
”Asal kau tahu, aku sebagai sahabat tidak ingin kau bertindak gegabah ....“
”Omong kosong! Sahabat apanya, kau menyembunyikan masalah besar ini dariku, kau lebih percaya pada orang yang baru kau kenal, lalu kehidupanku yang jadi korban, dan Ovy pun jadi korban, nah, sekarang kau dengan entengnya menyebut dirimu adalah sahabatku? Coba pikir, sejak dulu sampai sekarang, aku selalu jujur padamu, apapun itu masalahnya, bahkan hanya kamu satu-satunya orang yang tahu aku pernah mabuk miras dan berjudi, dan ... ahk omong kosong pokoknya,“ aku memprotes.
”Laisa tolong dengarkan!“ sentak Anka benar-benar mesti serius menanggapi perkataannya.
Maka aku hanya memasang raut muka malas padanya.
”... pertama, sebenarnya, Azopa dan teman-teman telah membuat buku autobiografi mereka,“ sontak, sebuah kalimat yang disipongangkan oleh Anka kali ini berhasil membuat pikiran masa bodohku terasa diguncang, bahkan hatiku yang dingin terasa dibuat jadi panas olehnya.
Karena bagaimana pun, seluruh teman-temanku menolak untuk ikut menulis, mengingat ucapan mereka waktu itu begitu tajam bahkan terkesan meyakinkan.
”Tunggu sebentar!“ aku mulai tertarik dengan pembeberan Anka dan kupasang raut muka serius.
”Apa semuanya ikut menulis?“ usutku, jika mereka semua menulis berarti mereka semua kurang ajar, selain mereka merahasiakan masalah teror ini, mereka juga telah merahasiakan proyek sekolah tanpa memberi tahuku, intinya sih, semua temanku berengsek! Tidak menghargai aku sebagai ketua kelas!
”Ya! Semuanya menulis! Tak ada yang tidak menulis! Jika alumni Kak Farka hanya lima orang yang menulis, maka kita satu kelas menulis!“ jawab Anka dengan lantang nan mantap, dan bonusnya aku mendengar suatu fakta tentang alumni Kak Farka yang baru kuketahui, bahkan curiga, dari mana Anka mengetahui fakta tersebut.
Dan benarlah dugaanku, temanku berengsek semua, mereka malah diam-diam menulis di 'belakangku'.
”Tunggu, kenapa kamu bandingkan dengan alumni angkatan Kak Farka?“ aku menyelidik curiga.
”Ya! Karena satu-satunya kelas yang seluruh muridnya kompak menulis autobiografi, hanya kita! Dan apa kau tau Laisa, bahwa kami menulis bukan karena kami kompak, tapi karena semuanya melakukan solidaritas yang selalu kau lakukan! Sebodoh apapun kau, seegois apapun kau, semalas apapun kau, kau selalu mengingat teman-temanmu, terlebih saat kita berkumpul makan-makan saat kau sedang ditimpa musibah, tetapi kau masih rela menyempatkan untuk mengajak Stovi dan Anterta untuk makan, padahal mereka memang sebenarnya tidak menyukaimu, itulah alasan mereka sebenarnya tidak ikut ....“
”... Laisa, kami menulis agar tidak dipandang cacat olehmu! Jika satu saja ada yang tak menulis, kami yakin, kau akan menganggap kami tidak menghargaimu sebagai ketua kelas!“ imbuhnya setegas-tegasnya.
Namun entah mengapa, mendengar semua itu aku malah terdekah geli.
“BUAHAHAHAHA ....”
“... manisnya omong kosong itu, apakah kamu punya cerita lain tentang berengseknya mereka? Atau mungkin sekalian sama kue bolunya sambil mengucapkan 'selamat ulang tahun'.” aku mengolok-olok penjelasan Anka, memang tidak lucu, karena niatnya untuk menyakiti hati.
Sekali lagi, teman-temanku memang berengsek!
__ADS_1
”Laisa! Kami menutupi autobiografi kami karena untuk mencegah sebuah kutukan, saat itu, setelah mereka membaca autobiografi di perpustakaan rahasia, malam harinya Azopa mendatangi rumah murid-murid kelas 12 demi mengajak mereka menulis, setelah negosiasi yang rumit, akhirnya semua teman-teman rela menulis, selain dilakukan agar kami tidak dianggap tidak menghargai ketua kelas, kami menulis juga demi mengikuti perintahmu.“
”Siapa yang memberi tahu masalah kutukan? Dari mana kau tahu Kak Farka menulis bersama tiga temannya? Aku kan tidak menceritakannya?“ heranku.
”Kemarin guru memberi tahuku, aku kan penasaran juga, apa alumni Kak Farka menulis juga atau tidak,“ jawab Anka.
