
Ke esokkan harinya, di hari Rabu yang secerah biasanya, terik mentari menyengat pada kulit seluruh manusia di sekolah SMA Pekerti, karena bagaimana pun pukul 12:00 adalah waktu di mana matahari terasa jauh lebih dekat dan jauh lebih panas.
Sekarang adalah waktu seluruh belajar mengajar dihentikan, sebab ini adalah waktu di mana saat-saat istirahat diberlakukan. Seperti biasanya, di kelas 12, di meja barisan paling depan, aku tengah sibuk bermain gim di ponselku, melanjutkan gim daring yang sering aku mainkan. Dalam gim ini aku harus menyelesaikan beberapa misi bersama timku demi mampu membentuk kerajaan sendiri, ini adalah gim yang katanya mengasah otak, mengasah kerja sama antar pemain sekaligus mengasah kesabaran.
Setiap detik waktu istirahat sekolah yang kupunya perlahan terenggut oleh keasyikkanku bermain gim, tersadar saat melihat waktu di sudut layar ponsel, bahwa kini telah pukul 12:43. Empat puluh menit lebih aku terlena oleh sebuah gim daring.
Sampai-sampai aku kembali dalam mode tak peduli pada lingkungan sekitarku, lupa akan keadaan di sekelilingku, tetapi aku secara refleks menolehkan kepalaku pada suara tangisan sedu sedan seorang gadis muda kawanku. Dialah Wisty yang telah membuatku teralihkan dari gim favoritku, Wisty tertunduk menangis senguk-sengak melenggang masuk ke dalam kelas. Dan karena alasan itulah Cludy serta Ovy, buru-buru menghampiri Wisty untuk dapat mengetahui penyebab isak tangisnya. Lebih dari itu, seluruh murid di kelas ini, bangkit berdiri merelakan perhatian pandangannya hanya demi si gadis pengidap antrofobia itu.
Mereka berdua menuntun Wisty pada mejanya, sementara aku, hanya berdiri di samping mejaku, dan untuk itu, aku harus rela menghentikan gim favoritku sekaligus menaruh ponsel di dalam saku rokku.
“Ada apa Wisty?” usut Ovy dengan cemas dan raut mukanya penuh tanya.
“Kamu kenapa nangis?” sambung Cludy.
Kedua tangan Wisty menyeka air matanya secara kasar, tertunduk menangis senguk-sengak bagaikan kehilangan kehormatannya, pertama-tama dia berusaha menenangkan dirinya lebih dulu, mengatur napas sebaik-baiknya, hingga Ovy tergerak melangkah menuju mejanya, demi mengambil beberapa lembar tisu dari tas gendongnya hanya demi bisa dimanfaatkan oleh Wisty. Wisty menjawat beberapa tisu yang diberikan oleh Ovy, Wisty memanfaatkannya untuk menyeka hidung yang mengalirkan lendir bening, tanda terpukulnya batin Wisty. Mental Wisty benar-benar terpukul oleh sebuah kejadian yang masih belum kami ketahui.
“Biarkan dulu Wisty tenang!” seruku dengan selantang mungkin hingga beberapa pasang mata sempat melirikku.
Aku melangkah ke meja barisan kedua, letak di mana Wisty tengah duduk menangis begitu sedih, aku berdiri di samping mejanya bersama Ovy, memandang Wisty penuh tanya.
“Hiks hiks hiks ....” Wisty masih sedu sedan, wajahnya memerah, bahkan kedua sklera mata Wisty agak memerah, jemarinya pun bergidik.
Mengapa Wisty sampai sebegitunya dalam menangis?
Tisu bekas lendir hidung Wisty telah digeletakkannya di atas meja, Wisty nampak mulai tenang, ia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya secara impulsif.
“Minum dulu,” pinta Cludy menyodorkan sebotol air mineral miliknya.
Wisty menerimanya dan langsung meneguk habis air di botol itu. Seluruh murid yang hadir di kelas ini masih berdiri memandang ke arah Wisty penuh tanya, kecuali si Stovi yang duduk manis di kursinya tak peduli. Tapi aku yakin telinganya mengawasi kami.
Butuh beberapa detik kami diam dalam bimbang menunggu Wisty bicara, tetapi Ovy dengan sentuhan keibuannya mengelus-elus punggung Wisty agar membuat Wisty merasakan ketenangan, sepertinya itu berdampak.
