Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 36: ANTIMATERI ADALAH AKU. (Part 2)


__ADS_3

”Cita-cita ha ...? Aku pun punya cita-cita ... dan ya, cita-citaku adalah ... menghancurkan cita-cita kalian, lalu ... melahirkan cita-cita yang baru ... suatu cita-cita yang akan melahirkan keadilan, jika tak ada yang mampu menciptakan keadilan, aku akan hidup kembali untuk menghancurkan cita-cita itu ...,“ tutur Loze dengan santai.


”KAU JAHAT!“ hardik Wisty.


”Tak ada yang jahat saat kita bicara cita-cita ...,“ bela Loze.


”Berhentilah mengungkapkan pembenaran!“ tegur Tozka.


”Kenapa ... kenapa kita tidak bisa menikmati masa SMA dengan damai ...?“ Tozka mulai berkeluh kesah.


”Pahamilah, kita hidup bukan untuk bersenang-senang ... dan pahamilah, selama ada rasa sakit, kedamaian tidak akan pernah ada ... saat aku membaca buku autobiografi seorang alumni SMA Lily Kasih, kita dituntut untuk membuat dunia ini merdeka, kita dituntut untuk menjadi manusia yang memiliki jiwa kepahlawanan ... tetapi disatu sisi ... kejahatan akan muncul karena adanya rasa sakit dan kekecewaan ... jika ada suatu dunia yang penuh kedamaian, maka ... itu bisa dipastikan bukan dunia manusia.“ Loze membeberkan persepsinya.


Kami termenung, ya, aku memang merasakan ketidak-adilan dalam hidup, aku selalu merasa sakit dengan fobiaku, ditambah seluruh kerja kerasku selalu dikhianati hasil yang tidak memuaskan. Aku yang berdiri hari ini, telah dibentuk oleh kekecewaan, banyak yang mendakwaaku bahwa masa depanku suram, mereka menghakimiku anak bodoh yang hanya menyusahkan orang tua, mereka-mereka telah menghakimiku dengan berbagai macam kebencian, aku anak yang tidak berprestasi, hanyalah anak yang dianggap sampah. Aku adalah Laisa, yang selalu menuntut kesempurnaan, namun pada akhirnya dikhianati oleh hasil.


”Aku tidak ingin mengubah dunia, dunia tetap penuh kebohongan, tak ada gunanya hidup bahagia ... untuk apa hidup bahagia, saat teman seperjuangan kita mati oleh jiwanya yang tak dikenali, untuk apa hidup bahagia ... kalau nyatanya ... kebahagiaan kita ... adalah kesengsaraan bagi sebagian yang lain.“ Loze kembali menuturkan kalimat yang membuat rasa sakitku semakin tedas. Bahkan aku bingung, mengapa aku merasakan rasa sakit ini.


Rasa sakit diremehkan, direndahkan, dan dihakimi sebagai sampah. Aku mulai termakan oleh ucapannya. Aku mulai merasakan keputus asaan, ikatan batin ini memang ada, dan ikatan ini, telah menampakkan penderitaan Loze, aku tidak tahu masa lalunya seperti apa, tapi, penderitaannya tedas terasa.


“Terlalu banyak bicara! Aku ingin menyelesaikan ini semua dengan cepat!” sergah Anka.


“Dengarkan dulu kata-kataku teman-teman ... karena ... kata-kata adalah bagian dari tindakan,” pinta Loze.


“AKU TIDAK MAU MATI! TIDAK! AKU TIDAK MAU MATI!” Wisty menolak hingga menggeleng-gelengkan kepala. Wisty terlihat ketakutan.


“A-aku datang ke sini ... ingin membuatmu berubah menjadi orang baik!” cetus Wisty.


“Tidak ada orang baik Wisty, semua manusia sedang jual beli dengan Tuhannya, kita membeli surga dengan perbuatan baik, tidak Wisty, tidak ada manusia yang baik, kita sedang berdagang dengan Tuhan, karena kita takut neraka,” sangkal Loze.


Wisty tertegun tak tahu lagi harus bicara apa, bahkan dia langsung menggaruk bahunya.


Aku mendekus geram, marah pada keadaanku yang sekarang. Aku merasa tersugesti oleh kata-kata Loze.


“Loze!” seruku.


Loze lantas menatapku tajam.


