Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
10. Menolak


__ADS_3

Rachel menarik nafasnya dengan terburu-buru. Ia sangat malu pada Devan yang tahu-tahu nongol di depannya." Ya Allah. Kenapa itu Wenni sangat ceroboh? Jadi, orang itu melihat aku dalam keadaan tanpa hijab. Mana baru bangun tidur lagi. Memalukan." Keluh Rachel sambil mengusap wajahnya kasar.


Weni masuk ke kamarnya terburu-buru. Gadis ini tidak ingin membuat Devan menunggu Rachel lebih lama lagi.


"Rachel. Itu si ganteng pingin ketemu sama kamu. Buruan gih ketemu sama dia! kasihan tahu dia sudah nunggu kamu dengan gelisah."


"Penampilanku berantakan. Aku cuci muka dulu dan ganti baju. Ini aku pakai baju tidur tipis gini lagi. Bilang dia tunggu sebentar. Aku mau siap-siap dulu." Ucap Rachel .


"Iya deh. Jangan pakai lama ya. Aku grogi juga ketemu sama dia." Ucap Weni.


"Naksir ya?" Goda Rachel.


"Aku sih naksir berat sama dia, tapi dia naksir nya sama Lo."


"Sok tahu lo."


Rachel segera ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan mengganti baju yang lebih sopan. Tidak lama kemudian ia keluar menemui tamunya yang sudah bosan menunggunya.


"Assalamualaikum Tuan!"


"Waalaikumuslam Rachel." Devan memindai penampilan Rachel yang terlihat sangat sederhana dan mengenakan hijab simpel yang langsung pakai hingga menutupi setengah tubuhnya.


"Mau minum apa Tuan?"


"Ini sudah minum. Aku hanya butuh ngobrol sama kamu. Apakah kamu mau kita jalan ke suatu tempat." Ajak Devan.


"Aku ...aku ..." Rachel bingung untuk menolaknya.


"Apakah kamu takut kalau aku akan melecehkanmu?"


"Tidak sih. Hanya saja aku tidak berani jalan dengan anda yang akan membuat anda malu dan aku ..-"


"Bersiaplah. Aku tunggu kamu sepuluh menit lagi."'


"Aku tidak mau ganti baju lagi. Aku mau seperti ini saja. Kalau tuan tidak mau, jadi tidak usah." Tolak Rachel.


"Gadis ini unik juga. Jika perempuan lain akan berusaha menjaga penampilan mereka semenarik mungkin tapi tidak dengan Rachel yang ingin tampil apa adanya di hadapannya." Batin Devan.


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pergi!" Ucap Devan seraya bangkit dari duduknya.


"Tunggu sebentar. Aku ambil tas aku dulu." Rachel memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya yang ia selempang ini.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Aku seperti sedang jalan dengan remaja pesantren." batin Devan mengulum senyumnya yang tak terlihat.


Rachel masuk ke mobilnya Devan dan duduk di jok depan. Devan mendekati tubuh Rachel hingga gadis ini gelagapan sendiri." Astaga dia mau apa?" Rachel memejamkan matanya dengan jantungnya yang berdegup sangat kencang.


Devan menarik seat belt di sisi kiri tubuh Rachel hingga wajahnya hampir menyentuh pipi Rachel. Hembusan nafas Rachel tepat di lehernya membuat sang junior Devan langsung menegang. Devan memasang seat belt pada tubuh gadis itu sambil melirik wajah Rachel yang memerah.


"Kamu kenapa Rachel ?"'


"Oh, tidak apa.. Kalau hanya pasang seat belt bilang saja. Aku bisa sendiri." Rachel mendengus kesal.


"Kamu pikir aku akan menciumi kamu?" goda Devan.


"Buset. Pakai dibilang lagi. Apakah dua tidak tahu jantungku mau berhenti berdetak," batin Rachel.


Devan menjalankan mobilnya meninggalkan apartemennya Rachel. Sepanjang perjalanan, Devan bingung membawa Rachel ke mana. Ia akhirnya mengajak Rachel ke pantai walaupun suasananya malam hari. Tapi yang mereka datangi restoran yang menghadap langsung ke area laut.


"Kita makan malam di area pantai. Apakah kamu mau?"


"Kenapa jauh sekali? Kita bisa makan di mana saja. Melihat laut di malam hari apa bagusnya?"


