Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
13. Di manfaatkan


__ADS_3

Keadaan Devan makin hari sudah lebih membaik. Dokter mengijinkan pria tampan ini sudah boleh pulang hanya melakukan rawat jalan dan belajar jalan tapi masih di bantu oleh orang lain. Mendengar ucapan dokter, Devan memiliki inisiatif untuk memanfaatkan Rachel untuk mengurusnya di rumah.


"Aku ingin dokter Rachel yang merawatku," ucap Devan tidak mempedulikan perasaan Rachel.


"Tidak apa Tuan. Dokter Rachel pasti dengan senang hati merawat tuan Devan," ujar dokter Herman yang tidak ingin membantah permintaan Devan.


"Terimakasih atas dukungannya dokter."


"Dengan senang hati Tuan Devan." Dokter Herman meninggalkan kamar Devan kembali ke ruang kerja.


Ia terus bertanya dalam hatinya ada hubungan apa antara Rachel dengan Devan. Setahunya Rachel adalah anak magang yang sama sekali tidak mengenal tuan Devan yang terkenal dengan anti wanita itu. Tapi bisa luluh dengan seorang dokter magang yang bernama Rachel.


"Apakah tuan Devan menyukai dokter Rachel? tapi, kelihatannya dokter Rachel tidak begitu respon pada tuan Devan. Gadis itu terlihat sangat takut dan berusaha bebas dari tuan Devan. Apa sebenarnya terjadi? ahhh..! ini membuat gusarku sangat gusar," ucal Dokter Herman.


Rachel mendekati wajah tampan Devan yang terlihat sangat puas memanfaatkan situasi Rachel yang sangat membantu dirinya mendapatkan gadis itu. Ia melirik gadis itu yang sibuk membaca buku kedokterannya.


"Apakah kamu marah Rachel, kalau aku memintamu jadi perawat Pribadiku untuk mengurusku di apartemen?" tanya Devan.


"Apakah aku boleh marah pada seseorang yang mempunyai otoritas di rumah sakit ini? bahkan bernafaskan pun aku harus minta ijin padanya? orang kecil sepertiku bisa apa? kalau hanya bisa mengumpulkan kesabaran sebanyak mungkin saat hak kami ditindas?" sarkas Rachel membuat Devan tercekat.


"Jadi, kamu memang tidak mau mengurus ku?"

__ADS_1


"Menolakmu sama saja mempertaruhkan waktuku lima tahun ini untuk mencapai mimpiku yang selama ini aku perjuangkan antara jiwa raga, darah dan air mata. Hanya untuk satu bagian ini saja aku harus menguburkan harga diriku demi nilai yang ingin aku dapatkan," tutur Rachel hampir menangis.


"Maafkan aku. Hanya cara ini yang bisa aku lakukan hanya untuk bisa bersama denganmu Rachel," batin Devan mengalihkan perhatiannya ke televisi yang sedang menyiarkan berita.


Rachel seakan menelan luapan emosinya sendiri karena Devan tidak meresponnya sekali. Entah apa yang ada dipikiran Devan saat ini, namun Rachel merasa Devan adalah pria egois yang hanya mementingkan diri sendiri.


Keesokan harinya, asisten Devan menjemput pria tampan ini. Rachel berjalan di samping kursi roda Devan yang didorong oleh asistennya Rendi.


Setibanya di apartemen, Devan berdiri dipapah Rachel yang menidurkan Devan ke tempat tidurnya. Rachel harus menggantikan baju Devan dengan piyama tidur pria itu. Awalnya ia tidak merasa canggung. Tapi, saat melihat susunan kotak perut dengan dada bidang yang tumbuh bulu halus itu membuat Rachel harus menahan rasa kagumnya pada pria yang menyimpan daya pesona yang bisa menjatuhkan iman seseorang.


"Tolong bersikap profesional Rachel! Jangan biarkan hasratmu mengalahkan imanmu," batin Rachel menguatkan hatinya sendiri.


Kini bagian baju sudah dan sekarang celana panjang Devan yang harus ia buka hingga menyisakan celana boxernya saja. Lagi-lagi Rachel tidak menatap bagian terlarang yang menyembul di balik boxer itu.