“Lepaskan teman-temanku! Cukup aku yang merasakan penderitaanmu!” kataku dengan lantang dan berusaha menyelamatkan teman-temanku. Memang sih agak menyesal juga mereka malah ikut kemari.


“Laisa.” Anka tidak terima.


“Tidak! Biar aku saja yang mati! Aku juga sudah muak dengan jiwaku sendiri! Aku muak dengan rasa sakit yang sementara ini,” Tozka pun tiba-tiba telah termakan kata-kata Loze.


“Aku, aku ikut! Ya! Lebih baik sakit selama-lamanya! Ketimbang hidup kebingungan!” Cludy pun tiba-tiba ikut tersugesti dengan kalimat Loze.


Tetapi, di sana, di samping kiriku, seorang gadis cengeng, sang pengidap antrofobia, Wisty, berkata, “Aku ... aku nggak mau mati ... aku nggak mau masuk neraka!” Wisty masih bersikukuh untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Meski Wisty terlihat lemah, bahkan telah mengalami cobaan hidup yang berat, dia, masih tetap memiliki asa untuk bertahan hidup. Wisty, hanya dia yang tak terpengaruh oleh ocehan Loze, gadis yang lemah itu, masih sanggup untuk tetap bernapas. Sedangkan Anka, dia pun sepertinya masih mau bertahan hidup.


“Berhentilah bertindak bodoh teman-teman,” sindir Anka.


“Kalian harus tetap hidup untuk membantu generasi selanjutnya agar berkembang!” lanjutnya begitu optimis.


“Tidak Anka! Semua harus mati, kalian telah menyia-nyiakan kesempatan kebebasan, jika saja kalian tidak datang kemari, kalian tidak akan merasakan penderitaan ini, karena ... kita adalah bagian kelas dari kelas 12, tak boleh ada yang hidup bahagia ketika teman-teman lainnya menderita, satu senang, semua senang, satu sakit, semua sakit, itulah makhluk sosial.” Loze bersikukuh dengan tujuannya.


”Kalian semua gila! Kalian gila!“ ejek Wisty keras-keras.


Semua teman-temanku terdiam berkontemplasi, mulai terhasut oleh kalimat Loze yang terdengar benar dan meyakinkan. Lebih dari itu, aku pun terhasut.


”Terlahir dengan jiwa yang lemah, tak ada yang memahaminya, dan kita harus memberi contoh, bahwa kita bisa memahaminya.“ Loze terus menghasut dan itu terasa berhasil.


”BODOH! BUKAN BEGINI CARANYA!“ Wisty mulai memberontak, karena memang ini adalah salah.


”Sudah cukup! Kau memang salah, aku akan menghentikanmu! Apapun alasan yang kau pakai, kejahatan tetaplah salah!“ kata Anka dengan melangkah mendekati Loze.


Anka, yang berdiri di samping kananku, dengan perlahan penuh keberanian dan tentunya nekat, melangkahkan kakinya pada Loze, yang seakan-akan, sahabatku menghampiri kematiannya.


”Aku tidak jahat, karena menghukum calon penjahat tidaklah jahat, dan solidaritas itu penting,“ bantah Loze.


Anka terus melangkah tidak menghiraukan pistol yang kini ditodongkan padanya.


“Kebaikan selalu direndahkan, cinta selalu diremehkan, maka dengan kejahatan, pahalawan yang sesungguhnya akan muncul, tetapi kalian tidak memahami tujuanku ....”


“ANKAAAAAA ...!” Aku meneriaki namanya, karena aku belum siap melihatnya tewas. Bahkan dengan serentak teman-temanku pun meneriaki namanya.


Tetapi apalah dayaku yang tak bisa berbuat apapun, jika aku maju, aku pun bisa terbunuh. Terbunuh sia-sia. Dan jika aku kabur, aku bisa saja tetap mati, tujuanku, memang ingin mati, tapi, keraguan menyekatku. Kali ini aku malah menjadi gundah, antara takut, serta putus asa, berpadu menutup akal sehatku. Dan napasku mulai naik turun secara impulsif. Terengah-engah.


Maka kini, suasana jauh lebih tegang.


