Autobiografi SMA (Hero Generation)

Autobiografi SMA (Hero Generation)
BAB 31: ANTAGONISME SOSIAL ADALAH CITRA MASA REMAJA. (Part 1)


__ADS_3

Maaf guru, aku akan memaafkan mereka bila mereka sudah sakit, maaf aku tidak bisa memiliki akhlak yang mulia.


Beberapa detik keheningan sempat merebak, tak ada yang berani buka suara, dan aku tetap menunggu pengakuan Azopa.


“HE NGOMONG KEPARAT! APA KAU MAU BERTARUNG SAMA SAYA HA?!” aku membentak Azopa hingga suaraku terasa memenuhi rumah.


“Maafkan saya Laisa! Maafkan saya sudah tidak percaya padamu! Maafkan saya sudah menghasut teman-teman! ... hiks,” akhirnya tangisan seorang laki-laki yang kuanggap bijak selama ini pecah seketika.


Secara refleks salivaku tertelan sebagai reaksi dari aksi permintaan maaf Azopa. Teman-temanku pun menunduk kuyu. Dan aku langsung berkacak pinggang, menjilat bibir bawahku karena masih geram.


“Ma-maafkan ... aku, hiks, aku hanya tidak bisa memercayai anak bodoh untuk memimpin, hiks, aku tidak bisa membuat gadis bodoh sepertimu mendapatkan segalanya! Hiks maafkan aku,” sesal Azopa dengan suara lantang dan menunduk menangis terisak-isak.


“Nnnnggg hiks hiks hiks ...” Wisty pun semakin menangis menjadi-jadi, lebih-lebih Cludy sampai merangkulnya demi membuatnya tentram.


“Setan memang! Sekarang aku sudah tahu, kau menghasut sahabatku hanya karena orang bodoh sepertiku menjadi ketua kelas, memangnya kenapa kalau orang bodoh menjadi ketua kelas?” tanyaku dalam pandangan mengintimidasi.


“He kenapa? Jawab!” aku menghardik Azopa.


“Hiks ... ka-karena untuk apa kita memilih pemimpin yang bodoh kalau nyatanya ada orang yang pintar, hiks, kau itu pemalas, sering mabal, mustahil kelas kita bisa menjadi lebih baik,” jawab Azopa masih menunduk menangis.


Air matanya mengalir di pipinya, matanya tersorot ke kanan bawah, sisanya lehernya masih dipegang. Azopa meragukan kepemimpinanku, ya, ini hanya sekadar gelar ketua kelas di SMA, tetapi, tetap saja jika tidak dihargai rasa sakit hati itu muncul.


Aku menggaruk-garuk belakang kepalaku, rasa gemas membuat aku menggaruk dengan kasar, dan rasa gemas itu pula yang membuatku menggaruk belakang kepalaku.


“... aku, meminta teman-teman hiks, uhuk uhuk uhuk ... agar mereka menyembunyikan teror ini karena memang aku benar-benar ingin menyentuh kejiwaan sang pelaku, hiks, tapi, aku gagal karena ... aku tidak tahu siapa pelaku tersebut, dan saat itu teror hanyalah sebatas ancaman-ancaman tak berarti, aku juga menyuruh agar teman-teman tak membicarakannya pada siapapun, bukan hanya kau saja, Guru Sukada pun tak aku beri tahu.”


“Iya karena kau itu keparat! Kepintaran kayak pantat ayam ... aku nggak ngerti kenapa ya, orang-orang kok percaya padamu, bahwa kau ingin menyentuh kejiwaan pelaku? Padahal itu pemikiran pantat ayam,” aku mencemooh Azopa dan para pengikutnya.


Maka aku menatap kepada teman-temanku, memandang mereka satu persatu.


“He! Kenapa kalian percaya pada omong kosong Azopa?”


Semua masih sengap, mungkin takut untuk bicara, bahkan beberapa di antara mereka ada yang saling menoleh satu sama lain, bingung entah harus bagaimana.


“WOY JAWAB BERENGSEK!” desakku dengan membentak.


“Ya karena Azopa itu anak yang pintar, saat kami meminta bantuan untuk menjelaskan soal, dia selalu siap, dia juga juara kelas, dari SD saja dia sudah berprestasi,” akhirnya Nuita menjadi pembuka alasan-alasan teman-temanku.


