Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
30. Menemani Di rumah sakit


__ADS_3

Setelah memeriksa keadaan Rachel, dokter mengijinkan Rachel untuk dirawat di kamar inap saja. Devan menyambut gembira karena ia bisa tidur berdua dengan Rachel di kamar inap. Walaupun mereka adalah pengantin baru, Devan tidak mungkin melakukan hal-hal yang membuat Rachel akan bermasalah. Ia harus menahan dirinya agar Rachel menjalani masa pengobatannya entah sampai kapan.


Kamar inap sudah disiapkan oleh suster. Brangkar milik Rachel di dorong memasuki kamar VVIP itu. Rachel dipersiapkan oleh dokter hanya memasang infus pada Rachel sementara oksigennya sudah dihentikan karena Rachel sudah bisa bernafas sendiri.


"Permisi tuan! kami sudah selesai mengurus nona Rachel," ucap dokter Sarah.


"Terimakasih dokter!"


Devan duduk disampingnya Rachel yang terlihat masih sangat pucat. Rachel sudah siuman dan belum paham apa yang terjadi pada dirinya sampai saat ini.


"Devan. Sebenarnya saya sakit apa? kenapa saya harus di bawa ke Jakarta segala?" tanya Rachel membuat Devan agak bingung menjelaskannya.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Bagaimana aku harus menjelaskan pada gadis ini? apakah aku harus berkata jujur saja kepadanya? bagaimana kalau dia kepikiran dan drop lagi?" batin Devan yang tidak mau langsung menjawab pertanyaan Rachel.


"Rachel. Keadaan kamu tidak baik-baik saja sayang. Jika kamu mendengarkan ini, tolong jangan dibawa kepikiran karena semua penyakit ada obatnya dan kemauan kamu untuk segera sembuh," ucap Devan masih terdengar diplomatis oleh Rachel.


"Tolong langsung berbicara kepada inti permasalahannya! jangan berbelit-belit seperti itu. Dengarnya juga nggak enak karena kesannya aku seperti sedang mengalami penyakit yang mematikan," gerutu Rachel.


"Memang itu penyakitmu Rachel. Kamu tekena leukimia stadium 2. Mumpung belum parah makanya kamu dirujuk di rumah sakit milik kita," ucap Devan lalu mengecup bibir Rachel.


"Devan . Jangan mulai lagi karena kita berdua bukan muhrim!" cegah Rachel dengan wajah cemberut. Devan tersenyum. Ia sangat gemas melihat Rachel selalu menolaknya.


"Jangan bercanda Devan! aku tidak suka," tolak Rachel.

__ADS_1


"Demi Allah sayang. Tunggu sebentar! aku punya dokumen pernikahan kita melalui foto dan video," ucap Devan seraya membuka galeri penyimpanan foto-foto pernikahannya di mana Devan mengucapkan ijab qobul di hadapan ayah Rachel dan disaksikan oleh beberapa staf rumah sakit.


Rachel menutup mulutnya merasa sangat terharu atas perlakuan Devan yang sangat menghargainya. Pernikahan itu sudah sah karena penghulunya dari kantor agama dan buku nikah mereka sudah diberikan kepada Devan.


"Devan. Ini seperti mimpi bagiku," ucap Rachel sambil menangis haru.


"Iya istriku sayang. Mimpi yang sudah menjadi kenyataan karena berlangsungnya secara singkat padat dan jelas," jawab Devan apa adanya.


"Terimakasih Devan sudah memilih aku menjadi istrimu. Semoga kamu tidak khilaf melakukan pernikahan ini karena aku bukan wanita yang berasal dari keluarga yang....-"


"Ssssttt...!" Devan meletakkan jari telunjuknya di bibir Rachel agar gadis itu tidak meneruskan kata-katanya yang berguna.

__ADS_1


"Hari ini hari kebahagiaan bagiku Rachel. Tolong jangan merusak momen bahagia ini dengan kata-kata yang sangat menyedihkan. Aku tidak ingin kamu ngelantur. Kamu pantas bahagia karena saat ini aku suami kamu begitu pula kamu bagiku, gadis istimewa yang selama ku impikan agar bisa memilikimu suatu hari nanti dan mimpiku sudah terwujud hari ini sayang," ucap Devan lalu memagut bibir istrinya.


Keduanya saling berciuman sesaat dengan penuh rasa haru.


__ADS_2