
Devan segera menyadari kesalahannya karena sudah memperlakukan Rachel yang tidak disukai oleh gadis itu. Devan meminta Rachel untuk menjauhinya agar tidak kebablasan nantinya.
"Rachel apakah kamu mau tidur di kamar tamu?" tanya Devan.
"Apakah boleh, Devan?" tanya Rachel memastikan perkataan Devan.
"Tentu saja sayang. Tapi, apakah kamu mau menjadi kekasihku Rachel?"
"Aku hanya ingin dinikahi olehmu. Aku tidak ingin menjadi kekasihmu sebelum kamu halalin aku, Devan," ucap Rachel membuat Devan mengerti.
"Setidaknya aku tidak ingin kamu dekat dengan Rio atau pria manapun yang mencoba menggodamu," ucap Devan.
"Setidaknya aku tidak tergoda dengan bujuk rayu mereka. Jika kamu percaya kepadaku, maka aku tidak akan mengecewakan kamu, Devan," imbuh Rachel.
"Baiklah. Apakah kamu mau menikah secepatnya atau menunggu kamu lulus kuliah?" tanya Devan.
"Aku ingin wisuda dulu baru nanti menikah. Kebetulan ayahku nanti datang mendampingi aku wisuda. Jadi tidak usah takut aku berpindah ke lain hati," tegas Rachel membuat Devan tersenyum.
"Baiklah. Aku sangat percaya kepadamu Rachel," ucap Devan.
"Aku akan jaga kepercayaanmu Devan. Tapi aku mohon jangan terlalu mengatur ruang gerakku sebagai kekasihmu karena aku punya impian sendiri tentang hidupku," pinta Rachel.
"Tidak masalah sayang. Aku janji akan memberikan kamu kesempatan untuk mengembangkan dirimu. Satu lagi, jangan terlalu memikirkan nilaimu karena rumah sakit itu milikku. Mereka tidak akan membuat kamu dalam masalah. Jika mereka berani menekan kamu, aku akan memecat mereka semuanya," Devan membuat Rachel baru mengerti kalau Devan itu egois dan posesif.
"Jangan Devan! jangan semena-mena terhadap orang lain hanya ingin melihat aku bahagia. Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka lewati hanya untuk mendapatkan pekerjaan itu apa lagi dengan jabatan yang mereka dapatkan tentu saja membuat mereka sangat bangga dengan pencapaian dengan mereka usahakan harus hancur dan terkubur saja hanya karena membuat kamu marah," ucap Rachel menasehati Devan.
"Rachel. Aku sedang membela kamu, kenapa kamu malah membela mereka? apakah kamu tidak tahu mereka selalu memanfaatkan jabatan mereka untuk membuat orang lain terluka," ucap Devan.
__ADS_1
"Lantas apa bedanya kamu dengan mereka, Devan?" sinis Rachel.
"Tergantung bagaimana kita menyikapinya situasi Rachel. Tidak semua orang kaya itu binatang buas yang bertindak tanpa berpikir. Jangan terlalu sinis dan menghakimi karena yang kelihatan belum terlihat sebagai kebenaran," timpal Devan kesal.
"Baiklah. Kalau begitu aku minta maaf. Sekarang istirahatlah. Keadaan kamu belum baik," ucap Rachel sambil merapikan selimutnya Devan dan melakukan pria tampan itu selembut mungkin.
Rachel mengecup kening Devan lalu mengelus pipi Devan lembut. Ia meletakkan tangannya di dada Devan agar hati pria ini merasa tenang. Diperlakukan seperti itu, membuat Devan merasakan kehangatan perhatian Rachel padanya.
Saat Rachel ingin beranjak, Devan menahan tangan Rachel agar tetap duduk di sampingnya. Rachel menuruti permintaan Devan dan ia duduk bersandar pada dasboard tempat tidur sambil membelai rambut yang tidur dipangkuannya.
Devan mampu meruntuhkan tembok prinsip Rachel yang membuat gadis itu menjauhinya. Ia ingin Rachel seperti gadis lain yang mau melakukan sedikit hal yang dibutuhkan seorang kekasih yang berjulukan perhatian.
Karena terlalu lelah lama kelamaan Rachel dan akhirnya tertidur dengan posisi Rachel tetap memangku kepalanya Devan. Sementara hujan deras di luar sana makin menambah suasana syahdu malam ini.