“Ya, kami melihat Azopa adalah anak yang bijak,” timpal Cludy.


“Ya, Azopa adalah anak yang bijak,” sambung Petro.

__ADS_1


“Azopa memiliki jiwa kepemimpinan, bagi kami dia lebih cocok ketimbang kita-kita ini,” tambah Loze.


Lalu beberapa murid mengiakan jika Azopa anak yang pintar juga cerdas bahkan Azopa punya jiwa kepemimpinan.


“Sekarang aku tanya! Siapa yang pertama kali mengajak kalian ke sini?” usutku.


“Itu adalah, Anka, dia Anka!” balas Tozka dengan lantang terlebih sampai menunjuk-nunjuk Anka demi menguatkan dakwaannya.


“Terus kenapa kalian mau ke sini?” cecarku.


“Kami mau minta maaf, bahwa kami pernah tidak percaya padamu, maaf kami sudah meragukanmu.” Nuita membeberkan fakta tetapi aku perlu menimbang-nimbang pernyataannya.


“Bila aku boleh mengkritik kepemimpinanmu, alangkah baiknya, kau jangan mabal, berilah contoh yang baik pada kami,” sambung Loze mengkritik dengan santai.


“Oh berani kau ya mengkritik kepemimpinanku, berani kau ya mengkritik kehidupanku!” sergahku memandang Loze penuh amarah.


Loze, pria berkulit secokelat buah sawo dengan wajah oval yang tirus, satu-satunya manusia berkepala botak di SMA Lily Kasih, sang pengidap atazagorafobia, dialah yang beraninya mengkritik kepemimpinanku, berdiri di sana dalam jarak satu meteran, maka kutatap dengan marah. Jelas aku marah pada kritikannya, karena hanya seorang guru yang boleh mengkritik usahaku.


“KAU MAU BERTARUNG DENGANKU HE!” aku menunjuk Loze suatu tanda untuk menambah mutu hardik dariku.


Kedua alis Loze terangkat ke atas, ia gentar dengan sikapku.


“Iya, jangan kasar begitu dong, kita mah datang baik-baik,” sahut Nuita ikut membela.


Sontak secara bergantian aku menunjuk Nuita dan Cludy, memberi kesan mengancam, telunjuk yang mengarah pada mereka adalah sebagai suatu kekuatan gestur tubuh, bahwa aku serius dalam masalah ini.


“HE BERENGSEK! JANGAN MENGKRITIK KEPEMIMPINANKU! ATAU PULANG INI KALIAN TIDAK AKAN PERAWAN LAGI!” aku gaungkan sebuah ancaman layaknya sebuah teror mengerikan pada mereka.


Otomatis, mereka mendilak dengan bersedekap menyilang tangan, itu adalah suatu gestur tubuh menolak atau menjaga diri dari sebuah situasi yang tidak mengenakan. Dan kata-kata 'pedas' memang selalu berhasil menyakiti hati manusia.


Sedangkan para murid lainnya hanya mampu sengap, dan aku kembali pada sosok si keparat Azopa.


”Sekarang begini, tolong jawab pertanyaanku Azopa.“


Azopa masih menunduk, raut mukanya begitu nestapa, tetapi air mata telah tiada.


”Apa kau sempat mencurigai aku sebagai pelaku teror?“ usutku.


”Iya,“ jawab Azopa.


Aku mengangguk-angguk, dugaanku memang benar.

__ADS_1


”Tapi itu karena kau satu-satunya anak yang tak diteror, apa lagi, kau sering bolos sekolah, sehingga berbagai asumsi muncul, dan seluruh kecurigaan itu patah kala suamimu yang terkena teror, tapi itu hanya sebatas tuduhan sepintas, tidak langsung menyimpulkan,“ papar Azopa.


”Nah kan, aku tahu, pasti ada pikiran begitu,“ keluhku.


“Apa kau melakukan konspirasi dengan teman-teman? Ceritakan!” desakku.


“Kurang tepat kalau disebut konspirasi, ini hanyalah hasutan, aku menghasut mereka agar tak terlalu percaya padamu, saat kau mengajak kami untuk menulis autobiografi aku menentangmu agar murid-murid terhasut, dan saat aku mengajak teman-teman untuk menulis autobiografi adalah agar aku selalu mendapat kepercayaan dari teman-temanku, aku ... hiks, aku tak suka jika orang bodoh harus menjadi ketua kelas, sejak saat Guru Sukada memilihmu untuk menggantikanku, aku, aku merasa gagal menjadi ketua kelas, aku tidak bisa menerimanya,” beber Azopa dengan serius dan aku anggap itu fakta yang layak dipercaya.


