
“Suamiku sudah tidak sempurna.”
Kalimat itulah yang terus membuatku serba salah, dan pusing tak karuan.
Aku tinggalkan suamiku dalam ruangan ICU, membiarkannya tak berdaya di sana. Meninggalkannya tanpa menanyakan kondisinya bagaimana, lebih-lebih aku tidak mengucapkan salam perpisahan padanya. Suamiku telah cacat, dan segala ketidaksempurnaan tak bisa aku toleran!
“Laisa ... Laisa ... tunggu ...,” seruan suamiku dalam ringkihnya.
Tapi percuma saja, suaranya tak mampu menghentikan langkahku. Aku lalu berhasil keluar dari ruangan beraroma obat itu, lantas duduk kembali di kursi panjang samping pintu.
Ya, aku tadinya ingin menyelidiki ponselnya, menyelisik apa yang sebenarnya tengah dialami oleh suamiku, kendati begitu, aku malah terduduk dengan agak membungkuk dalam tangisan ketidak-berdayaan, kedua tanganku mencengkram muka lututku begitu erat, menahan seluruh emosi yang kini tengah berkantaran dalam benakku, hingga setiap butir air mata jatuh ke lantai bagai darah yang tak merah, sebagai tanda bawa hatiku terluka parah, berlebihan memang, tetapi begitulah kenyataannya.
Ini tidak biasa buatku, semakin aku menangis semakin kuat atelofobiaku menjerat jiwaku, rasanya aku ingin meledak saja, lalu mati tanpa ada yang menangisiku, ya sependek itulah pikiranku.
Perasaan gundahku masih terus memaksaku agar memakukan diri di sini, tak peduli dengan apa yang tengah terjadi di sekitarku, aku tetap tak mampu mengubah kenyataan, bila pun aku bisa mengubah seluruh kenyataan hidupku, sudah pasti, aku lebih memilih langsung berada dalam surga tanpa perlu bersusah payah bernapas di sini.
“Eerrrgggghhhhh ...,” sekuat tenaga aku cengkram lututku demi bisa meredam emosi gundahku, jelasnya berusaha mengendalikan diri dari serangan atelofobiaku.
Aku benar-benar ketakutan dengan cacatnya suamiku, sekali lagi, aku tak bisa menerimanya!
“Laisa ....” sebuah panggilan dari seorang yang tak asing lagi.
Akibatnya kudongakkan wajahku pada pemilik seruan, Guru Sukada telah berdiri di depanku dalam jarak satu meteran, penampilannya pun masih rapi dengan setelan formalnya, dan keseriusan adalah raut muka yang ia tampilkan padaku.
“Bagaimana suamimu?” Cemasnya.
Aku tak bicara, namun kuarahkan telunjukku ke ruang ICU, maka Guru Sukada paham hingga langsung masuk ke dalamnya. Dan kini aku kembali tertunduk, berusaha keras menghentikan air mataku, menangis ini memang tak berguna, jadi dengan kasarnya menggunakan lengan kemeja seragam sekolahku kuseka wajahku, dan hidungku, sampai-sampai aku harus tersengal-sengal karenanya. Aku kucek mataku, lalu kutarik napas secara dalam, mengembuskannya secara pelan, aku melakukan pengaturan napas beberapa kali, agar dengan begini, gejolak atelofobia-ku bisa sedikit kubendung. Hanya saja selepas tiga menit mengatur napasku, Guru Sukada telah keluar dari ruangan suamiku berada, lebih dari itu, beliau duduk langsung di samping kiriku. Sedangkan aku masih duduk mencengkram muka lutut kuat-kuat, malah berkat kehadirannya, aku kembali menunduk merasa bingung harus bagaimana.
Satu hal yang patut aku syukuri adalah, air mataku yang telah berhasil aku hentikan, namun hatiku masih dalam senak.
“Laisa ... bapak minta maaf, saat kejadian itu, bapak tak bisa membantu suamimu.” Guru Sukada malah minta maaf secara tiba-tiba, tapi entah raut mukanya bagaimana, aku masih menunduk memandang lantai keramik putih yang dibasahi oleh air mataku.
“Laisa ... tadi, suamimu ingin bertemu denganmu, suamimu juga min ...,” perkataan Guru Sukada kupotong.
