Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 32: EGOSENTRISME ADALAH KEDUA. (Part 1)


__ADS_3

Aku mendekus masih menjambak rambutku, bergigit hingga rahang mengeras, beban hidupku yang semakin berat membuatku bingung.


Apa yang harus aku lakukan dengan teror ini?


“BERENGSEK!” teriakku hingga kulepaskan tanganku dari rambut.


Dan karena aku bingung entah harus berbuat apa, aku berbaring di sofa panjang ini, berbaring dengan kepala yang ditumpukan pada lengan sofa sebagai bantal.


Malah untuk itu, kedua tanganku mengepal mencengkram jemari kuat-kuat, lalu memukul-mukul sofa berkali-kali.


Hari ini adalah puncaknya stresku, tentu saja aku stres, mulai dari atelofobiaku yang telah kronis, lalu masalah teror yang bagaimana bisa aku menangkap seorang pelaku teror yang begitu cerdiknya berhasil melukai teman-temanku.


“BERENGSEK! AKU BERHARAP TIDAK PERNAH HIDUP! KEHIDUPAN BEDEBAH!” aku berteriak meluapkan cuanya aku pada hidupku.


Lalu aku arahkan mata ke atas, terarah pada langit-langit rumah.


“Kenapa hidupku jadi begini? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” lirihku.


“Sialan!” isakku.


“Errrrrrrggghhhh ...”


Mataku terasa berkaca-kaca, jiwaku terasa tertekan dengan masalah hidup yang tak aku tahu jalan keluarnya, jika aku menolak membantu teman-temanku, pastinya aku dianggap sang pelaku teror, dan jika aku membantu mereka, aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat, aku takut salah langkah, yang akhirnya malah menjadi penyebab hilangnya nyawa temanku.


Aku bergigit menahan beratnya masalah hidup yang kini aku hadapi, dan waktu terus berputar bersamaku yang memikirkan beban hidup, detik demi detik kulalui dengan terbaring menikmati kehidupan yang terasa perih, hingga entah jam berapa aku mulai tertidur, namun yang pasti, dalam tidurku, hanya kegelapan yang tertangkap netraku.


Dan sampai akhirnya, hari pun berganti, kala tubuhku telah terasa segar, rasa kantuk pun telah memudar, kelopak mataku mulai terbuka, jendela kaca rumahku dengan sinar mentari adalah hal pertama yang netra biruku tangkap, rupanya aku bangun siang lagi, aku menguap dengan meregangkan tangan ke atas kepala, lalu berusaha untuk duduk.


“Whhhoooaaamm ....”


Kala aku benar-benar telah duduk, aku edarkan mataku mencari ponselku di lantai, bukannya apa-apa, aku tak mau membiarkan benda berharga itu hilang begitu saja, apalagi, autobiografiku ada di ponselku, tapi anehnya, sama sekali tak kudapati ponsel di sana.


Jelas aku bangkit dari duduk, berdiri berkacak pinggang di atas lantai keramik putih, aku masih mengedarkan sorot mataku pada lantai, bahkan karpet bunga matahari pun tak luput aku pandangi. Tapi ponselku sama sekali tidak ada di sini, padahal aku masih ingat di lantai di samping sofa inilah ponsel pintarku tergeletak telah retak layarnya.

__ADS_1


Sambil mencari ponsel aku sempatkan mematikan lampu ruang tamu serta ruang tengah rumahku.


“Haduh ... nggak lucu kalau si kuntilanak yang ngambil HP-ku.” aku berkeluh kesah sampai berburuk sangka pada kuntil-anak merah di rumahku.


“Laisa.” tiba-tiba seorang pria dari belakang punggungku memanggilku.


Secara spontan aku memutar tubuh ke belakang pada asal suara.


Seorang pria muda dengan setelan formalnya, mengenakan jas hitam yang membungkus kemaja putihnya, telah berdiri di depanku dengan tangan kiri yang terselip ke celana hitam formalnya, sedangkan tangan kanannya menyodorkan ponsel pintarku, bahkan karenanya Kak Farka tersenyum simpul padaku.


Tapi tunggu, layar ponselku telah kembali normal. Sontak aku langsung mengambil ponselku dari tangan Kak Farka.


Aku sempatkan untuk memeriksa ponselku baik-baik, takutnya ini bukan ponselku. Namun setelah menyelisik, ini memang ponselku, dan bersyukur ponselku telah aku dapatkan kembali.


“Wah kakak memperbaiki layar HP-ku ya?” aku memastikan dengan tersenyum semringah memandangi ponselku yang tampak seperti baru.


“Ya, begitulah sekiranya,” jawab Kak Farka dengan eksplisit.


