Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
28. Jatuh Sakit


__ADS_3

Karena terlalu kelelahan menjalani dua profesi sekaligus, akhirnya Rachel tumbang juga karena jatuh sakit. Beruntunglah Rachel mengalami demam saat masih berada di rumah sakit. Tampaknya darah juga keluar dari hidungnya membuat dokter Celine segera menangani Rachel.


Setelah melewati perawatan secara intensif ternyata Rachel menderita kanker leukimia stadium dua. Team dokter yang menangani kasus Rachel terlihat cemas. Merekapun akhirnya memutuskan Rachel untuk dibawa ke Jakarta.


"Kasus penyakit dokter Rachel terlihat serius. Sebaiknya kita harus membawa dia ke Jakarta," ucap dokter Celine.


"Tapi kita tidak bisa memutuskannya sendiri, dokter Celine. Kita harus memberitahukan keadaan ini pada pasien sendiri. Mau tidaknya dia berobat ke Jakarta, hanya dia sendiri yang memutuskannya," ucap dokter Aline.


"Saya tahu. Tapi, apakah dokter Aline tidak melihat Rachel dalam keadaan kritis? menunggu keputusan dia akan membuat kangker ini berkembang biak di dalam tubuhnya dan itu akan memberikan ia bisa kehilangan nyawanya kapan saja," protes dokter Celine.


"Lebih baik kita bicara dengan dokter Welly karena sebagai kepala direktur rumah sakit ini, dia berhak tahu keadaan staffnya dan solusinya seperti apa," ucap dokter Aline.


"Iya saya setuju. Baiklah kita menghadap ke dokter Welly sekarang," ucap dokter Celine..


Rachel dibiarkan di ruang ICU karena perlu pengawasan dokter jaga dalam 24 jam. Kedua rekan dokter Rachel sudah berada di ruang kerjanya dokter Welly. Mereka menceritakan apa yang terjadi pada Rachel.


"Astaga. Apa yang harus kita lakukan untuk dokter Rachel?" tanya dokter Welly cemas.


"Justru kami ingin tahu pendapat dokter Welly. Apakah kita akan merawat dokter Rachel di rumah sakit ini dengan peralatan medis seadanya atau kita rujuk dia ke rumah sakit terkenal di ibukota Jakarta, dokter Welly?" tanya dokter Celine.


"Baiklah aku akan hubungi rumah sakit yang terkenal di Jakarta dan peralatan medis canggih," ucap dokter Welly.


"Baik dokter Welly. Kami akan tunggu kabar selanjutnya. Semoga dokter Rachel cepat dievakuasi ke Jakarta sebelum semuanya menjadi rumit dan kita akan kehilangan dia," ucap dokter Celine sekaligus sahabat baiknya Rachel karena mereka masuk bersama untuk mengabdi di rumah sakit itu.


Dokter Welly menghubungi dokter Hendra yang merupakan CEO rumah sakit milik Devan. Wajah seketika terhenyak saat mendengar nama yang tidak asing baginya.


"Sebentar dokter Welly. Apakah anda sedang membicarakan pasien yang bernama Rachel yang salah satu MUA terbaik yang sampai sekarang namanya lagi viral?" tanya dokter Hendra.


"Benar sekali Dokter Hendra. Apakah anda juga mengenakannya?" tanya dokter Welly.

__ADS_1


"Bukan mengenal lagi dokter Welly. Dia adalah calon istrinya pemilik rumah sakit ini," ucap dokter Hendra membuat dokter Welly terperanjat.


"Apaa....?" sentak dokter Welly.


"Benar dokter Welly. Tunggu sebentar! Nanti saya akan hubungi anda lagi. Saya harus bicara dengan tuan Devan, tunangannya dokter Rachel," ucap dokter Hendra mengakhiri pembicaraan mereka sementara waktu.


Dokter Hendra segera menghubungi Devan yang saat ini sedang meeting. Deni yang sedang memegang ponselnya Devan, segera menjawab panggilan itu.


"Hallo dokter Hendra!" sapa Deni sambil berjalan keluar menuju koridor.


"Apakah ini Deni?" tanya dokter Hendra.


"Benar dokter. Apakah ada sesuatu yang penting?" tanya Deni.


"Tolong berikan ponsel ini pada tuan Devan karena sangat darurat," ucap dokter Hendra.