“A-aku hiks ... tadi di-dilecehkan ... hnnnnggg hiks hiks hiks hnnnnnggg ....” sebuah pengakuan yang begitu berat dan berani untuk diucapkan oleh seorang Wisty.
Selepas pengakuannya itu ia menangis lebih kuat lagi, sampai-sampai kedua telapak tangannya menutup wajah manisnya, seolah ingin menutup pula rasa malu dan aib dikeadaannya yang sekarang, tentu saja suasana berubah lebih serius, dan memang wajib dianggap serius.
'BRUAK'.
Meja digebrak oleh seorang pria sadis yaitu Anterta.
“Siangpa yang berani-beraninya menglakukan itu pangdamu Wisty!?” Anterta tersulut emosinya karena tak sudi temannya dilecehkan.
Anterta memang anak sadis yang suka meledek teman-temannya atau kadang menyiksa hewan, tetapi, kepeduliannya akan terlihat bila teman sekelasnya diganggu oleh orang luar. Atau mungkin dia hanya ingin melampiaskan kesadisannya pada sang pelaku, entahlah seperti apa benarnya, yang jelas, aku kaget oleh ulahnya menggebrak meja.
“Siapa yang melakukannya?” sambung Elpan meradang kesal.
“Siapa pelakunya?”
Seluruh murid mulai tersulut emosi setelah mendengar pengakuan Wisty. Tetapi Wisty masih tertunduk menangis sedu sedan dengan menutup wajahnya menggunakan tangan lembutnya, Wisty benar-benar malu, dan dia memang benar-benar terguncang.
Jelas mental Wisty terguncang, bagaimana tidak, Wisty itu anak yang polos dan baik, dia bahkan tak segan untuk memberikan uang jajan pada kawannya yang tak punya uang, dan kini, ia tercemari oleh sebuah perbuatan dari nafsu seseorang.
Sampai-sampai Ovy berdeku di samping Wisty dengan tangan kanan yang semakin betah mengelus punggung Wisty demi membuatnya tenang, rasa iba atau empati telah tampak di seluruh wajah murid-murid di sini, raut muka semua orang tampak murung nan bimbang. Murung karena temannya mendapat musibah dan bimbang entah harus berbuat apa.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang laki-laki berkulit albino datang dari luar kelas mendekatiku, Anka sahabatku datang keheranan seperti kehilangan ingatannya, raut mukanya bingung, tapi sorot matanya penasaran. Anka setiap istirahat kedua, memang di luar kelas, dia di kantin untuk makan siang, jadi tak tahu kalau sekarang ada kejadian yang menggemparkan ini.
“Ada apa ini?” selidik Anka.
Tapi tak ada yang menanggapinya, bahkan aku langsung menumpukan kedua tanganku di atas meja, juga kuarahkan wajahku pada kepala Wisty yang memang hanya rambut hitam sebahunya yang dapat kulihat.
“Pelecehan apa yang kamu alami Wisty?” aku menyelidiki.
“Hnnng ... hhhmmmemmhemmmmm.” ucapan Wisty benar-benar tak begitu jelas, dia lebih terdengar seperti berkumur-kumur.
“Jawab yang jelas!” aku mendesak Wisty dengan suara lantangku.
Wisty mulai mendedah tangannya dari mukanya, lantas bicara dengan senguk-sengak:
“Hiks ... laki-laki itu melakukan pelecehan seksual padaku, hiks, aku hampir diperkosa, hnnnnngg ....”
Sebuah pengakuan yang kembali membuat emosi manusia-manusia di kelas ini berkantaran, kulihat seluruh kening manusia mengernyit serius, kecuali Anterta yang melongo serta Stovi yang entah bagaimana reaksinya. Dan cukup tercengang mengetahui Wisty berani mengungkapkannya di depan umum.
“Apa?!” Anka kaget hingga kata tanyanya terdengar begitu keras.
“Laporin saja ke polisi.”
“Iya ketua.”
“Lapor dulu ke guru.”
Beberapa murid mulai melayangkan usulan dan pendapatnya demi menyelesaikan masalah Wisty. Aku termenung beberapa saat, selain memikirkan jalan keluar dari masalah ini, aku memikirkan siapa pelakunya, lebih dari itu, bagaimana bisa seseorang melakukan pelecehan seksual di area sekolah.
“Wisty ... apa kamu masih ingat wajah pelakunya?” selidikku serius karena jika aku tahu, aku akan langsung menghajarnya tanpa segan.
