Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 8: HAHAHA ....


__ADS_3

       Akhirnya di pukul 19:17 kegiatan religius kami selesai, ini sebenarnya waktu makan malam, atau setidaknya aku mengerjakan PR, tetapi kenyataannya, seumur hidup aku bersekolah, baru dua kali aku mengerjakan PR sekolah, itu pun dipaksa oleh orang tuaku. 


Karena hari ini aku tidak masak, dan sarapan pagi hanya langsung habis saat pagi itu juga, jadi terpaksa, mie instan menjadi pelarian terjenius demi menahan lapar.


Aku tidak mengganti pakaianku, sampai-sampai wangi keringatku menjadi aroma alami parfumku saat ini, suamiku pun masih mengenakan kemeja kerjanya, kecuali kaus kaki yang kami lepaskan, dan digeletakkan di sembarang tempat, malah saking konyolnya, kami belum membersihkan rumah sejak kemarin, jadi sisa keripik kentang masih nampak kentara di karpet ruang tengah.


Aku duduk di bibir kasur, jari jemariku yang elok memeriksa ponsel pintarku yang takutnya ada pesan penting yang belum aku balas, terkadang pesan penting itu kebanyakan muncul dari Anka sahabatku, hanya sekadara membahas rencana menetapkan hari membolos lagi, selebihnya membahas gim daring favorit kami.


Tunggu dulu, hanya saja ada pemandangan unik yang tak sengaja mata biruku lihat, tampak dari pintu kamar yang terbuka, bersama kekagumanku yang mendadak bertambah, suamiku Harfa, tanpa merasa keberatan, mulai membersihkan ruang tengah rumah kami, mengingat bahwa dia dan aku adalah manusia pemalas, maka aku mengapresiasinya dengan senyuman penuh syukur, tentunya itu inisiatif yang bagus, karena bagaimana pun, memang harus ada yang membersihkan rumah sebelum rumah ini lumutan, dan sangat tidak lucu jika rumah ditumbuhi jamur liar gara-gara pemilik rumahnya memilih berleha-leha ketimbang bebenah rumah. 


Hari ini diakhiri dengan rutinitas biasa kami, makan mie instan berdua, nonton film berdua, lalu aku tidur di kamarku sendirian, lengkap dengan seragam sekolah yang masih betah aku kenakan, sementara suamiku berbaring di karpet ruang tengah, penampilannya pun sama seperti pulang kerja, sampai-sampai aroma parfumnya lenyap digantikan oleh aroma tubuhnya, ia menonton acara TV, sudah jadi budaya, kalau ujung-ujungnya suamiku tertidur di ruang tengah, ketimbang di kasur empuk kamarnya sendiri, apa lagi dia memiliki istri muda sepertiku, menambah mutu sebuah minat yang harusnya dia rela tidur di kamar bersamaku. 


Aku belum punya anak, aku tak mau punya anak, sejak menikah, aku sudah bilang pada suamiku bahwa aku tidak mau punya anak, kecuali, masa remajaku sudah kunikmati sepuas mungkin, dan dengan santainya, suamiku setuju, malah dia pun memang ingin menghabiskan waktu berdua bersamaku, tanpa ada gangguan seorang anak.


       Waktu berlanjut, jam kini berganti hari, di hari Jum'at nan cerah, aku kembali pergi ke sekolah, mengendarai sepeda kebanggaanku, karena seragam sekolahku sudah beraroma busuk, maka kuganti dengan seragam cadanganku yang kesepuluh, memang sih kesannya berlebihan, tetapi, tetap aku yang mencuci seluruh pakaianku lengkap dengan pakaian suamiku, itu pun mesin cuci yang bekerja, kendati demikian, aku selalu punya cara agar tetap terlihat wangi dan segar.


'KRING-KRING'.


Sesampainya di sekolah, beberapa teman-temanku sempat menyapaku, aku memarkirkan sepeda tepat di depan kelasku, menggembok ban agar tak ada manusia yang berbuat dosa hanya karena mengambil sepedaku, tempat parkir memang sudah tersedia, tapi aku maunya di depan kelas, tak ada alasan kuat tentang itu, hanya sebatas lebih enak jika benda kesayangan dekat-dekat bersama pemiliknya, maka Guru Sukada pun mengizinkannya, itu pun dengan negosiasi yang agak pelik.


