Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 31: ANTAGONISME SOSIAL ADALAH CITRA MASA REMAJA. (Part 2)


__ADS_3

Suasana sempat hening sejenak, sebelum akhirnya aku pecahkan dengan suaraku.


“Intinya, kau hanya anak muda! Jiwa anak muda yang labil!” aku menghardik Azopa dengan jari telunjuk yang menunjuk wajah pucatnya sebagai tanda dakwaanku adalah fakta.


“Laisa, tapi kami sudah sadar kesalahan kami,” tiba-tiba Cludy membela diri.


“Ya, kami benar-benar menyesal karena sudah menganggapmu musuh,” timpal Nuita.


“Kami menyesal, sudah tidak menganggapmu ketua kelas,” sambung Loze.


“Maafkan kami sudah tidak menghormatimu,” sahut Vume.


Aku mendekus, menghela napas begitu kesal.


“BERENGSEK KALIAN! Ketika sebuah insiden sudah menimpa kalian semua, dengan serta merta, barulah kalian meminta maaf, aku curiga, jangan-jangan kalian meminta maaf hanya sebatas formalitas semata ya, agar dengan begini kalian bisa hidup tenang?” protesku dengan menatap satu persatu kawan-kawanku.


“Enggak!” dengan serentak beberapa teman-temanku membantah perasangkaku.


“Kamu jangan berpikir jahat begitu dong! Kami memang benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus,” sela Cludy.


“Iya kami minta maaf,” sambung Nuita dengan raut sedih.


Tapi aku menyeringai jahat.


”Aku memang tidak punya akhlak yang mulia, aku memang bodoh, aku memang menuntut kesempurnaan, dan kalian lebih percaya pada orang yang lebih pintar dari aku, percaya pada seseorang yang merasa dirinya bijak, yang pada akhirnya bertindak gegabah, aku bisa saja memaafkan kalian, tapi aku ragu kalau aku bisa tulus memaafkan," keluhku dengan lantang.


”Kesalahan itu tidak pandang bulu, siapa pun bisa salah, tak terkecuali Azopa, tapi bukan berarti kami tidak bisa memperbaikinya,“ sebuah kalimat pembelaan yang disipongangkan oleh Anka, hingga membuatku memutar tubuh ke belakang hanya demi memandangnya.


”Laisa, aku masih menganggapmu sahabat, tetapi apa yang kamu lakukan ini terlalu berlebihan, aku mengikuti saran Azopa itu memang baik, selama sarannya baik, hal wajar jika kami lebih mendengarkan Azopa, karena dia ada benarnya, kami tidak bisa mengikuti perintahmu begitu saja tanpa ada perundingan dan pertimbangan yang matang ...,“ Anka menggantung kalimatnya dengan berjalan lebih dekat padaku.


Sepertinya ucapan kedua yang akan dia utarakan lebih penting.


”... Laisa, kamu itu menuntut kesempurnaan, dan maaf, sulit untuk melakukannya, apapun yang ....“


Aku berlari mendekati Anka, dan 'pok' itu adalah suara pukulan tangan kananku yang berhasil mengenai leher Anka, maka seketika ia membungkuk dengan tersedak-sedak, tepat di depanku.


”KHHHUK KHHHOK KHHK ...,“ Anka sampai-sampai memegang lehernya karena sakit.


”SEMUANYA HARUS SEMPURNA! TIDAK BOLEH ADA YANG CACAT!“ Teriakku pada Anka.


”DAN JANGAN MENGKRITIKKU!“ hardikku selantang mungkin.


Sontak karena aku telah bertindak keras pada Anka, sang pecinta yang tak rela melihat yang dicintanya terluka mendekat pada Anka, dan berusaha membela Anka.


”Jangan begitu dong Laisa,“ sela Cludy tak terima.


”Jangan kasar begitu dong, kita harusnya berunding,“ timpal Nuita.


”Sebaiknya kalian pulang saja! Aku muak! Malas dan ingin sendiri!“ sergahku dengan mendilak.

__ADS_1


Dan berkat ujaranku itu, beberapa detik teman-temanku bergeming, kemudian mereka mulai merundingkan keputusan apa yang terbaik, hingga akhirnya, pintu rumahku didedah oleh Loze.