Bahkan pertanyaan kembali muncul dalam kepalaku, bagaiman bisa murid SMA Pekerti melakukannya? Sedangkan di sini adalah lingkungan sekolah yang sudah pasti ramai oleh manusia.
“Ya sudah!” aku berdiri tegap dengan berkacak pinggang, memandang ke depan pada visual rencana dalam otakku, diikuti pula oleh keluar masuk napas yang agak berat.
“Wisty, nanti kamu kirim pesan lewat ponsel padaku, ceritakan apa saja yang laki-laki itu lakukan terhadapmu, jangan bicarakan di tempat umum. Dan jangan sampai orang tuamu tahu,” kataku menyarankan demi menjaga harga diri Wisty.
“Apa kamu dengar Wisty?” tanyaku dengan menatap rambut hitam Wisty.
Wisty tak bicara sama sekali tetapi dengan anggukkan mantap dia telah menegaskan bahwa kupingnya sudah mendengar baik-baik suaraku.
“Untuk teman-teman jangan ada yang bertindak sebelum ada perintahku! Dan jangan coba-coba menyebarkan masalah ini pada siapapun!” aku gaungkan peringatan pada manusia-manusia di kelas ini agar dengan begitu tak ada yang bertindak gegabah kecuali aku.
Tapi tiba-tiba, layaknya guntur kala hujan deras, Stovi si gadis egois nan babil berdiri tegak memandangku dengan raut muka menyebalkannya. Tebakanku benar, bahwa telinganya mengawasi kami.
“He debil, seharusnya kita laporin ke polisi.” sebuah saran yang disertai ejekkan melayang untukku.
Sialan memang, sang provokator ulung bernama Stovi mulai beraksi kembali.
“He Stovi! Nggak perlu nyebut debil juga kali, aku juga tahu harus berbuat apa!” sergahku tak terima sindiran Stovi.
“Lo itu emang ketua kelas debil! Sekarang lo ngapain juga nyuruh kita ngikutin perintah lo! Udah jelas Wisty dilecehkan, malah nunggu perintah nggak jelas dari lo, gue sih nggak mau ya ngikutin perintah nggak jelas kayak gitu.” Stovi membalas dengan judes dan terkesan memprovokasi keadaan.
Maka berkat perkataannyalah suasana kini terasa jauh lebih tegang, bahkan terbilang memanas, padahal tadi aku ingin membuatnya menjadi tenang. Dan untuk kejadian ini, raut muka beberapa teman-temanku nampak lebih serius. Tetapi kini, gejolak emosi kemarahanku mulai merebak, secara impulsif jiwaku tergerak menjadi murka.
__ADS_1
“HE! BODOH! KAMU KIRA AKU NGGAK AKAN MELAPORKANNYA PADA POLISI! PERINTAHKU TADI ....” aku membentak akan tetapi pembicaraanku tersekat.
“Alaaaaaah ... terserah terserah, gue cuman mau nolong ... itu aja!” sela Stovi dengan sikap babilnya lalu melengos kembali duduk di kursi kesukaannya.
“Iiiiiiiih ... kau ....” aku bergigit geram hingga rahangku mengeras, jemariku pun mengepalkan tinjuan, napasku mulai keluar masuk secara impulsif, aku hendak menampar Stovi.
Tetapi seluruh niatku untuk menampar Stovi sirna kala tangan dingin nan basah seorang gadis menggenggam pergelangan tangan kananku. Ya, Wisty menggenggam tanganku, menggenggamnya erat, dan di sana, wajah merahnya, telah menampakkan kegetiran dan harapan, dia menatapku sendu.
“Hiks ... aku nggak tahu harus berbuat apa, hiks, tapi, aku ikutin perintahmu ketua kelas,” ujar Wisty sesenggukkan.
Sontak otakku dan jiwaku yang tadi sempat memanas terbakar emosi kemurkaanku, kini perlahan meredup karena perkataan Wisty yang seakan mendinginkan suasana emosiku. Aku menghela napas, menganggukkan kepala sembari menatap Wisty penuh terima kasih, tentu aku berterima kasih, sebab dia sudah mau mengikuti perintahku. Karena bagaimana juga, teman-temanku kadang sulit mengikuti perintahku, entah mengapa mereka sulit mengikuti perintah padahal aku adalah ketua kelas mereka.