Sekolah seperti biasa aku jalani, tak ada yang menyindirku karena bolos sekolah, bahkan Guru Sukada pun tak pernah memarahiku, mungkin karena aku selalu jujur bila ditanya olehnya.


Namun sebagai murid yang baik hati dan berbudi pekerti luhur, selama pelajaran pun aku selalu memerhatikan guru bila mereka menerangkan sebuah ilmu, hanya saja kerap kali aku mengerjakan tugas, secara ajaib, seluruh jawabanku pasti akan salah, malah, jika aku ralat kembali, jawabanku tetap salah, sampai akhirnya, nilai '0' adalah hasil kerja kerasku, kadang aku bertanya, mengapa kerja kerasku selalu dikhianati oleh hasil.

__ADS_1


Setiap jam istirahat, aku selalu berdua dengan Anka, gosip berpacaran antara aku dengan Anka adalah kesan pertama yang aku terima saat baru pindah kemari, tapi tenang, suamiku sudah tahu kalau aku bersahabat dengan Anka, dia tak marah, dia juga tak cemburu, atau mungkin, dia memendamnya, entahlah seperti apa benarnya, yang jelas, aku selalu mendapatkan apapun yang aku mau.


SMA Lily Kasih adalah SMA Negeri paling sempurna menurutku, bagaimana tidak, guru-guru di sini sangat berkompeten, bukan hanya bidang akademis saja yang mereka pahami.


Namun secara sisi kejiawaan atau psikis mereka juga paham betul akan itu, hanya saja, bagiku yang paling memahami sisi kejiwaan murid-muridnya hanyalah Guru Sukada, jelas beliau paham, bukan sebatas guru biasa, Guru Sukada adalah seorang guru Agama Islam, lebih-lebih beliau lulusan S2 psikolog sosial, ia bahkan memiliki surat izin praktik psikologi yang membuatnya bisa membuka praktik kapan saja, tetapi ada hal yang membuatku bertanya-tanya, menurut penuturan Guru Sukada langsung, beliau itu sedang melakukan penelitian tentang mental anak muda kota Artana, entah seperti apa jelasnya, penuturan itu pun hanya sekilas.


Satu hal yang penting, penyakit fobia-ku serta beberapa murid kelas 12 didiagnosis langsung oleh adik kandung Guru Sukada, yang notabene adiknya adalah pisikiater, mengingat penyakit fobia-ku serta teman-temanku terbilang sudah kronis, maka periksa seminggu sekali adalah jalan tengah demi kebaikan kami, syukur-syukur mau diobati, tetapi kami membandel, tak ada yang pernah melakukannya, kami memang benar-benar ingin sembuh, hanya saja, keinginan lulus terlebih dulu dari SMA mengalahkan fobia kami, terlebih kami enggan masa-masa SMA kami terbuang hanya untuk psikoterapi yang menjemukan dan syukurnya Guru Sukada yang baik hati, terkadang menyempatkan untuk membimbing psikologis kami.


Malah digadang-gadang Guru Sukada akan melanjutkan perjuangan sang Kepala Sekolah Chisna, atau murid-murid sering menyebutnya sebagai, sang nenek 'Pertapa' bagaimana tidak, setiap kali kami masuk ke kantor Kepala Sekolah, nenek Chisna selalu duduk dengan mata terpejam dan tangan bersedekap, layaknya orang pertapa, beliau bahkan sanggup mengurung diri di ruang Kepala Sekolah lebih dari seminggu, menurut keterangan Guru Sukada, Kepala Sekolah Chisna, bukan Kepala Sekolah biasa, memang sih aneh juga, tanpa perlu diberi tahu pun, dunia akan tahu kalau sang nenek 'Pertapa' memang nyeleneh.


Keanehan pertama Kepala Sekolah Chisna, yaitu memiliki umur yang panjang, kira-kira sudah seratus tahun lebih, tapi dia masih bugar dalam membuat lingkaran sempurna di papan tulis.