"Aku tidak menyukaimu, Devan. Berhentilah merayuku," ucap Rachel membuat Devan sangat murka saat ini.


Devan menarik tubuh Rahel yang baru saja memakai celana tidur pria tampan itu hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Lepaskan aku!" pekik Rachel sambil berontak melepaskan diri dari pelukan Devan.


Makin Rachel berontak, maka pria itu makin mengeratkan pelukannya pada gadis itu." Jangan membuat aku membencimu Devan! tolong lepaskan aku atau aku akan meninggalkanmu!"

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Rachel. Aku tergila-gila kepadamu. Devan menjatuhkan tubuh Rachel ke samping dan sekarang gantian Devan diatas tubuhnya Rachel. Tangan Rachel diatas ke atas lalu mulai mencumbu bibir Rachel dengan paksa membuat Rachel mengatup bibirnya rapat.


Devan meremas salah satu bukit kembar Rachel membuat gadis itu spontan histeris dengan begitu Devan bisa memagut bibir Rachel. Penampilan gadis cantik ini mulai acak-acakan hingga jilbabnya sudah tidak lagi menutupi mahkota hitamnya.


Rachel mulai menangis namun tidak lagi membuat Devan melemah. Jika tidak melakukan seperti ini, maka Rachel terus-menerus menjauhinya. Tubuh Rachel sudah dibawah kekuasaannya. Tangan Devan memasuki blush milik Rachel untuk mencari benda kenyal padat itu.


Tenyata buah melon itu terlihat sangat menggiurkan di mata Devan yang langsung menyesapnya membuat tubuh Rachel bergetar hebat.


"Devan. Lepaskan aku Devan! Jangan melakukan ini padaku. Bukankah kamu ingin menikahi aku bukan? Apakah kamu tidak ingin mendapatkan aku dengan layak?" rayu Rachel agar bisa terbebas dari naf*su angkara Devan saat ini yang sudah terbakar birahi.


"Aku sudah meminta itu secara baik-baik Rachel. Tapi apa yang aku dapat, kamu terus menolakku hingga aku merasa sangat frustrasi. Mungkin dengan cara ini kamu akan menerimamu karena tubuhmu sudah aku nodai," ucap Devan dengan wajah sendu namun tangannya tetap merasakan buah melon Rachel yang nampak peluh di genggaman tangannya.


"Tidak Devan. Kali ini aku tidak akan menolaknya. Tapi aku begitu takut kamu hanya akan mempermainkan cintaku. Aku tidak punya latar belakang keluarga hebat seperti keluargamu miliki dan aku juga tidak memiliki apapun yang bisa aku banggakan pada keluargamu ," tutur Rachel sambil terisak.


"Jangan pikirin penilaian orang lain. Cukuplah aku bagimu yang standar menurut penilaianmu. Aku yang akan menikahi kamu bukan mereka, sayang," ujar Devan meyakinkan Rachel yang terlihat sangat minder pada dirinya.


"Terimakasih Devan. Aku merasa tersanjung atas perhatian dan cintamu. Tapi, kehidupan kita yang jauh berbeda dari tingkat sosial yang akan menjadi momok memalukan bagi keluargamu kelak jika orang bayi tahu tentang latar belakang kehidupanku dan mereka akan balik menyerangmu dan itu sangat tidak bagus bagi reputasi keluargamu," ucap Rachel.


"Emang orang yang memiliki tingkat sosial di atas rata-rata di jamin masuk surga?" tanya Devan.


"Perkara itu hanya Allah saja yang tahu. Manusia yang hidup di bumi selalu menjaga elektabilitasnya hanya untuk mempertahankan pamor di kalangan masyarakat seperti kamu," ucap Rachel.

__ADS_1


"Kamu hanya memikirkan apa kata orang tentang keluargaku. Apakah kamu tidak memikirkan apa yang aku pikirkan tentang dirimu. Bagaimana besarnya cintaku padamu. Bagaimana aku berusaha mendapatkan cinta dari wanita yang sulit aku taklukkan dengan hartaku yang aku miliki hingga aku ingin membunuh diriku sendiri saking tidak bisa memiliki dirinya," ucap Devan bertubi-tubi.


__ADS_2