“Ya biar saja! A-aku nggak bisa menemuinya ...,” selaku gelagapan dan merasa kebingungan untuk menanggapi pesan Guru Sukada, bahkan emosi amarah justru melingkupiku. Jelas aku marah, karena bagaimana pun, aku benci dengan fobia-ku.
Setelah perkataan ketusku tertangkap oleh telinga Guru Sukada, kesunyian pun melingkupi kami. Detik demi detik hanya kebungkaman yang kami rasakan, entah apa yang kini dipikirkan Guru Sukada, namun yang jelas, aku masih gundah nan takut, aku sempat melepaskan cengkramanku dari muka lutut, hanya saja gemetarnya tanganku membuatku kembali mencengkram muka lutut kuat-kuat.
“Laisa ... kata Doktor Arkasa, suamimu akan di ruang ICU hingga tiga minggu lebih, di ...,” penjelasan Kak Farka seketika kupotong.
Ya Kak Farka sudah kembali, dia berdiri di dekat Guru Sukada, tetapi karena pandanganku masih lekat pada lantai, maka raut mukanya tak dapat kuketahui.
“Ya! Aku nggak peduli!” sergahku dan entah mengapa juga jiwaku malah seperti ini.
Aku merasa risih dengan kehadiran serta suara manusia di dekatku ini.
__ADS_1
“Jangan bicara begitu, itu suamimu!” tegur Kak Farka.
“Dia ... dia .... sudah enggak sempurna,” tukasku dengan bergigit menahan gejolak atelofobia-ku.
Penyakit atelofobia-ku memang sudah terbilang kronis, cukup membuat seluruh urat di tubuhku menegang gelisah ketakutan, tanganku saja sampai terjadi tremor.
“Sempurna atau tidak, dia tetap suamimu!” kak Farka kembali menegurku.
“Tidak! Suamiku ... laki-laki sempurna, kalau dia berubah, maka ...,” aku menggantung kalimatku, diakhir itulah, justru aku teringat komitmenku pada suamiku. Ya, aku sudah salah, aku telah terpengaruh atelofobia-ku!
“... aku ... aku nggak bisa menerima ketidaksempurnaan, aku sangat takut ....” maka aku gaungkan alasanku menjadi seperti ini.
Dan tujuh detik menjadi waktu merenungi alasanku bagi Guru Sukada serta Kak Farka, sepertinya mereka mulai memahami perubahanku.
“Laisa ...,” Guru Sukada akhirnya memulai untuk menyuarakan tanggapannya padaku, guru mengambil alih pembicaraan Kak Farka.
Bahkan untuk itu, aku tetap saja tertunduk mencengkram kedua lututku.
... ... ... ... ...
“... bapak juga ingin hidup baik-baik saja, ingin semuanya berjalan sempurna ... sulit memang menerima kecacatan, seolah itu adalah hal yang hina untuk diterima, malahan ... bapak juga merasa ingin mati saat gagal mencapai hasil yang diinginkan ... Laisa, bapak yakin, kalau menerima kecacatan adalah bagian kesempurnaan, karena hal itu tak mudah untuk diterima,” tutur Guru Sukada yang terkesan seperti maksim dan kuanggap itu antitesis.
“Aku ... ingin sempurna, menerima kecacatan adalah kelemahan yang tidak layak diapresiasi, gegara kecacatanlah, suamiku membuat kita semua kerepotan, bukankah seorang murid akan dimarahi bila tidak menurut pada perintah gurunya? Jadi mustahil, sesuatu yang cacat dapat diterima ... kita ingin sempurna ... kita menuntut kesempurnaan ... dan tak mungkin menolak kesempurnaan.” aku balas persepsi Guru Sukada secara diskursif.
“Kita sudah pernah membahas ini kan? Dan kamu juga sudah tahu maksudnya kan? Kesembuhanmu ada dalam paradigmamu, kamu terlalu berlebihan, itu saja,” imbuhnya.
Iya dan memang Guru Sukada selalu mengingatkanku untuk tidak berlebihan dalam merespons pikiranku, guru juga sering mengingatkanku untuk bisa lebih realistis, tenang dan bisa menerima keadaan selama aku sudah bekerja keras. Kendati demikian, penyakitku tetap saja bertahan.
