Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
19. Ayah. Aku ingin pulang!


__ADS_3

Kamar unit apartemennya Rachel terlihat sepi karena kedua sahabatnya itu sudah bekerja. Sementara Rachel sendiri belum siap terjun ke rumah sakit sejak kejadian di malam pesta ulang tahun perusahaan milik Devan, di mana dirinya dipermalukan oleh sekertaris tunangannya itu.


Tidak mudah baginya untuk bisa move on dari kejadian itu. Rachel berniat untuk pulang kampung tanpa pamit pada kedua sahabatnya apalagi pada Devan. Semuanya ia lakukan secara diam-diam. Kehidupan kota besar telah membuatnya jenuh dari semua aktivitas.


Apalagi panggilan job MUA tampak sepi saat khalayak umum mengetahui latar belakang kehidupannya yang merupakan putri dari seorang wanita gila.


"Aku yang harus menjauhi Devan dan keluarganya. Kalau tidak reputasi keluarganya pasti akan hancur jika dia nekat menikahi aku," ucap Rachel yang saat ini sudah berada di dalam mobil taxi menuju bandara.


Setibanya di bandara, Rachel melakukan boarding tiket lalu melakukan cek in dan melangkah menuju gate 7 di mana dirinya harus duduk menunggu operator maskapai penerbangan memanggil mereka jika pesawatnya sudah siap berangkat ke tempat tujuannya daerah Sumatra Selatan.


Rachel yang mengenakan kacamata hitam dan masker untuk melindungi wajahnya dari tatapan orang-orang yang mungkin mengenali dirinya karena wajahnya sudah sangat familiar bagi orang-orang yang akrab dengan media sosial atau konten YouTube. Apalagi Devan secara terang-terangan mengumumkan pertunangan mereka dan siap menikahinya dalam waktu dekat ini.


Tidak lama kemudian, operator maskapai penerbangan miliknya sudah siap memanggil awak penumpang untuk segera naik pesawat terbang.


Rachel memberikan tiket dan KTP miliknya. Setelah semuanya diperiksa oleh petugas maskapai, kini Rachel berjalan dengan anggun menuju kabin pesawat mencari nomor tempat duduk yang sesuai dengan tiketnya.


"Nomor berapa, nona?" tanya salah satu pramugari cantik pada Rachel.


"Nomor 9," ucap Rachel sambil memperlihatkan tiket miliknya.


"Sebelah sana," ucap pramugari Wulan sambil menuntun langkah Rachel ke kursi penumpang bisnis.


Rachel membuka kacamatanya dan juga masker membuat mata pramugari Wulan mendelik tajam." Nona Rachel ..? anda Rachel seorang MUA yang sekarang sudah bertunangan dengan Devan bukan?" tanya Wulan setengah berbisik.


"Bukan. Saya bukan dia. Wajah dan nama kamu saja yang mirip," elak Rachel sinis dan terdengar ketus.

__ADS_1


Pramugari Wulan tidak ingin lagi menganggu Rachel. Ia tahu kalau saat ini Rachel sedang berbohong padanya. Jika Rachel menolak mengakui bahwa dirinya bukan seorang MUA berarti Rachel butuh sedikit privasi untuk menenangkan dirinya.


Rekan kerja Wulan yang juga merasa mengenali wajah Rachel, bertanya pada Wulan." Bukankah gadis itu adalah Rachel yang seorang MUA itu bukan?" tanya Desi.


"Dia memang Rachel, hanya saja gadis sedang tidak ingin di ganggu. Beberapa hari ini berita tentang kehidupan keluarganya santer terdengar dan mungkin karena itu ia menjadi sinis dengan kita saat aku tadi tidak sengaja berteriak kepadanya," ucap Wulan.


"Iya juga sih. Yah sudahlah jangan ganggu. Setahu saya kepribadian Rachel sangat santun. Mungkin moodnya sedang tidak baik-baik saja yang membuatnya gampang ketus," ucap Desy.


Tidak lama kemudian, pesawat mulai meninggalkan bandara Soekarno-Hatta menuju kota Palembang. Rachel merasa kacau sendiri karena dia sangat sedih telah meninggalkan kedua sahabatnya Weni dan Mia, ditambah lagi Devan.