“Hmmm ... pantas, selama aku menjabat, kok mereka lebih nurut padamu ya, kata-kata bijak omong kosongmu itu ternyata hanya hasutan semata ya?” aku memandang wajah Azopa begitu gemas, gemas ingin menonjoknya.


“Dan jawab! Apa karena kutukan kau ingin memanfaatkan kesempatan agar seluruh teman-teman memusuhiku?” lanjutku.


Kali ini, mata hitam Azopa mulai melirik padaku, menatapku begitu intens.


“Iya, aku sempat memanfaatkan kesempatan kutukan itu untuk lebih memilihmu sebagai musuh, tapi, sekarang aku sudah bisa lihat, bahwa, aku telah termakan oleh hasrat dan kebencianku sendiri, pada dasarnya kamu juga hanyalah korban.”


“Maafkan aku Laisa,” imbuhnya menyesal dan pandangannya menginding padaku.


Maka jelas sudah, Azopa iri pada orang bodoh sepertiku, dia menghasut teman-teman hanya agar lebih percaya pada Azopa ketimbang aku, dan teman-temanku mengikuti perintahku hanya karena takut padaku, dan bukan menghormatiku.


“KEPARAT! BERENGSEK!” secara kesal aku mulai mengumpat, seluruh kata kotor, seluruh kata-kata kasar, semua ujaran-ujaran kebencian, aku lontarkan lewat mulutku, bahkan untuk ini, aku menginjik-injak lantai, membayangkan bahwa itu Azopa.


“Keparat memang! Anak-anak yang berprestasi memang lebih mulia! Keparat! Berengsek! Formalitas dunia berengsek!”


Tiba-tiba kedua telingaku menangkap vibrasi suara yang membuatku bergeming.


“Angku anak yang merdeka, angku tingdak peduli pangda siapa ketua kelasnya, tingda peduli pangda prestasi, jika angku pingtar itu untuk diriku, jingka aku bodoh, itu jungga ungtuk diriku.” Anterta-lah yang bicara dengan suara sengaunya yang terdengar jadi saru.


“Gungru Sungkada pernah berkata pangdaku, bahwa, dia mengcari murid yang memiliki akhlak mulia, dang jika kaliang tak bisa mengnemukangnya, maka kanglian harus bersatu, ungtuk menutupi kengkurangan dan saling melengkapi.”


Sontak aku serta teman-teman menghadap pada Anterta, memandangnya serius, sedangkan Anterta masih duduk manis di sofa panjang, duduk bersandar dengan tangan bersedekap menyilang.


”Kalian berdua sangma-sangma salah, kanglian hanyalah dua aktor yang berbeda pola pikir dan berusaha untuk disatukan, kanglian hangyalah dua aktor yang dipersatukan ongleh realitas, kengtika seorang penulis menulis kebaikang bukang berarti pengulis itu baik, sebab sang pengulis pung menulis tentang kejahatang,“ sebuah ucapan tidak jelas yang disuarakan oleh Anterta si laki-laki berambut hitam gimbal dengan tubuh kurusnya seperti kurang gizi yang masih nampak kentara meski telah dibalut jaket kulit.


“Omong kosong apa yang kamu bicarakan Anterta?” aku meledeknya, bagaimana pun ucapan Anterta tak boleh digugu, dia seperti mabuk dan ucapannya sangat ngelantur.


“Kaliang tingdak pungnya akhlak, tapi kaliang bisa bersatu ungtuk membengtuk akhlak, itu, yang diinginkang Guru Sungkada, tapi kang, kaliang orang-orang dungu, mangna paham maksud Guru Sungkada,” jelas Anterta dengan suara sengaunya yang membuat ucapannya terdengar rancu.


“Dasar orang gila,” ketusku memalingkan tubuh dan pandangan dari Anterta.


“Ngah-ngah-ngah-ngah,” sebuah tawa yang terdengar seperti orang sesak napas yang digemakan oleh Anterta.

__ADS_1


__ADS_2