlawan bangsa, karena jika aku sudah lupa sejarah para pendiri negara, takutnya ada tangan-tangan usil yang bisa membuat fitnah, lalu membelokkan sejarah', ...“
“Tetapi itu masih terlalu tinggi, kesannya seperti mengkhayal begitu tinggi, Azopa bahkan lebih memilih membaca kisah para pahlawan ketimbang menulis hidupnya,” ujarku.
“Pertama, topik yang kamu bicarakan itu bukan pilihan, sekarang begini, membela ayahmu atau membela ibumu? Dicintai atau mencintai?” beber Kak Farka.
Aku diam merenungi perkataannya.
“Loh kok kebingungan, itu kedua-duanya adalah keharusan, manfaat yang paling besarlah yang mesti kita ambil, pertama, kita membaca sejarah para pahlawan agar kita bisa mengambil tamsil dari sejarah tersebut, lalu melaksanakan seluruh kebaikan dari sejarah tersebut, dan bila perlu membuat sejarah yang lebih baik dari sejarah nenek moyang kita terdahulu, jadi penjahat yang lebih jahat dari orang terdahulu, atau menjadi pahlawan yang lebih hebat dari orang terdahulu, nah, itulah yang kami sebut pembentukan mental,” tegas Kak Farka.
“Aku mau menjadi manusia biasa saja pusing dengan semua itu,” keluhku.
Kak Farka malah tiba-tiba tertawa.
“Hahahaha ....”
Dan itu adalah pertama kalinya aku melihat kakak Farka tertawa, sampai-sampai aku memandangnya tak berkedip, aku kira Kak Farka adalah manusia langka yang tidak tahu caranya tertawa, tapi syukurlah, dia masih sehat, rugi rasanya kalau di dunia ini aku hidup dengan manusia yang hidupnya memerintah terus.
“Kau jangan malas seperti aku, paling tidak, jangan kalah sama gajah yang meninggalkan gading, hasilkanlah sebuah karya, ya setidaknya, kamu berkontribusi dalam membantu orang-orang yang tengah membuat sebuah karya.”
“Rumit, rumit, aku itu paling nggak suka hal-hal yang harus dipikir matang-matang, seorang pembunuh pun meninggalkan karya seni, yang disebut seni membunuh,” sanggahku.
“Karya yang mengandung kejahatan ya ditinggalkan ...,” ralat Kak Farka.
”... oke, kalau itu memang terlalu rumit, kita buat sederhana ... kenapa kamu mau menulis autobiografi?“ lanjutnya.
”Hmmmm ... aku punya kisah kehidupan yang sempurna, kehidupan yang tidak dimiliki oleh orang lain,“ aku bicara sangat percaya diri.
“HAHAHAHAHAHAHA ....”
__ADS_1
“He, kenapa ketawa? Aku tidak melawak?” tegurku.
“Kau percaya diri sekali ya ...,” Kak Farka menyindir.
“... oke-oke nggak masalah, semua orang punya anggapannya, ya sudah, kalau begitu kamu mau bergabungkan?” lanjutnya.
“Bergabung?” ulangku keheranan.
“Bergabung demi proyek sekolah, Guru Sukada melakukan penelitian ini untuk mencari tahu mana sejarah terbaik murid-murid SMA Lily Kasih, lalu dibacakan kisah-kisah itu pada adik-adik kelas nanti, dan pada rakyat kota Artana, agar siapa tahu, jiwa mereka tersentuh, lalu kasus bunuh diri bisa berkurang, yang nantinya penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui alasan-alasan apa saja yang terbentuk pada diri murid-murid sampai rela bunuh diri, atau setidaknya mengetahui seluk beluk tindakan kriminal mereka.”
“Dibacakan bagaimana? Sedangkan dalam buku tersebut terdapat khayalannya? Lalu bagaimana dengan tindakan kriminal?”
“Tulisan khayalan itu sebenarnya tidak ada, kan sudah jelas autobiografi itu harus kisah nyata, sebab, itu hanya sebatas ujian, apakah kita bisa bertindak jujur atau tidak, sampai generasi kakak itu gagal karena memberi khayalan pada buku autobiografinya, yang artinya kakak tidak jujur, namun, tetap tak ada yang sia-sia di dunia ini, semua tetap menjadi bahan penelitian guru dan akan dibacakan pada adik kelas selanjutnya, seperti kelasmu waktu itu, dan buku yang memiliki tindakan kriminal tentu saja hanya di simpan di perpustakaan, hanya autobiografi yang baik-baik yang kita ambil, yaitu, yang tidak bertentangan dengan hukum, baik hukum Agama maupun hukum negara, lalu diterbitkan, nah rakyat kota ini nanti akan membacanya, itu saja, sederhana.”
“Itu artinya, jika bukuku ditulis dengan jujur akan diterbitkan di kota ini?”
“Ya, untuk membentuk mental, seperti buku-buku sejarah, maka dari itu, hiduplah dengan jujur dan penuh semangat agar autobiografimu menjadi sejarah terbaik.”
“Berarti aku dapat uang dong?”
“Tidak, selain kejujuran, ketulusan juga penting, karena sekali lagi, tujuan kita adalah membantu.”
Aku manggut-manggut sambil mencerna seluruh pernyataan Kak Farka, sampai tak sadar aku sudah terbawa arus pembicaraan.
”Sebenarnya, masalah hidupmu bukan tidak masuk di akal, bukan pula di luar logika, hanya saja kamu hanya belum mengerti tentang sistem masalah itu terbentuk, dan tidak tahu cara menyelesaikannya, realitas yang kamu anggap adalah yang selalu matamu lihat, padahal di dunia ini masih banyak realitas yang belum pernah kamu lihat, bahkan itu terdengar seperti dongeng.“
”Tunggu, apa kakak sekelas dengan Kak Fihan?“ usutku.
”Iya,“ jawab Kak Farka singkat.
”Aku baru tahu.“
”Kan kakak sudah bilang kalau kakak sudah membuat buku lebih dulu, kamu nggak baca ya?“
”Nggak, malas ahk.“
Selepas itu keheningan terjadi, dan dipecahkan keheningan ini oleh suara Kak Farka yang penuh semangat.
”Laisa! Semangatlah untuk kembali bersekolah di SMA Lily Kasih, karena kamu akan menjadi bagian penting sejarah kota ini, tunjukkan pada adik kelas kita nanti, bahwa hidup itu sangatlah berharga, sebanding dengan kehidupan sempurnamu!“
"Semangatlah karena kamu pantas untuk bahagia!"
Sebuah kalimat yang tiba-tiba membangkitkan interesanku, namun aku hanya tertarik pada buku autobiografinya, bukan kembali sekolah di SMA Lily Kasih.
Kau adalah jiwa yang tenang Laisa
Lalu tersentuh oleh kenyataan
Kau terbentuk oleh takdir Laisa
Lalu pergi memenuhi takdirmu
Pergilah sejauh alam membentang
Tapi kau tetap dalam kenyataan
Saat aku memanggil namamu
Maka kembalilah dengan takdir yang telah terpenuhi
__ADS_1