
Co-pilot melakukan pendaratan di halaman depan salah satu rumah sakit di kota Palembang itu. Devan turun dari helikopter bersama tim medis untuk bertemu dengan dokter Welly dan tim dokter yang menangani kasus penyakit Rachel.
Langkah tegap dengan postur tubuh sempurna dilengkapi wajah tampan dengan penuh kharisma, sudah cukup membuat jantung para wanita terutama para suster dan dokter muda mengagumi sosok itu yang masih mengenakan kacamata hitamnya padahal sudah berada di ruangan rumah sakit. Devan baru menanggalkan kacamatanya saat bertemu dokter Welly yang mengulurkan tangannya menyambut Devan yang tersenyum tulus padanya.
"Selamat datang tuan Devan!" ucap dokter Welly setelah mengucapkan salam sebagai sesama muslim.
"Terimakasih. Terimakasih untuk sambutannya dokter. Apakah saya boleh bertemu dengan Rachel?" tanya Devan yang sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantik kesayangannya.
"Silahkan tuan Devan! Kami sudah mempersiapkan dokter Rachel untuk di bawa ke rumah sakit milik anda di Jakarta," ucap dokter Welly sambil berjalan beriringan dengan Devan menuju ruang ICU.
Devan menatap wajah cantik nan pucat Rachel dimana beberapa bagian tubuhnya sudah terpasang peralatan medis." Rachel ..!" desis Devan menahan tangisnya agar tidak mudah pecah.
Dokter Welly memberikan kesempatan pada kedua sejoli itu melepaskan rindu walaupun Rachel belum sadar dari masa kritisnya.
"Apa yang terjadi sayang? kenapa bisa begini?" tanya Devan sambil mencium tangan Rachel.
"Aku akan segera membawamu ke Jakarta. Tapi kita harus menikah dulu. Aku sudah melamarmu pada ayahmu walaupun melalui telepon. Sebentar lagi ayahmu akan ke sini bersama bapak penghulu," ucap Devan.
Devan mengecup pucuk kepala Rachel. Sementara di luar sana, pak Lukman dan pak penghulu sudah tiba di rumah sakit itu. Dokter Welly sempat syok dengan rencana Devan yang ingin melangsungkan pernikahan mereka di ruang kerjanya. Karena tidak memungkinkan bagi mereka melakukan ijab qobul di dalam kamar ICU karena di sterilkan oleh pihak rumah sakit di mana pasien lain banyak berada di ruang ICU itu.
"Silahkan pak Lukman dan bapak penghulu tunggu di ruang kerja saya! Dokter Celine! tolong antarkan bapak-bapak ini ke ruang kerja saya! saya mau temui tuan Devan di ruang ICU," ucap dokter Welly.
"Baik dokter Welly. Mari bapak-bapak, tolong ikut dengan saya!" pinta dokter Celine sambil berjalan menuju ruang kerjanya dokter Welly.
__ADS_1
Pernikahan itu di saksikan beberapa staf rumah sakit yang rata-rata dokter senior. Di antara kedua saksi kedua
mempelai pengantin itu ada dokter Gavin menjadi saksi untuk Rachel dan dokter Hendra menjadi saksinya Devan.
Hanya mengucapkan ijab qobul dengan mahar seperangkat alat sholat dan perhiasan berlian. Pernikahan itu berlangsung singkat dan untuk acara syukurannya Devan menitipkan uang kepada dokter Welly untuk melakukan syukuran di rumah sakit itu yang di adakan di restoran terkenal di kota Palembang.
"Ayah. Nanti asisten saya akan menjemput ayah setelah saya bawa Rachel ke Jakarta. Insya Allah besok ayah sudah kami jemput supaya Rachel siuman ayah sudah ada di sampingnya," ucap Devan yang langsung memeluk ayah mertuanya usai ijab qobul.
Mereka juga tidak menginginkan pernikahan mendadak seperti ini, tapi keadaan tidak bisa membuat mereka banyak rencana. Rachel yang malang tidak bisa merasakan pernikahannya dengan gaun indah dan make-up yang akan menghiasi wajah dan tubuh moleknya.