“Tidak bisa! Pemaparan bapak sama sekali tidak bisa diterima! Aku menghindari ketidaksempurnaan karena penyakitku! Penyakitku tumbuh karena aku memang perfeksionis, ketidaksempurnaan pula yang selalu menimbulkan permasalahan, dan ... aku sudah berdo'a agar Tuhan menyembuhkanku tetapi tidak dikabulkan sama sekali!” aku menyergah tak peduli di samping seorang guru atau bukan, kekalutanku telah membawaku pada amarah.
“Iya ... mentalitasmu sudah terserang penyakit, kalau memang sudah begini, memang tidak bisa diapa-apakan lagi, ya sudah ... apapun yang menurut kamu itu baik, lakukanlah selama berada dalam jalur hukum.” Guru Sukada telah pasrah dengan cara pikirku.
Pada akhirnya kebungkaman terjadi lagi, aku masih tertunduk tanpa pegal, jemari tanganku pun masih mencengkram muka lutut, menahan kekalutan penyakitku, rasanya sangat bimbang, risih dan sangat menakutkan. Aku tidak ingin seperti ini, namun aku tak bisa menghindari ini, aku ingin sembuh tetapi tetap merasakan kambuh.
“A-aku ... aku ingin sembuh guru, aku sangat risih dengan penyakit kejiwaanku ini ... aku ing ... hiks, hiks ...,” isakku tertunduk menangis dan pada akhirnya langsung aku mengalami senguk-sengak.
“Laisa ... bapak percaya kamu bisa sembuh, ciptakanlah sugesti, bahwa jangan berlebihan ... kamu boleh takut, tapi tidak untuk berlebihannya, kamu boleh mencapai sempurna tetapi tidak untuk berlebihannya, dan tidak ada gagal selama kamu tidak menyerah.” kembali lagi Guru Sukada berusaha membantuku.
”Tidak bisa guru ... tidak bisa ... usahaku selalu dikhianati hasil, dan selama aku berdo'a, Tuhan tidak bisa mengabulkannya!“ sanggahku.
”Laisa, kamu itu inginnya apa? Katanya ingin sembuh, tapi malah ngomong tidak bisa, jangan buat gurumu jadi pusing.“ Kak Farka mendadak mengomentari fiilku dan menegurku lagi.
Aku cuman mendekus dengan napas naik turun secara impulsif, aku kebingungan, benar-benar kebingungan. Lantas aku menyeka mataku dengan punggung tanganku yang kembali berlinang air mata, malah tremor di tanganku masih terjadi. Kesunyian pun lagi-lagi kami alami, sengap dalam sunyi, suara-suara manusia di lobi perlahan pun mulai berkurang, malam telah membuat mereka lelah, pergi demi menghindari kelamnya malam yang tak menyembuhkan pasien rumah sakit. Diriku masih melekat pada posisi duduk dalam senaknya hati.
”Guru ... jawaban atas pertanyaan guru waktu itu adalah ... penasaran, ya, teman-temanku penasaran dengan buku autobiografi, jadi mereka mau membaca,“ ungkapku tiba-tiba yang membahas topik baru, karena bagaimana pun, aku penasaran apa yang sebenarnya Guru Sukada cari, terutama dengan pertanyaan aneh waktu itu.
__ADS_1
”Bukan, jawabanmu tidak tepat,“ bantah Guru Sukada.
”Tidak tepat? Tidak tepat? Tidak tepat ...?“ aku ulang dan heran dengan berazam Guru Sukada sesungguhnya, aku bahkan masih enggan untuk melihat raut mukanya.
”Terus guru maunya apa? Kenapa guru itu aneh? Kenapa sekolah kita aneh? Kenapa semua yang Kak Farka dan guru lakukan benar-benar ganjil? Apa yang guru harapkan dariku? Kenapa juga harus aku?“ dengan intonasi berang kukeluarkan seluruh unek-unekku tentang seluruh kejanggalan yang kualami. Lebih dari itu! Sampai-sampai aku relakan kepalaku menoleh pada Guru Sukada, maka kudapati raut muka serius terpampang di sana, bonusnya kulihat raut muka datar seorang Kak Farka yang berdiri di depan Guru Sukada, menatapku begitu intens.
Namun beberapa detik kemudian kukembali tertunduk kuyu.