...----------------...
Keesokan paginya Rachel memasak sarapan pagi untuk Devan. Rachel sudah berkutat di dapur dengan beberapa bumbu dan juga daging ayam dan telur yang di olah Rachel untuk membuat bubur ayam. Sebenarnya, Rachel hanya memesannya di luar tapi mengingat Devan masih butuh asupan makanan yang sehat, Rachel tidak berani mengambil resiko yang bertentangan dengan ketentuan gizi dari kesehatan.
Sekitar satu jam Rachel bertempur dengan alat masaknya. Masakannya telah matang dan Rachel menghidangkannya di mangkok untuk Devan dan dirinya.
Tidak lupa segelas susu dan potongan buah segar untuk melengkapi menu sarapan pagi ini.
Rachel meletakkan dua mangkuk bubur dan menu lainnya di atas meja yang ada di kamar tidur Devan. Rachel membangunkan Devan yang masih terlelap itu.
"Hei...! Bangun Devan...! Aku sudah membuat sarapan pagi untukmu," bisik Rachel membuat Devan menggeliat lalu mengerjapkan matanya dan melihat wajah cantik Rachel yang menatapnya penuh kelembutan.
"Masya Allah. Aku kira aku sedang bermimpi bertemu dengan bidadari Rachel, nggak tahunya mimpiku adalah kebenaran. Kamu nyata ada di depan aku saat ini sayang," ucap Devan sambil tersenyum pada Rachel.
__ADS_1
"Sudahlah. Jangan terlalu banyak gombal. Mau aku suapin buburnya atau makan sendiri?" tanya Rachel sambil membantu Devan untuk duduk.
"Pastinya di suapin sayang. Aku belum bisa makan sendiri," ucap Devan manja.
"Ok." Rachel mengambil mangkok bubur dan bersiap menyuapi bayi besarnya.
Setiap kali suapan yang diterima Devan, gadis ini selalu mendapatkan kecupan pada pipinya. Rachel hanya menerima pasrah dengan senyum terus terukir di bibirnya.
"Apa tidak tunggu nanti saja setelah habis sarapan? kenapa kamu terus menciumku?" tanya Rachel.
"Hitungan ciuman itu sesuai jumlah suapan yang aku terima darimu sayang. Sejumlah itu rasa terimakasihku padamu untuk hari ini," ucap Devan.
"Ada-ada saja kamu Devan. Kita ini belum menikah. Tidak boleh berlebihan seperti itu. Setan makin asyik menggodamu jika kamu menuruti gombalannya untuk menyesatkan jalan pikiranmu," nasihat Rachel bijak.
"Insya Allah. Aku tidak akan kebablasan sayang. Maafkan aku kalau aku terus memaksamu hingga kamu melanggar prinsip mu," ucap Devan.
"Aku hanya tersiksa dengan hati kecilku. Aku ingin membuat kamu senang, tapi aku mengingkari perasaanku bahwa kita bukan muhrim,"ucap Rachel.
"Apakah kamu menyesal, baby?" tanya Devan.
Menyesal sih sedikit karena kamu masih berada di batas wajar. Kalau berlebihan aku akan mengigitmu dan tidak akan bertemu kamu lagi," ucap Rachel.
"Aku rela sayang, kalau kamu ingin mengigitku. Mau yang sebelah mana? bibirku atau yang ini duluan di gigit pakai bibir, hmm?" tanya Devan makin menggoda Rachel.
"Jangan bersikap mesum seperti itu, Devan. Aku tidak akan terbawa suasana. Kamu malah sakit sendiri lho. Sekarang kamu mandi. Aku akan menyiapkan pakaianmu. Di mana letak pakaianmu, hmm?" tanya Rachel.
"Di ruang sebelah sana. Sekarang, tolong antar aku ke kamar mandi!" pinta Devan.
__ADS_1
"Buka bajunya di sini saja, ya!" ucap Rachel membuka baju Devan lalu di ikuti celana tidur dan sekarang hanya tinggal boxer dan itu membuat Rachel tidak ingin menyentuh bagian itu.
"Kenapa diam sayang? tolong buka celana da*lam itu juga!" pinta Devan sengaja menggoda Rachel yang sudah memerah wajahnya.