"Baiklah. Sebentar dokter Hendra."


"Ada apa Hendra?" tanya Devan dengan mimik serius.


"Tuan Devan. Baru saja saya terima telepon dari rumah sakit yang ada di Palembang. Dan ternyata direktur rumah sakit itu meminta tolong rumah sakit kita untuk pasien yang sedang mengalami kangker darah stadium 2," ucap dokter Hendra.


"Ya sudah lakukan saja prosedur seperti biasa. Bukankah kamu sudah terbiasa menangani pasien gawat darurat?" protes Devan kesal.


"Masalahnya, pasien itu adalah dokter Rachel atau nona Rachel tunangan anda Tuan Devan," ucap dokter Hendra penuh penekanan pada kalimatnya.


"Apa....?" wajah Devan terlihat pias mendengar ucapan dokter Hendra CEO rumah sakit miliknya itu.


"Iya Tuan. Aku tidak bisa mengambil keputusan tanpa mengkonfirmasi dulu pada Tuan," ucap dokter Hendra.

__ADS_1


"Aku akan menjemputnya juga dengan helikopter medis. Kirim helikopter itu ke sini!" titah Devan buru-buru menutup ponselnya.


"Rachel, sayang. Tunggu aku! aku akan menjemputmu dan membawamu langsung ke rumah sakit kita," ucap Devan dengan jantung sudah berdenyut tak beraturan kini.


Deni yang bingung melihat wajah Devan tampak panik menanyakan Tuannya itu yang langsung berlari menuju pintu lift menuju ke lantai atas atau atap tempat landasan yang sengaja dibuat untuk landasan helikopter.


"Tuan. Apakah ada masalah?" tanya Deni.


"Tolong gantikan aku memimpin meeting. Aku harus ke kampung Rachel karena wanitaku saat sedang sakit parah," ucap Devan.


"Baik tuan. Semoga nona Rachel cepat sembuh.


"Terimakasih Deni. Aku mengandalkanmu," ucap Devan.


Tidak lama kemudian, helikopter medis sudah mendarat di atas atap gedung perusahaannya Devan. Pria 30 tahun ini segera naik ke helikopter bersama dengan tim medis terpercaya dengan peralatan medis juga obat-obatan yang dibutuhkan Rachel selama menempuh perjalanan menuju Jakarta nanti.


"Siap berangkat, tuan Devan?" tanya co-pilot.


"Segera lakukan! kita tidak punya waktu lagi. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan calon istriku," ucap Devan.


"Baik Tuan." Helikopter kembali mengudara menuju kota Palembang.


Sementara itu di rumah sakit, Rachel telah dipersiapkan oleh tim dokter agar Rachel langsung di evakuasi melalui helikopter medis milik sang kekasih. Mereka mengetahui itu dari dokter Welly selaku direktur utama rumah sakit tersebut. Saat ini dokter Welly sedang melakukan briefing dengan team dokter yang baru saja mempersiapkan Rachel.


"Tolong dengar semuanya. Sebentar lagi dokter Rachel yang sekarang menjadi pasien VVIP kita akan dijemput dengan menggunakan helikopter medis. Rumah sakit yang dituju sebagai rumah sakit rujukan Rachel adalah rumah sakit milik calon suaminya Dokter Rachel sendiri. Untuk itu kita harus memperlihatkan kinerja kita di rumah sakit ini. Tentu saja dokter Rachel sebagai pasien yang kita prioritaskan. Dengan cara ini nama besar Keduanya menjadi ajang kita untuk mempromosikan rumah sakit ini. Apakah kalian siap?" tanya dokter Welly pada tim dokternya, Rachel.


"Siap dokter Welly!" ucap mereka serempak lalu membubarkan diri.


"Gila dokter Rachel. Dapat calon suami tajir melintir begitu!" puji dokter Jodie.

__ADS_1


"Aku sudah pernah dengar informasi kedekatan dokter Rachel dengan tuan Devan. Hanya saja aku sangat penasaran mengapa dokter Rachel terkesan dingin jika membahas tentang tunjangannya," jelas dokter Celine.


"Namanya sebuah hubungan pasti ada pasang surutnya. Kita lihat saja nanti," ucap dokter Jodie.


__ADS_2