
Setelah lima bulan meninggalkan perusahaannya, kini Devan sudah kembali lagi beraktivitas seperti biasa. Kehamilan Rachel yang akan memberikannya seorang pewaris yang akan membuatnya lebih bersemangat lagi mencari nafkah untuk anak dan istrinya.
Rachel memasang dasi suaminya dan melihat penampilan suaminya sesaat lalu tersenyum." Pesona suamiku makin memikat para kaumku diluar sana yang sedang berlomba untuk mendapatkan perhatianmu dengan segala cara akan mereka tempuh untuk seorang Devan. Apakah suamiku tidak tergoda?" tanya Rachel sambil mengalunkan tangannya ke leher kokoh sang suami.
"Mereka hanya membuang waktu mereka yang sia-sia karena hatiku sudah kuberikan kepada Istriku tercinta yang saat sedang mengandung buah cinta kita.
Jangan pernah ragu akan cintaku karena tidak berkurang sedikitpun untukmu walaupun kecantikan mereka mungkin melebihimu namun kecantikan batin yang aku cari selama ini telah aku temukan ada dihadapanku saat ini," ungkap Devan penuh ketulusan.
"Jika usiaku tidak cukup untuk menua bersamamu, berilah mereka kesempatan untuk mengembalikan cinta yang hilang dalam hidupmu nanti, Devan," ucap Rachel membuat hati Devan terasa teriris.
"Kamu bicara apa Rachel? Tidak bisakah kamu berhenti sejenak saja untuk tidak menyinggung tentang kematian sayang? tidakkah kamu tahu bahwa setiap saat nafasku seakan terhenti hanya melihat wajahmu pucat bak mayat hidup.
Jika dibilang aku juga sudah satu jiwa denganmu Rachel. Jika kamu mati, tidak ada alasanku untuk hidup walaupun bayi ini yang akan bertahan hidup setelah kita tiada," ucap Devan mencurahkan isi hatinya yang tidak bisa lagi ia pendam atas kesedihannya selama ini.
__ADS_1
"Maafkan aku! aku sangat takut Devan. Jika aku bisa meminta aku ingin membuatmu bahagia hingga usiaku cukup bertahan hingga anak kita bisa mengenal cinta. Tapi, aku tidak bisa melihat itu bagian dari harapan," ucap Rachel sendu.
"Sayang. Dengarkan aku! Apa yang kamu yakini bahwa kebesaran Allah yang telah menitipkan makhluk suci ini dalam rahimmu pasti ada hikmahnya, maka aku harap kamu harus optimis bahwa kamu akan menua bersamaku sambil membesarkan anak-anak kita kelak," pinta Devan.
Lagi-lagi keduanya kembali larut dalam kesedihan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan diri kepada Allah atas hidup mati mereka karena Allah. Bahwa yang sakit belum tentu akan mati. Yang sehat belum tentu selamat dari maut.
"Sebaiknya kamu berangkat kerja sayang! jangan pikirkan tentangku. Aku ingin istirahat atau menemani mami dibawah sana," ucap Rachel sambil mengusap air matanya.
"Bantu apa Devan?" tanya Rachel.
"Bantu aku untuk tidak membuat aku selalu bersedih. Aku harus mencari nafkah untuk masa depan kita. Kamu adalah semangatku. Jika kamu sedih, maka kamu akan mendapati aku juga sedih karena kontak batin kita begitu kuat sayang," ucap Devan.
"Insya Allah. Aku tidak akan sedih lagi," timpal Rachel.
__ADS_1
"Mau antar aku sampai pintu mobil?" tanya Devan.
"Tentu saja."
Devan membenamkan bibirnya pada bibir istrinya begitu dalam lalu merangkul pundak Rachel agar istrinya melihatnya sampai mobilnya menghilang dari pandangannya Rachel.
"Mami. Devan berangkat dulu!" pamit Devan sambil mengecup punggung tangan dan pipi ibunya.
"Iya sayang hati-hati! Mami akan mengurus Rachel.
"Titip jiwaku ya mami," ucap Devan sambil mengerlingkan matanya pada sang istri yang tersipu malu.
"Dengan segenap jiwa mami," janji nyonya Alisha.
__ADS_1