”Ya, semuanya memang nyeleneh, tapi ... pertanyaan bapak itu, adalah tanggung jawab bapak sebagai seorang guru, mendidik murid bukan hanya dari sisi akademis, bapak tak mau seperti sebuah mesin pencari Google, yang semuanya terjawab dengan mudah, moralitas, akhlak, itulah yang bapak susun ... kalau kamu tahu, bapak pernah dinobatkan sebagai guru terbaik di kota ini ... tapi bapak menolaknya, sampai banyak yang menganggap bapak sombong, tapi nyatanya, bapak masih merasa belum layak, nah ... artinya, persetan dengan akademis, seorang yang berakhlak mulia sudah pasti berilmu, itulah sebabnya ... moralitas dan akhlak adalah yang bapak gembleng untuk murid-murid bapak ... Laisa, kamu bisa lulus sekolah, tanpa harus nilai seratus, ilmu bisa dicari, uang bisa dicari, tetapi siapa yang sakit mentalnya, susah untuk disembuhkan.“
Aku hanya sengap, tetapi kedua kupingku terus mendengar pemaparan Guru Sukada dengan saksama, aku ingin tahu, apa guruku gila atau tidak.
”Biar bapak ceritakan semuanya, biar kamu mengenal bapak ....“
”... saat bapak masih kecil, impian bapak sebenarnya bukan seorang psikolog, justru bapak ingin menjadi seorang pilot, menerbangkan pesawat mengelilingi dunia ... tetapi suatu hari, kala bapak masih SMA, banyak teman-teman sekolah bapak tewas bunuh diri, entah apa masalah mereka hingga berani mencabut nyawa mereka sendiri, penyesalan bapak adalah, bapak sebagai teman tidak bisa membantu sama sekali, terlalu masa bodoh dengan semuanya, egoisme, itulah pemahaman bapak dulu ....“
”... dan puncaknya adalah, ketika kekasih bapak bunuh diri di depan mata bapak ... ada kalimat yang diucapkannya hingga membuat cara berpikir bapak berubah, kalimatnya itulah yang mengubah mental bapak, yaitu ... 'he Sukada ... kau bisa mengelilingi dunia, bahkan bisa menerbangkan pesawat, tapi, lihatlah nanti, temanmu mati dibawahmu, dan mereka tidak pernah peduli padamu walau kau mengelilingi dunia seratus kali.' Dan selepas itu, kekasih bapak terjun dari lantai sepuluh hotelnya, tewas mengenaskan, padahal dia anak yang pintar, cerdas dan juara kelas, hanya saja, jiwanya rapuh, lelah dengan masalah hidup yang menuntut hidupnya ....“
”Laisa ... bapak menjadi seorang psikolog bukan karena ingin menolong, justru bapak menolong maka bapak menjadi seorang psikolog ... gelar hanyalah sebuah tanda profesional, agar bapak mendapat kepercayaan masyarakat, bahwa bapak bisa diandalkan.”
“Nah, autobiografimu itu, adalah penelitian yang bapak lakukan sendiri, bapak ingin mengetahui karakteristik setiap murid, seperti apa pemikirannya, seperti apa perasaannya, atau seperti apa cara hidupnya, setelah bapak menimba ilmu diperguruan tinggi, bahkan secara bersamaan bapak memondok di pesantren, dan disitulah semuanya semakin menguatkan persepsi bapak tentang uniknya manusia, maka bulat sudah impian bapak menjadi psikolog, lalu kenapa hanya kita yang menulis? Karena ini adalah proyek independen, boleh untuk menulis, tidak pun tidak apa-apa, siapa saja boleh,” pungkas Guru Sukada secara gamblang.
Guru sudah panjang lebar memaparkan beberapa hal yang baru aku ketahui selama menjadi muridnya.
“Terus apa hubungannya dengan pertanyaan guru waktu itu? Sudah jelas teman-temanku penasaran,” heranku masih tertunduk mencengkram lututku.
“Guru ingin tahu, seperti apa kamu menanggapi pertanyaan itu, tidak terjawab juga tidak apa-apa, bapak sudah senang kamu sudah berusaha mencari jawabannya ...,” jelas Guru Sukada.
Renungan pun aku alami, berusaha sekuat tenaga untuk mengambil kesimpulan berazam Guru Sukada.
Aku ingin dikenal ...
Maka kubuat puisi ini untukmu
Aku ingin dicintai ...
Maka kupanggil namamu
Kubuat puisi agar kamu mengenal pikiran dan jiwaku
Kupanggil namamu karena hanya engkau yang kucintai
Maka jangan lari Laisa
Karena kamu masih belum mengenal aku
__ADS_1