“Kak akan lebih bagus kalau memberiku HP baru,” kataku berkelakar tapi dengan niat benar-benar ingin dibelikan yang baru.


“Hehehe ...,” aku malah cengengesan.


Lantas aku melangkah menuju sofa, dan langsung duduk memeriksa ponselku.


Satu hal yang pasti, aku membiarkan rambutku acak-acakan.


Tapi tunggu, aku baru tersadar akan hal penting. Jelas, seketika aku menoleh pada Kak Farka yang masih berdiri di posisinya, sambil memandangku dalam senyumnya.


“He, kakak nyelonong masuk ke rumahku lagi ya?” tanyaku menyindir.


Belum ada jawaban dari Kak Farka, dia malah melangkah ke karpet, kemudian duduk bersila menghadap ke arahku, lebih-lebih dia malah tersenyum tenang padaku.


Kak Farka nampak menghela napas, barulah dia berkata, “Tadi, kakak sudah ucapkan salam, dan sudah mendapat izin dari suami kamu untuk menemanimu di sini, dan kakak lewat pintu dapur lagi.”

__ADS_1


“Kak, tolong jangan bahas suamiku, atelofobiaku bisa kambuh,” kataku dengan memohon dan untuk ini gigiku sampai bergigit.


“Tenang-tenang, maafkan kakak sudah kurang ajar. Kakak datang ingin menengokmu saja, nanti juga kakak pulang.”


Aku mengangguk pelan dengan raut wajah nestapa, lantas bersandar ke sofa dengan pandangan tertunduk.


Ternyata sekarang pukul 12:15, siang hari yang cerah, namun bukan waktu yang membuatku nestapa, melainkan sebuah potret di layar ponselku, telah terpajang foto suamiku yang masih sehat nan tampan, Harfa begitu sempurna di sini, aku memandangnya dalam kontemplasi.


Atelofobiaku tidak menyerang kala memandang foto Harfa, mungkin karena pikiranku terfokus pada dirinya yang masih sempurna. Aku memang sempat pergi darinya, bahkan berusaha tak memikirkannya, tapi tetap saja, ujung-ujungnya aku merindukannya, aku juga mencintainya, ya, aku bukan membenci Harfa, aku hanya takut pada apa yang akan terjadi saat Harfa tak diperban lagi. Takut pada ketidaksempurnaan Harfa.


“Cuaca hari ini, cerah ya?” ujar Kak Farka basa-basi.


Namu aku sengap tak menanggapi, karena bagaimana pun potret Harfa di ponselku, telah membuatku betah memandangnya.


“Persetan,” umpatku sambil menaruh ponsel di sofa di sampingku.


Aku bersedekap menyilang tangan, dan menoleh ke kiri pada jendela kaca besar rumahku. Aku mendekus kembali merasakan kehidupanku yang terasa begitu ironi. Memandang foto suamiku tidak akan menyembuhkannya, bahkan tak mungkin masalahku selesai begitu saja, begitu pikirku.


“Kakak, sudah baca teror di HP kamu, jadi, apakah kakak boleh membantu?” tanya Kak Farka membeberkan sebuah fakta.


Berkat ujarannya itu, aku menoleh menatapnya serius. Kak Farka duduk bersila dalam jarak satu meteran di depanku.


“Kak, apa masa muda kakak menyenangkan?” namun aku malah membalas pertanyaan Kak Farka dengan pertanyaan lagi. Bukannya apa-apa, aku hanya ingin tahu, apakah dia punya masalah hidup yang rumit sepertiku.


Sudut bibir Kak Farka hanya tertarik kecil, lalu tertunduk merenung, barulah kepalanya menengadah dan berkata, “Kakak tidak merasa bahagia saat masa muda, kakak selalu ditimpa musibah yang berat, masa muda kakak terselimuti oleh beratnya bertahan hidup.”


“Apa kakak pernah ingin bunuh diri?” tanyaku memastikan.


“Ya, kakak pernah mencoba untuk bunuh diri,” jawab Kak Farka dengan singkat.


“Terus apa yang membuat kakak bertahan?” tanyaku lagi.


“Kakak takut mati.” Kak Farka menjawab singkat tanpa penjelasan.

__ADS_1


“Hmmmmm ....” aku melenguh dengan merenungi perkataan Kak Farka.


Kepalaku menoleh pada ponselku, menatapnya beberapa detik, sampai kurasa keheningan menyelimuti kami. Aku masih memikirkan jalan keluar dari masalahku, aku tidak boleh bertindak gegabah, takut-takut nyawa manusia bisa hilang.


__ADS_2