“Insiden, benar begitu? Kau datang kemari, karena ingin bertemu dengan teman-temanmu? Mereka hanya teman sepintas, Laisa, kita hanyalah teman sepintas, teman di sekolah tidaklah berharga, sebab kita akan hidup masing-masing.” Loze kembali melontarkan hasutannya, yang semakin didengar semakin ada benarnya.


Aku hanya terpaku sengap memandang Loze dan mendengarkannya dengan saksama. Bahkan aku menahan air mata, air mata kesedihan karena sahabat kecilku telah tiada, dan lebih-lebih, karena Guru Sukada pernah berpesan, orang yang sedang depresi, tidak layak dibantah! Tidak layak diceramahi, orang yang sedang depresi, hanya perlu didengarkan, dan bila diberi solusi cukup sesuatu yang menenangkannya dan bukan menyudutkannya.


Lalu aku tertunduk, tertunduk kebingungan, tertunduk karena termakan hasutannya.


Tetapi kini, aku, sangat terpukul sekarang, orang tuaku, yang selalu memanjakan aku, sudah pergi, lalu Anka, sahabatku, juga ikut pergi, aku, benar-benar bingung.


"Laisa ... pejamkanlah matamu, tutuplah kupingmu rapat-rapat, hari ini semua akan dibebaskan," pinta Loze dengan serius.


Aku tak membantahnya, aku telah pasrah, secara refleks kupejamkan mataku, sekaligus, kumerangkapkan tanganku pada kupingku, berusaha sekuat mungkin membuat gendang telingaku tak menangkap vibrasi suara apapun dan tetap tertunduk.


Beberapa detik kemudian, suara letupan senjata api, tetap mampu menembus ke tanganku sampai tertangkap oleh gendang telingaku. Tak hanya sekali, tetapi dua kali, suara letupan senjata api tertangkap gendang telingaku, hingga sampailah di letupan senjata api yang ketiga dan itu adalah tembakan yang terakhir.

__ADS_1


"Baik, semuanya sudah selesai, Laisa," ungkap Loze.


Secara perlahan, aku mulai menurunkan tanganku kembali, tak lupa, kelopak mataku mulai terdedah, hanya saja aku masih tertunduk dengan gundah.


Dan kala kelopak mata terdedah, dari sudut kiri atas mataku, Tozka telah terbaring tak bernyawa, lalu di sudut kanan mataku, kudapati Cludy pun telah terbaring tak bernyawa.


Namun, ketika aku menoleh ke kanan, dari sudut kanan mataku, kudapati Wisty, pun telah terbaring tak bernyawa, dia berada di posisi belakang pundak kananku, sepertinya, dia sempat berusaha kabur, tapi sayangnya dia gagal.


Dia bodoh, seharusnya dia tidak perlu ikut ke sini, kalau memang dia masih berniat untuk hidup. Atau mungkin, niatnya memang ingin menyadarkan Loze, meski nyatanya gagal.


Dan suasana sunyi seketika, hening beberapa saat, angin mengalun lembut, hingga sekujur tubuhku terasa demam. Sebelum akhirnya, kesunyian dipecahkan oleh kata-kata dari Loze.


“Padahal, jika saja mereka tidak datang, mereka dan kau, akan terus hidup menceritakan kisahku pada generasi selanjutnya, tapi, sayang, mereka tidak bisa menyadarkan aku, mereka malah memberikanku kesempatan untuk mengantar mereka pada kematian,” cetus Loze.


Dalam keadaan tertunduk, mendadak, aku bertanya demi memastikan perasaannya, “Loze ... apa kau sudah merasakan kemerdekaan?”


“Aku ... aku tidak tahu kemerdekaan yang kamu maksud seperti apa, tapi, bagiku, aku belum merasakannya, kecuali, kebebasan, aku pernah merasakannya,” jawab Loze dengan santai.


”Kalau begitu, ayo kita raih kemerdekaan itu bersama-sama, tetaplah hidup.“ Aku berusaha memberi asa pada Loze kendati nyatanya aku pun kehilangan asa.


“Tidak, aku punya tujuan yang lebih berharga, Laisa, tujuanku, adalah untuk menjadi contoh bagi generasi selanjutnya,” balas Loze.


“Aku masih tidak mengerti kenapa harus seperti ini?” tanyaku masih menunduk kegetiran.


