Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
45. Mulai Ada Perubahan


__ADS_3

Pagi itu, seperti biasa Devan sudah membersihkan tubuh istrinya lalu mengenakan dress ibu hamil. Devan memperdengarkan MP3 murotal Al-Qur'an agar bisa menstimulasi otak Rachel agar mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an untuk membantu kesembuhan Rachel.


"Sayang. Aku boleh tinggal bekerja sebentar, hmm?" pamit Devan pada Rachel sambil mengecilkan volume suara ponsel Rachel.


Devan tahu jika perkataannya tidak akan ditanggapi oleh istrinya. Ia pun hendak melangkah, tiba-tiba jarinya di genggaman oleh tangan Rachel membuat Devan tersentak tanpa menoleh melihat istrinya.


Deggggg...


"Rachel..!" gumam Devan lalu menengok ke arah istrinya secara perlahan. Saat melihat Rachel yang menggerakkan kelopak matanya secara perlahan, Devan melebarkan matanya seakan tak percaya jika Rachel telah siuman.


"Masya Allah, sayang. Kamu sudah sadar?" pekik Devan yang langsung memencet tombol nurse call.


Dokter Risna dan suster berlarian menghampiri kamar inap Rachel." Dokter. Istriku sudah siuman," girang Devan dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Dokter Risna memeriksa keadaan organ vitalnya Rachel. Sementara dokter Kayla mencabut ventilator dari mulut Rachel." Nona Rachel sudah melewati masa kritisnya. Saat nanti dua bisa berkomunikasi dengan tuan, jangan kaget mungkin sebagian memori nona Rachel ada yang hilang tapi tidak bersifat permanen. Ini hanya gejala umum saja. Tuan Devan harus lebih banyak bersabar menghadapi nona Rachel," ucap dokter Risna.


"Dia boleh melupakan yang lainnya asal dia tidak melupakan aku, dokter," pinta Devan penuh harap.


"Semoga saja. Lihatlah dia tuan ..! dia sedang tersenyum padamu. Nona Rachel. Apakah kamu mendengarkan aku?" tanya dokter Risna mengajak Rachel ngobrol.


Rachel hanya menggerakkan kelopak matanya dengan gerakan kepala yang terlihat pelan." Kenal ini siapa?" tanya dokter Risna sambil menunjuk ke arah Devan seraya mengusap bahu Devan.


"Alhamdullilah. Kalau begitu aku tinggal dulu kalian berdua untuk ngobrol ya! setengah jam lagi saya akan panggil dokter kandungan untuk memeriksakan kandungan nona Rachel," ucap dokter Risna.


"Baik dokter. Terimakasih banyak!" ucap Devan.


"Tuan Devan. Bisa saya bicara dengan anda di luar sebentar?" tanya dokter Risna.

__ADS_1


"Siap dokter!" Devan meminta ijin pada Rachel lalu memberikan ponsel milik Rachel.


Di depan pintu kamar inap VVIP milik Rachel, dokter Risna menyampaikan sesuatu kepada Devan." Tuan Devan. Sebaiknya anda merahasiakan bagaimana kita menolong nona Rachel! Walau bagaimanapun, nona Rachel tidak akan terima jika kesembuhannya karena pertolongan ayahnya," ucap dokter Risna.


"Iya dokter. Saya tahu tentang itu. Semoga Rachel bisa melahirkan dengan selamat dan ayah mertua saya akan bahagia melihat cucu pertamanya lahir dengan selamat," ucap Devan.


"Ini semua demi kebaikan Rachel. Jangan biarkan dirinya merasa bersalah jika sesuatu terjadi pada ayahnya itu karena dirinya," nasehat dokter Risna.


"Insya Allah dokter. Saya akan mengingatkan juga pada mertua dan ibu kandung saya dan orang-orang terdekat istri saya yang mengetahui pengobatan ini," ucap Devan.


"Baiklah. Kalau begitu saya tinggal dulu. Silahkan sampaikan perasaan kalian dari hati ke hati demi buah hati kalian yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini. Kalian harus siap jadi ayah dan ibu," ucap dokter Risna.


"Baik dokter." Devan kembali ke dalam kamarnya menemui Rachel yang masih di temanin oleh suster Desy.

__ADS_1


__ADS_2