"Tapi melihat pantai di malam hari dengan udara yang terasa sangat sejuk. Apakah kamu tidak ingin merasakan suasana alam dengan suara ombak laut? lagi pula kita tidak sendirian di sana. Banyak pengunjung lain. Apakah kamu tidak mau?"


"Baiklah." Ucap Rachel setuju terima tawaran Devan.


"Benar apa kata Devan, suasana pantai malam hari sangat indah dengan udaranya yang sejuk. Hamparan bintang-bintang terlhat jelas dari sini." batin Rachel.


"Apakah kamu suka Rachel?"


"Suka apanya?" Rachel balik bertanya.


"Suasana pantainya."


"Iya. Sangat suka."


Rachel menikmati lagi makanannya tanpa ingin melihat wajah tampan Devan walaupun hatinya menginginkannya tapi pancaran mata Devan membuatnya sulit untuk berlama-lama melihatnya. Wajah Devan terlalu tampan bahkan sangat tampan menurutnya.


"Rachel. Apakah kamu sudah punya pacar?"


"Aku tidak mau pacaran tuan."


"Apakah kamu tidak bisa memanggilku dengan nama ku saja tanpa ada kata tuan di dalamnya?"

__ADS_1


"Terus aku panggil apa?"


"Devan saja."


"Ok."


"Berarti, apakah kamu siap aku meminangmu, Rachel?"


Deggggg....


"Tapi aku...?"


"Karena belum selesai kuliah? atau karena kamu tidak mau denganku?"


"Aku belum selesai kuliah."


"Tinggal sedikit lagi kan semester yang kamu tempuh?"


"Iya."


"Jika kamu menikah denganku, aku tidak akan melarangmu untuk kuliah, Rachel."


"Aku belum mau berumah tangga. Rumah tangga akan membatasi pergerakan ku. Aku harus meminta ijin suami untuk melakukan apapun yang aku suka dan itu sangat merepotkan. Aku tidak mau terikat. Aku ingin menikmati hidupku di masa lajangku.


Aku masih mudah. Masih banyak harapan yang ingin aku wujud dengan kerja kerasku. Aku ingin membahagiakan ayahku sebelum beliau pergi meninggalkan aku untuk selamanya." Ucap Rachel panjang lebar membuat Devan merasa ada kesan aneh dari pernyataan Rachel.


Gadis ini seakan menyembunyikan sesuatu entah itu apa. Devan sedang memikirkan sesuatu yang saat ini mengganjal hati Rachel untuk tidak membuka diri pada siapapun.


"Rachel. Aku tidak akan menghalangi apapun yang kamu inginkan. Jika perlu saat nanti menikah, kita bisa menunda untuk memiliki momongan. Aku hanya ingin bersamamu. Bertemu denganmu setiap saat tanpa takut kamu tolak." ucap Devan.


"Kita baru bertemu hari ini. Bahkan baru berkenalan beberapa jam yang lalu. Kenapa kamu tiba-tiba melamarku?"


"Aku sudah mengenal mu. Mengetahui segalanya tentangmu. Bahkan setiap hari aku tidak pernah absen hanya untuk melihat wajah mu dari kejauhan. Tapi pagi ini aku kecolongan saat kamu tiba-tiba muncul di rumah mami ku. Itulah sebabnya aku tidak ingin membuang waktu untuk menunggu lebih lama lagi bisa memiliki mu dengan cara yang halal." Ucap Devan dengan mimik wajah serius.


Deggggg...


Rachel sangat terharu. Namun hatinya merasa kalau ia tidak pantas bersanding dengan Devan." Carilah wanita lain Devan! Jangan aku." Ucap Rachel segera pergi dari tempat itu karena matanya sudah terasa panas saat ini.


Devan segera membayar tagihan makanan mereka dan menyusul Rachel yang sudah berdiri di samping mobilnya.


Devan memencet tombol mobilnya untuk bisa dibuka Rachel. Rachel masuk ke mobil itu diikuti oleh Devan hingga mereka bisa menutup pintu mobil itu secara bersamaan.

__ADS_1


"Aku tahu alasan kamu menolakku, Rachel. Ini semua karena latar belakang keluargamu, bukan? terutama almarhumah ibumu, bukan?" tanya Devan sambil melihat Rachel yang tertunduk lesu.


Duarrr...


__ADS_2