Keanehan kedua, dia tak pernah terlihat makan, katanya sih dia makan angin, tetapi, aku pernah kok melihatnya menyantap semangkuk bubur, jadi keanehan itu hanya bagi mereka yang tidak beruntung.


Dan keanehan yang ketiga, atau mungkin ini aku sebut sebagai 'bakat terpendam sang nenek pertapa' dia bisa mengalahkan argumen mendiang Kak Fihan, tepatnya, menjawab dengan tepat segala pertanyaan dari Kak Fihan, menurut catatan sekolah, Fihan adalah murid dengan intelektual tertinggi di sekolah ini, bahkan hingga saat ini belum ada yang menyaingi kepintaraannya, guru-guru saja kalah debat dengan Fihan, satu lagi yang penting! Selama tiga tahun sekolah, Kak Fihan selalu mendapat nilai 100 dalam setiap ujian sekolah, malah, seharusnya dia loncat kelas, yaitu langsung berkuliah, bukan itu saja, langsung menjadi pengajar pun tak masalah, kepintarannya sangat sempurna, tapi tetap, tatkala berhadapan dengan Kepala Sekolah Chisna, segala pertanyaan yang tak bisa terjawab oleh para guru, sang kepala sekolah, bisa menjawabnya dengan mudah.


SMA Liliy Kasih, sekolah terbaik dan terpopuler di kota Artana, kendati kenyataannya, SMA Pekerti pun tak kalah sebagai SMA terbaik di kota ini, hanya saja, kepopulerannya kalah hebat oleh SMA Lily Kasih, sekolah ini populer bukan lain karena murid di sini kompak, pemenang lomba, ditambah kasus-kasus murid yang beragam adanya, ada yang sekolah hanya sebulan sekali, ada yang menikahi gurunya, hingga ada murid-murid dari umat jin yang ikut sekolah, murid di sini tak diberi aturan ketat, mereka boleh mengekspresikan diri sesuka mereka, namun tetap, tak boleh ada narkoba, miras dan sex bebas, memang ada saja murid yang berani melanggar peraturan sekolah, tetapi, untuk hari ini semua pelanggar langsung mendapat hukuman yang jera yaitu, dikeluarkan dari sekolah.


SMA Lily Kasih sangat luas, lengkap dengan gedung olah raga, laboratorium, serta perpustakaan, jumlah murid di sini hanya 54 orang, setiap kelas berjumlah 18 murid, sekaligus, tidak ada kelas yang terbagi-bagi, tidak adanya OSIS sampai tak ada jadwal piket. Nah, aku serta Anka bisa masuk sekolah ini disebabkan, adanya dua murid yang dikeluarkan dari sekolah, karena dengan sadisnya, kedua murid itu tega melenyapkan kedua orang tua mereka sendiri, kabarnya, mereka kini dipenjara, dan konyolnya, alasan mereka membunuh orang tua mereka adalah karena kurangnya uang jajan yang didapat, kendati demikian, aku berhasil berada di sini.


Sejak kejadian mengerikan itu, pelanggaran sekolah jarang tersanter lagi, ya, atau mungkin tidak ketahuan melanggar.


Fakta penting! Hanya terdapat empat pengajar di sekolah ini, sehingga para murid dan guru-guru dapat akrab dengan mudah.

__ADS_1


Tak ada yang aneh-aneh selama sekolah, murid-murid pun bercanda selayaknya saja, kecuali Anka, yang dengan antusiasnya, dia akan menakut-nakuti teman-temannya sesuai dengan fobia mereka masing-masing, tak ayal, aku pun terkena kejailan seorang Anka, tapi bodohnya, bila teman-teman sudah membaca puisi, secara otomatis, Anka akan berhenti bertindak jail, ia bahkan bisa keluar dari lingkungan sekolah untuk menghindari larik-larik puisi, meski terlihat kejam, pertemanan kami sama sekali tak luntur, justru hal konyol itulah yang kadang menambah keharmonisan pertemanan kami, itu pun kadang-kadang.


