Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 24: KENYATAAN ADALAH NOL. (Part 1)


__ADS_3

Sesampainya aku di rumah, aku langsung melangkahkan kaki menuju kamarku, kalau bukan tidur bermalas-malasan, apa lagi.


 


Dan kala aku menghempaskan tubuh malasku, 'bruk' adalah suara yang dihasilkan dari beradunya tubuhku dengan kasur empukku.


Tak lupa ponsel pintarku kutaruh di atas bantal —bantal yang biasa suamiku gunakan untuk tidur— dan kedua kelopak mataku telah kupejamkan dalam damai, ya, di sini benar-benar hening, sejuk, tentunya damai, maka berkat itu semua, kelopak mataku terpejam tanpa rambang.


Aku memang sangat gampang untuk kembali tidur, itu karena niat dan rasa malasku yang telah menjadi bagian darah dagingku, hanya saja, tidak setiap hari juga seperti itu, namun terlalu sering untuk dibilang jarang-jarang.


Pelan-pelan aku tenggelam dalam kondisi tidur, sampai-sampai waktu berputar kembali begitu singkat, kehampaan dalam ruang hitam adalah yang kembali penglihatanku tangkap.


Dan sampailah di mana kelopak mataku kembali terbuka, kali ini entah mengapa badan lebih segar dari sebelumnya, sampai kedua tanganku kuregangkan, di sini aku masih terlena untuk tetap berbaring, langit-langit kamar menjadi pemandangan yang kini aku terima.


Suasana kamarku benar-benar hening dan tentram, itulah hal yang tak bisa aku lepas untuk saat ini, jiwaku yang sekarang memang sedang membutuhkan ketenangan. Detik demi detik aku lalui dalam diam, belum terbesit untuk makan atau mandi, terlebih hari ini yang terasa beban hidup semakin mencecar, membuatku harus rehat sejenak, itu dilakukan agar pikiranku bisa jernih kembali, ya, setidaknya dapat berpikir positif.


Seperti kata Guru Sukada, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tunggu dulu, atau mungkin malah semakin memburuk.


Namun dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba saja ponsel pintarku kembali berdering, dan ini adalah panggilan telepon. Jelas, aku raih ponselku. Menjawab panggilan masuk.


“Ketua kelas! Tolong cepat ke rumah Anka!” pinta Cludy dari telepon dan suaranya terdengar begitu waswas.


“Kenapa aku harus ke sana?” tanyaku menyelisik.


“Anka akan bunuh diri!” jawab Cludy dengan cemas.

__ADS_1


Astaga aku tidak habis pikir dengan sahabatku itu, jika benar dia ingin bunuh diri, maka benar pula jika dia ingin mati hanya gegara patah hati, begitulah pikirku.


“Ya sudah, tunggu aku ke sana! Apapun yang terjadi adang dia jangan sampai bunuh diri!” sergahku.


“Iya cepat!”


Dan setelah telepon ditutup, aku menyempatkan untuk menengok jam di ponselku: Pukul 15:30 sore hari. Ternyata tidurku menghabiskan waktu cukup banyak.


“Haduuuuh ... kenapa masalah terus berdatangan," gumamku cua dengan kehidupan hari ini.


Lantas aku memaksa tubuh malasku untuk bangkit, aku duduk beberapa detik demi menghela napas, dan tanpa banyak membuang waktu lagi, aku berangkat menuju ke kediamannya Anka, pintu rumahku aku kunci, aku selalu membawa kunci cadangan di saku rokku, kunci rumah juga dimiliki suamiku.


Tak ada acara mandi, tak ada makan, tak ada sepeda, petang ini juga aku langsung melangkah menuju Anka. Menyeberang jalan raya. Menapaki jalan melewati sekolah. Lalu melewati gapura kompleks perumahan Hantaba. Belok ke kanan menyusuri jalan nan luas di antara deretan rumah-rumah minimalis. Dan tibalah aku di depan rumah dengan halaman rerumputan hijau, tanpa pagar, aku melangkah di sepetak jalan yang berujung pada teras rumah Anka.