“Kan sudah aku katakan, untuk menjadi contoh buruk rakyat kota Artana, dan contoh buruk bagi generasi selanjutnya, insiden, itulah intinya ....”


“... satu hal lagi, agar sang pahlawan itu muncul, kita harus menjadi penjahatnya, karena dengan kejahatan kepahlawanan akan muncul, jadi biar aku saja yang menanggungnya ....”


Di saat Loze belum menuntaskan pembicaraannya, aku mulai mengangkat wajahku kembali dan memandang wajah Loze. Memandangnya dengan raut muka datar, namun hatiku menanggung perasaan sakit. Yang tadinya ingin menyadarkan Loze, tetapi justru akulah yang terpuruk, lebih-lebih aku merasa jauh lebih bodoh dari sebelumnya.


“... ingat, perbuatanku tidak boleh ditiru, Laisa, aku datang kemari, bukan karena ingin membunuhmu, aku datang hanya ingin memberi tahu, bahwa beberapa autobiografi teman-teman kita telah selesai, ya, meski hanya beberapa halaman, tapi jika digabungkan akan menjadi sebuah buku, dan tolong, beri nama, dengan judul buku, Autobiografi Alumni Antimateri.”


“... dan untuk buku yang sejarahnya diubah, Guru Sukada sudah membakarnya.”


Aku hanya mengangguk pelan. Dan tanganku bergidik ngeri.


“... Laisa, tidak ada yang menjadi penjahat dan tidak ada yang menjadi pahlawan, sebab, kita saling membutuhkan. Dan jangan kira, aku tak tahu kehidupanmu dulu ... kau selalu dipandang remeh, kamu selalu dianggap anak yang menyusahkan orang tuanya, kau selalu diledek oleh teman-temanmu karena kau bodoh, orang bodoh memang terkadang selalu dijauhi oleh orang-orang yang merasa dirinya pintar ... ya, aku tahu mengapa kau selalu ingin mabal dan malas bersekolah, traumatik pada orang-orang yang takutnya merendahkanmu,” lanjut Loze.


”Tapi Laisa ... kuat-kuatlah kamu bertahan hidup, beri tahu generasi selanjutnya, bahwa kakak kelas mereka, telah mencontohkan, apa itu kesalahan berpikir ... sekali lagi, aku membiarkanmu hidup agar kamu menceritakan penderitaan ini pada adik kelas selanjutnya, bahwa, kemenangan dan kemerdekaan akan selalu diraih lewat penderitaan, jika mereka belum memahami apa itu penderitaan, maka ceritakan kebodohanku, ceritakan rasa sakitmu, lalu biarkan mereka memahaminya, sesuai kedewasaan jiwa mereka, dan ingat, apa yang aku lakukan adalah salah ... satu hal yang terpenting, aku membenci semua manusia termasuk diriku sendiri, kecewa pada keluargaku, kecewa pula pada kota ini dan berharap, semua manusia kecewa padaku ....“


”... Laisa, sebagai temanmu, aku bangga dipimpin oleh gadis sepertimu,“ pungkas Azopa dengan tersenyum damai.


Lalu 'DOOOR' itu adalah letupan senjata api pistol Loze, dia, membunuh dirinya sendiri, dan ambruk, terbaring di lantai. Hingga baru kusadari, semua kejadian ini terasa membuat jantungku terasa ingin copot. Aku bahkan merasa tak bernapas. Aku begitu syok dengan akhir ini semua.


“Aku ... tadinya aku datang hanya ingin mengatakan, bahwa .... aku telah percaya pada kalian, percaya pada permintaan maaf kalian. Aku minta maaf, tidak bisa memahami masalah hidup kalian, aku minta maaf, tidak bisa membantu kalian, aku ... aku minta maaf, karena aku bodoh, dan aku sudah tidak kuat untuk hidup,” ujarku pada angin dan berharap jiwa mereka mendengarku.

__ADS_1


Aku belum mendapatkan kemerdekaanku, aku gagal, kerja kerasku selalu dikhianati hasil. Aku memang bodoh, dan orang bodoh sepertiku memang pantas mati, ya, aku ingin mati, semua mimpi, semua semangat hidup, sikap optimis, terasa omong kosong belaka. Pada akhirnya, perasaan sakit dan kecewa, tetaplah kentara terasa.


Aku harap, dan berharap segera mati.


__ADS_2