Para staff rumah sakit yang merupakan rekan kerjanya Rachel melepaskan gadis itu pergi bersama suaminya dengan helikopter medis milik rumah sakitnya Devan yang sudah bertengger di atas halaman rumah sakit yang sengaja di kosongkan untuk tempat mendarat helikopter.
Para pengunjung rumah sakit yang sebagiannya adalah pasien rawat jalan ikut menyaksikan bagaimana proses evakuasi Rachel. Tubuh Rachel sudah berada di atas helikopter. Baling-baling helikopter itu mulai berputar kencang untuk melesatkan tubuhnya ke atas udara. Lambaian tangan dari bawah sana terus berayun hingga helikopter hilang dari pandangan mata mereka.
"Bisa kok suster," ucap perawat Halim.
"Emang bisa? bagaimana caranya?" tanya suster Lana dengan mimik serius.
"Dalam mimpi kamu karena dalam mimpi, apa saja bisa terjadi termasuk hal yang tidak masuk akal sekalipun," ucap perawat Halim sambil terkekeh geli untuk menggoda suster Lana.
"Cih..! becandamu nggak lucu. Kurang memikat terdengar garing," balas Lana sambil merengut marah.
"Makanya kalau mimpi tidak usah terlalu muluk karena kamu dan dokter Rachel jelas sangat berbeda. Dokter punya nilai jual tinggi. Jika dia mendapatkan apa yang menjadi miliknya saat ini sebagai istrinya tuan Devan, itu karena masa kecilnya hidupnya sangat menyedihkan. Kemiskinan telah membelenggu hidupnya.
__ADS_1
Di tambah seorang ibu yang gila hingga ia tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu hingga ibunya meninggal saat usianya masih remaja. Sementara ayahnya bekerja serabutan demi menghidupi Rachel dan ibunya.
Ia bekerja mati-matian hingga bisa bangkit dan kerja kerasnya tidak mengkhianati hasil. Jika sekarang ia bahagia, itu karena ia pantas mendapatkannya," ucap perawat Halim yang merupakan tetangganya Rachel.
"Benarkah hidupnya dokter Rachel sebegitu pedihnya, kak Halim?" tanya suster Lana yang belum begitu mengetahui latar belakang kehidupan Rachel.
"Iya suster Lana. Karena aku adalah tetangganya dokter Rachel. Walaupun kami tidak dekat tapi kami tahu kehidupan masa kecil dokter Rachel.
Suster Lana dan perawat Halim kembali ke meja kerja mereka di bagian rawat inap VVIP. Sementara pak Lukman menginap di hotel mewah di Palembang yang sudah di booking Devan untuk mertuanya itu karena pagi-pagi sekali ia akan berangkat ke Jakarta menyusul putri dan menantunya.
Helikopter yang membawa tubuh Rachel sudah tiba di rumah sakit milik Devan. Tim dokter menyambut istrinya Devan itu. Kebetulan hujan mulai turun, jadi mereka buru-buru menurunkan Rachel dan langsung dibawa masuk oleh tim medis ke lift yang sudah terbuka..
Wajah cantik Rachel terkena percikan air hujan membuat ia spontan sadar membuat Devan takjub.
"Masya Allah! Rachel kamu sudah sadar sayang?" tanya Devan saat Rachel mengerjapkan matanya.
Tim dokter tersentak mendengar ucapan Devan. Mereka tidak menyangka tetesan air hujan itu yang membasahi wajah Rachel mampu membangkitkan gadis itu.
Rachel melihat Devan yang berdiri di sampingnya dengan tim dokter lainnya.
Ia ingin bicara namun cup oksigen menutupi mulutnya. Devan yang mengerti jika Rachel ingin bicara padanya meminta Rachel untuk diam dan menunggu.
"Kita ngobrol di ruang IGD saja ya sayang!" ucap Devan dan Rachel hanya mengangguk kepalanya pelan.
__ADS_1
...----------------...