Wisty menurunkan kembali tangannya, dia sudah mulai tenang, bahkan Ovy tak jenuhnya mengelus punggung Wisty untuk memberinya kedamaian, Cludy juga masih menemani di sisi kanan Wisty.
“Oke teman-teman! Sekali ini saja, ikuti perintahku! Aku yang akan mengurusnya!” ujarku dengan lantang dan ucapanku wajib digugu, jika tidak, aku tak segan-segan akan menampar siapapun yang berani membangkang.
“Aku junga akan membangtumu!” kata Anterta dengan suara sengaunya.
“Ya, aku ikut sayang!” sambung Elpan.
Sedangkan Anka sengap mengernyitkan kening dalam raut muka perenungan. Entah dia sedang merenungi apa.
“Nggak nggak nggak, jangan jangan ...,” sanggahku dengan menggelengkan kepala menolak tawaran manis teman laki-lakiku.
“... aku nggak mau ada tawuran, nggak mau ada kasus yang malah memunculkan kasus baru ... sekali lagi! Biar aku yang urus!” lanjutku menegaskan betapa pentingnya perintahku.
Apa lagi si Anterta yang kulihat-lihat sepertinya dia memang seperti mencari bahan untuk bertarung. Maka semua langsung sengap dan kembali duduk di kursinya.
Tetapi tiba-tiba suara lembut Wisty membuat pandanganku terarah serius pada wajahnya.
“Aku nggak tahu harus berbuat apa, tapi hik hik kenapa aku nggak boleh ngomong sama orang tuaku?” pertanyaan polos dari Wisty membuatku harus menjelaskannya.
“Aku nggak mau kamu menambah beban hidup orang tuamu, memang sih, mungkin nanti ketahuan juga, cuman untuk sekarang sebaiknya kita urus bersama-sama,” jelasku selancar mungkin.
Namun, penjelasanku malah membuat Wisty tertunduk merenung, dia sepertinya meragukan bantuanku. Secara refleks aku pun berdeku di samping Ovy, menghadapkan tubuhku pada Wisty, ini dilakukan demi menambah kekuatan bahasa tubuh, agar Wisty yakin terhadap bantuanku. Maka kutatap wajah manis Wisty begitu intens, dan tangan kananku memegang muka lutut kirinya supaya dengan begini jiwanya bisa tersentuh oleh sikap seriusku.
“Wisty ... kamu nggak perlu khawatir, aku itu orang yang setia kawan, tenang aja ... kamu punya teman yang selalu bisa diandalkan,” tuturku dengan penekanan disetiap kata.
Tiba-tiba, bola mata Wisty secara ajaib mulai rela memandangku, meski raut kuyunya masih terpampang.
“Aku nggak tahu harus berbuat apa ....” ucapan Wisty menggantung.
”Sudah, sekarang kamu ceritakan awal kejadianmu lewat HP, biar aku saja yang tahu. Oke,“ selaku sebisa mungkin membuat Wisty yakin pada bantuanku.
Wisty tak bicara, namun dengan satu anggukkan mantap dia menyetujui usulanku.
Dan setelah kuhela napasku, kukerahkan kembali sisa energi untuk dapat kembali berdiri tegap, setelah berhasil kuberdiri tegap, kuarahkan segenap pandanganku pada seluruh manusia yang hadir di tempat ini.
”Oke sudah-sudah, masalah ini biar aku yang tanggung!“ sekali lagi aku gaungkan sebuah pemberitahuan nan penting agar tak ada manusia konyol yang bertindak sembarangan, kecuali aku, karena bagaimana pun aku tidak suka diperintah, jadi, sudah pasti, kemungkinan bertindak gegabah pasti aku lakukan.
Tak lama berselang, beberapa murid lainnya, mulai masuk ke dalam kelas, yang tentunya mereka masih belum tahu bahwa tadi ada kejadian yang menggemparkan setiap insan di kelas ini. Sedetik kemudian, bel masuk berdering, tanda pelajaran selanjutnya akan dimulai.
Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal pada kepalaku, mengapa Wisty begitu berani mengungkapkan kemalangannya pada kami yang notabene itu adalah sebuah aib, setahuku seseorang yang telah dilecehkan secara seksual, mental serta kepribadiannya pasti akan berubah, baik menjadi tertutup maupun menjadi pemurung.
__ADS_1
Tapi untuk pertanyaan itu, aku akan menyimpannya, karena saat ini aku harus fokus pada mata pelajaran yang segera berlangsung.