”Dan akulah yang menceritakan kutukan itu pada Azopa, setelah kita membaca autobiografi para alumni di perpustakaan rahasia, di malam harinya, sebelum Azopa mengajak teman-teman, dia terlebih dahulu datang ke rumahku, membicarakan proyek sekolah ini, dan setelah penjelasanku diterima, Azopa lalu mencari tahu pada Guru Sukada, maka setelah seluk beluk kutukan itu didapat, kemudian barulah Azopa mengajak teman-teman, Azopa juga menyarankan agar kita bersikap biasa saja, bersikap tak peduli pada autobiografi, atau minimal salah satu dari para penulis autobiografi harus ada yang saling bermusuhan, benar-benar bermusuhan secara natural, itulah caranya agar menghentikan kutukannya, itu sebabnya juga tak ada yang membicarakan telah menulis autobiografi padamu.“
”Hah, dan dia malah menceritakannya padamu? Dan akulah yang dijadikan musuh?“
”Tidak ada yang memilihmu sebagai musuh, kami tidak ingin menjadikanmu musuh, kutukan juga belum bisa dipastikan benar atau tidaknya, karena belum adanya yang tewas, antara percaya dan tidak percaya, karena bisa saja nasib kita memang buruk, tetapi perlu diingat, kita bukan percaya pada kutukannya, melainkan berhati-hati dalam bertindak.“
”Nah, setelah kita bermusuhan, apakah kutukan itu tetap hilang?“ sindirku, tetapi aku pun bukan percaya pada kutukannya, aku hanya menyindir bahwa keputusan Azopa salah, dan nyatanya dialah yang bertindak gegabah.
Intinya sih, semua temanku berengsek.
”Kita tidak bermusuhan! Dan kami tidak percaya pada kutukan,“ bantah Anka.
”Omong kosong! Sekarang kau mau apa ke sini?“
”Nah ... tahu dari mana buku-buku itu diubah?“
”Guru Sukada kan sudah membaca semua buku, dan saat secara tidak sengaja, guru membaca kembali, untuk memeriksa keseluruhan buku setelah kebakaran terjadi, kamera pengawas pun sempat diretas, dan beberapa buku telah diubah isinya, semua fakta diubah begitu saja tanpa sepengetahuannya.“
Satu fakta lagi yang baru aku sadari, bahwa dalam perpustakaan itu terdapat kamera pengawas, tetapi, aku cukup 'wow' saja, tak perlu ambil pusing.
”Terus kenapa kau datang kemari?“ cecarku.
”Kami meminta izin untuk menaruh buku autobiografi asli di rumahmu, kau kan punya tempat kosong,“ ucap Anka begitu santai.
”Oooooh enak ya, setelah menutupi banyak masalah dari ketua kelasnya ... ahk ... omong kosong! Mereka tidak tahu ya rasanya menjadi orang yang tidak dianggap? Apa mereka tahu menjadi orang yang direndahkan?“ aku menyindir sesarkastis mungkin.
”Nah, jadi aku tidak mau membantu,“ tegasku.
__ADS_1
”Tapi, ini perintah guru, kemarin malam apa kau tidak menerima pesan?“
”Oh, HP aku sudah aku matikan, dan sampai aku menemukan sekolah baru lagi, aku baru akan menyalakan HP-ku lagi.“ aku membeberkan fakta.
”Ketua kelas ...,“ Anka memanggilku ragu-ragu.
”Jangan sebut aku ketua kelas lagi!“ sergahku.
”Kalau begitu ....“
Anka termenung sejenak, ia agak menunduk, sepertinya perkataannya kali ini lebih berat ketimbang penjelasannya tadi, hingga entah berapa detik dia terdiam, akhirnya pandangannya kembali pada wajahku.
”Aku ingin mewakili Azopa serta teman-teman untuk meminta maaf padamu sebelumnya, kami minta maaf karena telah menutupi semuanya.“
”Berengsek kau! Berengsek kalian! Berengsek semuanya! Tak sudi aku mengampuni teman-temanku, kau dan kalian semuanya harus datang ke sini! Sujud di kakiku!“ sergahku.
Jelas aku marah, mereka yang salah tapi permintaan maaf malah diwakilkan oleh sahabatku, intinya sih, semua temanku berengsek.
"Mereka tidak bisa hadir hari ini, ada yang diwawancara polisi ada pula yang menengok Ovy.“
”Nah, berengsek! Kau dan kalian itu berengsek! Sebaiknya kau pergi dari sini! Aku muak pada sahabat yang lebih memihak pada orang yang baru dikenalnya!“
Setelah Anka menunduk, ia pun bangkit dari duduk, berdiri padaku dalam wajah kuyu, entah seperti apa perasaannya, aku harap sih dia sakit hati.
”Maaf kan kami,“ Anka sekali lagi meminta maaf.
”Persetan!“ ketusku.
Lalu Anka pun melangkah pergi.
”Oh iya Anka,“ seruku.
Anka berhenti melangkah dengan memandangku.
__ADS_1
“Tolong katakan pada Azopa, dan teman-teman berengsekmu, ... kalian semua keparat gitu.” aku mengolok-olok kembali, dengan maksud hati, untuk menyakiti hatinya, terutama menyakiti perasaan teman-temanku, bahkan untuk ini aku kembangkan senyuman mengejek.
“Akan aku sampaikan.” setelah ucapannya digaungkan ia melenggang pergi, entah pergi ke mana, yang jelas dia pergi dari rumahku.