Hingga waktu pun memutar menunjukkan pukul 14:05 siang hari nan mendung, udara mendingin, syukurnya pelajaran sekolah telah usai, karena memang sudah waktunya pulang.


'KRING-KRING-KRING'.


Aku mengayuh sepedaku buru-buru, karena malam ini, aku akan pergi makan malam berdua dengan suamiku, hanya makan di halaman belakang rumah sih, tapi yang menjadi spesial itu adalah, orang yang makan bersamaku, ya, Harfa Abraham suamiku, meski setiap hari kami makan berdua, tapi hari ini, kami akan makan malam romantis hasil masakan Harfa, ya, suamiku bisa masak, entah sejak kapan dia bisa masak.


Sesampainya di rumah, aku masuk ke kamarku, melepaskan tas serta kaus kakiku, kedua benda itu aku geletakkan di lantai.


Kini aku melangkah menuju halaman belakang, sebelum aku sampai, aku akan melintasi ruang bioskop serta kamar mandi terlebih dulu, lantas, pintu kaca aku buka, melangkah di atas teras, lalu dihadapkan oleh halaman luas nan hijau, kebun bunga yang aku tanami bunga Lily telah tumbuh subur, rumahku dan rumah tetangga dibatasi oleh tembok beton setinggi dua meter, jangan salah, meski rumah mewahku tanpa penjagaan seorang satpam, di beberapa sudut halaman rumah hingga di dalam rumah, telah dipasang kamera pengawas yang seminggu sekali kami pantau, jadi siapapun malingnya pasti tertangkap.


Aku melangkah dari arah Barat pintu rumahku, menuju arah Barat Daya halaman belakang rumahku, tepatnya, pada kolam renang berisi ikan-ikan laut, di sana, di pinggir keramik kolam renang, telah terhambur pasir pantai, agar kesannya ikan-ikan laut itu merasa berada di habitat lautnya, malah, kolam renang sudah aku beri terumbu karang lengkap dengan rumput laut.


Aku masih mengenakan seragam sekolahku, kemeja putih berlengan panjang, dengan rok lurus selutut berwarna hitam, aku duduk di bibir kolam kemudian memasukkan kedua kakiku ke dalam air kolam, dingin, itulah yang pertama kurasa.


Sebenarnya, aku tidak tahu berapa jumlah ikan yang aku miliki, malah konyolnya, aku tidak tahu nama atau jenis-jenis ikan laut di sini, karena setiap aku membeli ikan, hal pertama yang aku lihat adalah warnanya, kalau warnanya cantik aku beli, kendati begitu, aku hanya ingat tiga jenis ikan yang aku miliki, pertama, Butterfly Fish, kedua Dottyback, ketiga Blue Tang, sisanya aku tidak tahu namanya, dan berkat kekonyolanku itu, dua puluh ikan air tawar yang aku beli, mati, setelah tiga hari terendam dalam air laut, meski terkesan bodoh, aku tidak kapok, aku selalu membeli dan membeli lagi, demi ikan-ikan laut yang bisa menemaniku.


Air yang dingin membuat kakiku terasa begitu nyaman, aku pun mengayunkan kakiku layaknya sedang melangkah, hingga membuat riak air menjadi gelombang air agak besar, dan entah mengapa ini terasa menyenangkan!


Aku terus menggerakkan kakiku ke depan dan ke belakang, mula-mula seperti berjalan lalu ujungnya seperti berlari. 


“Hahahaha ....”

__ADS_1


Aku pun tak tahu mengapa aku tertawa gembira, hanya karena bermain air? Sampai-sampai, suara cipratan air menyaput suara ponsel pintarku yang telah berdering di dalam saku kemejaku.


Aku berhenti menggerakkan kakiku, dering ponselku yang saru masih dapat terdengar, akibatnya,  kurengkuh ponselku, memeriksanya, dan rupanya, Harfa suamiku yang mengirim pesan, dia memintaku untuk bergegas mandi, penyebabnya karena hari ini memang hari yang spesial, jelas, tanpa banyak basa-basi kubangkit dari dudukku, dan seketika berlari menuju ke dalam rumah untuk mandi.


__ADS_2