Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
34. Bulan Madu


__ADS_3

Setibanya di unit kamar apartemen milik Devan, pria tampan ini membuka pintu utama dengan memencet nomor sandi. Sebelumnya Devan sudah menyuruh petugas apartemen untuk membersihkan kamar apartemen miliknya karena mereka akan menempati kamar itu entah sampai kapan. Yang jelas Devan ingin menghabiskan waktunya untuk bercinta dengan sang kekasih hatinya saat ini yang perlu pengobatan juga.


"Masuklah sayang. Ini adalah apartemen kita. Kamu bisa melakukan apapun di sini. Sekarang aku akan memperkenalkan tempat ini padamu. Di dalam sini hanya ada dua kamar. Satu kamar utama dan satu kamar tamu. Masing-masing kamar sudah ada kamar mandinya dan ruang gantinya. Ada dapur dan ruang kecil untuk laundry. Tidak ada ruang tamu karena ruang tamu dan ruang keluarga sudah menyatu. Sampai sini, apakah ada pertanyaan, Baby?" tanya Devan.


"Tidak sayang. Kamu sudah jelaskan lebih mendetail seperti seorang bagian pemasaran. Aku jadi mengerti apa saja yang kamu uraikan. Bisa kamu tunjukkan kepadaku di mana kamar kita, Devan?" tanya Rachel.


"Masya Allah! aku sampai lupa menunjukkan kepadamu di mana kamar kita. Ayo sayang! kita ke kamar dan istirahat! jika kamu mau makan kita bisa pesan dulu di restoran halal. Karena kita baru tiba di sini dan tidak mungkin kamu harus memasak saat ini karena bahan untuk dimasak belum belanja," ucap Devan.


"Iya sayang. Kita bisa melakukannya besok. Aku tidak bisa bayangkan bisa melalui hari-hari kita di sini dengan belanja bersama dan aku akan memasak untuk kita berdua dan makan bersama denganmu. Hal yang paling indah yang dulu Akku selalu khayalankan," ucap Rachel.


Devan membuka pintu kamar tidurnya dan keduanya masuk ke dalam kamar itu. Devan menyalakan pendingin ruangan disesuaikan dengan temperatur yang mereka inginkan. Rachel berjalan ke arah jendela Daan melihat dari dalam kamarnya di mana sisi kota New York yang terhampar indah dari tempatnya berdiri. Devan memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mengecup ceruk leher Rachel berkali-kali.


Aroma tubuh istrinya memang tidak mengenakan parfum mahal, namun ia sangat menyukai bau minyak kayu putih yang dipakai Rachel karena sangat menenangkan Indra penciumannya.

__ADS_1


"Sayang. Ayolah kita berbaring. Kita harus istirahat supaya tubuh kita kembali segar!" pinta Devan seraya membuka mantel Rachel dan mengajak gadis itu untuk duduk di atas tempat tidur.


Devan membuka koper mereka. Mencari baju tidur Rachel model piyama berbahan satin agar Rachel lebih rileks saat ini. Hijab istrinya dilepas dengan pakaian yang masih menempel pada tubuh Rachel. Sekarang pakaian dalam Rachel dicopot semuanya oleh Devan hingga memperlihatkan aset berharganya gadis itu.


Devan mulai tergiur saat Rachel merebahkan tubuhnya dengan kaki yang masih menjuntai di pinggir tempat tidur. Devan melebarkan kedua paha Rachel menjauh satu sama lain karena ingin melihat bunga mekar milik istrinya. Rachel membiarkan apa yang akan dilakukan suaminya pada tubuhnya kini.


Dalam sekejap, Devan membenamkan wajahnya di antara lembah sempit itu meraih sesuatu di dalam sana dengan lidahnya. Rachel merasakan setiap sentuhan lembut suaminya membuat tubuhnya mulai menggelinjang nikmat.


Mendengar erangan dan lenguhan panjang istrinya, Devan memperdalam sedotan dan mengisap kuat milik Rachel hingga gelombang kenikmatan itu mengeluarkan cairannya karena Rachel sudah melepaskan gejolak kenikmatan yang barusan ia rasakan.


...----------------...


Untuk keberangkatan mereka ke Amerika, Rachel dan ibu mertuanya menyiapkan apa saja yang dibutuhkan oleh Devan dan Rachel.

__ADS_1


"Sayang. Mami sudah memasak rendang dan juga membuat sambal bisa bertahan di kulkas untuk dua pekan. Kalau mau makan tinggal hangatkan saja di microwave," ucap nyonya Alisha.


"Rachel juga butuh segala macam bumbu masakan, bunda takutnya di sana sulit didapatkan walaupun nanti ada pasti mahal harganya. Lebih baik bawa dari sini," ucap Rachel.


"Apakah kamu sudah mencatatnya? biar nanti mami menyuruh Lia yang belanja untuk kamu," ucap nyonya Alisha.


"Bukankah kalian di sana nanti tinggal di hotel? kenapa harus membawa bumbu masakan?" tanya pak Lukman.


"Mereka tinggal di apartemen miliknya Devan, pak Lukman. Karena Devan sudah punya apartemen di sana saat ia kuliah dulu," ucap nyonya Alisha membuat pak Lukman baru paham.


"Masya Allah. Begitulah kehidupan orang kaya punya rumah dan apartemen di mana saja, saking banyaknya uang yang mereka miliki," batin pak Lukman memuji keberkahan yang dimiliki menantunya.


"Sayang. Ayo kita ke rumah sakit sebentar untuk memastikan keadaanmu apakah bisa melakukan perjalanan jauh saat ini atau tidak!" titah Devan.

__ADS_1


__ADS_2