”Tunggu dulu!“ tiba-tiba Azopa meminta penangguhan.


Sontak semua memandang Azopa, kecuali aku yang sudah muak.


”Laisa, secara pribadi aku minta maaf yang sebesar-besarnya, dan aku mohon, bantulah kami untuk menangkap pelakunya, karena, aku yakin, pelaku tersebut ada di antara kami,“ Azopa memohon.


”Kenapa harus aku? Kenapa tidak polisi?“ ketusku masih mendilak.


”Pelaku teror itu mengancam kami Laisa, jika aku ketahuan meminta bantuan polisi ... salah satu dari kami akan mati,“ maka jelas, batin panasku tiba-tiba langsung dibuat berkantaran oleh pengakuan Azopa.


”Bodoh! Kau kan sudah meminta bantuan polisi!“ sergahku sampai rela memandang Azopa.


”Ya! Karena aku mengikuti saranmu, kau bilang bahwa aku harus meminta bantuan polisi, dan sekarang, Ovy telah masuk rumah sakit,“ balas Azopa yang terkesan menuduhku salah.


Maka berkat ucapannya yang terkesan mendakwaku, aku langsung memasang muka marah.


”JADI KAU MENUDUHKU BAHWA OVY MASUK RUMAH SAKIT GARA-GARA AKU?!“ aku membentak Azopa.


”Aku tidak menuduhmu!“ bantah Azopa dengan lantang.


”Nggak ada yang menuduh kamu Laisa!“ Nuita membela.


”Ya, kami tidak menuduhmu!“ timpal Cludy membela temannya.


”Kami datang karena kamu telah menjadi bagian kelas 12!“ jelas Loze.


”Laisa, meski kamu telah keluar dari sekolah, teror itu tetap mengejarmu, karena kamu bagian dari kami, pesan teror itu pun begitu!“ ungkap Azopa bahkan sedari tadi masih memegang lehernya.


”Oke-oke! Aku tidak ingin ada penyesalan diakhirnya!“ aku mulai menerima pembeberan fakta dari Azopa. Dan ini terpaksa, karena aku muak melihat teman-temanku, ingin menghajar mereka, tetapi hati nurani malah kini merasa kasihan, sialan memang, emosionalku menjadi tidak karuan.


Teman-temanku pun mulai memandangku penuh harap.


”Aku akan membantumu untuk menemukan pelakunya.“


Dan berkat kalimat keduaku itu, bibir beberapa teman-temanku mulai mengembangkan senyuman penuh syukur, bersyukur bahwa aku tidak sejahat sang peneror.


”Tapi, jangan harap aku mau sekolah di SMA nyeleneh itu lagi dan jangan berharap aku berhasil membantu, karena terkadang, kerja kerasku selalu dikhianati hasil,“ pungkasku.


Azopa hanya mengangguk mantap, menerima keputusanku. Tadinya aku ingin menghajar si keparat Azopa hingga babak belur, namun mengingat dia mengatakan teror akan merujuk pada kematian, itu malah membuatku mulai takut bila menolak permintaan Azopa, entah mungkin ini yang disebut rasa empati, terlebih sang pelaku katanya ada di antara murid kelas 12, jelas aku langsung menatap satu persatu murid untuk menyelidik, dan tambahannya aku tak mau ada yang tewas hanya gegara aku menolak permintaan Azopa, apa lagi masalah ini sudah melibatkan polisi, yang artinya, sang pelaku bisa saja mencabut nyawa seseorang.


”Ya sudah, kalian pulang, biarkan aku menenangkan diri dulu,“ pintaku dengan tertunduk merenung.


Mau bagaimana lagi, aku memang sudah terlibat dengan masalah ini, dan jika aku menolak permintaan mereka, pasti mereka akan menuduhku jahat, bahkan bisa saja mereka menuduhku sang pelaku teror.


Maka tanpa ada banyak topikalitas lagi, semua mulai berpamitan.


”Kami pulang,“ kata Azopa.

__ADS_1


Aku tidak terlalu memedulikan mereka, bahkan Anka sahabatku pun pulang tanpa ada kata pamit yang kudengar.


Namun tunggu dulu, tangan kananku tiba-tiba terasa dingin, hingga kulihat Wisty mencium tanganku penuh hormat, layaknya aku seorang yang lebih tua darinya.