"Maafkan aku Devan! Maafkan aku Weni, Mia. Aku tidak pamit pulang pada kalian," batin Rachel sambil menangis.


...----------------...


Devan ingin mengajak Rachel makan siang bersamanya di restoran favoritnya. Ia menghubungi Rachel namun ponsel gadis itu tidak aktif.


"Sayang. Sebentar lagi aku akan tiba di unit apartemenmu. Tolong dandan yang cantik karena aku ingin mengajak kamu makan siang," tulis Devan di pesan chatting-nya pada Rachel.


Devan langsung menuju apartemen Rachel dengan membawa mobilnya sendiri. Devan terlihat girang karena saat ini ia bisa meluluhkan hati wanita itu yang awalnya sangat keras kepala kini mulai manut pada kata-katanya.


Setibanya di apartemen Rachel, Devan tidak bisa menemui gadis itu karena pintu rumah itu tidak juga terbuka padahal ia sudah berulang kali memencet tombol kamar itu berkali-kali.


"Ke mana perginya Rachel?" tanya Devan penasaran.


Devan menghubungi nomor Weni untuk meminta nomor sandi kamar mereka.

__ADS_1


"Weni. Apakah aku bisa minta nomor sandi unit kamar kalian?" tanya Devan sambil menjelaskan kesulitannya menghubungi Rachel.


"Baik tuan Devan. Aku akan mengirim nomornya melalui pesan," ucap Weni yang belum menyadari jika saat ini Rachel sudah pergi dari hidup mereka.


Sesaat kemudian, pesan dari Weni masuk. Devan segera membukanya dan memencet nomor sandi pada pintu kamar Rachel.


Kini Devan nekat masuk ke kamarnya Rachel tanpa memanggil nama gadis itu karena perasannya tiba-tiba saja tidak enak. Begitu pintu kamar tidur Rachel dibuka oleh Devan, nampak tempat tidur itu sangat rapi bahkan terlihat tidak tersentuh sama sekali oleh pemiliknya. Devan menyapu pandangannya ke setiap sudut ruangan. Ada sesuatu yang hilang dari kamar itu. Seperti foto dan jam weker di atas nakas juga menghilang.


Pikiran Devan mulai kalut. Ia merasa tidak ada yang beres dengan tunangannya itu. Devan menunju ke lemari membuka dua pintu lemari itu dan benar saja, tidak satu barang yang tertinggal di lemari itu berserta dua koper yang selalu bertengger di atas lemari.


"Astaga. Ke mana Rachel? apakah dia pindah ke apartemen lain atau membeli rumah sendiri?" tanya Devan lirih dengan wajah terlihat panik.


Maklumlah bagi Rachel jika ia ingin memulai membangun rumah atau apartemennya sendiri karena selama ini Rachel sudah mengumpulkan banyak pundi-pundi uang karena selalu terima job dari wanita kalangan atas dengan bayaran termahal untuk memakai jasanya merias wajah mereka.


Dengan tangan gemetar, Devan mengambil ponselnya untuk menghubungi lagi Weni yang mungkin mengetahui sesuatu tentang keberadaan Rachel.


"Iya tuan Devan. Apakah sudah bertemu dengan Rachel?" tanya Weni sambil membuat laporan pekerjaannya.


"Weni. Sepertinya Rachel menghilang karena tidak apapun di lemari bajunya," ucap Devan.


"Masa sih tuan?" desis Weni tidak percaya.


"Saat ini aku sedang tidak becanda Weni. Apakah kamu mengetahui sesuatu tentang keberadaan Rachel?" tanya Devan namun Weni seakan sedang melamunkan sahabatnya itu.


"Ke mana kamu Rachel ?" batin Weni.

__ADS_1


"Rachel. Apakah kamu mendengarkan aku?" tanya Devan membuat Weni tersentak.


"Sebaiknya cek penerbangan rute ke arah Palembang. Mungkin saja Rachel pulang kampung tuan Devan. Hanya itu yang aku bisa pikirkan tentang kepergian Rachel saat ini. Mungkin dua belum bisa move on dari peristiwa dua malam yang lalu. Ditambah lagi sepinya job panggilan rias membuat ia tidak bisa lagi menghasilkan uang," ucap Weni membuat Devan baru mengerti.


__ADS_2