Tak banyak lama, aku langsung masuk ke dalam rumah, pintu tak tertutup, sehingga melenggang masuk tanpa permisi adalah perbuatanku kini. Tapi tenang, sandal jepit kepunyaanku kulepaskan di teras. Ruang tamu dengan dua sofa tunggal dan sofa panjang adalah bagian pokok dari interior ruang tamu ini, namun saat kaki kananku hendak memasuki ruang tengah, secara mendadak seorang gadis datang menghampiriku, gadis dengan rambut panjang seputih awan di langit, sang pengidap nefofobia; Cludy.


Dia wangi, setelannya juga menarik, kardigan nuansa hijau dengan dalaman kaus oblong warna putih, dan celana jin warna biru adalah penampilan terbaiknya hari ini.


“Ketua! Anka tak mau membuka pintu kamarnya!” beber Cludy dengan cemas dan sikapnya panik.


Aku hanya terdiam namun raut mukaku serius, hingga mataku langsung terarah pada pintu kamar Anka, —pintu kamar Anka berhadapan dengan ruang tengah— aku melangkah mendekati pintu tersebut, berdiri di depan pintu dalam jarak satu jengkal, sedangkan Cludy berdiri agak jauh di belakang pundak kiriku.


'Tok tok tok' itu adalah suara pintu yang aku ketuk, berharap dia siap menerima vibrasi suara dari mulutku.


“Anka, buka pintunya, ini aku Laisa.” aku bicara selantang mungkin agar dia tahu bahwa sahabatnya tak sudi ditinggalkan secara tragis.

__ADS_1


“Anka! Ini ketua kelas sudah datang!” Cludy menimpali berusaha menambah interesan kehadiranku.


Beberapa detik telah aku lalui dengan kesunyian, tak ada tanda-tanda kehidupan setelah kusuarakan perintahku, jadi kutempelkan telinga kiriku pada pintu dengan harapan bisa menangkap vibrasi suara apapun yang ada dalam kamar. Syukur-syukur Anka tidak bertindak gegabah. Lagi-lagi keheningan adalah hal yang tertangkap telingaku, maka jelas, gagang pintu aku genggam dengan jemari tangan kananku, kucoba untuk membuka pintu, dan nyatanya, aku gagal, meskipun telah kudorong pintu, kegagalan tetap menjadi hasilnya, lebih dari itu, aku menggedor pintu hingga bersuara 'BAM BAM BAM' tetapi tak ada respons sedikit pun.


“ANKA BUKA PINTUNYA!” pintaku dengan berteriak.


Bahkan teriakanku yang telah bergema dalam rumah ini sama sekali tak menghasilkan apapun kecuali keheningan semata. Otomatis aku melangkah agak menjauhi pintu, tangan berkacak pinggang dan mata memimandai pintu.


“Ketua, bagaimana ini? Aku takut ada apa-apa.” cemas Cludy.


Aku lantas menoleh ke kanan memandang Cludy, memandangnya dalam tanya.


“Oh iya, kamu ngapain ada di sini?” tanyaku yang bahkan aku pun baru tersadar, atas alasan apa Cludy rela datang kemari.


“Tadi, aku membawakan roti, Anka kan suka roti,” jawab Cludy dengan raut muka jengah dan telunjuk tangan kanannya menunjuk pada sebungkus roti yang berada di atas meja kaca ruang tamu.


Benar, aku lupa, kalau hampir setiap sore, Cludy akan membawakan sebungkus roti anggur kesukaan Anka, dan menurut dugaanku, itu adalah kode cinta dari Cludy.


“Tapi, saat aku masuk ke dalam kamarnya dia sedang menatap gunting yang dipegangnya, terus aku malah diusir dari kamarnya, dia mendorongku, menutup pintu kamar, nah ... aku takut terjadi apa-apa makanya aku panggil ketua, ketua kan sahabatnya,” ungkapnya.


“Loh terus tahu dari mana kamu tahu kalau dia mau bunuh diri?” heranku dengan memandang Cludy menyelidik.


“Ih ketua ini bagaimana sih, sikapnya aja udah kayak orang putus asa, wajahnya juga muram begitu, kan guntingnya juga udah mulai disayat kan ke nadinya,” kata Cludy dengan intonasi tinggi.


Selepas penjelasan itu, aku termenung beberapa saat memikirkan solusi dari ini semua.

__ADS_1


__ADS_2