”Woy Wisty! kamu nggak usah pakai cium tangan segala,“ aku menegur nyelenehnya sikap Wisty.


“Maaf ketua, a-aku nggak tahu harus berbuat apa,” keluh Wisty dengan tertunduk sambil menggaruk bahunya karena kikuk.


“Ya-ya ya udah pulang aja, pulang aja,” pintaku dengan malas sembari mandorong bahu Wisty dengan lembut.


Dan di sana, di wajahnya senyuman kikuk telah mengembang untukku, lantas dia melangkah dengan canggung menuju pintu, aku bahkan sempat melihat Anterta juga melangkah pulang, anak ngelantur itu seperti sedang mengunyah permen karet.


Dan pada akhirnya, aku kembali mendapati rumahku sunyi nan sepi. Tinggal sendirian lagi. Pintu rumah telah tertutup dan syukurnya lantai tak kotor.


“Haaaaah ...,” aku menghela napas.


Lantas kumelangkah menuju ruang tengah, melangkah dengan pandangan linglung, kali ini aku akan duduk-duduk santai saja. Tapi cukup aneh kala melihat ponselku malah tiba-tiba berada di tengah dudukkan sofa, tanpa berpikir macam-macam, aku meraih ponselku, dan tak disangka, ternyata posisi ponsel itu berkaitan dengan sebuah hal mistis, ya, aku menduga begitu, sebab tiba-tiba saja bulu tengkukku meremang.


Sepertinya si kuntil-anak merah itu kembali menunjukkan eksistensinya.


Perlu digaris bawahi, bahwa malam pertamaku dengan suamiku gagal, gegara kita terlalu asyik berdo'a, tentu saja biar si kuntil-anak merah itu tidak mengganggu, lalu ngantuk dan akhirnya kami tidur.


Mengingat malam pertamaku gagal gegara ketakutan terhadap kuntil-anak, maka bulat sudah, hanya baru dua kali Harfa suamiku mengecup keningku, dan hanya terjadi saat acara pernikahan, selepas itu tak pernah lagi, aku bahkan mengecup pipi suamiku pun hanya tiga kali, intinya, semua perbuatan kasih sayang tersebut masih bisa dihitung oleh jari.


Dan karena aku mengingat suamiku kembali, —mengingat ketidaksempurnaannya— hampir saja atelofobiaku menyerang, tetapi untungnya, berkat kerumitan masalah hidup yang kini aku jalani, penyakit atelofobiaku jadi teralihkan.


Lebih dari itu! Saat ponsel aku periksa, tepat di salah satu aplikasi untuk menulis, sebuah pesan penting telah terpatri di sini.


Yang tertulis: “Laisa, mari kita bermain, jika aku bisa menyentuh kejiwaanmu yaitu membuatmu depresi, maka aku adalah pahlawannya, tapi jika kau bisa menyentuh kejiwaaanku yaitu untuk membuatku bertobat, maka kau adalah pahlawannya. Dan mari kita mulai dari Nuita, pertama, tersenyumlah saat nanti dia menangis.”


“Berengsek, betapa sialnya aku hidup bersama manusia gila,” gumamku.


“Berengsek!” umpatku sambil melempar ponsel ke sofa, namun berkat gaya pantulan, maka ponsel itu terhunjam ke lantai dan layarnya retak seketika.


'Buak' 'buak' itu adalah suara hasil tendanganku pada sofa. Aku marah pada kenyataan hidup yang semakin menyakitkan.


Lantas aku duduk di sofa dengan menjambak rambut kuat-kuat. Kali ini aku sudah merasa stres dengan kehidupanku yang malah semakin rumit, ditambah pikiranku yang menjadi kalut, kebingungan benar-benar kebingungan.


Semuanya seperti kematian saat seperti masih merasa hidup


Sebagaian diriku mati kala yang nampak hanya dia yang bahagia


Bermimpi tak bisa membangunkanku dari kenyataan pahit


Aku ingin mati saat cinta butaku tak dapat kau lihat


Seribu mantra do'a tak dapat menyembuhkan sekaratku


Setelah kenyataan menemukan jasad pucatku

__ADS_1


Aku telah mati saat kau menyuruhku bermimpi


Mengapa sekarang kematian terlihat seperti obat


__ADS_2